NovelToon NovelToon
Lord Of The Gods

Lord Of The Gods

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:52.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.

Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.

Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Air Mata Lin Chen

Kenyataan bahwa wanita yang selama ini menyuapinya manisan teratai adalah seorang putri dari Keluarga Kuno Lin pemegang garis keturunan Dewa Raja, membuat Lin Chen terdiam cukup lama. Di Alam Dewa yang kejam, latar belakang seperti itu setara dengan penguasa tertinggi yang menentukan hidup matinya miliaran bintang.

Namun, ada satu kepingan teka-teki yang membuat Lin Chen mengerutkan kening.

"Ibu..." Lin Chen menatap mata Lin Yue yang masih basah oleh air mata, "Jika Ibu adalah putri dari langit tertinggi... bagaimana Ibu bisa berlabuh di dunia tanpa Qi ini, dan berakhir menikahi Ayah yang hanyalah seorang raja biasa?"

Mendengar nama suaminya disebut, tatapan Lin Yue yang sebelumnya dipenuhi kepedihan masa lalu, kini melembut layaknya sutra yang tersentuh angin musim semi. Sebuah senyuman tulus terukir di wajah cantiknya.

"Saat Ibu jatuh ke dunia ini, Ibu bukanlah seorang dewi, Chen'er," bisik Lin Yue, tangannya mengusap selimut sutra di pangkuannya. "Ibu hanyalah seonggok daging yang hancur. Meridian Ibu putus, Dantian Ibu berlubang, dan Ibu terbaring sekarat di tengah lumpur Hutan Perburuan. Ibu bahkan sudah menutup mata, menanti kematian menjemput untuk mengakhiri penderitaan."

"Namun, Ayahmu datang," lanjut Lin Yue, matanya berbinar mengenang masa itu. "Dia saat itu masih seorang putra mahkota yang sedang berburu. Dia tidak tahu siapa Ibu, dia tidak tahu apa itu Alam Dewa. Yang ia lihat hanyalah seorang wanita yang sekarat. Dia membawaku ke istana, mengabaikan protes para menteri yang mengira aku adalah kutukan."

"Apakah Ibu langsung menerimanya?" tanya Lin Chen pelan.

Lin Yue tertawa kecil sambil menggeleng. "Tentu saja tidak. Hatiku telah membeku oleh pengkhianatan dan kejatuhanku dari puncak dunia. Aku sangat dingin padanya. Aku mengutuk dunia ini, bahkan sering kali mencoba mengakhiri hidupku sendiri karena tidak sanggup menerima kenyataan bahwa aku telah menjadi cacat."

"Tapi Ayahmu... oh, pria yang keras kepala itu," air mata kembali menggenang di pelupuk mata Lin Yue, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan. "Dia tidak pernah menyerah. Setiap hari, setelah lelah mengurus kerajaan, dia akan datang membawa obat-obatan fana terbaik. Dia menyuapiku, membersihkan lukaku dengan tangannya sendiri, dan menceritakan lelucon-lelucon konyol yang tidak lucu hanya untuk melihatku tersenyum. Bertahun-tahun, Chen'er... bertahun-tahun dia merawat bongkahan es yang rapuh ini tanpa meminta imbalan apa pun."

Lin Yue menatap Lin Chen dalam-dalam. "Dia tidak mencintai gelar dewiku, karena dia bahkan tidak mengetahuinya. Dia murni mencintai wanita yang hancur di hadapannya. Ketulusannya yang bodoh namun luar biasa itulah yang akhirnya mencairkan hatiku. Ibu memilih untuk menukar keabadian di Alam Dewa demi menua bersama pria yang menyayangiku sepenuh hati."

Mendengar kisah itu, Lin Chen tersenyum hangat. Ia akhirnya mengerti dari mana Raja Chen mendapatkan kesabaran yang luar biasa saat mengasuhnya yang dulu sering bersikap diam.

"Kini," Lin Yue menghela napas, menggenggam kedua tangan putranya kembali. "Giliranmu, Sayang. Kau bilang kau adalah jiwa yang diselamatkan ke dunia ini. Di kehidupan lalumu... di mana orang tuamu? Apakah mereka masih ada?"

Pertanyaan itu meluncur dengan sangat lembut, namun bagi Lin Chen, pertanyaan itu bagaikan petir kehancuran yang menyambar tepat di bagian paling rapuh dalam jiwanya.

Ingatannya terlempar ke masa lalu yang suram. Ke dalam jurang neraka di mana ia pertama kali membuka mata. Ia teringat akan udara yang berbau anyir darah, mayat-mayat monster yang bertumpuk menjadi gunung, dan rasa lapar yang merobek-robek perutnya saat ia masih bayi.

Bibir Lin Chen mulai bergetar. Pertahanan mental yang ia bangun selama ini hancur berkeping-keping oleh satu pertanyaan sederhana dari seorang ibu.

"Aku... aku tidak tahu, Ibu..." suara Lin Chen pecah.

Satu tetes air mata mengalir dari matanya, jatuh membasahi punggung tangan Lin Yue. Lalu tetes kedua, dan ketiga.

Pemuda yang baru saja membanting mundur jenius Alam Abadi itu kini menangis, bahunya bergetar hebat.

"Jika mereka dibunuh saat melindungiku, aku pasti akan menemukan kuburan atau sisa tulang mereka," isak Lin Chen, suaranya terdengar sangat putus asa, mencerminkan luka seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan oleh semesta. "Tapi tidak ada apa-apa, Ibu. Aku dibuang. Aku ditinggalkan sendirian di dunia yang keras, dikutuk oleh surga dan diburu oleh semua orang sejak aku bisa bernapas. Kenapa mereka membuangku? Apa salahku hingga aku bahkan tidak pantas memiliki nama dari mereka?!"

Melihat putranya hancur dalam tangisan yang begitu memilukan, hati Lin Yue seakan diiris dengan ribuan pisau. Tanpa peduli pada masa lalu putranya yang mungkin mengerikan, Lin Yue langsung menarik Lin Chen ke dalam pelukannya. Ia mendekap kepala putranya di dadanya, membiarkan air mata Lin Chen membasahi gaun suteranya.

"Ssshh... menangislah, Sayang. Menangislah. Ibu ada di sini," bisik Lin Yue berulang-ulang, menciumi kepala Lin Chen sambil mengusap punggungnya yang bergetar.

"Tidak ada orang tua waras yang akan membuang darah dagingnya tanpa alasan berdarah, Chen'er," suara Lin Yue mengalun layaknya mantra penenang jiwa. "Mungkin mereka memiliki musuh yang terlalu besar. Mungkin mereka meninggalkanmu untuk menyelamatkan nyawamu."

Lin Yue menangkup wajah Lin Chen yang basah oleh air mata, menatap mata keemasan itu dengan cinta yang luar biasa besar dan kuat.

"Dan jika... jika memang mereka membuangmu dengan sengaja," Lin Yue tersenyum di sela-sela tangisnya sendiri, "maka mereka adalah makhluk paling bodoh di seluruh alam semesta. Mereka telah membuang pangeran tertampan, terpintar, dan terhebat yang pernah Ibu miliki. Kerugian mereka, adalah anugerah terbesar bagi Ibu."

Lin Chen membelalakkan matanya mendengar kata-kata itu.

"Tidak peduli siapa kau di masa lalu, tidak peduli dari mana jiwamu berasal," tegas Lin Yue, menyatukan keningnya dengan kening putranya. "Di kehidupan ini, kau tumbuh dari kasih sayang Ibu. Kau adalah Lin Chen. Putra kandungku. Dan tidak ada satu pun dewa atau iblis yang bisa merampasmu dari pelukanku."

Bendungan emosi di hati Lin Chen jebol sepenuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya, merengkuh erat pinggang ibunya layaknya anak kecil yang takut kehilangan tempat bernaungnya. Di kehidupan pertamanya, ia tidak memiliki apa pun selain darah. Di kehidupan keduanya, surga memberinya seorang ayah yang tulus, kakak yang rela mati untuknya, dan seorang ibu yang kasih sayangnya seluas galaksi.

Malam itu, di bawah cahaya bulan purnama, jiwa Lin Chen akhirnya menemukan kedamaian sejati yang telah ia cari selama ribuan tahun.

Setelah tangisan mereka perlahan mereda, ibu dan anak itu duduk bersisian di atas ranjang. Mata mereka masih sembab, namun ada senyum kelegaan yang tidak bisa disembunyikan.

"Ibu," Lin Chen memecah keheningan, suaranya kembali tenang namun dipenuhi tekad yang kuat. "Rahasia tentang Alam Dewa, dan rahasia tentang kekuatanku... ini akan menjadi rahasia kita berdua."

Lin Yue menoleh, mengangguk paham.

"Ayah dan Kak Feng, serta Kak Xue, mereka adalah manusia fana yang hidup dengan hati yang damai," lanjut Lin Chen, menggenggam tangan ibunya. "Jika mereka tahu bahwa yang sedang mengincar dunia ini, kedamaian mereka akan hancur oleh rasa takut. Biarkan mereka terus tersenyum di bawah matahari. Biarkan aku dan Ibu... yang menanggung badai di dalam kegelapan."

Lin Yue meremas tangan putranya dengan bangga. "Ibu setuju. Untuk melindungi senyum mereka, kita akan menyimpan rahasia ini."

Keduanya tersenyum, menyegel sebuah janji suci antara ibu dan anak yang akan menentukan nasib dunia fana ini.

Namun, tepat ketika kedamaian menyelimuti kamar itu, Niat Jiwa Lin Chen tiba-tiba menangkap sebuah fluktuasi Qi yang sangat liar dari arah halaman belakang istana. Itu bukan aura musuh dari Alam Abadi, melainkan aura dari Teknik Langkah Bayangan yang dieksekusi dengan tergesa-gesa.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan yang sangat pelan dan ritmis terdengar di kaca jendela kamar Lin Chen.

Lin Yue langsung memasang kuda-kuda waspada, bersiap memanggil sisa kemampuannya. Namun Lin Chen menepuk tangan ibunya dengan lembut. "Jangan khawatir, Ibu. Itu temanku."

Lin Chen menjentikkan jarinya, membuka sedikit celah pada Formasi Pengunci Suara buatan ibunya.

Selembar daun kering melesat masuk menembus celah jendela, lalu terbakar menjadi abu sebelum menyentuh lantai. Dari dalam abu itu, sebuah suara bisikan dari Xie Yan, sang ketua Paviliun Strategi, terdengar luar biasa tegang sebuah nada panik yang jarang sekali ditunjukkan oleh sang jenius taktik.

"Kakak Pertama! Maaf mengganggu malammu. Tapi Mo Yuan dan Shen Lu baru saja kembali dari Istana... dan mereka tidak datang sendirian. Di tengah jalan, mereka bentrok dengan utusan dari Sekte Teratai Es dan berhasil menculik seseorang. Kau harus datang ke markas Utara sekarang juga... karena orang yang mereka culik, mengaku sebagai kenalan masa lalumu!"

Lin Chen membeku, mata keemasannya seketika menyipit tajam menembus kegelapan malam.

1
Indah Hidayat
kaisar naga beladirinya kok tiba2 dihapus ?
Raden
luar biasa mantap thor
Raden
mantap💪 lanjut kan 💪
Raden
mantap ratu💪
Raden
hajar bro, mulut kok ga dijaga💪
Raden
seru lagi, mantap💪
Rhaka Kelana
Dan akhirnya, yang diinginkan oleh seorang pria adalah rumah yang penuh dengan kehangatan....😍
Budi Wahyono
kaisar naga nya kok gak ada thor ?
Sang_Imajinasi: ada mas bud, ngulang lgi, karena hilang semua bab
total 1 replies
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
keren
Puragabaya
KOPLAK
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
DIFAN2: Novel 'SULUNG' hadir dengan keseruan kisah petualangannya, yuk kak merapat.
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Edy Amran. MM
Lanjut.. ceritanya bagus
Rinaldi Sigar
lanjut
EKO BUDI PRASETYO: lha bukannya qingyue di alam abadi SM Lincen, kok BS di alam fana
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Boo Ceng Li
🔥🔥🔥💪💪💪👌👌👌
Tosari Agung
sangat keren imajinasi thor🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!