Airell Miranda baru saja menerima kenyataan bahwa ia telah menjadi selingkuhan sang kekasih bernama Bram Smith yang telah dipcarinya selama hampir 3 tahun. Istri Bram yang datang ke apartemen Airell bersama seorang pria yang Airell tidak tau siapa. Perempuan yang mengaku sebagai istri dari Bram memberi peringatan berupa ancaman dan pelajaran untuk tidak lagi mendekati suaminya, Bram.
Berita Airell yang merebut suami orang kini sudah tersebar di rumah sakit tempat di mana Airell bekerja sebagai seorang psikiater. Tidak hanya itu, Airell dipecat dari pekerjaannya dan nama Airell dikasih tinta hitam agar rumah sakit, biro ataupun perusahaan tidak menerima Airell sebagai pekerja. Selain Airell kehilangan pekerjaannya, Airel juga dijauhi dan ditinggalkan teman-temannya.
Kemalangan Airell masih berlanjut saat Airell tiba-tiba diculik oleh orang suruhan pria yang datang ke apartemennya bersama istri Bram yang Airell baru tau nama pria tersebut adalah Max Alexanders Wu. Max memperkosa Airell yang saat itu masih suci dan memberikan ancaman untuk tidak lagi mendekati Bram suami dari adiknya.
Airell menatap penuh dendam kepada pria yang merenggut kesuciannya. Namun, Airell tidak bisa melakukan apa-apa. Hingga akhirnya setelah kejadian itu Airell memutuskan untuk pindah keluar negeri.
Bagaimana perjuangan Airell setelah menghadapi kemalangan-kemalangan yang menimpa dirinya. Yuk, ikuti novel ini!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunar Sirius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. How is Progressing?
“Diego, bagaimana apakah kamu sudah menemukannya?” Tanya Max di atas ranjang menatap Diego yang duduk bersandaran di kursi sofa.
Diego menolehkan kepalanya untuk melihat Max, “mereka masih belum menemukannya. Max apakah kamu bisa meminta tolong kepada Airell untuk melacaknya?” Tanya Diego yang mengingat bagaimana kemampuan Airell dalam meretas keberadaan penculikan Noel dan Queeny satu hari lalu.
“Tidak, itu akan sangat berbahaya buatnya. Apalagi masalah ini akibat ulah dari Steffy dan aku karena rasa sakit hatinya.” Tolak Max dengan tegas, Diego menghela nafasnya dengan kesal.
“Tapi, itu berhubungan dengan Airell kalian bertiga yang diinginkannya adalah Airell Miranda.” Ungkap Diego dengan frustrasi mendengar penolakan Max, “lagipula Airell hanya membantu untuk melacak di mana keberadaannya. Kita tidak kekurangan pasukan untuk melindungi Airell dan Noel.”
“Ingat Max jangan sampai kita lengah, bagaimana nantinya kalau dia tiba-tiba berdiri di hadapan Airell dan melakukan hal yang tidak diinginkan.” Lanjut Diego
“Airell hanya meretas Max bukan ikut untuk penangkapannya.” Ucap Diego menekankan perkataannya agar pria ini bisa mengerti dan memahami. Kadang sikap posesifnya benar-benar menyebalkan. Pantas saja Noel seposesif itu ayahnya aja seperti ini gerutu Diego dalam benaknya dengan menatap Max dengan kesal.
“Hey, hey kenapa kamu sangat cerewet seperti ibu-ibu. Kamu sudah mirip Disha yang suka mengomel itu.” Ungkap Max dengan kesal. Lihatlah jika mereka berdua selalu berdebat dengan hal yang tidak penting seperti ini jika di antara keduanya sudah merasa kesal dan jengah untuk menjelaskannya satu sama lain.
“Hati-hati kamu bicara nanti kalau ada yang mendengar bagaimana.” Ingat Diego dengan kesal karena Max selalu mengatakan bahwa ia cerewet seperti Disha istrinya. Bagaimana nanti kalau Disha tau bahwa dia sedang dibicarakan dua pria yang bersahabat karib itu bisa-bisa bukan hanya Max yang kena amukan tapi dia juga yang tidak akan mendapatkan semangat batin.
“Queeny dan kak Noel mendengarnya daddy.” Ucap anak kecil yang mendengar perdebatan kedua pria dewasa. Karena memang Queeny dan Noel sedang duduk di bangku depan kamar Max sambil memakan es krim dengan tenang sedangkan Airell pergi ke kantin dan Disha pergi ke toilet.
Mendengar perkataan Queeny membuat kedua pria dewasa itu melongo dengan penuh kecemasan dalam diri mereka apalagi melihat senyum usil di wajah Noel dan Queeny. “Queeny akan bilang ke mommy jika uncle Max
mengatakan mommy Queeny cerewet.” Ucap Queeny dengan santainya dengan sesekali menjilat es krim yang ada di tangannya. Sedangkan Noel memainkan alisnya kepada dadda-nya membuat Max menelan salivanya.
“Apa!” Pekik Disha yang mendengar perkataan Queeny kini tatapan Disha menatap nyalang ke arah Max yang tersenyum kaku ke arahnya dan juga suaminya yang meringis.
“Aunty Disha.” Panggil Noel sambil menarik gaun Disha ke bawah sedikit, “dadda dan uncle Diego sering bilang bahwa aunty sangat cerewet.” Ungkap Noel hal itu membuat kedua pria itu melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan Noel. Memang benar sih jika mereka mengobrol sering menyebut bahwa Disha adalah orang yang cerewet. Tapi, itukan hanya dalam obrolan mereka saja apa mereka sempat keceplosan hingga didengar oleh anak laki-laki itu.
“Tapi kan memang benar bahwa kamu itu sangat cerewet.” Ungkap Max sudahlah pikir Max sudah terlanjur tau oleh orangnya bahwa mereka sering bilang Disha itu cerewet, “lagipula Diego juga sering mengeluh dengan kecerewetan kamu ketika tidak mendapatkan semangat batinnya atau ketika kamu memarahinya jadi bukan hanya aku saja.” Diego yang mendengarnya menatap horor ke arah Max. Sahabatnya ini memang minim akhlak.
“Maafkan aku kamu harus ikut, aku tidak mau hanya sendiri.”Begitulah tatapan mata Max kepada Diego.
Disha yang mendengarnya segera menjewer telinga suaminya yang sedang duduk di sofa sambil menatap tajam ke arah Max, “kamu ya berani-beraninya mengataiku cerewet.” Geram Disha hal itu membuat Noel tertawa terbahak-bahak melihat wajah memerah Diego sedangkan Max meringis ikut merasakan apa yang dirasakan sahabatnya itu.
“Ampun sayang aku tidak lagi, tapi tadi Max yang mengataimu seperti itu.” Jelas Diego sambil sekali meringis.
Disha melepaskan jewerannya dari kuping suaminya yang sudah memerah itu, “kamu tidak akan mendapatkannya seminggu.” Ucap Disha bagaikan disambar petir Diego di siang bolong begini. “Dan kamu beruntunglah bahwa kamu masih sakit jadi aku sedikit punya hati nurani untuk menjewer telingamu.” Tunjuk Disha yang merasa kesal dengan Max. Sedangkan Max yang mendengarnya bernafas dengan lega, “tapi
lihat saja nanti jika kamu sudah sembuh.” Lanjut Disha hingga membuat Max menciut wanita di hadapannya ini memang sangat bar-bar sekali sangat berbeda dengan wanita pujaan hatinya Airell Miranda yang snagat lembut.
“Noel, di mana momma?” Tanya Max yang sedari tadi tidak melihat keberadaan Airell bersama Noel, Queeny, dan Disha bukankah mereka berempat tadi keluar bersama-sama tapi kenapa kembalinya tidak lengkap hal itu membuat Max merasa cemas.
“Momma pami pergi ke toilet tadi.” Jawab Noel hal itu membuat ketakutan dan kecemasan Max semakin kuat.
“Tapi, kan di dalam kamar ini ada kamar mandi sayang. Kenapa momma harus jauh-jauh pergi ke toilet.” Jelas Max yang merasa gusar di atas tempat tidurnya hal itu juga dibenarkan oleh Noel.
“Nggak tau mungkin karena momma malas melihat wajah dadda.” Ungkap Noel dengan ketidakperikemanusiaan hal itu membuat Diego dan Disha tertawa bersama diikuti Queeny yang tidak mengerti apa yang sedang mereka tertawakan.
“Begini nih kalau daddynya nggak ada akhlak anak juga sama.” Kata Diego sambil memukul kursi sofa dan sebelah tangannya lagi memegang perutnya melihat wajah Max yang memerah pedam karena malu kepada Noel dan kesal kepada sepasang suami istri tersebut.
Kepergian Airell sudah lebih dari 30 menit lamanya hal itu tentu saja membuat Max yang setiap detik dan menit melihat jam dinding merasa sangat cemas bagaimana jika apa yang dikatakan Diego tadi benar. “Kenapa mommamu lama sekali Noel.” Ucap Max dengan sangat cemas.
“Mungkin momma lagi BAB, momma kalau BAB memang lama dadda apalagi melihat wajah pucat dadda seharian ini. Kita tunggu saja setengah jam lagi dadda.” Jawab Noel dengan santai, hal itu lagi-lagi membuat Diego tertawa dengan bahagia mendengar perkataan Noel dan melihat wajah Max yang merana. Noel sengaja mengatakan hal itu karena ia sangat tau bahwa Max adalah orang yang sangat cemas sehingga kecerdasannya terkadang itu ditutupi kecemasannya berbeda dengan Noel dan Airell yang sama sekali tidak mudah untuk cemas.
Setengah jam terlewati Max semakin tidak tenang dan perasaannya semakin tidak karuan karena tidak melihat kemunculan Airell sedari tadi. “Diego cepat pergi kamu cari Airell dan cek CCTV.” Perintah Max kepada sahabatnya yang sedang memangku laptop. Max sudah benar-benar tidak sabar untuk melihat wajah Airell.
Sedangkan Noel dengan mata yang hampir mengantuknya berusaha untuk menyadarkan dirinya ternyata benar apa yang dikatakan daddanya bahwa sudah lama mommanya pamit pergi ke toilet.
Sedangkan Disha dan Queeny sudah kembali ke kamar sebelah di samping kamar Max untuk menidurkan Queeny yang sudah mengantuk. Jadi, di dalam ruangan Max hanya ada ketiga laki-laki itu.
“Uncle Diego, bolehkah Noel meminjam laptopnya sebentar.” Pinta Noel melihat Diego yang hendak beranjak mencari keberadaan mommanya. Baik Diego dan Max mengernyitkan dahinya mengenai permintaan Noel.
“Buat apa sayang?” Tanya Max kepada putranya dengan lembut.
“Mencari keberadaan momma.” Jawab Noel dengan santai, Diego dan Max yang mendengarnya mengerjapkan
kedua matanya sambil memandang ke arah Noel lalu beralih menatap satu sama lain di antara keduanya. “Uncle dan dadda selalu lama dalam bekerja pantas saja penjahat itu kabur.” Ungkap Noel hal itu membuat Max dan Diego menatap ke arah Noel dengan melongo.
“Apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Diego
“Kan Noel sudah bilang mencari keberadaan momma, sepertinya uncle dan dadda perlu diperiksa oleh dokter THT.” Sudah berapa kali mereka mendengar perkataan Noel yang pedas hari ini. “Bagaimana boleh tidak.” Pinta Noel dengan tidak sabaran, “nanti momma dalam bahaya.” Ucap Noel dengan kesal.
“Iya, iya boleh.” Ucap Diego walaupun ia tidak mengerti apa hubungan laptop dengan Noel tapi ia menurutinya.
“Uncle Diego tidak perlu keluar nanti perintahkan saja pasukannya buat menjemput momma jika momma dalam bahaya.” Setelah Noel mendapatkan izin akses itu, Noel segera melancarkan jari-jari kecilnya untuk menari-nari di atas keyboard laptop milik Diego.
Diego yang berada di samping Noel melongo tidak percaya melihat Noel yang pandai meretas itu sama halnya dengan mommanya Airell. Max yang melihatnya ekspresi di wajah Diego dan Noel merasa bingung di atas ranjang pasiennya. Max tidak bisa turun karena saat ini dadanya masih sakit untuk sekedar duduk tanpa bantuan saja masih sangat sakit.
“Selesai.” Ucap Noel, “uncle cepat suruh pasukan uncle untuk menjemput momma. Noel tidak mau momma lecet sekalipun walaupun momma mempunyai ilmu beladiri untuk melindunginya tapi pria jahat itu tidak akan membiarkan momma lolos begitu dengan mudah.” Perintah Noel kepada Diego yang masih menatap terkejut ke arah laptop dan Noel.
“Uncle tidak ada waktu untuk ini, bisakah uncle bergerak dengan cepat.” Ucap Noel dengan kesal, sedangkan Max di atas ranjang hanya bisa melihat dan mendengar.
“Baiklah.” Diego segera menelpon komandan pasukan tersebut dan mengirimkan lokasi yang didapatkan di mana keberadaan Airell berada.
Setelah selesai Diego menatap Noel dengan dalam, “kenapa uncle menatap Noel seperti itu Noel tau bahwa Noel sangatlah tampan jadi cocok untuk bersama Queeny.” Ucap Noel dengan penuh percaya diri sedangkan
Diego mendengus mendengarnya Noel yang percaya diri mengatakan bahwa dirinya sangat tampan walaupun itu memang benar adanya apalagi tadi ketika nama anak kecil gadisnya disebut oleh Noel membuat Diego langsung menolehkan kepalanya ke arah Max dengan penuh tanda tanya menatap ke arah mereka.
“Jadi, kamu pandai meretas Noel?” Tanya Diego menatap tidak percaya dengan anak yang berumur 5 tahun tersebut sambil menyandarkan kepalanya pada boneka yang tadi di antar oleh pelayan rumahnya milik Noel.
“Uncle jangan mempertanyakan apa yang sudah ada jawabannya, uncle bisa melihat sendiri nanti.” Dengus Noel kepada Diego.
“Uncle kan bertanya untuk memastikan Noel sayang.” Ungkap Diego dengan gemas, dalam benak Diego berkata benar-benar titisan Max Alexanders Wu.
“Tapi, bagaimana bisa mommamu mempunyai keberanian datang ke tempat sana sendirian?” Tanya Diego penasaran sepertinya Diego lupa bagaimana beringasnya Airell saat tau bahwa siapa yang telah menculik anaknya. Membawa mobil secara kebutan, menghajar sekelompok penjahat dengan brutal. Lihatkan Diego seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa dan kalah dengan anak kecil dan momma-nya.
“Tentu saja itukan momma Noel.” Jawab Noel dengan bangga
Sedangkan Max terdiam di atas kasurnya dengan memikirkan banyak hal dan mengaitkan sesuatu yang penuh teka-teki dalam pikirannya.
“Aku kan sudah bilang kepadamu tadi Max bahwa kita harus segera bergerak cepat. Lihat sekarang wanita pujaanmu sendiri yang datang seorang diri tanpa orang itu yang datang menghadap kita.” Ucap Diego
*Bersambung*