Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Es krim
"Al, kata anak-anak lo mau resign, beneran?" tanya Sinta menghampiri Alina yang sedang makan di kantin.
"Iya Sin, kandungan gue udah 4 bulan bentar lagi bakal keliatan," ucap Alina lesu.
"Ohh iya ya," jawab Sinta manggut-manggut.
Alina dan Sinta menghabiskan waktu istirahat mereka dengan mengobrol di kantin. Sementara itu Reyhan masih sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk,
Bu Selly mengetuk pintu ruangan Reyhan. "Permisi pak Reyhan,"
"Iya silahkan masuk, ada apa?" jawab Reyhan mempersilahkan Bu Selly.
"Ini pak, saya mau menyerahkan surat pengunduran diri Alina."
"Apa? kenapa dia mengundurkan diri?" tanya Reyhan terkejut.
"Dia bilang karena masalah keluarga pak."
"Baiklah, taruh saja surat itu "
Bu Selly menaruh surat Alina di atas meja dan pergi meninggalkan ruangan Reyhan. Reyhan masih memandangi surat itu dengan dahi yang dikerutkan,
"Dia bahkan tidak mengatakan apapun padaku, apa dia benar-benar tidak menganggapku?"
Sore yang sangat cerah, Alina sedang menunggu taksi dipinggir jalan, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti didepannya.
"Masuklah!" perintah seorang laki-laki sambil menurunkan kaca mobilnya.
Alina masuk ke dalam mobil laki-laki itu. "Tumben pak Reyhan jam segini sudah pulang?" tanya Alina memandang Reyhan yang sedang mengemudi.
"Pekerjaanku sudah selesai" jawab Reyhan tanpa menoleh.
"Pak, apa kita bisa berhenti di minimarket sebentar?" pinta Alina.
"Untuk apa?" tanya Reyhan mengernyitkan keningnya.
"Aku ingin beli es krim yang sedang hits sekarang. Pak Reyhan tau, dulu saat aku kecil aku ingin sekali membelinya tapi aku takut ibu tidak punya uang jadi aku tidak berani minta, saat aku sudah punya uang es krimnya udah nggak ada lagi. Dan aku dengar sekarang sudah ada lagi." Alina dengan antusias bercerita membuat Reyhan tersenyum kecil.
"Entah kenapa hatiku begitu senang saat dia mau bercerita padaku, dan aku berharap dia akan selalu seperti ini padaku."
"Baiklah kita akan akan berhenti di minimarket depan."
"yeeyyy!" seru Alin kegirangan.
Reyhan memperhatikan Alina yang sedari tadi senyum-senyum sendiri sepanjang jalan, air liurnya bahkan hampir menetes membayangkan es krim yang diinginkannya sebentar lagi akan dia dapatkan.
Mereka sampai disebuah minimarket yang dimaksud, Alina segera turun dari mobil dan melangkah cepat masuk ke dalam minimarket.
"Heii ... jangan berlari kau bisa jatuh!" ucap Reyhan sedikit berteriak pada Alina.
Alina tidak memperdulikan ucapan Reyhan, dia terus saja melangkah cepat menuju tempat es krim. Mata Alina sudah berkeliling mencari es krim yang diinginkannya, tapi tiba-tiba raut mukanya menjadi muram. Alina berbalik dengan wajah yang ditekuk dan langkah lesu masuk ke dalam mobil.
"Ada apa? kenapa kau sedih?" tanya Reyhan yang bingung dengan sikap Alina yang berubah drastis.
Alina hanya diam tidak menjawab pertanyaan Reyhan, karena penasaran Reyhan sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat wajah Alina yang tertunduk.
"Heii, kenapa kau menangis? apa ada yang menyakitimu?" tanya Reyhan sedikit panik melihat air mata Alina yang sudah menggenang.
"Es krimnya tidak ada," jawab Alina lirih.
"Ya ampun Alina ... apa kau benar-benar menginginkannya?"
"Tentu saja! aku sangat ingin," jawab Alina sedikit ketus sambil mengelus perutnya.
Reyhan membulatkan matanya melihat Alina yang sedang mengelus-elus perutnya.
"Kenapa aku bisa lupa, apa begini wanita yang sedang ngidam?" batin Reyhan memegang kepalanya dan menyenderkan sikunya dikaca mobil.
"Baiklah baiklah, kita akan mencarinya. Sekarang berhenti menangis," ucap Reyhan membujuk Alina supaya tidak menangis lagi.
"Sekarang kemana aku harus mencarinya ada banyak minimarket disini tapi aku tidak tau apa es krim itu benar-benar ada. Ya ampun nak, apa kamu sedang mengerjai papa sekarang?" Reyhan mengacak rambut frustasi.
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍