Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Darah di Gudang
Dua tombak berkepala baja menembus kayu pintu aula sebelum Ma Huang sempat menggeser tumit kanannya. Kayu tebal itu hancur berkeping-keping dilanda hantaman empat prajurit berbaju zirah emas yang merangsek masuk dengan posisi senjata siap menikam.
Ma Huang tidak mundur setapak pun. Ia memiringkan bahunya tipis, membiarkan mata tombak pertama meluncur beberapa milimeter dari lehernya, lalu mengepalkan tangan kiri untuk meremukkan batang kayu tombak tersebut dengan sekali pukulan mendatar.
Krak!
Serpihan kayu berhamburan. Ma Huang memanfaatkan momentum itu untuk memutar Pedang Tulang Hitam secara melingkar. Bilah hitam yang terlapisi racun pekat itu menebas dua leher prajurit terdepan dalam satu ayunan cepat tanpa hambatan.
Darah segar menyembur basah menghantam dinding batu. Dua prajurit itu roboh seketika dengan wajah membiru kaku, saluran pernapasan mereka tersumbat racun dalam hitungan detik.
Dua prajurit selebihnya mencoba menarik pedang pendek dari pinggang mereka, tetapi Ma Huang sudah bergerak melintasi celah di antara jasad musuh. Punggung kakinya menghantam dada prajurit ketiga hingga tulang rusuknya ambles ke dalam, sementara ujung pedang hitamnya menembus mata kiri prajurit terakhir hingga tembus ke tempurung kepala belakang.
Langkah Ma Huang menjejak ambang pintu luar aula batu. Di halaman luas yang dikelilingi tebing terjal, sekitar tiga puluh prajurit penjaga Lembah Angin Hitam telah membentuk barisan melingkar dengan panah-panah berujung besi terentang penuh.
"Tembak!" jerit seorang komandan dari atas panggung batu.
Denting tali busur terdengar serentak membelah keheningan malam. Puluhan anak panah meluncur deras membelah kabut nipis, membentuk hujan besi yang mengincar seluruh sudut tubuh Ma Huang.
Ma Huang menghentakkan kakinya ke marmer teras. Aliran Qi beracun dari meridiannya melonjak naik, menyelimuti tubuhnya dalam gerakan langkah bayangan yang sangat cepat. Ia melompat kearah tiang penyangga obor kayu besar di samping gerbang, lalu menendangnya keras hingga tiang berbobot ratusan kati itu tumbang menghantam barisan pemanah di sisi kiri.
Jeritan kesakitan pecah saat obor raksasa dan kobaran api menghantam tubuh para pemanah. Kekacauan melanda barisan musuh. Ma Huang memanfaatkan celah tersebut untuk melesat keluar dari lingkaran pengepungan, bergerak secepat kilat menelusuri lorong sempit di antara tebing batu.
Seorang prajurit penunggang kuda mencoba menghalanginya di jalur keluar lembah. Tanpa melambatkan jalannya, Ma Huang melompat tinggi, menancapkan Pedang Tulang Hitam ke dada penunggang itu, lalu menghempaskan jasadnya ke tanah keras.
Ia mengambil alih kendali tali kekang kuda jantan berwarna hitam tersebut sebelum tubuh hewan itu sempat berhenti. Dengan sekali hentakan tumit pada perut kuda, Ma Huang melesat membelah kegelapan malam, meninggalkan Lembah Angin Hitam yang riuh oleh suara terompet bahaya.
Angin malam membelakangi wajah Ma Huang dengan dingin yang menusuk tulang. Di atas punggung kuda yang memacu kencang, ia merasakan meridian di sekitar dadanya berdenyut nyeri. Racun dari Inti Bencana yang mengalir di dalam darahnya terus bergesekan keras dengan sisa-sisa Qi spiritual dari pertarungan melawan Jian Gang.
Ia memusatkan pernapasannya, menekan gejolak darah beracun itu kembali ke pusat Dantiannya yang retak. Waktu terus bergulir tanpa kompromi, dan garis cakrawala di timur mulai memperlihatkan warna abu-abu kebiruan yang menandakan fajar tidak lama lagi akan tiba.
Kuda hitam itu berlari melintasi jalan setapak berkerikil, menerobos rimba pinus yang lebat, hingga akhirnya aroma tanah basah berganti dengan bau amis air laut dan garam yang menyengat hidung.
Kota Yunjiang di bawah naungan malam tampak seperti raksasa yang tertidur, tetapi kawasan Dermaga Timur yang terletak di luar tembok kota justru dipenuhi oleh kabut tebal dan deburan ombak yang menghantam tiang-tiang kayu dermaga.
Ma Huang menahan tali kekang kudanya beberapa ratus langkah dari kawasan pergudangan garam. Ia melompat turun tanpa menimbulkan suara, lalu mengikatkan kuda itu di balik rerimbunan semak pohon bakau yang lebat.
Suasana Dermaga Timur sangat sepi, tetapi mata tajam Ma Huang menangkap kejanggalan di sepanjang jalur papan kayu. Tiga jasad pengawal berkapak dengan pakaian seragam pasar garam tergeletak menelungkup di atas tumpukan karung garam yang pecah. Darah mereka belum sepenuhnya membeku, mengalir tipis menyatu dengan genangan air laut.
Luka di punggung ketiga jasad itu berbentuk silang, hasil tebasan pedang tipis ganda khas yang digunakan oleh para pembunuh Kelompok An Ying milik Keluarga Jian.
Ma Huang bergerak menunduk, menyusuri deretan gudang kayu beratap seng yang lapuk oleh uap garam. Setiap langkah kakinya menginjak tanah dengan cermat, menghindari serpihan kayu dan kerikil yang bisa memicu suara sekecil apa pun.
Di ujung dermaga ketiga, berdiri sebuah bangunan gudang garam tua bersusun dua yang dinding kayunya sudah menghitam dan berlubang di berbagai sisi.
Di sekeliling gudang tua itu, delapan sosok berpakaian seragam hitam dengan topeng besi berbentuk wajah iblis tampak berdiri di balik bayang-bayang tiang kapal dan tumpukan peti kayu. Tangan mereka menggenggam pedang lentur yang berkilau keperakan di bawah rembulan.
An Ying. Pasukan pembunuh bayangan pribadi yang dibentuk langsung oleh Jian Yue.
Ma Huang merapatkan tubuhnya di balik dinding tiang pancang kayu yang basah. Dari celah dinding kayu gudang yang menganga, ia bisa melihat situasi di dalam ruangan yang remang oleh cahaya lilin kecil.
Empat orang pria berwajah pucat dengan pakaian zirah bertanda serigala hitam tampak bertahan di balik benteng tumpukan karung garam. Pakaian mereka robek-robek oleh sisa pertarungan, dan darah kental terus menetes dari luka-luka terbuka di lengan serta dada mereka.
Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan cambang lebat yang telah memutih. Tangan kanannya menggenggam erat golok besar bergerigi yang retak di beberapa bagian, sementara kaki kirinya disangga oleh sebilah kayu agar tidak roboh.
Lu Gang. Kapten pengawal kepercayaan almarhum ayahnya, pria yang dahulu mengajarkan teknik dasar pedang kepada Ma Huang saat ia masih berusia sepuluh tahun.
"Lu Gang, buang golok tumpulmu itu," sebuah suara dingin bergaung dari dalam gudang.
Seorang pria tinggi kurus dengan jubah hitam tanpa lengan melangkah keluar dari kegelapan lantai dua gudang. Di kedua tangannya, melingkar dua rantai besi tipis yang tersambung dengan pisau crescent beracun di ujungnya.
An Sha. Pemimpin tertinggi Kelompok An Ying.
"Nona Jian Yue sudah memberikan perintah tegas," kata An Sha seraya memutar rantai besinya hingga menimbulkan suara desisan tajam di udara. "Siapa pun yang pernah meminum air dari sumur Keluarga Ma harus dimusnahkan hingga akar terakirnya malam ini."
Lu Gang meludah ke tanah bercampur darah. Sepasang matanya yang kusam menatap An Sha dengan kebencian mendalam. "Pelacur kecil dari Keluarga Jian itu tidak akan pernah bisa menghapus nama besar Tuan Ma dari kota ini, An Sha! Walaupun kami harus mati di gudang busuk ini, roh kami akan menuntut pembalasan!"
An Sha tertawa pelan, suara tawa yang kaku dan tanpa emosi. "Roh tidak bisa membalas dendam, Lu Gang. Hanya orang hidup yang bisa melakukannya, dan sayangnya, tidak ada satu pun dari kalian yang akan keluar hidup-hidup dari tempat ini."
Pria tinggi kurus itu mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada delapan pembunuh di luar dan enam prajurit di dalam gudang untuk bergerak secara bersamaan.
"Bantai mereka semua. Potong kepala Lu Gang dan gantung di gerbang kota besok pagi," perintah An Sha datar.
Para pembunuh bertopeng besi mulai menggeser kaki mereka, mengencangkan cengkeraman pada pedang tipis masing-masing.
Tepat saat pembunuh terdekat hendak melompat menerobos pintu kayu gudang, sebuah bayangan hitam meluncur jatuh dari atas atap seng dengan kecepatan luar biasa.
Jleb!
Pedang Tulang Hitam menembus tepat di tengah tempurung kepala pembunuh tersebut dari atas, menancapkannya ke papan kayu lantai dermaga hingga ujung pedang itu berderak kencang.
Darah hitam beracun menyembur keluar dari telinga dan hidung pembunuh itu sebelum ia sempat mengeluarkan teriakan perang.
Keheningan mendadak menguasai seluruh area gudang garam. Seluruh pandangan mata, baik dari dalam maupun luar gudang, tertuju pada sosok pemuda bertubuh tinggi yang berdiri tegak di atas jasad pembunuh tersebut.
Ma Huang menarik pedangnya pelan dari kepala musuh. Ia mengusap tetesan darah di pipinya dengan ujung lengan baju yang terkoyak, lalu mendongak menatap An Sha yang berdiri kaku di lantai dua.
"Kau benar, An Sha," kata Ma Huang dengan nada suara dingin yang memotong desir angin laut. "Roh tidak bisa membalas dendam. Itulah sebabnya aku kembali dari neraka untuk melakukan tugas itu sendiri."
Mata Lu Gang membelalak lebar saat mengenali wajah dan garis suara pemuda itu. "Tuan... Tuan Muda Ma Huang?!"
An Sha tidak membiarkan keterkejutan itu berlangsung lama. Wajahnya mengeras seketika, dan dengan satu hentakan pergelangan tangan, rantai besi berujung pisau crescent meluncur deras membelah udara, mengincar tenggorokan Ma Huang dari ketinggian.