Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyamar
Siang itu, Zea mondar-mandir di dalam ruang kerjanya dengan wajah penuh perhitungan. Hari ini ia memiliki sebuah misi rahasia yaitu pergi ke pasar sebagai warga biasa untuk melihat langsung kondisi pedagang dan fasilitas di sana tanpa membawa embel-embel sebagai gubernur.
“Kalau aku datang sebagai gubernur, pasti semuanya mendadak berubah,” gumam Zea. “Jalan yang biasanya becek bisa tiba-tiba bersih, pedagang yang biasanya mengeluh bisa mendadak bilang semuanya baik-baik saja.”
Ia mengembuskan napas lalu melirik ke arah meja kerja. Intan sudah ia suruh mengerjakan tumpukan tugas di ruangan lain agar tidak ikut campur dalam rencananya kali ini.
Sayangnya, ada satu masalah yang belum berhasil ia singkirkan yaitu Sagara. Tak mungkin ia datang membawa pengawal, bisa-bisa jadi pusat perhatian.
Pria itu berdiri beberapa meter dari meja Zea dengan postur tegak dan wajah datar, benar-benar seperti patung yang sengaja ditempatkan di dalam ruangan. Tatapannya mengikuti setiap gerakan Zea tanpa banyak bicara.
Zea berhenti mondar-mandir lalu menatapnya. “Kamu tidak punya pekerjaan lain selain berdiri begitu?”
“Saya sedang bekerja.”
“Bekerja apa?”
“Menjaga Anda.”
Zea memutar bola mata. “Menyebalkan.”
Sagara tidak menanggapi.
Zea akhirnya mengambil tas kecilnya lalu berjalan menuju pintu. Baru saja ia keluar dari ruangannya, langkah Sagara langsung menyusul dari belakang.
Zea melirik ke belakang dengan kesal. “Aku hanya mau ke toilet, apa kau mau mengikutiku masuk begitu?”
“Saya hanya akan berjaga di luar.”
Mata Zea langsung melotot. “Tetap saja aneh, nanti apa kata orang.”
Sagara menunjuk ke arah pintu ruang kerja Zea. “Lagipula, ada toilet di ruangan Anda. Kenapa harus turun ke lantai bawah?”
Zea mendengus. “Suka-suka akulah. Aku mau ke WC mana pun juga terserah aku.”
“Baik.”
Jawaban singkat itu justru membuat Zea semakin kesal. Ia mempercepat langkah menuju tangga, sementara Sagara tetap mengikutinya dengan jarak beberapa langkah.
Begitu sampai di lantai bawah, Zea langsung menuju toilet wanita. Sebelum masuk, ia berbalik dan menunjuk Sagara dengan tatapan mengancam.
“Awas saja kalau ngintip.”
Sagara mengangkat satu alis. “Saya tidak memiliki kebiasaan seperti itu.”
“Entar matamu jadi bintitan dan juling.”
Sagara menatapnya datar. “Saya akan mengingat nasihat Anda.”
“Bagus.”
Zea segera masuk dan menutup pintu. Namun, begitu berada di dalam, ekspresi kesalnya berubah menjadi senyum puas.
“Sekarang kita lihat siapa yang lebih pintar.”
Ia membuka tas kecil yang dibawanya dan mengeluarkan pakaian yang sebelumnya sudah ia minta seseorang siapkan. Dalam beberapa menit, pakaian dinasnya sudah berganti dengan pakaian sederhana yang biasa dikenakan masyarakat.
Zea kemudian melepas hijab formalnya dan menggantinya dengan hijab instan berwarna sederhana. Setelah mengenakan kacamata bening dan masker, penampilannya berubah cukup jauh dari sosok gubernur yang biasa muncul di depan publik.
Ia berdiri di depan cermin dan memeriksa penampilannya. “Lumayan. Kalau begini, siapa yang bakal mengenali?”
Zea kemudian melihat ke arah jendela toilet. Matanya langsung berbinar.
“Jalan keluar alternatif.”
Ia membuka jendela dengan hati-hati, memastikan tidak ada orang di luar. Setelah itu, Zea naik dan turun melewati jendela tersebut hingga akhirnya mendarat di sisi luar gedung.
Zea berdiri sambil merapikan pakaiannya. Ia menoleh ke gedung kantor gubernur dengan senyum kemenangan.
“Ah! Akhirnya bebas juga dari Kapten Es Batu itu!”
Baru saja ia hendak melangkah, sebuah suara terdengar dari belakangnya.
“Sudah selesai?”
Tubuh Zea langsung kaku, enyumnya perlahan menghilang. Ia mengenali suara itu. Dengan gerakan sangat lambat, Zea menoleh.
Sagara berdiri beberapa meter di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajahnya tetap tenang, seolah melihat gubernurnya keluar dari jendela toilet merupakan kejadian yang sudah ia duga sejak awal.
“K–kapten?”
“Ya.”
Zea menunjuk ke arah gedung dengan gugup. “Kok kamu bisa ada di sini?”
Sagara melirik jendela yang baru saja dilewati Zea. “Saya mengikuti Anda.”
Zea terdiam.
“Dan saya mulai memahami kenapa Anda memilih toilet di lantai bawah.”
Zea menelan ludah. “Jadi ... kamu tahu?”
Sagara mengangguk pelan. “Saya tahu Anda sedang mencoba kabur.”
Zea memasang wajah kesal. “Aku bukan kabur.”
“Lalu?”
“Aku ... sedang melakukan inspeksi lapangan secara rahasia.”
Sagara menatap pakaian sederhananya dari atas sampai bawah. “Dengan memanjat jendela toilet?”
Zea terdiam beberapa detik. “Strategi saya memang sedikit berbeda.”
Sagara menghela napas panjang. “Saya sudah menduga hari ini akan merepotkan.”
Zea mendengus sambil berjalan melewatinya. “Kalau begitu jangan mengeluh. Ayo ikut saja.”
Sagara menoleh. “Ke mana?”
“Ke pasar.”
“Saya sudah tahu.”
Zea berhenti lalu menatapnya kesal. “Kenapa rasanya semua rencanaku selalu gagal kalau ada kamu?”
Sagara berjalan menyusul dengan tenang. “Karena Anda terlalu mudah ditebak.”
“Enak saja! Cepat ganti baju!” Mau tak mau, Zea harus bersama dengan Sagara ke pasar.
***
Pasar itu cukup ramai siang itu. Suara pedagang menawarkan dagangan bercampur dengan suara pembeli yang menawar harga, sementara aroma bumbu, gorengan, dan berbagai bahan makanan memenuhi udara.
Zea berjalan santai di antara kerumunan dengan pakaian sederhananya. Sesekali ia melirik ke kanan dan kiri, memperhatikan kondisi kios, jalanan, serta fasilitas pasar yang selama ini hanya ia lihat melalui laporan.
Beberapa langkah di belakangnya, Sagara mengikuti dengan wajah datar. Penampilannya kali ini benar-benar berbeda dari biasanya, karena ia mengenakan kaus murah yang sengaja dibuat sedikit robek dan celana sederhana agar tidak terlihat seperti seorang perwira yang sedang melakukan pengawalan.
Tapi penyamaran itu justru membuat Sagara terlihat semakin mencolok. Kaus yang terlalu kecil untuk tubuh kekarnya bahkan tidak mampu menyamarkan bentuk tubuhnya, sementara sedikit kotoran sengaja dilumurkan di wajahnya untuk mengurangi kesan terlalu rapi.
Sagara menunduk melihat pakaiannya sendiri. “Apakah memang harus berpakaian seperti ini?”
Zea menoleh. “Kenapa?”
“Tidak bisakah saya memakai pakaian biasa saja?”
Zea mengamati Sagara dari kepala sampai kaki. “Tidak bisa.”
Sagara mengangkat alis. “Alasannya?”
Zea mendengus kecil. “Wajahmu terlalu tampan.”
Sagara terdiam.
Zea melanjutkan dengan santai, “Nanti ibu-ibu bukannya belanja, malah minta foto sama kamu.”
Sagara menaikkan satu alis. “Oh, jadi saya tampan?”
Zea langsung membuang muka. “Tidak.”
“Barusan Anda mengatakan saya tampan.”
“Aku bilang kamu terlalu tampan supaya penyamaranmu berhasil.”
Sagara menatapnya beberapa detik. “Jadi saya tampan?”
“Tidak,” jawab Zea cepat. “Hanya tidak jelek saja.”
Sagara menghela napas pelan. “Baiklah.”
Zea kembali berjalan sambil menahan senyum. “Jangan percaya diri dulu, Kapten Es Batu.”
Sagara memperhatikan pakaiannya sekali lagi sebelum menyusul. “Tetapi ini bukan penyamaran.”
“Kenapa?”
“Orang-orang nanti mengira kita pemulung.”
Zea spontan menoleh dan menatapnya dari atas sampai bawah. Ia kemudian menahan tawa ketika melihat kaus robek, celana lusuh, serta wajah Sagara yang sengaja dibuat kotor.
“Ya ampun,” gumam Zea. “Kalau dipikir-pikir, memang mirip.”
Sagara menatapnya datar. “Terima kasih.”
“Sudah, jangan banyak bacot. Kita jalan.”
Zea menarik lengan Sagara sebentar agar pria itu segera mengikutinya. Namun, Sagara justru berhenti sejenak dan menatap tangan Zea yang masih memegang lengannya.
Zea baru sadar lalu langsung melepaskannya. “Kenapa berhenti?”
“Tidak ada.”
Sagara kemudian kembali berjalan di sampingnya. Keduanya menyusuri lorong pasar dengan penampilan sederhana, meskipun orang-orang yang melihat mereka mungkin tidak akan pernah menyangka bahwa salah satunya adalah gubernur provinsi dan satunya lagi seorang kapten pasukan khusus.
Zea terus mengamati keadaan pasar dengan serius. Sementara itu, Sagara sesekali melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan di tengah keramaian.
“Jangan terlalu serius,” bisik Zea. “Kita sedang menyamar.”
“Saya sedang menjalankan tugas.”
“Kalau wajahmu seperti itu, semua orang tahu kamu bukan pemulung.”
Sagara menoleh. “Lalu saya harus bagaimana?”
Zea berpikir sebentar. “Coba senyum.”
Sagara menatapnya tanpa ekspresi. “Tidak.”
Zea mendengus. “Susah sekali punya pengawal.”
“Lebih sulit menjadi pengawal Anda.”
Zea langsung melotot, sementara Sagara terus berjalan seolah tidak mengatakan apa-apa.
tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
aaaahhh kira2 apa lagi ya
Zea atau kau Soraya? 😏