kisah cinta Reva Bima, yang berawal dari taruhan Reva bersama para tante-tante penggemar berat Bima.
Demi mendapatkan uang 10juta, Reva menerima taruhan dan mengejar cinta Bima. Tapi Reva wanita kesekian ratus kalinya yang mendapatkan perlakuan dingin seakan tidak terlihat.
Reva yang mempunyai kecantikan dan sifatnya yang ramah, membuat banyak pria yang mengejarnya. Setiap hari Reva berganti pacar dan membuat banyak orang patah hati.
Melihat sifat dingin Bima membuat Reva marah dan murka, dia melakukan sumpah serapah tidak akan menikah jika tidak dengan Bima. Dia akan mengejar Bima sampai Bima bertekuk lutut di kakinya.
Berhasil Reva! kita ikuti kisah cinta mereka dan rintangan yang harus Reva dan Bima hadapi bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vhia azaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GARA-GARA CINCIN
Sepulang dari desa bersama Bima, Reva menemui sahabatnya Septi. Dia langsung berlari memeluk seperti tanpa memperdulikan sekitarnya, Septi yang kebingungan dan malu langsung membawa Reva ke dalam ruangannya.
"Lagi gila Va!" Septi merasa ngeri melihat Reva yang mirip orang gila, pasti ulah Bima lagi.
"lagi bahagia gini dibilang gila." Reva memeluk Septi dan mencium pipinya. Dan menunjuk cincin di jarinya.
"Cincin baru!"
"Cincin pertunangan dodol! Om Bima melamar gue, kita bakal nikah. Yee yeee yeeeeee." Reva kegirangan.
"Seriusan! selamat Va. Perjuangan panjang akhirnya berujung, sekarang giliran aku yang harus berjuang."
Mereka berdua berpelukan, Reva meminta Septi ikut dengannya ke salon tapi Septi sibuk. Reva pergi menemui dua manusia astral yang akan dia beri kejutan juga.
Reva sampai di salon langganannya bersama dua makhluk astral, Reva berlari dengan tertawa gembira sambil memeluk Viana dan Jum yang sudah menunggunya.
"Kak Vi, Reva punya kabar gembira."
"Apa? Bima mencium Lo." Viana tertawa karena tahu Bima sensitif disentuh.
"Bukan hanya itu, lebih dari itu. Sangat luar biasa."
"Astaghfirullah Al azim Reva, kamu yang paling muda tapi tidak punya malu, kamu menyerahkan kehormatan padahal belum menikah. Kamu berzina!"
Reva melotot melihat Jum yang bicara sangat besar membuat seisi salon melihat kearah mereka, untungnya bukan artist atau istri artis jika tidak langsung viral dan trending.
"Seriusan sejauh itu, gimana enak!"
"Kak Vi, bukannya di nasehatin malah di tanya enak tidak, kak Vi tahu rasanya jangan di tanya lagi." Teriak Jum membuat Viana dan Reva terpingkal tertawa.
"Astaga rusak perawatan Reva kalau bicara dengan Jum, polos nya masa Allah." Reva menekan wajahnya pelan.
Mereka keluar dari salon sambil terus tertawa hanya Jum yang terlihat kesal.
"Sebenarnya kamu mau kasih kabar gembira apa Reva?" Viana ikut penasaran karena pembahasan mereka terhenti karena mengejek Jum yang di tinggal ciuman pertama.
"Janji jangan ada yang teriak." Reva melompat mengungkapkan kebahagiaannya yang tidak terbendung.
Setelah mendapatkan anggukan dan memberikan pemanasan yang membuat wajah Vi dan Jum tegang.
"Tara!" Reva menunjukkan jarinya yang sudah melingkar cincin di jari manisnya, sebuah cincin mutiara yang Vi bisa menafsirkan harganya sangat fantastis.
"Beli di mana?" Vi memegang cincin bermata kuning di jari Reva.
"Wow bangus banget, Jum suka."
Reva menyimpan tangannya dengan tatapan kesal, melihat dua wanita yang tidak mengerti arti cincin di jari manisnya.
"Dasar kalian berdua, kampungan, norak, tidak mengerti yang romantis, menyebalkan. Reva mau pulang kesal."
"Vi juga mau pulang, minta beliin cincin ke hubby."
"Jum minta ke siapa?
***
Bima dan Rama sedang berada di rumah membahas soal proyek soal proyek yang akan segera memberikan peluang besar bagi para pemburu kerja, Bima sudah kembali bekerja dan fokus ke perusahaan juga bisnisnya, walaupun masih ada rasa khawatirnya pada Bisma yang satu bulan sekali berpindah negara dan bersama banyak wanita.
Bima menggakat panggilan dari Reva yang ingin tahu Bima di mana, dan Reva langsung ingin menyusul. Bima menghela nafas karena Reva terdengar sedang kesal.
Suara teriakan dari luar membuat mereka berdua terhenti dan melihat kearah suara, Viana berlari sambil teriak memanggil hubby. Saat melihat Rama Viana langsung memeluk dan bergelayut manja membuat Rama mengaruk kepala, Bima hanya geleng-geleng. sifat Viana yang sudah tua mirip seperti Reva.
"Hubby! mau cincin seperti Reva." Vi memanyunkan bibirnya manja.
"Cincin! ya sudah beli kalau kamu suka."
"Tapi mau yang mirip Reva, cincinnya bagus mata nya kuning."
Rama menoleh kearah Bima yang hanya diam memperhatikan mereka berdua, melihat tatapan Rama langsung Bima mengangguk kepalanya tanda mengerti tatapan mata Rama.
"Cincin pertunangan Viana, kamu mau bertunangan berjamaah bersama Reva."
Viana menatap kaget melihat Rama dan Bima bergantian, dia baru paham jika Reva sedang menunjukkan cincin lamaran bukan mau pamer cincin.
"Mas Bram melamar Reva, kalian akan segera menikah."
Bima hanya menggagukan kepalanya, Viana berdiri kaget dan melangkah pergi sambil teriak memanggil Jum.
"Ram, gendang telinga kamu tidak pecahkan, setiap hari mendengarkan teriakan Viana yang tingkahnya kekanakan."
"Rama bahagia kak, mendengar teriakan Vi, nanti dia berkelahi dengan Ravi, hebohnya Ravi dengan ular membuat seisi rumah sibuk, kakak akan merasakannya setelah menikah dengan Reva. Akan melihat Windy dan Reva berdebat apalagi sama perempuan tidak bisa di bayangkan. Selamat menikmati kak Bima." Tawa Rama dan Bima terdengar.
"Jum! jumintean! hai Jum Lo sembunyi di mana?" Viana teriak-teriak membuat semua maid berkumpul membantunya mencari Jum di setiap sisi ruangan.
Jum memanyunkan bibirnya, melihat semua orang mencarinya di bawah kolong meja, dalam kemari, bahkan dalam toples, di balik panci semuanya di periksa. Dan bodohnya semuanya mengikuti Viana yang membuka semua sambil teriak.
"Nona! masa iya Jum bisa sembunyi di bawah pas bunga, lucu sekali." Mendengar salah satu maid yang masih muda dan polos Viana langsung duduk dilantai memegang perutnya sambil berbaring tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh sebuah kebahagiaan bisa melihat kekonyolan semua orang yang sangat polos.
"Kalian semua, mau saja dikerjain oleh nona, kalian pikir Jum kecoa yang sembunyikan di barang perabotan."
"Nona!" semuanya teriak kesal melihat Vi yang masih tertawa.
Viana berdiri melihat wajah Jum dan sesekali masih memegang perutnya yang terasa keram kebanyakan tertawa.
"Jum, cincin Reva!" Viana masih mengatur nafas dia lelah mengerjai asisten rumah tangga.
"Tuan Rama akan membelikan kita kak Vi," senyum Jum terlihat bahagia.
"Mimpi!" teriak Vi menyemburkan liur di mulutnya membuat Jum teriak dan berlari ke toilet tapi langsung diikuti Viana
"Jorok, mulut Kak Vi hujan, dasar bocor." Tawa Vi terdengar mendengar kekesalan Jum.
"Reva di lamar Jum, sebentar lagi akan menikah,"
"Serius kak Vi, jadi bukan pamer cincin. Kita salah tanggap pantas saja Reva sangat bahagia, telpon saja kak pasti dia sekarang lagi kesal."
Viana dan Jum pindah ke kursi sofa menghubungi Reva, terlihat wajah Reva yang cemberut di dalam layar.
"Jum tanyain mana Reva? mengapa yang menggakat jelek sekali."
"Mbak Reva mana?"
Reva menggulung handphonenya dengan selimut dan menutupnya dengan bantal, sambil di pukuli.
Viana dan Jum yang melihat gambar gelap dan tidak mendengarkan suara hanya tertawa, pasti Reva semakin marah.
Reva yang baru sampai rumah Rama langsung mengambil ponselnya kembali dari gulungan selimut Windy dan batal boneka. Cepat di arahkan kamera ke wajahnya yang berjalan masuk menyapa Rama.
Viana dan Jum berlari melihat Reva yang baru datang, wajah Reva kesal langsung melempar kedua wanita dihadapannya dengan kue dihadapan Bima dan Rama.
"Reva! tidak baik membuang makanan." Bima menghentikan tingkah Reva, yang sudah berlari mengejar Viana dan Jum.
"Daddy, Mommy dan kedua aunty kerasukan ya?" Ravi datang sambil geleng-geleng.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA.
***------
jadi malu....keluar kamar mata dah sembab😎