Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17. Sesak
Para wartawan yang tersisa berdesakan mendekati mereka, hendak melemparkan pertanyaan lanjutan. Namun, dengan isyarat tangan dari Elkan, belasan pengawal berseragam serba hitam langsung membuat barikade rapat, menghalau para media dengan sopan namun tak terbantahkan.
"Konferensi pers resmi VK Group dan Kirana Group akan digelar besok pagi di kantor pusat," tegas Elkan berwibawa pada awak media. "Malam ini, silakan tinggalkan area kediaman pribadi Nyonya Kirana."
Tanpa menunggu balasan para wartawan, Elkan menggandeng jemari Gia, menuntun wanita itu melangkah melewati gerbang besi yang kini terbuka lebar.
Namun, baru saja mereka melangkah beberapa pijakan memasuki pelataran rumah megah nan asri itu, suasana mendadak terasa janggal. Lampu-lampu taman yang biasanya berpendar keemasan, mati total. Hanya ada kegelapan dan aroma sangit menyengat yang samar-samar tercium di udara.
"Tunggu," tahan Elkan tiba-tiba, menarik tubuh Gia secara refleks ke belakang punggungnya yang tegap.
"Elkan? Ada apa?" tanya Gia heran, jantungnya mendadak berdebar tidak karuan.
"Aromanya... bau gosong," desis Elkan, matanya menajam menembus kegelapan menuju pintu utama kediaman Kirana yang ternyata sudah sedikit terbuka.
Cklek.
Belum sempat Elkan merogoh ponselnya untuk menghubungi pengawal dalam rumah, pintu kayu jati yang kokoh itu mendadak terbuka makin lebar.
Sesosok pria berjaket kulit hitam dengan topi bertuliskan logo Nico Corp keluar perlahan dari balik kegelapan. Di tangan kanannya, pria itu memegang sebuah pemantik api yang apinya sedang menyala menari-nari di udara, sementara tangan kirinya menggenggam erat sebotol cairan bahan bakar!
"Langkah yang bagus, Nona Gia... Pak Presdir Elkan," ujar pria itu dengan tawa serak yang mengerikan. "Kalian berhasil menyingkirkan lalat-lalat kecil di luar. Tapi sayangnya, kalian terlambat menyelamatkan yang ada di dalam."
Mata Gia membelalak lebar, wajah ayunya seketika kehilangan seluruh warna darahnya. "M-mama...? Di mana mamaku?!"
Pria itu tersenyum licik, menunjuk ke arah ruang tengah rumah yang kini mulai diselimuti kepulan asap hitam. "Nyonya Laras ada di dalam, terikat manis di kursi. Dan dalam hitungan tiga detik... tempat ini bakal jadi kuburan massal keluarga Kirana!"
Pria itu melemparkan pemantik apinya ke arah tumpahan bensin di teras!
Fwoooosh!
Kobaran api merah menyala langsung membumbung tinggi, memblokir pintu masuk dan melahap tirai-tirai mahal di ruang depan.
"JANGAN!" jerit Gia histeris, nekat hendak menerobos kobaran api demi menyelamatkan ibunya.
Namun, lengan kokoh Elkan dengan cepat merengkuh pinggang Gia erat-erat, menahan wanita itu dari marabahaya. "Gia, bahaya! Jangan nekat!"
"Lepasin aku, Elkan! Mamaku ada di dalam! Mamaaaa!" raung Gia memecah malam, air matanya pecah seketika di tengah kobaran api yang makin membesar dan gelak tawa pria misterius yang berlari menghilang ke balik kegelapan malam!
Malam kian larut di depan kediaman megah keluarga Kirana. Suara sirine polisi perlahan menjauh, membawa Ibu Titik yang meraung-raung histeris bersama sisa-sisa kesombongannya yang telah hancur total. Kerumunan wartawan pun membubarkan diri setelah mendapatkan rekaman skandal terbesar minggu ini.
Suasana di depan gerbang yang tadinya riuh mendadak berubah hening dan tenang. Angin malam yang dingin berembus pelan, menerpa helai rambut Gia yang terurai indah.
Gia menghela napas panjang, merapikan gaun malam merah maron nya. Ada rasa lega yang begitu luar biasa menyusup ke dalam dadanya. Semua benalu dari masa lalunya. Aldo, Siska, hingga Ibu Titik kini telah menerima pembalasan yang setimpal atas perbuatan mereka.
"Pembersihan selesai, Nyai," suara bass Elkan terdengar hangat memecah keheningan.
Gia memutar tubuhnya, menatap Elkan yang berdiri tegap hanya berjarak beberapa jengkal darinya. Jas hitam ramping yang dikenakan pria itu tampak sedikit kusut di bagian lengan, namun binar mata cokelat gelapnya memancarkan kehangatan yang luar biasa.
"Terima kasih, Elkan," ujar Gia tulus, menyunggingkan senyum tipis yang jujur tanpa topeng dinginnya lagi. "Kalau malam ini kamu nggak ada... mungkin urusannya bakal makin panjang."
Elkan melangkah satu tindak maju, menatap lurus ke dalam manik mata bening Gia. Tanpa keraguan, ia mengulurkan tangannya, merapikan helai rambut yang menutupi pipi Gia, lalu membiarkan telapak tangannya yang hangat bertahan menyentuh rahang lembut wanita itu.
Gia tersentak kecil, namun ia tidak menarik diri.
"Gia," panggil Elkan dengan suara rendah yang dalam dan sarat akan keseriusan. "Semua lalat di kehidupanmu sudah dibersihkan, kan? Sekarang... giliranku yang menuntut janji."
Jantung Gia berdegup kencang secara tidak teratur. "Janji? Janji apa?"
"Janji untuk membuka hatimu," bisik Elkan serak, tatapannya begitu intens hingga membuat napas Gia sedikit tertahan. "Dua tahun lalu aku terlambat mengutarakan perasaanku sampai kamu menyamar dan menikah dengan pria yang salah. Aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."
Gia menunduk pelan, berusaha menguasai getaran hebat di dalam dadanya. "Elkan... aku ini wanita yang baru saja bercerai. Trauma dan luka dari masa lalu itu—"
"Luka itu biar aku yang sembuhkan," potong Elkan cepat namun lembut. Ia meraih kedua tangan Gia, menggenggamnya erat di atas dada kirinya, membiarkan Gia merasakan detak jantungnya yang berdebar sama kencangnya. "Aku nggak minta kamu langsung melupakan semuanya malam ini. Aku cuma minta kamu memberiku kesempatan untuk membuktikan... bahwa tidak semua pria sama seperti mantan suamimu."
Gia menatap mata Elkan yang memancarkan kejujuran dan keberanian mutlak. Tidak ada kepalsuan di sana, tidak ada motif tersembunyi hanya ada cinta yang telah bertahan lama.
Senyum manis yang sangat meletup perlahan terukir di bibir Gia. "Kalau kamu bertindak konyol atau bikin aku kesal... aku bakal pecat kamu dari posisi Presdir."
Elkan terkekeh renyah, tawa kelegaannya terdengar begitu renyah di udara malam. Pria itu menyunggingkan senyum paling tampan yang pernah Gia lihat.
"Diterima, Bos Besar," balas Elkan santai. Tanpa aba-aba, ia menarik Gia pelan ke dalam pelukannya.
Gia menyandarkan kepalanya di dada kokoh Elkan, menghirup aroma kayu cendana yang menenangkan, seraya membalas pelukan itu hangat. Momen manis itu terasa sempurna... sampai pintu gerbang utama kediaman Kirana mendadak terbuka lebar.
"Ehem!"
Suara deheman keras memecah suasana romantis tersebut. Nyonya Kirana berdiri di balik gerbang dengan melipat kedua tangannya di dada, didampingi oleh dua pengawal pribadi.
Gia langsung melepaskan pelukannya panik, wajahnya memerah padam menahan malu. Sementara Elkan justru tersenyum santai dan membungkuk hormat dengan sangat percaya diri.
"Selamat malam, Tante Kirana," sapa Elkan manis.
Nyonya Kirana menaikkan sebelah alisnya, menatap Elkan dan Gia bergantian dengan senyum penuh arti. "Sudah selesai dramanya? Kalau sudah, Elkan... masuk ke dalam. Orang tuamu sudah menunggu di ruang tamu untuk membicarakan tanggal pertunangan kalian."
Gia melotot kaget. "Ibu?! Orang tua Elkan ada di dalam?!"