Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Ordo Umbra
Ledakan besar itu mengguncang seluruh Akademi Arclight. Dinding batu yang tebal bergetar, debu kecil jatuh dari langit-langit ruang instruktur.
BOOOOM.
Suara benturan kedua terdengar dari luar.
Ren langsung menoleh ke arah jendela.
Langit di atas akademi terlihat bergetar oleh gelombang energi sihir. Lapisan penghalang besar yang melindungi seluruh wilayah akademi sedang diserang dari luar.
Salah satu instruktur berlari ke jendela dengan wajah tegang.
“Perisai utama sedang diserang!”
Gareth langsung bergerak.
“Siapa yang menyerang?”
Instruktur itu menatap langit beberapa detik sebelum wajahnya berubah semakin serius.
“Aura sihir gelap…”
Ia menelan ludah.
“Ini bukan serangan biasa.”
Ren sudah bisa merasakannya.
Energi yang datang dari luar terasa sangat familiar.
Dingin.
Gelap.
Berbahaya.
Pria berambut perak yang tadi berbicara dengan Ren langsung mengangkat tangannya.
Lingkaran sihir muncul di udara seperti layar transparan.
Di dalam lingkaran itu terlihat pemandangan di atas gerbang akademi.
Beberapa sosok berjubah hitam melayang di udara.
Jumlahnya lebih dari sepuluh orang.
Dan di depan mereka…
Seseorang berdiri dengan aura yang sangat kuat.
Ren langsung mengenalinya.
Kael.
Mira tiba-tiba membuka pintu ruang instruktur dan masuk dengan napas sedikit terengah.
“Ren! Kamu harus lihat—”
Ia berhenti ketika melihat layar sihir di udara.
“...Oh tidak.”
Aria dan beberapa siswa lain juga terlihat di koridor di belakangnya.
Seluruh akademi mulai panik.
Di layar sihir, Kael tersenyum sambil melihat ke arah penghalang akademi yang retak perlahan.
Di belakangnya, para anggota Ordo Umbra mulai menyiapkan lingkaran sihir besar.
Pria berambut perak di ruangan itu berkata pelan.
“Jumlah mereka terlalu banyak.”
Gareth mengerutkan kening.
“Ordo Umbra berani menyerang akademi secara langsung?”
Pria itu menjawab dengan nada serius.
“Mereka tidak datang untuk perang.”
Matanya bergerak ke arah Ren.
“Mereka datang untuknya.”
Ruangan itu menjadi sunyi.
Ren mengepalkan tangannya.
Ia sudah menduga hal ini.
Di layar sihir, Kael akhirnya berbicara.
Suaranya diperkuat oleh sihir sehingga terdengar di seluruh akademi.
“Salam, Akademi Arclight.”
Beberapa siswa di halaman langsung mundur ketakutan.
Kael menyebarkan tangannya santai.
“Kami tidak datang untuk menghancurkan tempat ini.”
Ia tersenyum tipis.
“Kami hanya ingin satu orang.”
Ren bisa merasakan semua orang di ruangan itu menatapnya.
Kael melanjutkan.
“Serahkan Ren Valen kepada kami.”
Suasana akademi langsung menjadi kacau.
Para siswa mulai berbisik panik.
“Ren?”
“Mereka datang untuk Ren?”
Mira langsung memukul meja di ruangan itu.
“Tidak mungkin!”
Nyra, Lilia, dan Selene juga sudah sampai di koridor luar.
Mereka melihat layar sihir yang menampilkan Kael.
Nyra menyeringai kecil.
“Sepertinya masalah besar datang lebih cepat dari yang kukira.”
Lilia terlihat sangat serius.
“Ini bukan sesuatu yang bisa dianggap main-main.”
Selene hanya menatap layar dengan mata tajam.
Di luar akademi, Kael mengangkat tangannya.
Energi gelap berkumpul di telapak tangannya.
“Jika tidak…”
Ia menembakkan bola energi hitam ke arah penghalang.
BOOOOOOM.
Penghalang sihir akademi retak lebih jauh.
Beberapa menara bahkan bergetar kuat.
Di ruang instruktur, Gareth akhirnya berkata dengan suara tegas.
“Semua instruktur bersiap.”
Para penyihir senior langsung mulai membuat lingkaran sihir pertahanan.
Pria berambut perak menoleh ke arah Ren.
“Sekarang kamu mengerti situasinya.”
Ren menatap layar yang menampilkan Kael.
“Aku tahu.”
Pria itu melanjutkan.
“Jika kamu keluar dan menyerahkan diri…”
Mira langsung memotong.
“JANGAN DENGARKAN DIA!”
Ia berdiri di depan Ren dengan wajah marah.
“Kita tidak akan menyerahkanmu.”
Aria mengangguk gugup.
“Iya…”
Nyra tertawa kecil dari pintu.
“Kalau mereka ingin Ren…”
Ia menyeringai.
“…mereka harus melewati kami dulu.”
Lilia juga berkata dengan nada tenang.
“Akademi tidak akan menyerahkan muridnya.”
Selene tetap diam.
Namun akhirnya ia berbicara pelan.
“Ordo Umbra tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkannya.”
Ren menarik napas panjang.
Ia melihat layar sihir lagi.
Kael masih tersenyum santai di udara.
Seolah-olah ia yakin akan mendapatkan apa yang ia inginkan.
Ren akhirnya berkata pelan.
“Kalau mereka terus menyerang…”
Ia menatap Gareth.
“…banyak orang akan terluka.”
Gareth menatapnya tajam.
“Akademi ini sudah berdiri ratusan tahun.”
Nada suaranya keras.
“Kami tidak menyerahkan murid kami kepada organisasi penyihir gelap.”
Mira tersenyum bangga.
“Itu baru instruktur yang keren.”
Namun sebelum mereka bisa berbicara lagi—
CRACK.
Suara retakan keras terdengar dari luar.
Instruktur yang memantau layar sihir langsung berkata tegang.
“Penghalang utama hampir pecah!”
Kael mengangkat tangannya lagi.
Energi gelap yang jauh lebih besar mulai berkumpul di udara.
“Baiklah…”
Ia tersenyum lebih lebar.
“…kalau begitu kita lakukan dengan cara yang lebih cepat.”
Ren mengepalkan tangannya.
Energi gelap di dalam tubuhnya mulai berdenyut lagi.
Ia bisa merasakan satu hal dengan jelas sekarang.
Pertarungan yang sesungguhnya…
Tidak akan terjadi di arena turnamen lagi.
Melainkan di seluruh akademi.
Dan kali ini…
Tidak ada aturan.
Tidak ada batasan.
Hanya satu tujuan.
Bertahan hidup.