Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.
Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.
Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: KASUS DINGIN DI MEJA NOMOR SATU
BAB 24: KASUS DINGIN DI MEJA NOMOR SATU
Matahari sore baru saja meredup di balik kaca jendela ruang kerja utama markas Vanguard Private Crime Investigation (VPCI), menyisakan pendar jingga kemerahan yang menyorot tumpukan berkas perkara berdebu di atas meja kayu mahogany Reno Devano.
Sebuah map biru tua berstempel Cold Case - Unsolved tergeletak di hadapan Reno. Kasus itu telah mandek selama delapan bulan di meja penyidik kepolisian kota tanpa ada satu pun titik terang.
Pintu kaca terbuka pelan. dr. Sara Maheswari melangkah masuk membawa dua cangkir kopi hitam, diikuti oleh Nadia, asisten laboratorium forensiknya yang membawa koper aluminium besar berisi perlengkapan lapangan.
"Kepolisian resmi menyerahkan berkas pembunuhan di Vila Puncak itu ke tangan kita, Reno," ujar dr. Sara serius, meletakkan cangkir kopi di dekat draf kasus. Ia duduk di kursi seberang meja, membuka lembaran berkas laporan awal.
"Korban adalah seorang pengusaha properti bernama Hartanto Kusuma, ditemukan tewas di ruang kerjanya. Polisi sudah memeriksa TKP berkali-kali, tapi mereka menyerah karena pelakunya benar-benar bersih. Tidak ada saksi, tidak ada sidik jari yang cocok, dan TKP sudah dibersihkan total."
Reno membuka map biru tersebut, mengamati foto-foto tempat kejadian perkara.
"Jika kepolisian gagal menemukan bukti fisik, itu artinya pelaku menggunakan metode penghapusan jejak tingkat tinggi. Tapi tidak ada kejahatan yang seratus persen sempurna di dunia ini."
Reno berdiri, menyambar mantel hitamnya. "Nadia, siapkan koper forensik lapangan. Kita berangkat ke Vila Puncak sekarang. Kita buktikan apa yang terlewat oleh mata penyidik biasa."
Satu jam kemudian, SUV VPCI membelah kabut tebal yang turun di kawasan pegunungan Puncak. Vila berlantai dua itu tampak megah namun sepi, dikelilingi taman pinus yang basah oleh sisa hujan sore. Garis polisi yang mulai kusam masih melintang di depan pintu utama.
Begitu mereka memasuki ruang kerja korban, suasana dingin dan kaku langsung menyergap.
Ruangan itu tampak rapi dan steril, seolah tidak pernah terjadi tragedi berdarah di dalamnya.
"Polisi bilang ruangan ini sudah disterilkan dan tidak ditemukan apa-apa," kata Nadia, membuka koper aluminium besar yang dibawanya. Ia mengeluarkan sebuah botol semprot berisi cairan kimia khusus dan lampu UV portabel.
Namun, Reno tidak langsung menyuruh Nadia menyemprotkan kimia secara acak. Sang detektif perlahan melepaskan sarung tangan kulit hitamnya. Ia tahu bahwa hakim di pengadilan tidak akan pernah menerima laporan bertuliskan
"Saya melihatnya melalui penglihatan gaib". Penglihatannya hanyalah petunjuk untuk menemukan bukti nyata yang bisa disentuh hukum.
Reno membungkuk, menempelkan jemari bertelanjangnya pada permukaan meja kayu mahogany tempat korban terakhir kali berada.
DEG!
Sensasi psychometry meledak halus di balik pelipis Reno. Kilasan memori delapan bulan lalu berputar di dalam kesadarannya:
Reno melihat Hartanto Kusuma tersudut di dekat meja. Seorang pria berjas hitam mencekik leher Hartanto dengan sangat kuat.
Dalam keputusasaannya, Hartanto mencakar lengan pelaku hingga darah pelaku terciprat deras ke atas lantai kayu. Pelaku kemudian menyiramkan cairan pemutih (bleach) ke lantai untuk menghapus darahnya.
Sebelum melarikan diri dalam kegelapan, pelaku meraba-raba dinding di balik rak buku antik untuk menyalakan saklar lampu tersembunyi menggunakan tangan kanannya yang masih berdarah!
BRAK!
Kesadaran Reno tersentak kembali ke realita. Matanya yang tajam langsung mengarah ke dua titik spesifik yang diperlihatkan oleh penglihatannya: lantai di dekat meja dan saklar tersembunyi di balik rak buku antik.
"Sara, Nadia," panggil Reno tenang, menunjuk ke lantai kayu di dekat kaki meja. "Pelaku sempat dicakar oleh korban sebelum tewas. Darah pelaku terciprat di sini, tapi disiram cairan pemutih kimia. Semprotkan Luminol di titik ini."
Nadia segera menyemprotkan cairan Luminol ke area yang ditunjuk Reno, lalu memadamkan lampu utama dan menyalakan lampu ultraviolet.
Seketika itu pula, di bawah pendar sinar UV, lantai kayu yang tampak bersih memancarkan pendaran biru terang (chemiluminescence) yang sangat jelas!
"Pembersihan kimiawi menggunakan bleach konsentrasi tinggi!" seru Nadia kagum seraya mengambil sampel usap (swab) dari noda darah tersebut untuk tes DNA.
"Pelaku berusaha menyembunyikan jejak darahnya sendiri! Bagaimana Kamu bisa tahu titik persisnya, Bos?"
"Hanya analisis gravitasi cipratan," sahut Reno tersenyum tipis.
Reno melangkah ke titik kedua yang dilihatnya dalam visi psychometry rak buku antik di sudut ruangan. Ia mengamati saklar lampu tersembunyi berbahan perunggu yang tak tersentuh oleh tim kepolisian sebelumnya.
Menggunakan bubuk sidik jari magnetik hitam dan kuas serat bulu unta yang halus, Reno perlahan menaburkan serbuk di atas permukaan saklar lampu tersebut.
Puff...
Serbuk magnetik melekat rapi pada sisa minyak kulit yang tertinggal. Di bawah sorotan senter khusus, sebuah pola sidik jari parsial yang tajam dan utuh tercetak jelas di sudut bawah saklar!
"Aku mendapatkan sidik jari pelaku," kata Reno. Ia segera mengambil foto makro dari cetakan sidik jari tersebut.
"Penglihatan tidak bisa dibawa ke meja hijau, Sara... tapi sidik jari dan sampel DNA darah ini adalah bukti ilmiah yang tak bantahkan."
dr. Sara mendekat, menatap Reno dengan binar mata penuh rasa bangga dan kekaguman. "Kerja bagus, Detektif. Kamu menemukan bukti fisiknya. Sekarang, saatnya kita mencocokkannya dengan kondisi tubuh korban di meja otopsi."
Keesokan paginya, di ruang otopsi bawah tanah VPCI.
Lampu neon putih terang menyoroti Meja Otopsi Nomor Satu. Jasad Hartanto Kusuma terbaring kaku di atas meja stainless steel. dr. Sara berdiri di sisi kanan meja dengan jas laboratorium putih yang rapi, sementara Nadia berdiri di sisi kiri memegang nampan instrumen bedah. Reno berdiri di balik kaca pengamat.
"Memulai pemeriksaan luar pada jasad korban, pukul sembilan pagi," ucap dr. Sara tegas ke arah mikrofon rekam medis.
Ia mengamati bagian leher korban menggunakan kaca pembesar medis. "Ada bekas memar berbentuk lengkungan jari yang tidak simetris, disertai patah tulang hyoid di bagian dalam. Sesuai dengan rekonstruksi Reno, korban tewas akibat dicekik dari depan."
Nadia dengan cekatan menyiapkan pisau bedah. "Melakukan insisi Y-incision untuk membuka rongga dada dan perut, Dok."
dr. Sara menggoreskan pisau bedahnya dengan mulus, mengidentifikasi tanda-tanda asfiksia akut pada paru-paru korban, lalu mengambil sampel darah dari bilik jantung untuk tes toksikologi.
Beberapa menit kemudian, Dion menerobos masuk ke ruang pengamatan membawa lembaran hasil pencocokan sistem siber.
"Ren! Dokter Sara!" seru Dion dari interkom. "Sidik jari di saklar lampu dan sampel DNA darah di lantai cocok seratus persen dengan data di database Interpol! Pelakunya adalah Rian Prasetya, mantan mitra bisnis korban sendiri!"
dr. Sara melepas sarung tangan bedahnya, menoleh ke arah kaca pengamat di mana Reno berdiri.
"Penglihatanmu memberi kita arah, Reno," kata dr. Sara melalui interkom dengan senyuman hangat.
"Dan bukti sains forensik di meja otopsi ini yang akan menyeret Rian Prasetya ke dalam penjara."
Reno melangkah keluar dari ruang pengamatan, mengangguk mantap.
"Perpaduan sempurna antara intuisi dan sains. Mari kita selesaikan kasus ini."