CEO GILA, begitu julukannya. Karena usianya yang 27 tahun dan belum menikah tapi super duper galak garang, suka memaki sembarang dengan kata-kata toxic nyelekit.
Namanya Andre Wiguna Dharma, seorang CEO Perusahaan Keramik Asia Tile.
Kehidupan yang menurutnya penuh kepalsuan jauh dari cinta tulus, membuatnya tidak percaya pada cinta. Ditambah lagi dia pernah mencinta seorang gadis di usia 17 tahun, tapi ternyata kandas sebelum kapal berlayar. Membuatnya hanya menganggap cinta seperti permainan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata telah menikah. Dan ternyata suami Naysila adalah seorang office boy di perusahaan besarnya.
Akankah permainan cintanya berhasil kali ini?
Atau... Andre harus gigit jari karena Naysila lebih memilih Rendra sebagai cinta sejatinya?
Ataukah Tuhan akan memberinya jalan agar Naysila menjadi Takdirnya di masa depan?
Mari kita ikuti kisah Sang CEO GILA : Mencintai Istri
🙏🙏🙏Mohon dukungannya, please🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 (Pertengkaran Yang Kesekian Kali)
"Kemasi barang-barangmu, Rani! Kau ikut aku! Biarkan bocah sinting ini tenggelam dalam kubangan dosa! Ayo!!!"
Daniel mengamuk setelah Andre menarik tangan istrinya. Tak peduli pada keadaannya yang bug*l tanpa busana.
Maharani bingung, hendak berbuat apa. Hanya cucuran air mata yang tak tertahan berderai terus dari netranya.
Ini pertama kalinya ia melihat Daniel seperti itu. Lepas kendali dan tak peduli pada diri sendiri.
"Kau lihat, Rani! Itu laki-laki yang menghamilimu dan menikahimu! Lelaki seperti itu yang ingin kau jadikan suami?"
"Hik hik hiks..."
Terisak Rani dalam kesedihan.
Ia hanya bisa mengenang hal-hal indah perkenalannya dengan pemuda tampan bernama Daniel Erlangga.
Berwajah kebarat-baratan, pendiam tak banyak bicara.
Tatapan matanya misterius, dan senyumnya pelit sekali.
Kala itu, ia adalah santriwati undangan di pesantren tempat Daniel menimba ilmu. Masih ia ingat, acaranya adalah memperingati hari Isra' Mi'raz di pesantren Kiyai Maksum tempat Ayahnya mengajar.
Pesantren itu memang khusus para ikhwan. Jadi memang tidak diperbolehkan kaum akhwat memasuki wilayah itu, kecuali dalam acara-acara besar tertentu yang digelar pihak pesantren.
Selain dilarang, karena pesantren itu lebih banyak menerima para pemuda bermasalah. Hampir separuh santrinya dulu adalah para pecandu narkoba, peminum dan lain sebagainya yang kurang baik konotasinya.
Maharani yang baru tamat SMP, 16 tahun kurang adalah gadis santun yang baru mengenal indahnya dunia.
Melihat pria tampan misterius tentu saja membuatnya berapi-api dan berusaha untuk bisa melihat Daniel lagi.
Dengan berbagai alasan, dan juga trik-trik ala-ala santriwati yang pura-pura mencari Ayahnya untuk suatu keperluan mendadak. Maharani masuk kembali ke dalam pesantren yang Daniel anggap seperti penjara kala itu.
Meski Daniel sudah tinggal sejak usianya 14 tahun, tapi dia masih bisa memiliki akses jalur keluar masuk lebih longgar untuk keperluan sekolah menengah pertama dan atasnya yang memang dilakukan diluar wilayah pesantren.
Daniel sudah terkena obat-obatan terlarang sejak usianya 13 tahun. Itu yang membuat Nyai Fatima dan Andre memasukkannya ke pesantren itu.
Berharap anak muda yang masih bau kencur itu bisa berubah menjadi normal seperti pemuda lainnya.
Maharani berhasil bertemu Daniel juga pada akhirnya.
Gadis imut kerudung berniqab itu memberi nomor pribadinya pada Daniel. Padahal saat itu Daniel sama sekali tak diberi akses telepon seluler setelah jam pelajaran sekolah usai, dan ia dijemput kembali ke pesantrenan.
Bagi Daniel, itu adalah seperti suatu lubang celah membuka kembali dunianya yang terpenjara.
Daniel sering men-chat Maharani setiap berada di sekolah. Karena jika sudah masuk ke wilayah pesantren pulang sekolah, hapenya akan kembali disita. Berbeda dengan pesantren yang Maharani tinggali, disana hape bebas dipegang. Kecuali jam-jam pelajaran. Jadi akan aman-aman saja jika sedang di asrama.
Daniel sama sekali tak pedulikan pelajaran. Bahkan lulus ujian pun nilainya lebih banyak dikatrol. Ia hanya berfokus pada Maharani saja.
Daniel sering bolos sekolah demi untuk bertemu Maharani.
Begitulah. Cinta membutakan dua anak manusia yang masih remaja.
Mereka sering bertemu diam-diam. Hingga, terjadilah hubungan yang dilaknat Tuhan.
Maharani hamil,... dua pesantren menjadi gempar. Ricuh dan nyaris ada korban meski pada akhirnya Daniel habis babak belur dihajar para santri juga ustad-ustad yang kecewa padanya.
Terlebih Ayah Maharani adalah ustad Nirwan. Ustad yang sehari-hari mengajar di pesantren tempat Daniel tinggal.
Ini adalah aib terbesar baginya. Hingga ustad Nirwan lebih merelakan kehilangan satu putri sulungnya ketimbang harus menanggung malu menampung Daniel dan Maharani untuk tinggal di rumahnya.
Seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Nasib buruk terus mengikuti Maharani bahkan semua angan dan harapan masa depannya pun musnah.
Lelaki yang setahun lalu begitu manis berkata-kata, selalu memuja dan mengagungkan dirinya kini hanya pemuda yang omdo alias omong doang.
Daniel tak lebih seperti bocah ingusan yang kerjanya hanyalah tidur, rebahan, makan lalu pergi sesuka hati.
Maharani mengelus perutnya yang masih rata.
Usia kehamilannya memang baru delapan minggu saja. Jadi belum terlihat perutnya yang membuncit karena terisi janin yang Daniel tanamkan.
"Kakak! Hik hik hiks..."
"Ayo, Rani! Tunggu apa lagi?"
Maharani menggelengkan kepala.
"Maaf! Rani tidak jadi ikut kakak. Rani akan tetap disini bersama kak Daniel! Hik hik hiks!"
"Hhh... Kamu akan terus hidup dengan pemuda pemalasan seperti itu?" tanya Andre dengan suara lemas.
Rani mengangguk.
Perempuan muda itu menurunkan tas ransel besarnya. Lalu setengah berlari menghampiri Daniel. Ia memeluk tubuh sang suami yang masih tak karuan.
Diambilnya selimut diatas ranjang, lalu ditutupinya tubuh Daniel yang bug*l.
"Kak!"
"Kenapa kau kembali? Kenapa? Pergi saja kau dengan si keparat itu!" umpat Daniel membuat Andre kesal dan menerjangnya.
Plak.
"Bersyukurlah, kau punya istri yang masih menghargaimu!"
"Hik hik hiks! Apa maumu, Kak? Bunuh saja aku jika kau merasa puas. Bunuh! Aku lebih rela karena bisa bertemu Mama! Tak perlu kau susah-susah mengurusku! Tak perlu kau teriak-teriak mengaturku!!!"
"Haish!!! Aaaarrrgggh...!!! Bocah sialan! Dosa apa aku sampai mendapatkan beban hidup seperti manusia tak tahu diri dihadapanku ini!!!"
Andre teriak kencang. Ia keluar dari kamar Daniel, lalu turun ke lantai bawah.
Otaknya panas dan mengebul.
Pertengkaran ini tiada habisnya. Entah sampai kapan berakhir. Andre hanya bisa duduk tepekur di sofa ruang tamu. Menunggu Daniel tersadar kalau sebenarnya ia menyayangi adik satu-satunya itu.
Daniel!... Kalau aku membenci kamu sampai ke dasar hati yang paling dalam, sudah kutinggalkan kamu. Tak peduli kau mau jadi pemadat ataupun tengkorak hidup dengan gaya hidupmu yang ngaco tak karuan! Tak kubawa serta kau tinggal setahun dirumah Nyai Fatima!... Tapi, karena aku sayang padamu. Aku ingin kau menjadi saudara yang berdiri disampingku dengan benar. Makanya aku kasar dalam menuntunmu! Apakah kau tidak punya mata dalam melihat ketulusanku?
Rokok kretek yang dihisapnya telah habis, tinggal puntung. Andre kembali menyulut dan terus menghisap berharap otak mumetnya bisa kembali normal.
Handphone jadi pengobat laranya.
Foto profil Naysila yang cantik menjadi penyejuk jiwanya.
Nay,... andaikan saja kau adalah istriku. Ingin sekali aku mendatangi wajah cantikmu itu. Lalu kupeluk tubuh rampingmu. Bersandar didadamu sambil berkeluh kesah, "Peluk aku, Sayang! Aku butuh nasehat darimu! Aku butuh sentuhan hangatmu. Seperti dulu, kau merengkuhku di ketinggian sepuluh meter wahana kincir di pasar malam! Ingatkah kau, Naysila Utami?"
...BERSAMBUNG...