"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 31
Happy reading!
.
***
Setelah sukses menghindar dari kejaran para pemuda itu, Alita segera menghubungi Diego untuk segera pulang.
"Pulang? Bukankah kalian ingin berkencan?" Suara tawa ledekan Diego membuat Alita menahan napas dalam kekesalan.
"Sudah tidak ingin lagi. Ayo pulang," tegasnya sambil meremas kuat benda pipih di tangannya. Alita juga melampiaskan kekesalannya dan menendang mobil yang masih terparkir di tepi jalan itu. "Para penjahat yang kamu kirim juga sudah pulang."
"Hm, tunggulah selama sepuluh menit."
Alita mengerutkan keningnya, "Selama itu? Kamu di mana? Sedang apa? Apa kamu sedang mengajak bermain petak umpet lagi?"
Diego tertawa. "Kenapa aku merasa seperti seorang suami yang sedang diinterogasi istri?"
Alita menghentakkan kakinya kesal, memutar tubuhnya untuk mencari keberadaan Diego pun percuma. Sejauh mata memandang, hanya hamparan pasir putih yang memenuhi pandangan. "Kamu di mana?"
"Angin berhembus membawa tubuhku pergi membuat aku seolah terbang di angkasa. Jutaan mata memujaku, menyorotku dengan kilatan cahaya menyilaukan. Bahkan mobil pun ikut menengadah---"
"Turun!" tukas Alita sambil berlari ke sebatang pohon yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia langsung paham jika Diego sudah memulai pembicaraan omong kosong seperti itu, yang artinya pemuda itu memberinya sinyal di mana keberadaan Diego dan tentu saja Alita harus menebak dengan benar. "Kenapa kamu memanjat pohon?"
Pemuda itu dengan santai bergelayut di ranting pohon, ikut bergoyang saat dahan kecil itu tertiup angin. Alita mengerucutkan bibirnya mengetahui Diego enggan turun.
"Apa kamu tahu kalau berdiri di puncak itu sangat menyenangkan? Kamu bisa melihat apa saja yang berada di bawah, mereka berjuang dan merangkak naik, tak peduli siang atau malam, panas atau dingin," ucap Diego sambil tersenyum. Pemuda itu masih bergelantungan di sebuah dahan dan itu membuat mata Alita melebar sempurna.
"Kamu akan jatuh, Bodoh!" teriak Alita.
Diego mengedikkan bahu acuh. "Dan kamu tahu bagaimana rasanya berdiri di batas daratan?"
HOP!
Pemuda itu mendarat sempurna di atas tanah. Alita kembali terkejut.
"Itu membuatmu tidak bisa melangkah lebih jauh lagi." Bersamaan dengan itu, Diego mendekat dengan senyum miring. Kedua tangannya bersembunyi di balik badan, Alita merasa tersudut. Gadis itu mundur perlahan, merasa terintimidasi oleh tatapan Diego yang mendebarkan jantungnya.
Bukan. Ini bukan debaran jatuh cinta, tapi sepertinya lebih tepat jatuh tempo. Membuat resah dan takut.
"Di mana Summer?"
Alita menggeleng sebagai jawaban. Sungguh, saat ini dia ingin lari dan bersembunyi, senyum iblis di bibir Diego menggetarkan seluruh tubuhnya. Merinding.
"Hm?" Diego memiringkan kepalanya, mengintimidasi Alita dengan langkah kakinya yang semakin mendekat. "Kalian pura-pura berpacaran lagi? Atau kamu sudah jatuh cinta dengannya?"
Sekali lagi Alita menggeleng. Dalam hembusan napasnya, dia hanya berharap Diego tidak melahapnya di tempat yang sunyi ini. Kasihan, dia akan mati tanpa diketahui orang lain. Apalagi mendengar penuturan Summer kalau Diego membunuh Mr. Michael.
"Kenapa? Tidak mau berpura-pura lagi?"
Semakin Diego melangkah, Alita juga mundur perlahan. Tatapan mengintimidasi Diego sungguh membuat gadis itu terganggu, sampai punggung Alita menabrak sesuatu, Diego tergelak. "Kamu kenapa sekarang? Takut aku menciummu?"
Diego tertawa kecil, dia memerangkap Alita di mobil yang ditabrak gadis itu. "Ah, benar juga, kita belum pernah berciuman selama ini. Bagaimana kalau kita berciuman dalam suasana seperti ini? Di dekat pantai, dan sekarang sunset mengintip kita. Waktu yang tepat 'kan?" ucapnya sambil tersenyum mesum.
Tangan yang tadi menganggur segera menekan tangan Alita yang gemetar. "Hm, kamu menggemaskan juga kalau seperti ini. Pantas saja para pria itu mengejarmu lagi."
Diego tertawa pelan sambil menarik Alita yang kini mematung di tempatnya. "Ayo pulang!"
"Eh?" Alita mengerjap ragu. Dia belum bisa memahami suasana yang sedang terjadi. Tiba-tiba saja Diego mengintimidasinya dan sekarang seenaknya saja mengajak pulang?
"Kecewa karena tidak jadi ciuman?" ledek Diego saat melihat wajah Alita yang tidak biasa. "Baiklah, kita akan berciuman. Tapi itu harus di rumah, di sini terlalu banyak orang yang melihat. Aku takut pohon itu cemburu melihat kemesraan kita."
***
"Belikan aku makanan."
"Aku akan memasak untukmu sampai di rumah."
Alita mengerucut. "Memasak atau menghancurkan dapur? Aku tidak yakin masih hidup sampai besok kalau memakan masakanmu. Ayolah, belikan makanan itu, aku lapar sekali."
Diego menggeleng, dia tetap memutar kemudi agar cepat sampai di tempat mereka. Tanpa peduli lagi dengan ocehan Alita di sampingnya.
Tidak beberapa lama, keduanya sampai di apartemen. Diego menepati janjinya untuk memasak, dan terjadilah apa yang dikhawatirkan Alita.
Gadis itu terus mengerucut. Semua bahan makanan di kulkas menjadi arang dan berbagai macam bumbu dapur hilang tertelan api. Entah bagaimana Diego melakukannya, Alita tidak mengerti.
Alita berulang kali menghela napas pasrah. Keadaan menjadi sangat kacau, sama seperti sebelumnya tepat saat Diego menahannya agar tidak berkencan dengan Summer.
Bukannya Diego merasa bersalah atau ikut membereskan kekacauan yang dibuatnya, pemuda itu dengan santai duduk di meja makan dan menyantap makanan hasil pesanan layanan online.
"Santino!!!" Alita menarik kerah kaos pemuda itu agar Diego turun dan ikut membantunya.
Namun, Diego tetap bergeming. Sesekali bibirnya terangkat tatkala terdengar suara omelan Alita.
Sebenarnya Diego merasa risih saat gadis itu terus berceloteh, tapi ketiadaan Alita mungkin akan membuat harinya tetap abu-abu atau hitam. Suara omelan itu mengingatkannya pada sang ibu, wanita cantik yang selalu memarahinya dulu jika bermain dengan benda tajam. Diego merindukannya.
Terdengar helaan napas dari sampingnya, Diego menoleh dan mendapati si tukang rusuh sedang menyeka keringat menggunakan telapak tangan.
"Jangan pakai tangan, nanti kumannya menempel di wajah kamu. Kamu mau jerawatan?" sergah Diego dan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya.
Alita mengulas senyum tipis, bukan senyum, lebih tepatnya seringai tipis. "Lebih baik jerawatan daripada menjadi tua sebelum waktunya."
Ingin rasanya Diego tergelak kencang. Wajah memerah Alita memenuhi pandangannya dan itu sangat menggemaskan. "Aku mengerti. Cepat makan dan pergi tidur," ujarnya sambil menyodorkan makanan ke arah Alita.
Gadis itu makan dalam diam, sesekali melirik Diego yang tampak acuh. Banyak pertanyaan di benak Alita yang ingin sekali dia tanyakan pada Diego. Melihat pemuda itu yang sibuk dengan ponsel dan makanannya, Alita sedikit enggan. Akan tetapi, rasa penasaran mengalahkannya.
Alita berdehem pelan. Bodoh amat kalau Diego marah padanya, yang penting sekarang, dia tahu apa yang sebenarnya.
"Shaun, apa kamu memberitahu identitasmu pada Summer?"
Pemuda itu menoleh dan tersenyum kecil. "Dia mengatakan itu padamu?"
Alita mengangguk. "Lebih tepatnya seperti memancingku," aku Alita yang sedikit paham arah pembicaraan Summer sore tadi.
"Dan kamu terpancing?"
"Untungnya rombongan penjahat milikmu menghentikannya," tutur Alita sambil mengerucut, kembali mengingat bagaimana kesalnya dia saat dikejar oleh sekelompok pria tampan.
Diego tertawa, dengan santai dia kembali menyuapi makanan ke mulutnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Sepertinya Summer berubah," gumam Alita yang masih didengar Diego.
"Salah paham seringkali terjadi dalam sebuah hubungan. Kalau memang itu bisa mematahkan anak panah yang hendak menusuk jantungnya, maka biarlah itu menjadi dosa yang terindah."
Alita mengerutkan keningnya bingung. Diego selalu saja membuatnya bodoh dengan kalimat yang sulit dipahami.
"Apa lagi yang dikatakannya padamu?"
Sedikit enggan, Alita membuka mulutnya yang mulai bergetar. "Dia bilang ..., kamu membunuh Mr. Michael."
Tanpa diduga, jawaban Diego membuat sendok yang hendak menyuapkan makanan ke mulut Alita terjatuh.
"Aku memang membunuhnya."
.
---
---
---
***