Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.
Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.
Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.
Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Bonus Vittorio
Vittorio
Kulihat Damon meninggalkan restoran dengan langkah keras, wajahnya dikuasai amarah dan kedua tinjunya terkepal di sisi tubuh. Aku tak perlu jadi ahli untuk mengenali ekspresi itu. Aku cukup mengenal putraku untuk tahu kapan dia hampir melakukan sesuatu yang kelak disesalinya. Masalahnya, Damon terlalu bangga untuk mengakui kesalahannya sendiri, terutama ketika amarah bicara lebih lantang daripada akal.
Saat kualihkan mata pada gadis di hadapanku, kudapati pemandangan yang meremas sesuatu di dalam dadaku. Felipa berusaha menahan air matanya, tapi gagal total. Dagunya bergetar, matanya berkaca-kaca, dan kepalanya tertunduk, seakan dia mencoba menyembunyikan penghinaan yang baru dia terima dariku.
Aku mendekat dan memegang lengannya dengan lembut.
"Ayo kita keluar dari sini, Felipa."
Dia tak menjawab. Dia hanya ikut tanpa bertanya saat kami menjauh dari restoran. Diamnya mengusikku lebih dari kata apa pun. Aku pernah melihat orang memohon demi nyawanya, pernah menghadapi situasi di mana satu keputusan salah harus dibayar mahal, tapi aku sama sekali tak tahu harus berkata apa pada seorang gadis muda yang baru saja dihancurkan hatinya oleh putraku sendiri.
Kuminta Arthur mengantar kami pulang. Sebelum kami masuk mobil, kukembalikan amplop itu ke tangannya, tapi Felipa menggeleng dan mendorongnya kembali ke arahku.
"Simpan saja, Tuan Lombardi."
"Felipa..."
"Tolong."
Cara dia mengucapkan dua kata itu membuatku berhenti memaksa. Kusimpan amplop itu dan kubukakan pintu mobil agar dia masuk. Lalu aku memutar dan duduk di sisinya.
Sepanjang perjalanan, tak seorang pun dari kami bicara. Deru mesin mengisi ruang di antara kami, sesekali terputus oleh isak yang Felipa coba redam. Wajahnya berpaling ke jendela, jari-jarinya saling menggenggam di pangkuan, bahunya membungkuk. Dia seperti ingin lenyap ke dalam tubuhnya sendiri, dan aku tak bisa berhenti memikirkan bahwa Damon bertanggung jawab atas setiap air mata itu.
Kutarik napas dalam sebelum akhirnya memecah keheningan.
"Damon itu putraku, Felipa. Putra yang menolakku."
Dia tetap tak bergerak, tapi kurasakan dia mendengarkan.
"Sebagian besar hidupnya dia habiskan untuk menjauh dari segala sesuatu yang berhubungan denganku. Namaku, keluargaku, uangku... Semua yang kuwakili jadi alasan dia membenciku." Aku berhenti sejenak, memilih kata dengan hati-hati. "Dan hari ini dia melampiaskan padamu seluruh amarahnya kepadaku."
Kutatap tanganku sendiri, merasakan beratnya rasa bersalah yang kupikul bertahun-tahun. Seorang putra yang tidak kubesarkan.
"Dalam arti tertentu, ini juga salahku."
Aku tak berharap dia menghiburku. Aku juga tak berharap dia memahami hubungan rumit antara aku dan putraku. Ada luka yang tak bisa dijelaskan dalam beberapa kata, dan luka kami terbuka begitu lama sampai aku tak tahu apakah suatu hari akan sembuh sepenuhnya.
Kupalingkan wajah ke arahnya.
"Kalian saling jatuh cinta, bukan?"
Pertanyaan itu menggantung di antara kami.
Felipa tak menjawab. Dia terus memandang keluar jendela, tapi pelan-pelan isaknya mereda. Dia mengusap bawah matanya, mencoba menghapus air mata, dan menarik napas dalam beberapa kali. Aku tak butuh pengakuan lisan untuk mengerti arti diam itu. Ada perasaan yang tak hilang begitu saja hanya karena seseorang memutuskan perasaan itu harus hilang.
"Dia agak mirip denganku," lanjutku sambil melepas tawa hambar.
"Bangga, keras kepala, dan yakin bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Bedanya, aku butuh waktu sangat lama untuk menyadari kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh pilihan-pilihan tertentu."
Kukatupkan bibir, merasakan nyeri menusuk dada saat memikirkan waktu yang kuhilangkan sewaktu aku masih lebih muda.
"Aku hanya berharap punya cukup waktu untuk mendapatkan maaf putraku sebelum aku mati."
Kata-kataku keluar lebih pelan dari yang kumaksud. Aku tak mengatakannya untuk memancing iba Felipa, apalagi menjadikan ceritaku lebih penting daripada rasa sakit yang sedang dia alami. Itu sekadar kebenaran yang menemaniku bertahun-tahun. Waktu tak pernah terasa sependek sekarang, ketika akhirnya aku sadar mungkin aku tak punya sebanyak kesempatan yang kuinginkan untuk memperbaiki apa yang kuhancurkan semasa hidup.
Kualihkan pandangan ke jendela beberapa saat, mencoba mengusir pikiran yang terus menggangguku. Ketika kembali menatap Felipa, kulihat dari dekat kerusakan yang ditimbulkan Damon.
Matanya merah, bulu matanya masih basah, dan hidungnya sedikit merona karena menangis. Beberapa isak masih lolos dari napasnya, meski dia berusaha keras menenangkan diri. Dia tampak kelelahan, seolah berjam-jam bergulat dengan rasa sakit yang tak tahu harus ditaruh di mana.
Menyadari aku sedang memandangnya, Felipa menunduk, malu.
Itu sangat mengusikku.
"Jangan menunduk, Nak," kataku, suaraku tegas, tapi tanpa kekerasan yang biasa.
"Kamu sama sekali tak punya alasan untuk malu."
Dia meremas jari-jarinya di pangkuan.
"Saya tidak ingin Anda melihat saya seperti ini."
Dadaku mengencang mendengar pengakuan itu.
"Seperti apa?"
Felipa butuh beberapa detik untuk menjawab.
"Begini. Menangis karena seorang pria yang baru saja memperlakukan saya seolah saya tak berarti apa-apa."
Kupejamkan mata sesaat. Tak ada pembelaan yang bisa kuajukan atas nama Damon, tak ada penjelasan yang membuat cara dia memperlakukannya bisa diterima.
"Kamu tak perlu malu karena mencintai seseorang, Felipa. Apalagi karena percaya cinta itu akan dibalas dengan cara yang pantas kamu dapatkan."
Dia mengangkat mata padaku, dan kutemukan kesedihan yang begitu dalam sampai aku harus menahan keinginan memeluknya seperti aku memeluk anggota keluargaku sendiri.
"Putraku mungkin pria yang sulit, tapi itu tak memberinya hak menyakitimu. Kamu juga tak perlu menerima semua yang dia lakukan hanya karena kamu mencintainya."
Kali ini Felipa tak mencoba menjawab. Dia hanya menarik napas dalam, membiarkan satu air mata terakhir mengalir di pipinya.
Kuulurkan tangan dan kugenggam tangannya dengan lembut.
Aku tak tahu apakah kata-kataku cukup untuk meredakan sakit yang diberikan Damon. Mungkin tidak. Ada hal yang hanya bisa diredakan waktu, dan ada yang bergantung pada permintaan maaf yang tulus.
Tapi sambil memandang gadis muda itu berusaha mengumpulkan serpihan dirinya di kursi sampingku, aku mengambil keputusan dalam diam.
Putraku boleh membenciku sesukanya. Dia boleh terus menyalahkanku atas semua yang terjadi di antara kami, menolak namaku, dan membelakangi keberadaanku.
Namun aku tak akan membiarkan perang di antara kami menghancurkan hidup seorang perempuan yang, dari apa yang baru kusaksikan, sungguh mencintainya.
Kalau Damon belum bisa melihat apa yang hampir hilang darinya, mungkin aku harus mencari cara membuatnya mengerti sebelum terlambat.