Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Maafkan saya, Pak." Bi Ina langsung bersimpuh, membuat aku tidak tega melihatnya.
"Aku sudah peringatkan padamu, Bi. Jangan memberi makanan ini. Apa ini? teri, terasi, pake petai lagi. Kalau anakku diare, kau akan menanggung akibatnya!" bentaknya, lalu melirik Arkan yang masih menangis.
"Pak, Maafkan saya. Ini semua bukan salah Bi Ina. Saya yang memintanya untuk membuatkan nasi goreng itu. Jika Anda ingin marah, marah ke saya saja. Saya siap menerima konsekuensinya," lirihku sambil menyingkap jilbab.
"Jangan berikan Asimu dulu! Aku akan bertanya pada dokter Gunawan masalah ini," titah Dikta dengan jarinya yang menancap jelas di mataku.
Dikta merogoh gawai di saku, lalu keluar meninggalkan aku dan Arkan yang masih menangis.
"Apa itu berbahaya, dok?" tanya Dikta disela mengaduk susu formula untuk putranya. Ia tahu jelas, putranya bakal menolak. Tapi, ia tak punya pilihan. Daripada putranya sakit akibat meminum susu dari makanan yang tak sehat, ada baiknya ia mengambil langkah aman.
"Pak Dikta jangan khawatir. Bu Arini mungkin belum paham. Jelaskan padanya dengan lembut agar dia bisa menerima. Biasanya wanita pasca melahirkan itu rindu pada makanan yang menjadi menu favoritnya. Jika Anda terlalu keras, di khawatirkan dia akan sedih," tuturnya dari seberang telpon.
"Jadi apa yang harus saya lakukan?" Dikta merasa frustasi.
"Jika dia memakannya hanya sedikit, saya rasa tidak masalah."
"Baiklah, dok. Terimakasih atas penjelasannya," ucapnya lalu mematikan ponselnya.
Dikta menatap layar gawainya yang sudah menggelap. Kata-kata dokter Gunawan terus terngiang di kepalanya, menghantam ego kesombongannya. “Wanita pasca melahirkan itu rindu pada makanan favoritnya. Jika Anda terlalu keras, khawatir dia akan sedih lagi.”
Ia mengembuskan napas berat, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Matanya beralih pada botol susu formula yang sudah disiapkan tadi. Tangannya yang memegang sendok takaran tampak kaku. Dikta tahu persis, Arkan tidak akan pernah mau menyentuh dot itu. Anak itu hanya ingin Arini.
Dengan langkah kaki yang tetap, Dikta berjalan kembali menuju kamar. Pintu terbuka lebar. Suara tangis Arkan yang melengking langsung menyambut pendengarannya. Di atas ranjang, aku masih setia mendekap Arkan dengan bahu yang bergetar hebat. Air mataku luruh menetes ke pipi Arkan. Sementara di sudut kamar, Bi Ina masih tertunduk, tak berani beranjak dari sana.
Dikta meletakkan botol susu itu di atas meja nakas dengan ketukan yang cukup keras, membuat kedua wanita di dalam kamar itu tersentak.
"Bi Ina," panggil Dikta, suaranya berat dan datar, tanpa nada bentakan seperti tadi.
"I-iya, Pak?" Bi Ina mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Bereskan sisa makanan di meja makan," titah Dikta dingin. "Dan buatkan susu hangat untuk Arini, sekarang!"
Bi Ina mengerjap, mendengarkan perintah terakhir majikannya. "Baik, Pak. Baik. Permisi." Dengan tergesa-gesa, wanita paruh baya itu keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
Suasana kamar mendadak mencekam. Hanya ada isakan pelan dariku dan tangis Arkan yang mulai melemah karena kelelahan. Dikta berjalan mendekati ranjang, berdiri tegak di sampingku yang menunduk, menyembunyikan wajah.
"Angkat kepalamu," ucap Dikta datar.
Aku tak bergeming. Aku justru semakin erat memeluk Arkan, takut Dikta akan merebut bayinya secara paksa. "Maaf..." lirihku, "Marahi saya saja, Pak. Jangan Bi Ina. Saya yang salah."
Dikta menghela napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang. Jarak kami begitu dekat. Sikap kaku Dikta belum hilang, namun sorot matanya tidak lagi sekejam tadi.
"Aku tidak suka mengulangi ucapanku, Arini. Angkat kepalamu," ulangnya, kali ini dengan penekanan yang tidak bisa dibantah.
Perlahan, aku mendongak. Mataku yang sembap dan hidung memerah menatap Dikta dengan tatapan sedih sekaligus takut.
"Dokter bilang tidak apa-apa," cetus Dikta tiba-tiba, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Arkan.
Aku tertegun. "M-maksudnya, Pak?"
"Dokter bilang kalau cuma makan sedikit, tidak akan berpengaruh apa-apa pada ASI-mu," jelas Dikta dengan nada acuh tak acuh, seolah ia hanya sedang membacakan koran. "Jadi, berhenti menangis. Tangisanmu membuat Arkan makin rewel."
Aku terpaku. Ada rasa lega yang luar biasa menjalar di dada ini, namun sikap dingin Dikta tetap membuatku bingung. "Jadi... aku boleh menyusui Arkan?"
"Menurutmu? Apa kau mau membiarkan anakku mati kelaparan karena menunggu susu formula yang jelas-jelas dia tolak?" sahut Dikta ketus. Tangannya bergerak mengambil botol susu formula di nakas dan meletakkannya kembali ke dalam laci, menjauhkannya dari pandangan.
Tanpa membuang waktu, aku segera memposisikan Arkan untuk menyusu. Begitu bibir mungilnya menyentuh, tangis Arkan langsung terdiam, berganti dengan suara sesenggukan kecil dan isapan yang kuat. Suasana mendadak hening.
Dikta memperhatikan momen itu dalam diam. Arini begitu tulus menenangkan putranya, meskipun wanita itu sendiri baru saja ia bentak habis-habisan.
"Lain kali, kalau mau makan apa pun, bicara padaku," kata Dikta. Suaranya masih terdengar dingin dan berwibawa.
Aku menoleh kecil. "Saya... Saya hanya rindu rumah, Pak. Nasi goreng terasi buatan ibu saya memakai petai. Saya tidak tahu kalau itu bisa membahayakan Den Arkan. Maafkan Saya."
Dikta memalingkan wajahnya ke arah jendela, tak ingin memperlihatkan kilat bersalah di matanya. "Aku tidak melarangmu makan. Tapi kau harus tahu posisimu sekarang. Kau itu ibu menyusui. Tubuhmu bukan cuma milikmu lagi, tapi juga milik anakku. Paham?"
"Paham, Pak," jawabku dengan anggukan pelan. Aku bisa merasakan, di balik kalimat ketus dan egois itu, Dikta sebenarnya sedang mengkhawatirkan kesehatan putranya.
Pintu kamar diketuk pelan. Bi Ina masuk membawa nampan berisi secangkir susu hangat yang masih mengepul. "Ini, Pak, susunya."
"Taruh di meja. Setelah ini, Bibi istirahatlah. Urusan Arini biar saya yang urus," ujar Dikta tanpa menoleh.
"Baik, Pak. Terima kasih," ucap Bi Ina lega, lalu segera pamit keluar.
Dikta bangkit berdiri, mengambil cangkir susu dan meletakkan di nakas, "Minum itu setelah Arkan tidur," titah Dikta. Ia kemudian berjalan menuju lemari pakaian, mengambil selembar selimut, dan membentangkan di atas kakiku yang tampak agak kedinginan karena AC kamar yang begitu dingin.
Aku mendongak, menatap punggung Dikta yang berbalik membelakanginya. "Terima kasih, Pak Dikta."
Dikta menghentikan langkahnya sejenak di dekat pintu. Ia tidak berbalik, tangannya mencengkeram kenop pintu dengan erat. "Satu lagi, Arini. Besok aku akan meminta dokter gizi untuk mencatat makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh kau makan. Jangan menggulangi lagi," ucapnya dingin, lalu melangkah keluar dan menutup pintu dengan pelan.
Aku tertegun mendengarnya ucapannya tadi, lalu meletakkan Arkan di boks miliknya. Menatap keluar untuk menghampiri Bi Inah yang sedang melamun di dapur. Bahunya yang ringkih tampak lemas, menampakkan ketakutan di wajah paruh bayanya.
"Bi Ina," panggilku pelan, takut mengejutkannya.
Bi Ina tersentak, buru-buru menghapus sudut matanya dengan ujung daster. "Eh, Neng Arini kenapa keluar? Den Arkan sudah tidur? Harusnya Neng istirahat di dalam saja."
Aku melangkah mendekat, lalu menggenggam kedua tangan Bi Ina. "Den Arkan sudah tidur, Bi. Saya ke sini mau minta maaf. Gara-gara keinginan saya, Bibi jadi dimarahi Pak Dikta habis-habisan."
"Astaga, Neng, jangan bicara begitu," Bi Ina menggeleng cepat, air matanya kembali meluncur. "Bukan salah Neng Arin. Bibi cuma kasihan lihat Neng beberapa hari ini tidak selera makan. Makanya waktu Neng minta dibuatkan nasi goreng itu, Bibi langsung buatkan tanpa berpikir panjang. Bibi tak tahu kalau Pak Dikta bakal semarah itu."
"Pak Dikta tidak bermaksud jahat, Bi. Dia cuma panik dan terlalu khawatir soal Den Arkan," ujarku, mencoba menghibur Bi Ina sekaligus menenangkan hatiku sendiri. "Tadi sebelum keluar, Pak Dikta bilang Bibi istirahat kan? Jadi, Bibi tidur ya? Jangan dipikirkan lagi." Aku memeluknya, merasakan kehangatan dari wanita paruh baya ini, lalu mengambil alih pekerjaannya.
"Jangan! Itu tugas Bibi. Neng Arin masuk kamar saja, ya? Susu hangatnya dihabiskan," tolak Bi Ina halus sambil menuntun lenganku pelan.
"Sudah. Biar Saya saja yang melanjutkan." Aku menarik kursi, menyuruhnya duduk. Bi Ina tak mampu menolaknya, namun matanya berbinar melihat sikapku barusan. Setelah pekerjaanku selesai, aku menggandengnya menuju kamar. Sosok Bi Ina, mengingatkanku pada mediang ibuku. Aku tersenyum sambil menyelimuti tubuhnya yang tak muda itu.
Setelah memastikan Bi Ina sudah di kamarnya, aku kembali ke kamar utama. Susu hangat di atas nakas yang disiapkan tadi sudah agak dingin. Aku meminumnya perlahan, merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke dada.
Mataku beralih pada selimut tambahan yang tadi dibentangkan Dikta di atas kakiku. Pria itu begitu baik padaku. Di satu sisi, ucapannya tajam dan egonya setinggi langit. Namun di sisi lain, tindakan kecilnya malam ini menunjukkan ada kepedulian yang sulit aku akui.