Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 Mencari Anak yang Dibuang
Sejak menemukan kotak kecil di kamar Alkina, Ranti tidak bisa tidur. Kalimat di balik foto itu terus menghantuinya.
“AKU INGIN MAMA SAYANG AKU LAGI.”
Sederhana namun terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke dadanya.
Ranti duduk sendirian di ruang kerja dengan mata sembab, selama bertahun-tahun, rumah besar itu terasa asing baginya.
Terlalu sunyi, biasanya ada suara langkah kecil Alkina di pagi hari. Ada suara pelan gadis itu memanggil, “Bu, sarapannya sudah siap.”
Dan Ranti selalu menjawab dengan bentakan.
Sekarang tidak ada lagi.
Tok.
Tok
Tok
Pintu diketuk pelan.
Setiawan masuk sambil membawa beberapa dokumen kantor, namun langkahnya berhenti saat melihat wajah istrinya.
“Kamu menangis?”
Ranti buru-buru menghapus air mata.
“Aku cuma kurang tidur.”
Setiawan menatapnya lama.
“Kamu memikirkan Alkina?”
Nama itu membuat napas Ranti tercekat, namun kali ini ia tidak menyangkal.
“Kamu cukup dekat dengan Alkina, apa Alkina tidak ada menghubungi kamu mas?” suara Ranti lirih. “Apa dia benar-benar tidak menghubungi siapa pun?”
Setiawan menggeleng pelan.
“Tidak ada... aku juga sudah mencoba menghubungi dia mengunakan nomor lain, tetap saja tidak di angkat... bahkan sekarang ponselnya benar-benar tidak aktif.”
Nomor Alkina pernah aktif saat Setiawan menelpon namun Alkina sama sekali tidak mengangkat panggilan itu, bahkan dengan nomor baru.
Ranti menunduk ia mulai membayangkan kemungkinan buruk.
Bagaimana kalau Alkina kelaparan? Bagaimana kalau gadis itu sakit? Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya?
Dada Ranti terasa sesak dan rasa takut itu perlahan mengalahkan egonya.
“Aku mau cari dia.”
Setiawan membeku beberapa detik, mungkin karena ia sudah terlalu lama menunggu kalimat itu keluar dari mulut istrinya.
“Aku serius,” lanjut Ranti pelan. “Aku mau tahu Alkina di mana.”
“Sulit, sampai sekarang anak buah aku belum menemukan keberadaan Alkina.”
Awalnya Setiawan ingin melapor ke polisi namun ia berpikir lagi, jika ia lapor polisi maka media akan datang menghampiri mereka. Jika media meliput, maka musuh bisnis aku tahu anaknya pergi dari rumah dan itu bisa saja membahayakan nyawa putrinya. Jadi Setiawan memutuskan untuk mengerahkan anak buahnya untuk mencari anaknya.
******
Keesokan paginya, Ranti langsung bergerak, ia tidak mau lagi diam menungu, ia memiliki banyak koneksi dan orang kepercayaan.
Ia memanggil asistennya ke rumah.
“Kerahkan anak buah untuk mencari keberadaan Alkina.”
Pria itu tampak sedikit terkejut. Selama ini bu bosnya sama sekali tidak perduli dengan Alkina, kenapa sekarang menyuruh dirinya untuk mengerahkan anak buah untuk mencari Alkina.
“Nona Alkina?” tanya asisten memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.
“Iya.” Ucap Ranti tanpa keraguan.
“Baik, Bu Ranti.”
Ranti menyerahkan foto Alkina dengan tangan gemetar kecil.
“Cari di terminal, stasiun, rumah sakit, penginapan… mana saja. Pokoknya anak itu harus secepatnya ketemu.” Perintah Ranti.
“Baik bu bos.” Pria itu pergi cepat namun Ranti tetap merasa gelisah.
Ia bahkan tidak tahu makanan favorit putrinya. Tidak tahu tempat yang mungkin dituju Alkina. Tidak tahu teman dekatnya. Ia sadar dirinya benar-benar tidak mengenal anak kandungnya sendiri.
Sementara itu, di rumah kecil Mira, Alkina sedang membantu Rian belajar membaca.
“Ini huruf apa?” tanya Alkina lembut.
“B!”
“Pintar.” Rian langsung tersenyum bangga.
Mira memperhatikan mereka dari dapur dengan senyum tipis. Sudah hampir dua minggu Alkina tinggal di sana dan sedikit demi sedikit, gadis itu mulai berubah.