"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Pertumbuhan hidup fitri dan anak nya
Penampilan Fitri kini benar-benar memukau. Ia mengenakan setelan blazer pastel elegan yang membingkai tubuhnya dengan sangat pas. Riasan wajahnya tampak alami dengan sentuhan glass skin dan bibir yang merona manis. Tidak ada lagi wanita bersahaja yang canggung atau ragu-ragu. Fitri telah menjelma menjadi seorang dokter muda berpengaruh yang anggun, berwibawa, sekaligus seorang ibu yang penuh kasih sayang.
Setiap kali menatap Aiden, Fitri selalu melihat bayangan kemiripan yang begitu kuat dengan Adam. Bentuk alis, garis bibir, hingga cara bocah itu memiringkan kepala saat bingung persis seperti mantan suaminya. Namun, Fitri tak lagi merasa sakit atau dendam. Kehadiran Aiden telah menyembuhkan seluruh luka di hatinya, menggantikannya dengan tekad baja untuk memberikan kehidupan terbaik bagi sang buah hati.
"Ibu! Lihat, Aiden dapat bola!" seru balita itu gembira, berlari mendekat lalu memeluk kaki Fitri erat-erat.
Fitri berlutut, merapikan poni halus Aiden sembari mendaratkan kecupan hangat di pipi chubby anaknya. "Pintar sekali anak Ibu. Sekarang siap-siap ya, Ibu harus antar Aiden ke tempat penitipan anak sebelum Ibu ada jadwal operasi jam sembilan."
Karier Fitri melesat pesat. Keahlian medisnya dipadu dengan dedikasi tinggi membuatnya dipercaya memegang posisi strategis di salah satu rumah sakit swasta terkemuka. Ia bukan lagi wanita yang bergantung pada pemberian uang belanja suami. Fitri mampu membeli rumah sendiri, membiayai kebutuhan Aiden tanpa kekurangan sedikit pun, serta berdiri tegak di atas kakinya sendiri tanpa bantuan pria mana pun.
Saat mengendarai mobilnya membelah jalanan kota Bandung yang sejuk, Fitri melirik Aiden yang tertidur lelap di car seat kursi belakang. Cermin di depannya memantulkan bayangan dirinya yang tersenyum tenang. Kenangan masa lalu sewaktu ia harus mengurus almarhumah ibu mertua dan memikul cemoohan Rosa terasa seperti cerita lama dari kehidupan orang lain.
Ponsel di dasbor mobilnya bergetar, menampilkan nama kolega dokter spesialisnya yang mengajak berdiskusi soal seminar medis internasional pekan depan.
"Halo, Dok? Ya, draf materinya sudah saya rapikan. Nanti saya kirim via email sebelum makan siang ya," jawab Fitri lugas, percaya diri, dan sangat profesional.
Fitri membuktikan kepada dunia terutama pada dirinya sendiri bahwa perceraian dan pengkhianatan di masa lalu tidak mampu menghancurkan masa depannya. Dari reruntuhan kepedihan, ia berhasil membangun kerajaan kecil yang penuh kebahagiaan bersama Aiden.
Sore harinya, setelah menyelesaikan seluruh jadwal tugas medis di rumah sakit, Fitri kembali menjemput Aiden. Balita mungil itu langsung melompat girang ke dalam pelukannya.
"Ibu kangen banget sama Aiden," bisik Fitri sambil menciumi dahi anaknya.
Saat memangku Aiden di taman rumah sambil menikmati angin sore yang berembus pelan, Fitri tahu bahwa hidupnya kini sudah utuh. Ia tidak membutuhkan masa lalunya lagi, karena masa depannya yang cerah sudah ada di dalam genggamannya.
***
(Di sisi lain)
Gerimis tipis mengguyur kawasan Jalan Riau, Bandung, membasahi kaca depan mobil tua yang kini dikendarai Adam. Kehidupannya berubah drastis dalam dua tahun terakhir. Setelah rumah mewahnya disita bank akibat tunggakan cicilan dan proses perceraiannya dengan Rosa selesai dengan menyisakan tumpukan utang, Adam harus memulai semuanya dari nol. Jabatan manajernya melayang, digantikan oleh pekerjaan sebagai penyelia lapangan di sebuah perusahaan kontraktor skala menengah yang menuntutnya sering bertugas keluar kota.
Pria itu menyandarkan badannya ke kursi kemudi yang dingin. Wajahnya yang dulu bersih kini tampak tirus, dengan garis-garis kelelahan yang tegas mengukir pipinya. Tatapannya redup, tak ada lagi sisa kesombongan atau rasa percaya diri yang dulu selalu ia banggakan.
Ponsel di sampingnya berdering singkat. Notification pesan dari mantan rekan kerjanya masuk, mengingatkan jadwal pembayaran sisa tunggakan kartu kredit yang masih mencengkeram keuangannya. Adam mendesah berat, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut pening.
"Ya ampun... Pusing sekali kepalaku.." Ucap Adam.
Di tengah kehidupannya yang meredup, hanya satu hal yang tetap menyala di dalam dadanya: bayangan dan nama Fitri yang saban malam menghantuinya lewat lembaran diari tua yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.
"Dimana kamu sekarang fit? Aku ingin sekali ketemu" Ucap Adam lagi.
Adam memutar kunci kontak, berniat menjalankan mobilnya kembali menuju mess tempatnya menginap. Namun, saat matanya melirik ke arah pelataran sebuah kedai kopi di seberang jalan, gerakannya mendadak terkunci rapat.
Di bawah naungan payung besar berwarna krem, seorang wanita sedang berjalan anggun keluar dari kedai kopi. Wanita itu mengenakan setelan busana muslimah modern warna pastel yang sangat pas di tubuhnya, dipadukan dengan hijab senada yang melambai halus diterpa angin sore. Dari jarak puluhan meter, aura ketenangan dan kemandirian memancar kuat dari sosoknya.
Jantung Adam berdesir hebat, berdetak kencang menghantam dadanya. Tangannya gemetar di atas lingkar kemudi.
"Fitri...?" bisik Adam lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.
Setengah tak percaya, Adam memicingkan mata, menatap lurus menembus rinai hujan yang membasahi kaca mobil. Bentuk wajah itu, cara berjalannya yang tenang, serta lengkungan senyum tipisnya sangat mirip dengan mantan istrinya. Namun, wanita di seberang sana tampak jauh lebih menawan terpancar keanggunan seorang dokter sukses yang tak pernah ia lihat sewaktu mereka masih terikat pernikahan dulu.
Sebelum Adam sempat membuka pintu mobil untuk memastikan, seorang balita mungil berusia dua tahunan berlari kecil keluar dari pintu kedai kopi, menyambar ujung busana wanita itu sambil tertawa riang.
"Ibu! Lihat bola Aiden!" seru balita itu samar-samar terdengar di antara deru hujan.
Wanita yang diduga Fitri itu seketika berlutut, merengkuh tubuh balita mungil tersebut ke dalam pelukannya dengan pendar kasih sayang yang teramat teduh.
Adam membeku di balik kaca mobilnya. Darahnya serasa berhenti mengalir saat ia memperhatikan paras balita laki-laki itu dari kejauhan. Meskipun terhalang tirai hujan tipis, pendar wajah anak kecil itu, bentuk alisnya, serta caranya memiringkan kepala terasa tidak asing baginya.
Seseorang membukakan pintu mobil SUV mewah di depan kedai kopi tersebut. Wanita anggun itu membimbing balita mungilnya masuk ke dalam mobil, lalu melaju perlahan membelah keramaian jalanan kota Bandung.
Mobil itu menghilang di belokan jalan, tetapi Adam masih terduduk kaku di balik kemudinya. Napasnya memburu kencang, matanya memerah menahan badai emosi yang mendadak mengamuk di dalam dada.
"Nggak mungkin..." gumam Adam gemetar. "Anak siapa itu? Kenapa... kenapa mukanya mirip banget sama aku?"
Pikiran Adam liar berputar, dipenuhi pertanyaan yang membakar jiwanya. Apakah wanita itu benar-benar Fitri? Siapa balita mungil yang dipeluknya dengan begitu hangat?
Pikiran adam kini semakin penasaran dengan itu.
"Apa jangan-jangan.. dulu.. dia lagi hamil?" Gumam adam bertanya-tanya.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.