Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang yang dikenal?
...•••...
“Lo di culik? Di sekap? Sama siapa? Di mana? Gimana caranya kabur? Pelakunya gimana?” tanya Jay berturut-turut. “To the point ajalah. Biar jelas. Males mikir gue.”
“Idih. Males mikir,” Sana mendelik. “Hidup aku tuh kayak tragedi. Kamu bahkan nggak tahu kan gimana kehidupanku di masa lalu? Katanya cinta tapi—”
“Harus ngebuktiin apa lagi sih kalau gue emang secinta itu sama lo?” potong Jay cepat. Entah kenapa ia merasa tidak suka jika perempuan itu meragukan cintanya.
“Gue harus ngerebut lo dari Papa gue sendiri terus kita nikah? Sejujurnya gue emang nggak ngerti apa maksud dari semua ini. Lo nikahin Papa gue. Tapi lo ngebiarin gue yang notabenenya cowok yang suka sama lo dekat sama lo. Jadi sebenarnya gimana? Maksud dan tujuan lo apa?” Katanya dengan napas sedikit memburu.
Sana hanya diam terus menatap Jay tanpa memberi jawaban.
“Biar semuanya beres,” kata Jay lagi. “Lo beneran cinta sama Papa? Atau cuma karena hartanya? Serius, gue nggak bakal judge lo. Karena di mata gue lo itu selalu sempurna. Pernah nggak ada sedikit aja rasa cinta di hati lo ke gue? Lo maunya sekarang gue gimana? Mundur atau terus merjuangin diri lo?”
Jay menghentikan ucapannya sejenak. Pandangannya beralih ke arah lain, seolah sedang mengumpulkan sisa keberanian untuk melanjutkan sesuatu yang bahkan sulit ia ungkapkan sendiri. Tak lama, ia kembali menatap Sana.
“Kak.” Tangannya meraih pergelangan tangan perempuan itu. Genggamannya terasa lebih erat, seakan ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk menyampaikan semuanya. “Gue juga cuma manusia biasa. Cowok lemah yang kecintaan sama lo dan berharap lo bisa ngebales perasaan gue. Gue nggak mau cuma milikin lo karena paksaan. Gue juga nggak mau lo berpikir kalau gue cuma pengen menikmati tubuh lo. Enggak, Kak. Bukan itu yang gue mau.”
Jay menarik napas sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
“Gue cuma mau lo merasakan hal yang sama kayak yang gue rasakan. Gue mau lo menerima cinta gue dengan tulus, dari lubuk hati lo yang paling dalam. Kalau memang ada sedikit aja cinta di hati lo buat gue, Kak.”
Pertahanan yang selama ini dibangun Jay akhirnya runtuh juga. Untuk pertama kalinya, ia tak lagi berusaha terlihat kuat di hadapan perempuan itu.
“Kak Sana?” panggil Jay lagi dengan suara pelan. “Nggak usah dijawab sekarang kok, santai aja,” kata Jay tersenyum paksa. Lagipula, ia juga tidak mau memberatkan perempuan yang dicintainya. “Gue cuma ngeluarin unek-unek yang selama ini gue pendem.”
“Ya. Nggak apa-apa. Keluarin aja.”
“Tapi gue pengen tahu kronologi hilangnya lo selama 2 tahun itu gimana?” kata Jay lagi. “Tapi kalau lo belum siap nggak apa—”
“Kamu ingat nggak hari terakhir kita liburan?”
“Iya?”
“Entah aku terlalu bodoh atau nggak peka atau gimana lah, sebenarnya itu tuh udah ada tanda-tandanya. Tapi aku mikirnya, ‘ah nggak mungkin. Dia orang baik kok. Masa tega ngelakuin itu’ , tapi ternyata pikiran aku salah sampai mengabaikan tanda-tanda yang udah jelas di depan mata, dan puncaknya ya itu setelah aku pulang dari apart kamu itu—”
“2 hari setelah itukan kita masih telponan,” potong Jay. “Terus di hari ke 3 nya lo nggak bisa dihubungi sama sekali,” kata Jay berusaha mengingat. “Kek benar-benar lenyap di telan bumi istilahnya.”
“Ya karena di paginya, waktu aku bangun, aku udah di suatu tempat yang bahkan aku nggak tahu di mana. Ruangannya temaram, cuma diterangi cahaya lilin, hal yang paling aku benci, karena selain kepalaku terasa pusing saat itu, aku juga ngerasa sesak ada di sana.
Bayangin, waktu aku mau beranjak dari tempat tidur, kedua tangan dan kedua kakiku ternyata terikat besi? Aku nggak tahu pasti benda apa yang dia gunakan, tapi yang jelas, rasanya dingin. Belum lagi lilin-lilin yang ada di sekeliling tempat tidur. Rasanya kayak aku lagi dipersiapin buat dijadiin tumbal. Gitu sih aku mikirnya.”
Jay hanya diam, menyimak setiap kata yang keluar dari mulut perempuan di sampingnya, sembari mencoba menangkap sesuatu dari ekspresinya. Namun perempuan itu justru bercerita dengan nada relatif tenang.
“Lo baik-baik aja, Kak?” tanya Jay akhirnya. “Maksud gue, lo harus cerita kejadian—”
“Nggak apa-apa, kok. Aku udah berdamai dengan masa lalu.”
Jay terdiam sejenak. Ia mengurungkan kalimat yang semula ingin dilanjutkannya, sebelum akhirnya mengajukan pertanyaan lain.
“Pelakunya orang yang dikenal?”
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG