Saat mantan suami istri di pertemukan kembali setelah sekian lama, dengan banyak perubahan dari masing-masing. Apa kedua orang itu masih bermusuhan? Atau malah saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Kamu 2
Hampir semua angkatan kelas tiga tahu bagaimana itu seorang Lilia Faranisa Barron, sifatnya sangat posesif jika menyangkut seorang Finn Kailli. Gadis itu memang ceria, tapi akan berubah jadi barbar jika ada murid perempuan yang berani mendekati Fiinnya. Bahkan sendirianpun bisa melabrak tanpa takut sedikitpun, dasar macan betina.
"Finn!!"
Pria yang mendengar namanya di panggil secara lantang sampai menggema di kelasnya itu mengumpat di dalam hati, pensilnya Ia banting di meja sanking kesalnya. Tidak bisakah sehari Ia hidup tenang tanpa di ganggu penyihir itu?
"Finn lihat aku buat bekal, lupa tadi pagi gak ngasihin ke kamu." Lilia menyimpan kotak bekalnya yang berwarna pink berbentuk kartun itu di meja. "Abisin ya, aku udah capekloh masak dari subuh."
Finn melirik sinis beberapa temannya yang menahan tawa mengejeknya, Ia selalu malu kalau Lilia sudah seperti ini. Dengan malas Finn membuka kotak bekal itu dan langsung terbelak melihat isinya.
"Itu telurnya sedikit gosong, tapi em pasti enak kok hehe."
Sedikit katanya? "Kalau gak bisa masak jangan sok deh!"
"Ta-tapi akukan masih belajar, jadi maklum dong." Lilia langsung membawa sendok dan memotong kecil telur itu lalu menyodorkannya ke depan mulut Finn. "Buka mulutmu Finn, biar aku suapi."
"Tidak mau!"
"Ayolah Finn, coba sedikit saja, nanti pasti kau akan ketagihan masakanku."
Finn memutar bola matanya malas lalu membuka mulutnya menerima suapan itu, mengunyahnya beberapa saat tapi langsung memuntahkannya ke lantai. "Howek apaansih!!"
"Eh kenapa?"
"Asin banget gila!"
"Hahaha!!!" Dua murid laki-laki itu sudah tidak bida menahan tawanya lagi, mereka tertawa kencang menggema di kelas itu.
"Sialan!" Desis Finn lalu meminum air putih di botolnya cepat.
"Ma-maaf ya Finn, aku kira bakal enak."
"Ck gak usah masak lagi, bodoh bangetsih!"
Lilia mengerucutkan bibirnya. "Aku janji akan belajar masak lagi lebih giat untuk Finn."
"Gakk, gak akan aku makan!" Ketus Finn lalu bangkit dari duduknya di ikuti dua sahabatnya keluar kelas.
Lilia menghembuskan nafasnya lirih sambil menatap kotak makanannya dengan mata berkaca-kaca. Ia bukan sakit hati karena Finn menghina masakannya, tapi merasa tidak becus hanya untuk membuat makanan biasa saja. Padahal minggu kemarin Ia sudah belajar memasak bersama Mama Arabelle, tapi saat mencobanya sendiri tidak becus.
"Hei!"
Arabelle langsung membalikan badannya terkejut mendengar itu, terlihat seorang murid laki-laki yang berdiri dekat papan tulis. Ia bisa melihat sedikit raut terkejut di wajahnya, mungkin melihat Ia menangis.
"Ekhem ngapain di sini?" Tanyanya.
"Iya, tadi nyamperin Finn tapi dia udah keluar."
"Oh." Pria itu berjalan mendekati Lilia lalu mengulurkan tangannya. "Harris."
"Lilia." Ucapnya sambil membalas jabatan itu. "Em kamu murid baru?"
"Bukan kok."
"Oh tapi-"
"Kau saja yang selalu memperhatikan Finn sampai tidak melihat sekitar."
Lilia langsung terdiam dan tersenyum kikuk, benar juga, Finn memang sangat berarti di hidupnya. "Sekelas dengan Finn?"
"Hm."
"Em kalau gitu, aku permisi dulu."
"Hei tunggu!"
Lilia yang baru akan keluar kelas langsung berbalik. "Ya?"
"Kotak makananmu?"
"Oh iya lupa hehe." Kembali Lilia berbalik untuk membawa kotak bekalnya, tapi sebelum kembali pergi tangannya langsung di cekal membuat Ia terkejut. "Eh?"
"Ekhem kenapa makanannya masih banyak?" Tanya Harris sambil melepaskan cekalannya.
"I-itu.. Soalnya makanannya tidak enak." Cicitnya.
"Oh ya?"
"Hm, Finn bilang asin. Padahal pas pagi aku coba gak terlalu asin, paling cuma telurnya ada sedikit gosong."
Harris menatap dalam Lilia yang sedang menunduk seperti menahan sedih, Ia lalu merebut kotak makanan itu membuat si pemilik mengangkat kepala menatapnya. "Boleh gak ini buat aku aja?"
"Hah?"
"Aku laper, uang jajanku tertinggal di rumah."
Kedua mata Lilia langsung berbinar. "Boleh-boleh, tapi.. Memangnya-"
"Tidak papa, sini biar aku coba dulu."
Harris menyendokan sedikit makanan itu dan mengunyahnya, Lilia menunggu dengan cemas.
"Enak kok."
"Be-beneran?"
"Hm, cuma kurang gurih aja."
"Ta-tapi masih bisa di makankan?"
Harris mengulum senyumnya lalu mengangguk. "Iya bisa."
Lilia menghembuskam nafasnya lega, entahlah Ia merasa senang sendiri. Tapi kenapa Finn mengatakan masakannya tidak enak ya?
"Kau mau coba sendiri?" Harris sudah menyodorkan sesendok makanan di depan mulutnya. "Aku takut kau menganggapku bohong."
Dengan gugup Lilia menerima suapan itu dan mengunyahnya, Ia mencoba meresapi masakannya sendiri yang kata Finn asin. Namun setelah habis Ia telan Lilia merasa makanan itu masih bisa di makan, memang kurang gurih dan rasa tomat lebih mendominasi. Lalu asinnya dari mana?
"Kau hanya perlu lebih giat lagi belajar masak, nanti juga akan terbiasa."
"I-iya."
"Jadi bolehkan aku habiskan?"
"Boleh kok."
"Kalau begitu terima kasih, aku akan kembalikan kotak makanannya saat pulang sekolah."
"Hm, a-aku permisi."
"Iya."
Lilia melambaikan tangannya sebentar pada Harris lalu segera keluar kelas. Ia memegang dadanya yang berdetak cepat, ada apa dengannya? Biasanya Ia tidak pernah segugup ini dengan seorang pria, hanya pada Finn saja. Mungkin karena sanking terharu masakannya di coba, benar pasti karena itu.
"Ya Tuhan Lilia kau dari mana saja, aku mencarimu dari tadi!" Desah Tasya
"Hehe maaf, aku dari kelas Finn."
Tasya mengernyitkan keningnya. "Loh tapi aku lihat Finn sama temen-temennya di kantin tadi."
"Iya, tadinya aku mau ngasih dia kotak bekalku, tapi katanya masakanku gak enak."
Melihat sahabatnya yang mulai murung membuat Tasya tidak tega, Ia langsung memeluk Lilia dan memgusap punggungnya. "Gak papa, nanti belajar lagi juga pasti bisa kok."
"Hm aku harus pintar masak biar Finn ketagihan masakan aku."
"Hm, udah jangan sedih lagi, yuk ke kantin nanti keburu masuk."
Tidak terasa waktu berjalan cepat, bel pulang sekolahpun berbunyi. Semua murid berbahagia karena saatnya berisitirahat dan pulang ke rumah.
"Lilia."
"Eh Harris."
Harris berlari kecil menghampiri Lilia lalu menyerahkan kotak bekalnya. "Ini, makasih makanannya. Karena kau aku jadi tidak kelaparan."
"Hehe tidak-tidak, aku malah yang harusnya bilang terima kasih karena sudah menghabiskan masakan pertamaku."
"Masakanmu enak kok, kalau boleh aku ingin lagi mencobanya."
Lilia tersenyum kecil lalu mengangguk. "I-iya, aku akan belajar dulu biar lebih enak hehe."
Finn memicingkan matanya melihat pemandangan iu, kakinya entah kenapa melangkah sendiri mendekati mereka yang berdiri di ambang pintu kelasnya. "Hoi minggir, ngalangin jalan aja!" Ketusnya.
"Finn!" Ucap Lilia sambil tersenyum lebar. "Mau pulang sekarang Finn?"
Bukannya menjawab Finn malah menatap kotak bekal berwarna pink itu. "Udah abis ya?"
"Hah?"
"Siapa yang ngabisin?"
"Aku." Jawab Harris.
Finn tersenyum sinis. "Mau aja ngabisin makanan domba, gak eneg apa?"
Lilia langsung terdiam, senyuman di bibirnya bahkan langsung menghilang. Ia kira Finn akan cemburu karena masakannya malah di berikan pada Harris, tapi yang Ia dapat adalah.. Hinaan.
"Masakannya enak kok, mungkin kau sedang sariawan saja." Ucap Harris santai.
"Lidahku tidak bermasalah, bahkan harusnya aku yang meragukan lidahmu itu. Kau memang suka makanan menjijikan seperti itu ya?"
Harris mengepalkan kedua tangannya lalu melirik sekilas pada Lilia yang masih terdiam di antara mereka. Wajah gadis itu datar namun matanya memerah seperti menahan tangis. "Hm terima kasih pujiannya."
hanya org bodoh yg mengagungkan cinta sampai mati, krn bertepuk tangan tdk bisa dilakukan sendirian
.