NovelToon NovelToon
PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.

Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.

Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.

Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.

Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.

Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.

Mereka belum tahu…

perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Menjelang Pertunangan Selina

Dua hari sebelum pertunangan Selina, rumah Bu Martha sudah ramai sejak pagi.

Suara orang-orang bercakap-cakap terdengar dari ruang tengah, diselingi suara peralatan dapur yang beradu dari arah belakang rumah. Beberapa kardus berisi perlengkapan acara ditumpuk di sudut ruangan. Kursi-kursi tambahan sudah disusun, sementara beberapa anggota keluarga sibuk mondar-mandir mempersiapkan berbagai keperluan untuk acara pertunangan Selina lusa.

Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Rendra turun lebih dulu, disusul Tantya yang membawa beberapa tas. Begitu mereka melangkah masuk, Tantya langsung disambut pemandangan yang cukup melelahkan. Rumah mertuanya benar-benar sudah seperti tempat persiapan hajatan.

Farah, istri kakak pertama Rendra, sedang duduk santai di ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Di sebelahnya ada Niken, istri kakak kedua Rendra, yang sesekali ikut mengobrol dengan beberapa saudara lainnya.

Bu Martha yang sejak tadi sibuk mengawasi persiapan langsung menoleh begitu melihat kedatangan mereka.

"Akhirnya kalian datang juga.”

Belum sempat Tantya meletakkan tas yang dibawanya, suara Bu Martha sudah kembali terdengar. "Cepat, Tya. Bantu Bi Lilis di dapur!”

Tantya terdiam. Dia baru saja menempuh perjalanan cukup jauh dari Jakarta ke Cirebon. Badannya masih terasa pegal, bahkan belum sempat duduk dan mengambil napas.

"Lho, kok aku?”Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Tantya.

Bu Martha langsung mengerutkan kening.

"Iya, lantas siapa lagi yang harus bantu? Aku?”

Farah yang sejak tadi duduk santai langsung ikut menyela. Nada suaranya terdengar menyindir.

"Ya, setidaknya kami perlu istirahat dulu, lah. Perjalanan Jakarta-Cirebon itu jauh.”

Tantya menoleh kepada Niken. Untuk sesaat dia berharap kakak iparnya yang kedua akan membela dirinya. Namun, Niken justru mendengus. "Alah, segitu aja banyak alasan. Lagian kamu kan biasa kerja keras." Niken menyandarkan tubuhnya dengan santai ke sofa. "Nggak kayak kami, pekerja kantoran. Biasa duduk depan komputer.

"Sudahlah Tya. Kamu kan paling kuat kalau urusan begitu."Farah tertawa kecil.

Tantya menarik napas dalam-dalam. Dia tahu persis maksud ucapan mereka. Karena dirinya hanya bekerja sebagai penjaga toko, pekerjaan dan tenaganya seolah dianggap selalu tersedia untuk keluarga suaminya. Tidak peduli seberapa lelah dirinya, selama masih bisa berdiri, berarti masih bisa bekerja.

"Sudah, Mbak, Ikuti saja perintah Ibu!” Selina yang sejak tadi sibuk memeriksa beberapa perlengkapan pertunangannya akhirnya ikut bicara.

Tantya menoleh kepada Selina. Lusa perempuan itu akan bertunangan. Seharusnya hari ini menjadi hari yang menyenangkan untuknya. Namun, bukannya membantu atau sekadar menyambut kedatangannya, Selina malah ikut menyuruhnya.

Belum sempat Tantya menjawab, Bu Martha kembali angkat bicara. "Lagian kamu paling juga nyumbang acara tunangan Selina ini nggak seberapa. Paling kecil di antara yang lainnya.”

Tatapan Bu Martha berubah meremehkan. "Sudah sok-sokan nolak perintah Ibu.”

Tantya membeku. Ucapan itu terasa lebih menyakitkan daripada perintah untuk bekerja.

Selama ini dia tidak pernah banyak bicara ketika dimintai bantuan. Bahkan ketika keluarga Rendra membutuhkan uang, dirinya juga tidak pernah benar-benar menghitung berapa yang sudah dikeluarkan.

Tetapi di mata mereka, semua itu seolah tidak pernah ada. Yang mereka lihat hanya pekerjaannya.

Hanya statusnya sebagai menantu yang dianggap paling mudah diperintah. Tantya mengepalkan jemarinya perlahan.

Dia menatap satu per satu wajah di ruangan itu.

Kemudian, tanpa berkata apa-apa, dia meletakkan tas yang dibawanya. Tantya berbalik menuju dapur. Namun, kali ini langkahnya terasa berbeda. Ada sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam dadanya. Bukan sekadar lelah. Bukan sekadar kesal. Melainkan rasa muak karena terus-menerus dianggap tidak berarti.

Namun baru saja mau masuk dapur, Sellina memanggilnya. "Bentar Kak Tya, jangan dulu masuk dapur deh, ini mau dibagikan seragam untuk acara lusa.

Tantya urung masuk dapur, dia melangkah kembali ke tempat tadi. Bu Martha masuk ke dalam kamar dan dia langsung membawa goody bag. Tantya terkesiap melihat goody bag tersebut. Itu adalah goody bag rancangannya. Toko yang menjual baju-baju rancangannya harus menggunakan goody bag tersebut.

Selina kemudian mengambil goody bag tersebut dari tangan Bu Martha. "O ya, baju yang akan dibagikan ini warnanya burgundy, ini adalah hadiah dari Mbak Farah.

Selina mengangkat salah satu pakaian itu, lalu menatap Farah. "Harganya mahal, ya, Mbak?”

"Pastinya, sengaja beli custom biar pas di badan. Ini langsung dibeli dari perancangnya lho. Jadi pastinya mahal."

"Mantap, makasih ya Mbak."

"Iya sama-sama."

"Ini buat Ibu.”Selina mulai membagikan bajunya. Satu baju berpindah tangan.

"Ini buat aku."

Lalu satu lagi. "Ini buat Mbak Niken dan Mas Arya.”

"Ini buat Mbak Farah dan Mas Arga.”

Kemudian Selina mengambil pakaian terakhir. "Dan ini buat Mas Rendra.”

Rendra menerimanya dengan santai. Tantya memperhatikan pembagian itu dalam diam. Sampai akhirnya dia menyadari sesuatu. Tidak ada satu pun pakaian yang diberikan kepadanya.

"Kalau buatku mana?”

Farah yang sejak tadi memperhatikan langsung menyahut. "Maaf, kamu nggak dipesankan. Kamu pakai ini aja, ya.”

Farah mengambil satu pakaian lain dari dalam tote bag lain yang ada di dekatnya, lalu menyerahkannya kepada Tantya. "Yang penting kan warnanya sama, burgundy.”

Tantya menerima pakaian itu dengan tatapan tak percaya. "Serius ini buatku?”

"Iya. Emang salah?” Farah menjawab santai. "Yang penting kan warnanya sama.”

Tantya menatap pakaian itu beberapa saat. Jemarinya meraba bagian kainnya, lalu matanya kembali memperhatikan model pakaian tersebut.

"Ini baju bekas, Mbak,” ujar Tantya akhirnya. "Sudah nggak layak dipakai.”

Wajah Farah seketika berubah. "Apa? Nggak layak pakai?”

Nada suaranya meninggi. "Kamu jangan menghina, ya. Segitu aja dikasih gratisan.”

Tantya menghela napas. "Aku bukan menghina, Mbak. Tapi masalahnya—”

"Sudah, Tya,” potong Bu Martha. “Jangan banyak protes. Lebih baik bersyukur sudah dibelikan.”

"Tapi masalahnya—”

"Sudah, Tya!”Kali ini suara Rendra terdengar keras. Tantya langsung terdiam. Dia menatap suaminya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Barangkali dalam hati kecilnya masih ada harapan Rendra akan membelanya. Setidaknya mengatakan bahwa istrinya pantas mendapatkan pakaian yang layak. Namun, harapan itu kembali patah.

"Jangan terlalu banyak protes!” bentak Rendra.

Tantya menundukkan wajahnya. Bukan karena takut. Melainkan karena dia sedang berusaha keras menahan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kemarahan.

Sementara itu, Farah dan yang lainnya kembali sibuk membuka pakaian masing-masing.

"Wah, bagus banget!” seru Niken.

"Iya, bagus,” kata Selina sambil tersenyum.

"Wah bener jahitannya rapi, bahannya juga premium. Pasti harganya mahal, ya?”

Farah langsung tersenyum bangga. "Iya dong. Harganya di atas sejuta.”

Beberapa orang langsung mengangguk kagum. "Pantesan bukan kaleng-kaleng.” kata Niken lagi.

Tantya hanya diam. Matanya memperhatikan pakaian yang satu per satu mereka keluarkan dari kemasan. Senyum tipis mulai muncul di sudut bibirnya. Mereka semua tidak tahu. Baju yang sekarang mereka banggakan sebagai pakaian mahal seharga lebih dari satu juta rupiah itu adalah salah satu produk dengan harga paling murah di tokonya. Harganya hanya sekitar empat ratus ribuan.

Dan yang paling ironis, mereka juga tidak tahu bahwa perempuan yang sejak tadi mereka perlakukan seperti pembantu itu adalah perancang dan pemilik toko yang menjual pakaian tersebut.

Tantya memasukkan bajunya ke dalam tas. Dia tidak berniat membongkar kebohongan Farah hari ini. Belum. Biarlah mereka tetap menganggap dirinya tidak punya apa-apa. Biarlah mereka terus meremehkannya. Tantya menatap Farah yang masih terlihat begitu bangga dengan pakaian yang katanya bernilai jutaan itu.

Senyum miring terukir di bibir Tantya. "Tidak apa-apa. Terus saja meremehkanku. Terus saja menganggap aku tidak punya apa-apa." Tatapannya berubah tajam. "Awas saja pembalasanku!"

1
Heny
Jng mau di bujuk di rayu tya jng banyak mengalah
Heny
Gercap tya jng tunggu lama2 amankan aset ygkm punya
Heny
Sudah lah tya lbh baik pisah dr pada dimanfaatkan
Heny
Duh tantya besok2 klau diajak jng mau lbh baik jln sendiri
Ma Em
Keluarga Rendra rencananya mau permalukan Tantya eh ga taunya malah mereka yg malu sendiri karena baju yg dipakai Tantya lbh bagus dari mereka pakai , lbh baik Tantya cepat berpisah dgn Rendra .
Mundri Astuti
bis acara lamaran...hempasin laki" mokondo itu tantya
stela aza
kurang gercep terlalu mengalah trs ,,, di hina di injak injak harga dirinya diem Bae balas donk ,,,, g seru bgt
Mundri Astuti
hempasin aja laki modelan gini
Putri Wulandari
lanjut
stela aza
lemmot
mama
kelamaan,kurang sat set.. tinggal in aj suami macam kyk gitu..
Suhaida Tania
menantu kurang ajar, tidak ada sopan santun kepada ibu mertua
Ma Em
Tantya jgn mau bila diajak pulang sama Rendra biar saja Rendra pulang sendiri , Tantya jgn mau lagi disuruh suruh karena Tantya bkn pembantu apalagi Tantya selalu dihina dan diremehkan sama keluarganya Rendra biar mereka sadar tanpa bantuan dari Tantya Rendra dan keluarganya tdk punya apapa .
Ma Em
Tantya saja yg bodoh kenapa kamu mau saja bantu Rendra dan keluarganya meskipun selalu dihina dan direndahkan karena Tantya selalu diam tdk melawan makanya mereka berani menghina dan menginjak injak harga dirimu Tantya , lbh baik mulai sekarang tdk usah bantu lagi orang orang yg tdk tau diri tdk tau terima kasih biarkan mereka hdp nya susah tanpa bantuan Tantya , Rendra dan keluarganya pasti akan menderita
Ma Em
Tantya kamu jgn istri bodoh mau saja diperlakukan seperti pembantu dihina dan dikucilkan , bangkit Tantya kamu hrs berani melawan Rendra dan keluarganya dan kalau Rendra atau ibunya minta uang sama Tantya jgn kasih biar saja Rendra yg kasih uang untuk ibunya , Tantya jgn mau diremehkan lagi tinggalkan saja suami modelan si Rendra untuk apa dipertahan kan kalau tantya cuma jadi bahan ejekan dan hinaan .
ros
Tunggu byk episode Dan hampir end baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!