Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Code Blue di Lorong Hati
Bunyi bip-bip-bip dari monitor EKG adalah satu-satunya musik yang dipahami Rania.
"Skalpel!" seru Rania, tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks terulur di udara.
"Dok, ini kantin. Itu sendok garpu," suara Kevin, dokter internship yang wajahnya selalu tampak kurang tidur, terdengar ragu-ragu.
Rania mengerjap. Ia melihat sekeliling. Benar juga. Dia sedang tidak berada di ruang operasi. Dia sedang berdiri di depan mangkuk bakso yang uapnya mengepul panas di kantin Rumah Sakit Citra Harapan. Suster Yanti di sebelahnya menahan tawa sampai bahunya berguncang.
"Ya ampun, Dok. Segitunya. Makan dulu, itu usus buntu di meja operasi tiga udah beres dari satu jam lalu," ledek Yanti sambil menyuapkan tahu goreng.
Rania mendesah panjang, menghempaskan bokongnya ke kursi plastik yang reyot. Ia menyisir rambutnya yang dipotong pendek sebahu—potongan praktis, biar tidak ribet masuk scrub cap—dengan jari. "Sori, Yan. Gue halusinasi. Udah 36 jam gue belum ketemu kasur empuk. Rasanya otak gue udah jadi bubur sumsum."
"Makanya cari pacar, Dok. Biar ada yang ngingetin tidur," celetuk Kevin, yang langsung dihadiahi tatapan tajam setajam silet bedah oleh Rania.
"Kevin, lo mau nilai stase bedah lo gue kasih C?"
Kevin langsung kicep dan pura-pura sibuk mengaduk es teh manisnya.
Suasana kantin siang itu riuh rendah. Rumah Sakit Citra Harapan memang bukan RS termewah di Jakarta, tapi UGD-nya adalah salah satu yang paling "bar-bar". Rania menyukainya. Ia suka adrenalin, ia suka kekacauan, dan ia suka fakta bahwa di sini, penampilan tidak penting. Lihat saja dirinya sekarang: baju jaga (scrubs) warna biru tua yang sudah agak luntur, noda betadine di ujung lengan, dan sandal Crocs karet warna kuning norak yang ia beli diskonan.
"Eh, tapi Dok," Suster Yanti memajukan wajahnya, tanda mode gosip dimulai. "Udah denger belum soal dokter baru yang bakal masuk hari ini?"
Rania meniup kuah baksonya. "Dokter baru? Spesialis apa? Kalo spesialis penyakit dalam lagi, gue nyerah. Yang kemaren aja kerjanya konsul mulu, nggak mau pegang pasien."
"Bukan!" mata Yanti berbinar. "Spesialis Bedah Plastik dan Rekonstruksi. Lulusan Seoul, Korea Selatan! Katanya sih... ganteng banget. Kayak Oppa-Oppa di drakor."
Rania tersedak kuah bakso. "Uhuk! Bedah plastik? Di sini?" Ia tertawa sinis setelah minum air. "Yanti, sayang, liat deh AC di ruang tunggu UGD aja bocor ditampung ember. Siapa yang mau facelift atau tummy tuck di RS gembel kayak gini?"
"Manajemen mau bikin poli eksekutif, Dok. Katanya buat nyelametin keuangan RS biar kita dapet THR tahun ini," bisik Yanti.
Rania memutar bola matanya. "Halah. Paling dokter pesolek yang takut darah. Liat aja nanti, begitu liat luka gangren dikit, pasti pingsan."
Tiba-tiba, pager di pinggang Rania berbunyi nyaring. Bersamaan dengan itu, pengeras suara sentral berbunyi.
"Code Blue. Code Blue. Area Lobi Utama. Code Blue Area Lobi Utama."
Rania langsung melompat dari kursinya, melupakan bakso yang baru dimakan dua suap. Naluri "The Butcher"-nya menyala. "Kevin, lari! Bawa emergency kit!"
Mereka berlari menerobos lorong koridor, mengabaikan protes pengunjung yang tersenggol. Rania tiba di lobi utama dalam waktu kurang dari dua menit. Kerumunan orang sudah melingkar.
Di tengah lingkaran itu, seorang bapak tua tergeletak tidak sadarkan diri. Tapi yang membuat langkah Rania terhenti sejenak bukan hanya pasien itu.
Ada seorang pria yang sedang melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru) pada pasien tersebut.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu slim-fit yang terlihat sangat mahal, kemeja putih licin tanpa setitik pun kerutan, dan sepatu pantofel mengkilap. Rambutnya tertata sempurna dengan pomade.
Meskipun sedang menekan dada pasien, gerakannya terlihat... anggun?
"Satu, dua, tiga, empat..." pria itu menghitung dengan suara bariton yang tenang namun tegas.
"Minggir! Saya dokter!" seru Rania, langsung berlutut di sisi lain pasien. "Kevin, pasang bag valve mask! Yanti, cek akses infus!"
Pria berjas itu menoleh. Mata mereka bertemu.
Waktu seakan berhenti. Bukan dengan cara romantis, tapi dengan cara horor.
Rania mengenali mata itu. Mata cokelat terang dengan bulu mata lentik yang dulu pernah ia tatap saat berbagi mikroskop di lab anatomi semester satu. Wajah itu sedikit lebih tuntas sekarang, rahangnya lebih tegas, kulitnya lebih glowing daripada masa depan Rania, tapi Rania tidak mungkin salah.
"Adrian?" desis Rania tak percaya.
Pria itu, Adrian, tidak berhenti memompa dada pasien, tapi alisnya terangkat sebelah. Ia menatap Rania dari ujung rambut yang berantakan, turun ke baju jaga luntur, dan berakhir di sandal Crocs kuning norak.
"Rania?" Adrian mendengus pelan, seolah mencium bau sampah. "Masih pake sandal kodok itu? Dan... astaga, itu noda saos sambal di dagu kamu?"
"Ini betadine, bego!" Rania refleks memaki. "Dan minggir, ini pasien gue!"
"Pasien kamu? Vitals belum balik. Siapkan epinefrin!" perintah Adrian otoriter pada Yanti, mengabaikan Rania. "Dan Rania, kompresi kamu nanti terlalu kasar. Biar saya saja. Saya tidak mau tulang rusuk bapak ini patah karena tenaga kuli kamu."
"Tenaga kuli?!" Rania melotot.
Di tengah situasi hidup dan mati seorang pasien, di lobi RS yang ramai, perang dunia ketiga antara "The Butcher" dan "The Prince" resmi dimulai.
...****************...
BERSAMBUNG...
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget