Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Perjamuan Berdarah dan Umpan yang Terpasang
Malam itu, aula utama Istana Kekaisaran diselimuti oleh kemewahan yang memabukkan. Lilin-lilin kristal besar menggantung di langit-langit tinggi, memancarkan cahaya keemasan yang memantul di atas lantai marmer yang dipoles sempurna. Musik klasik mengalun lembut, mengiringi tawa renyah para bangsawan yang mengenakan pakaian terbaik mereka. Di balik topeng kesopanan dan kemegahan itu, Elena tahu betul bahwa istana ini tidak lebih dari sarang ular yang siap saling memangsa.
Elena berdiri di dekat pilar besar, jemarinya yang terbalut sarung tangan brokat putih menggenggam segelas anggur merah dengan anggun. Gaun malamnya berwarna merah marun gelap, kontras dengan kulitnya yang putih pucat. Potongan gaun itu elegan namun tegas, tidak lagi mencerminkan sosok "Nona Muda yang naif" seperti di kehidupan pertamanya. Matanya yang tajam dan sedingin es menyapu seluruh penjuru aula, hingga akhirnya pandangannya tertuju pada dua orang yang sangat ia kenali.
Gavin dan Stella.
Di kehidupan masa lalu Elena, malam seperti ini adalah malam di mana ia akan dengan bodohnya memperkenalkan Gavin kepada para sekutu ayahnya, memberikan pria itu panggung dan pengaruh yang ia butuhkan untuk merayap naik menuju takhta Kaisar. Saat ini, Gavin tampak sedang mencoba mendekati beberapa Marquess dari wilayah barat. Senyumnya tampak ramah dan memikat, tipikal seorang pria manipulatif yang menyembunyikan ambisi busuk di balik topeng kesatria berbudi luhur. Di sampingnya, Stella—adik tiri Elena—berdiri dengan gaun merah muda yang tampak polos, namun matanya yang penuh kelicikan terus mengawasi gerak-gerik para pria berkuasa di ruangan itu.
Elena merasakan dadanya bergemuruh oleh kemarahan yang membakar. Bayangan tentang putranya yang dibantai tanpa ampun dan rasa sakit luar biasa saat tubuhnya dilahap api di sel bawah tanah mendadak melintas di benaknya. Napasnya sempat memburu, sebelum sebuah suara berat dan dingin membuyarkan lamunannya.
"Jika tatapan bisa membunuh, sepupu tirimu dan tunanganmu itu sudah menjadi abu sekarang, Lady Elena."
Elena tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Aura intimidasi yang pekat dan aroma kayu cedar yang khas langsung menyelimuti area di sekitarnya. Duke Killian berdiri di sampingnya. Sang tiran berdarah dingin, pria yang paling ditakuti di seluruh kekaisaran, malam ini tampil mengenakan jubah formal hitam dengan sulaman benang emas berbentuk naga khas keluarga ducal. Rambut hitamnya disisir rapi, dan sepasang mata elangnya yang berwarna kelam menatap lurus ke depan, seolah-olah seluruh kerumunan bangsawan di sana hanyalah serangga yang tidak berarti.
Elena menguasai dirinya dengan cepat. Ia menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang penuh rahasia. "Saya hanya sedang memastikan bahwa umpan kita terpasang dengan benar, Duke. Bukankah Anda sendiri yang mengatakan bahwa singa tidak akan menerkam sebelum mangsanya benar-benar lengah?"
Killian sedikit memiringkan kepalanya, melirik Elena dari sudut matanya. Ada kilatan ketertarikan yang langka di mata sang Duke. Aliansi yang ditawarkan wanita ini tiga bulan lalu awalnya ia anggap sebagai lelucon seorang wanita bangsawan yang sedang patah hati. Namun, informasi intelijen, strategi pergerakan dana, hingga dokumen rahasia mengenai penyelundupan senjata di perbatasan yang diberikan Elena terbukti 100% akurat. Elena yang sekarang bukan lagi domba penurut; dia adalah serigala betina yang haus darah.
"Gavin baru saja menyelesaikan transaksi gelap dengan Count Darren untuk mengamankan pasokan bijih besi dari wilayah utara," bisik Killian, suaranya begitu rendah hingga hanya bisa didengar oleh Elena di tengah kebisingan aula. "Dia berpikir tindakannya tidak terendus oleh siapa pun. Dia merasa selangkah lebih dekat dengan takhta Mahkota."
Elena terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar merdu namun menyimpan racun mematikan. "Biarkan dia merasa di atas angin untuk sementara waktu. Dia tidak tahu bahwa Count Darren sebenarnya meminjam dana dari bank bayangan yang berada di bawah kendali Anda, Duke. Ketika saatnya tiba, kita hanya perlu menarik talinya, dan seluruh jaringan finansial yang dibangun Gavin akan runtuh dalam semalam."
Tiba-tiba, dari kejauhan, Gavin menyadari keberadaan Elena. Ketika melihat Elena tidak berdiri sendirian, melainkan bersama Duke Killian, raut wajah Gavin langsung berubah tegang. Ketakutan dan kecemburuan sekilas melintas di matanya sebelum ia berhasil memaksakan senyum ramah khasnya kembali. Gavin membisikkan sesuatu kepada Stella, lalu mulai melangkah mantap mendekati area pilar tempat Elena dan Killian berada.
"Elena, sayang, ternyata kau di sini," suara Gavin terdengar lembut dan penuh perhatian yang dibuat-buat saat ia tiba di hadapan mereka. Ia membungkuk hormat kepada Killian dengan sudut kemiringan yang sempurna. "Hormat saya kepada Anda, Duke Killian yang Agung. Suatu kehormatan besar bisa melihat Anda menghadiri perjamuan malam ini."
Killian tidak menjawab. Ia bahkan tidak menganggukkan kepalanya. Pria itu hanya menatap Gavin dengan pandangan kosong yang sangat merendahkan, seolah-olah Gavin hanyalah sebutir debu yang tidak sengaja hinggap di sepatunya. Keheningan yang diciptakan Killian begitu menekan, membuat senyum di wajah Gavin perlahan-lahan membeku.
Elena memecah keheningan dengan suara yang sengaja dibuat sedikit manja, meniru pembawaannya di masa lalu untuk mengecoh Gavin. "Ah, Gavin. Aku sedang berdiskusi sedikit mengenai urusan wilayah utara dengan Duke. Kau tahu sendiri, ayahku meminta agar aku mulai belajar mengelola beberapa aset keluarga Grand Duke."
Mendengar kata 'aset keluarga', mata Gavin langsung berkilat penuh keserakahan. Di kehidupan pertama, Elena akan dengan senang hati menyerahkan hak pengelolaan itu kepada Gavin. Namun sekarang, Elena bisa melihat dengan jelas bagaimana keserakahan itu menggerogoti akal sehat pria di depannya.
"Tentu saja, Elena. Mengelola aset sebesar itu pasti sangat melelahkan untukmu," ujar Gavin sambil melangkah maju, mencoba meraih tangan Elena untuk mengecupnya. "Jika kau butuh bantuan, kau tahu aku selalu ada untukmu. Kita bisa mendiskusikannya besok di kediamanmu."
Sebelum jemari Gavin sempat menyentuh kulit Elena, Killian melangkah satu blok ke depan. Tubuh tingganya yang tegap secara fisik menghalangi jarak antara Gavin dan Elena. Aura membunuh yang sangat pekat mendadak keluar dari tubuh sang Duke, membuat Gavin terpaksa mundur satu langkah dengan wajah yang mendadak memucat.
"Tanganmu, Sir Gavin," ucap Killian, suaranya sedingin badai salju di puncak gunung tertinggi. "Jaga agar tetap berada di tempatnya. Lady Elena saat ini sedang berada dalam perlindungan dan urusan bisnis penting dengan keluarga Ducal. Tindakan tidak sopan apa pun akan dianggap sebagai penghinaan langsung terhadap saya."
Gavin menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai membasahi bagian belakang lehernya. Di seluruh kekaisaran, tidak ada yang berani menantang Duke Killian secara terang-terangan jika masih menyayangi nyawa mereka. Pria itu terkenal pernah membantai seluruh keluarga bangsawan pemberontak dalam satu malam tanpa mengedipkan mata.
"Ma-maafkan kelancangan saya, Duke. Saya tidak bermaksud demikian," kata Gavin dengan suara yang sedikit bergetar. Ia menatap Elena dengan pandangan meminta pertolongan, berharap tunangannya yang biasanya naif dan penurut itu akan membelanya di depan sang Duke.
Namun, Elena hanya menatapnya dengan senyum manis yang kosong. Tidak ada lagi binar cinta atau kepedulian di matanya. Yang ada hanyalah kepuasan terselubung melihat mangsanya mulai gemetar ketakutan.
"Gavin, kurasa sebaiknya kau kembali menemani Stella. Dia tampak kesepian di sana," ujar Elena tenang sambil menunjuk ke arah Stella yang sedang menatap mereka dari kejauhan dengan wajah penuh kedengkian.
Gavin yang merasa posisinya sangat terdesak dan terhina akhirnya memilih untuk mundur. "Baiklah, Elena. Duke Killian, saya permisi undur diri terlebih dahulu." Gavin berbalik dan berjalan cepat meninggalkan mereka, namun Elena bisa melihat bagaimana kepalan tangan pria itu mengeras di balik jubahnya. Gavin merasa dipermalukan, dan pria ambisius yang dipermalukan akan bertindak ceroboh. Itulah yang Elena inginkan.
Setelah Gavin pergi cukup jauh, Killian melirik Elena kembali. "Kau menggunakan saya sebagai tameng dengan sangat baik, Lady."
"Bukankah itu fungsi dari sebuah aliansi, Duke?" Elena membalas tatapan Killian tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Saya memberikan Anda informasi untuk memotong sayap-sayap militer perbatasan yang mendukung faksi musuh Anda, dan Anda memberikan saya kekuatan politik untuk menginjak-injak harga diri Gavin."
Killian terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman tipis—senyuman pertamanya malam itu—muncul di wajah tampannya yang tegas. "Kesepakatan yang adil. Jadi, apa langkahmu selanjutnya untuk tikus kecil itu?"
Elena meminum habis anggur merah di gelasnya, merasakan rasa manis dan getir yang pekat mengalir di tenggorokannya. Matanya berkilat kejam saat menatap punggung Gavin yang kini sedang meneguk minuman dengan gusar di sudut ruangan.
"Besok, saya akan memintanya untuk mengamankan dokumen pengiriman barang dari pelabuhan selatan. Dokumen yang sudah saya atur sedemikian rupa agar terlihat seperti penyelundupan barang ilegal milik keluarga Kekaisaran. Gavin akan mengira dia memegang kartu as untuk mengancam Kaisar, padahal..." Elena menjeda kalimatnya, tatapannya beralih pada Duke Killian dengan penuh keyakinan. "...dia sedang mengantarkan lehernya sendiri ke tiang gantungan."
Killian mengangguk puas. Aliansi ini jauh lebih menjanjikan daripada yang ia bayangkan. Elena bukan lagi pion yang bisa dimanfaatkan, melainkan seorang pemain catur yang andal yang siap mengobrak-abrik seluruh papan permainan kekaisaran.
Malam semakin larut, namun bagi Elena, permainan berdarah ini baru saja dimulai. Di kehidupan kedua ini, ia tidak akan berhenti sampai Gavin, Stella, dan semua orang yang telah menghancurkan hidupnya di masa lalu, merangkak di kakinya sambil memohon ampunan yang tidak akan pernah ia berikan. Neraka yang paling dalam telah ia siapkan, dan ia sendiri yang akan menyeret mereka semua ke dalamnya.