NovelToon NovelToon
Detektif Hans

Detektif Hans

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Ashciel

Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Koin Tembaga dan Aliansi Baru

Lonceng gereja St. Anne Limehouse berdentang lima kali, menandakan pukul 17.00 sore ketika gerimis dingin yang mengguyur lorong-lorong batu East End London mulai mereda. Bau jelaga batu bara basah, uap minyak tanah, dan lumpur amis Sungai Thames masih mengendap tebal di udara yang mulai meremang. Hans Lorte melangkah keluar dari pintu kayu kusam kantor kepolisian distrik, topi petnya terpasang miring menghalau sisa titik air dari atap. Di samping kirinya, Pip berjalan lincah, kedua matanya yang liar dan cemas sesekali melirik curiga ke arah dua petugas berseragam wol biru tua yang berdiri kaku berjaga di ambang pintu.

"Inspektur Hallowell benar-benar pria yang tidak menyenangkan, Tuan," bisik Pip seraya mengencangkan ikatan tali rompi robeknya yang kebesaran. "Dia mengambil jam emas itu dari tanganmu begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih sedikit pun. Malah mengusir kita seperti anjing kurap."

"Hallowell hanya menjalankan perannya sebagai aparatur Kerajaan yang patuh, Pip," sahut Hans datar seraya mengapit sebatang rokok gulung murah di bibirnya dan menyalakannya dengan pemantik kuningan. Asap abu-abu pekat membumbung pelan sebelum terurai di udara dingin. "Dia tidak peduli pada jam emas itu. Namun, perubahan raut wajahnya dan ketakutan di matanya saat melihat ukiran simbol di balik tutup jam tadi menunjukkan bahwa dia tahu jauh lebih banyak daripada yang diakuinya."

Hans meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya seraya mengingat kembali ekspresi Hallowell. Tangan polisi paruh baya itu sempat gemetar hebat selama sepersekian detik sebelum membanting tutup jam saku emas tersebut dan mengusir Hans keluar. Ada jaringan ketakutan yang jauh lebih besar tersembunyi di balik simbol lingkaran bersisi gelombang dan mata terbuka milik perkumpulan terlarang itu.

Mereka menyusuri trotoar batu menuju toko *Vance’s Curiosities & Fine Antiques*. Ketika Hans mendorong pintu kayu berpapan kaca buram, bel kuningan di atas kusen berdenting halus. Tuan Vance sedang berdiri gemetar di balik meja kasirnya, menggosok-gosokkan kedua tangannya yang basah oleh keringat dingin. Wajah pedagang gempal itu mendadak sembab dan pucat pasi begitu Hans menjelaskan bahwa jam saku emasnya telah disita resmi oleh Scotland Yard sebagai barang bukti utama kejahatan jaringan penadah pelabuhan.

"Tapi... tapi itu tidak mungkin! Pembeli kaya saya akan membunuh saya jika barang itu tidak diserahkan besok pagi!" ratap Vance histeris, meremas saputangan berenda kotor di tangannya sampai robek. "Jam itu bernilai ratusan pound! Bagaimana saya bisa membayarnya?"

"Ucapkan terima kasih pada keberuntungan Anda karena leher Anda tidak terjerat tali gantungan Newgate atas keterlibatan Anda dengan jaringan penadah barang curian, Tuan Vance," ujar Hans dingin. Ujung besi tongkat jalannya mengetuk lantai kayu dengan bunyi yang memotong histeria pedagang itu—*tuk... tuk...* "Tugas saya menemukan jam itu dan membongkar kebohongan Anda telah selesai. Sekarang, lunasi 8 shilling sisa imbalan saya."

Dengan tangan yang gemetar hebat dan mata kemerahan dipenuhi keputusasaan, Vance merogoh laci mejanya yang berderit. Ia mencengkeram 8 keping koin perak shilling dan melemparnya ke atas meja kayu. Hans memungut koin-koin perak itu satu per satu dengan ketelitian yang tenang, menghitungnya di balik pandangan matanya sebelum memasukkannya ke dalam saku mantel kusamnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Hans berbalik dan melangkah keluar toko.

 

Kegelapan malam mulai turun sepenuhnya di kawasan East End. Kedai makanan murah *The Black Dog* yang terletak di sudut lorong pelabuhan dipenuhi asap minyak lemak, aroma rebusan daging domba, dan uap bir kental yang menyengat. Suara riuh para kuli pabean dan pelaut yang mabuk membalas derak meja-meja kayu tua di dalam ruangan yang remang-remang.

Hans duduk di meja kayu paling sudut yang terlindung bayangan pilar. Matanya memperhatikan Pip yang duduk di hadapannya, melahap semangkuk sup kaldu sapi panas dan sepotong roti gandum tebal dengan keserakahan murni khas anak jalanan yang sudah berminggu-minggu tidak merasakan makanan layak.

"Pelan-pelan, Bocah. Makanan itu tidak akan melarikan diri dari piringmu," kata Hans tenang seraya mengetukkan koin tembaganya di atas meja kayu yang berminyak.

Pip menyapu sisa kuah di dagunya dengan lengan rompi yang robek, lalu mendongak menatap Hans dengan mata membelalak heran. "Kau membantuku keluar dari tuduhan Vance, menyelamatkanku dari polisi, dan sekarang memberiku makan malam yang tebal ini, Tuan Detektif. Anak-anak jalanan di Limehouse biasanya tidak mendapat perlakuan seperti ini dari orang dewasa yang memakai mantel."

"Jangan salah paham, Pip. Aku tidak melakukan ini atas dasar kebaikan hati atau kasihan," sahut Hans datar, menatap anak laki-laki itu melalui kepulan asap rokoknya. "Aku adalah seorang penyidik swasta yang bekerja berdasarkan data dan kalkulasi rasional. Dan untuk memenangkan kalkulasi di lorong-lorong kelam East End, aku membutuhkan sepasang mata dan telinga yang lincah."

Hans merogoh saku mantelnya, menggeser 2 keping koin perak shilling yang masih berkilat ke tengah meja, tepat di depan mangkuk Pip.

"Dua shilling setiap minggu," lanjut Hans, suaranya merendah hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua di tengah keriuhan kedai. "Tugasmu sederhana: jadilah mataku di jalanan. Laporkan setiap desas-desus aneh, pergerakan kargo gelap di dermaga, atau sosok mencurigakan yang berkeliaran di sekitar Limehouse Cut. Anak-anak jalanan melihat segalanya, sementara orang-orang kaya dan polisi terlalu sombong untuk memperhatikan keberadaan kalian. Apakah kita punya kesepakatan?"

Mata Pip berbinar tajam. Bagaikan seekor rubah muda yang cerdik, jemarinya yang lincah menyambar 2 koin perak tersebut dengan kecepatan khas seorang pencopet berpengalaman, lalu menyembunyikannya di dalam lipatan kain rompi terdalamnya.

"Aku tahu setiap celah batu, saluran air, dan tempat bersembunyinya tikus di sepanjang Sungai Thames, Tuan Lorte," ujar Pip dengan nada mantap penuh rasa bangga. "Kau baru saja menyewa informan terbaik di seluruh East End London."

 

Pukul 21.00 malam. Hujan deras kembali turun mengguyur Kota London, mengubah jalanan batu menjadi aliran air keruh yang dingin. Di dalam kantor sempit lantai dua milik Hans, nyala lampu minyak tanah menari-nari liar ditiup angin malam yang menyusup lewat celah-celah kusen jendela yang melapuk.

Hans baru saja menyerahkan 4 keping koin shilling kepada pemilik bangunan kayu tua tersebut untuk melunasi separuh sewa ruangannya ketika derit anak tangga di luar kembali terdengar.

Namun, langkah kaki kali ini berbeda. Langkah itu bukan hentakan boot kaku milik polisi atau langkah berat terpincang-pincang milik Vance. Langkah kaki ini cepat, ringan, pendek-pendek, dan terdorong oleh kehati-hatian yang penuh dengan ketakutan.

*Tok. Tok.*

Ketukan pelan dan terburu-buru di kaca buram pintu membuat Hans menegakkan posisi duduknya. Tangan kanannya secara refleks bergeser, meraih gagang tongkat jalan berkepala besi yang bersandar di samping meja.

"Masuk," ujar Hans pelan.

Gagang pintu diputar cepat, dan seorang pria bertubuh kurus dengan kemeja linen berkerah tinggi menerobos masuk ke dalam ruangan. Pria itu memakai jubah basah kuyup yang disingkap asal-asalan untuk menyembunyikan pakaian seragam perusahaannya. Wajahnya sangat pucat, dengan kacamata berbingkai perak yang berembun tertimpa udara hangat ruangan. Dari balik lipatan jubahnya, tercium aroma kental tinta cetak, kertas tebal, dan pelumas mesin pelayaran.

Pria itu mengunci pintu di belakangnya dengan terburu-buru, lalu berbalik menatap Hans dengan mata membelalak gelisah.

"Apakah Anda Tuan Hans Lorte?" tanya pria itu dengan suara berbisik yang tercekat, matanya menyapu sekeliling kantor kusam tersebut seolah takut ada telinga lain yang mendengarkan.

"Tergantung siapa yang bertamu di tengah malam yang basah ini," sahut Hans tenang, membiarkan asap rokok gulungnya membumbung tinggi.

"Nama saya Arthur Pendelton," pria itu mendekat ke meja kerja Hans dan meletakkan topi bundarnya yang basah dengan tangan gemetar. "Saya seorang juru tulis senior di Perusahaan Pelayaran Thames—*Thames Shipping Company*. Saya datang ke sini secara rahasia karena saya tidak tahu lagi harus percaya pada siapa di kantor pabean pelabuhan."

Hans memiringkan kepalanya sedikit, meraba anting bulan sabitnya seraya mengetukkan jari ke atas meja. "Apakah atasan Anda kehilangan sesuatu yang berharga di dermaga?"

"Sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kargo biasa, Tuan Lorte," bisik Pendelton, menyapukan jemarinya yang gemetar ke kacamata peraknya. "Tadi sore, pukul 17.00, sebuah peti kargo khusus menghilang dari Gudang Penyimpanan Dermaga No. 9 sebelum sempat melewati pemeriksaan pabean resmi."

Hans memicingkan matanya. "Dermaga No. 9 adalah area penyimpanan bernilai tinggi dengan tiga gembok besi tebal di pintunya dan dua pengawal bersenjata yang berjaga di luar. Bagaimana sebuah peti bisa hilang dari sana tanpa menimbulkan keributan?"

"Itulah masalahnya, Tuan Lorte! Pintu gudang masih terkunci rapat dari luar saat dikerahkan, tetapi peti itu lenyap begitu saja dari dalam ruangan!" Pendelton merogoh saku dalam jubahnya dan mengeluarkan seikat koin *sovereign* emas yang berkilat kuning di bawah pendaran lampu minyak. "Direksi perusahaan ingin masalah ini diselesaikan secara rahasia tanpa melibatkan polisi atau wartawan. Sepuluh sovereign emas untuk Anda jika berhasil menemukan peti itu sebelum fajar tiba."

Hans menatap tumpukan koin emas yang gemerlap di atas meja kerjanya. Nilai 10 sovereign emas itu lebih dari cukup untuk melunasi seluruh sewa kantor dan tempat tinggalnya selama satu tahun penuh. Namun, matanya yang analitis tidak tergiur oleh kilau logam mulia tersebut; matanya mengunci raut wajah Pendelton yang ketakutan murni.

"Apa sebenarnya isi peti itu, Tuan Pendelton?" tanya Hans dengan suara tegas yang tidak memberi ruang untuk kebohongan. "Jangan coba-coba membuang waktu saya. Sepuluh sovereign emas tidak pernah dibayarkan oleh perusahaan pelayaran hanya untuk mencari peti berisi benang sutra atau rempah-rempah."

Pendelton menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya bergerak naik turun. Ia menundukkan tubuhnya rapat-rapat ke arah meja Hans, suaranya bergetar hebat menahan ketakutan yang mendalam seraya melirik jendela kayu yang terketuk air hujan.

"Peti besi itu tidak berisi emas, perak, atau perhiasan, Tuan Lorte," bisik Pendelton lirih. "Peti besi itu berisi spesimen makhluk bawah laut yang diawetkan dalam cairan kimia murni dan peralatan selam besi tebal... barang pesanan khusus milik Dr. Alistair Finch dari Royal Society."

1
aefpe fp
baca novelku juga ya😄
Ashciel: terimakasih udah mampir :)
total 1 replies
Putry Chan
Hans seorang detektif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!