Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang ke Surabaya
Sekitar jam 3 siang, orang tua Zain sudah sampai di rumah Tiyas. Zain baru saja pulang dari Masjid. Sedangkan Tiyas sudah mempersiapkan diri.Ia sudah memakai baju setelan kulot dengan kemeja berbahan katun rayon yang sangat simple dipadu dengan jilbab segi empat polos. Sebenarnya ia kurang percaya diri dengan pakaiannya itu. Namun hanya baju itu yang masih baru.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Melihat penampilan sederhana menantunya, ummi hanya bisa mengulum senyum. Ummi sangat paham kriteria Zain meski selama ini ia tidak pernah memperkenalkan seorang perempuan kepadanya. Karena memang Zain tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Beda halnya dengan Zean. Sejak pertama kali melihat Tiyas, entah kenapa ummi sangat berharap Tiyas adalah jodohnya Zain.
Zain senang akhirnya orang tuanya datang. Ia sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah. Tidak lama kemudian, Indri datang bersama ibunya. Ayahnya tidak bisa datang karena masih bekerja di bengkel. Beberapa tetangga yang lain pun menghampiri karena mereka tahu Tiyas akan pergi ikut suaminya. Ibu Indri menitipkan Tiyas kepada Zain dan keluarganya.
"Titip Tiyas ya, bu. Tolong sayangi layaknya anak ibu sendiri."
"Bu Sri jangan khawatir, anak menantu saya tidak pernah saya bedakan. Semuanya sama. Mereka adalah anak-anak saya. Apa lagi Tiyas nanti akan menjadi satu-satunya menantu saya yang akan tinggal bersama saya."
"Terima kasih bu. Semoga Tiyas betah di sana."
"Aamiin... "
Moment ini cukup mengharukan. Tetangga Tiyas pun memberi pelukan dan semangat untuknya. Ia berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihan dan menahan air matanya. Tiyas menitipkan kunci rumah kepada Indri karena nanti Indri dan ibunya yang akan membantu menengok rumahnya setiap hari.
"Kalau begitu kami pamit karena sudah sore. Kami akan terbang jam 7 nanti."
"Iya bu, semoga kalian semua selamat sampai tujuan."
"Aamiin... "
Mereka pun masuk ke dalam mobil.
Akhirnya, Pak Jali tancap gas meninggalkan halaman rumah Tiyas. Dari balik jendela mobil Tiyas melambaikan tangannya.
Selama dalam perjalanan ke Bandara, Tiyas tidak banyak bicara. Ia hanya bicara saat ummi mengajaknya atau bertanya. Ummi dan abi melihat antara Tiyas dan Zain masih butuh pendekatan, karena mereka masih terlihat kaku.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di Bandara. Setelah mobil diparkir, mereka pun dari mobil. Zain menurunkan barang-barang dibantu oleh Pak Jali. Saat Tiyas ingin membantu membawa barangnya, ummi melarangnya.
"Jangan, nak. Biar suamimu saja."
"Tapi... "
"Iya, biar saya saja yang bawa." Sahut Zain.
Tiyas pun mengangguk.
Mereka masuk ke Bandara.
Pak Jali berpamitan pulang saat mereka sudah cek in.
Kini saatnya mereka naik ke dalam pesawat. Dengan hati yang was-was, Tiyas melangkahkan kakinya.
Mereka duduk di kursi kelas bisnis. Ummi bersama abi, dan Tiyas bersama Zain.
Zain melihat ketakutan dalam diri istrinya.
"Kamu takut?"
Tiyas mengangguk.
"Tidak perlu takut. Bacalah do'a setahumu.Kamu bisa tidur juga untuk menghilangkan rasa takutmu."
"Hem... "
Zain pun memasang earphones di telinganya lalu memejamkan matanya.
Sementara itu, Tiyas berdzikir di dalam hatinya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia melihat kedua mertuanya sudah terlelap. Akhirnya ia juga mencoba memejamkan mata namun tidak bisa.
Beberapa menit kemudian, Tiyas ingin buang air kecil. Ia bingung di mana letaknya. Ia juga takut untuk berdiri.
"Ya Allah sudah nggak kuat. Ke mana tadi pramugarinya. " Batinnya.
Zain yang sedari tadi tidak benar-benar tidur dapat melihat keresahan istrinya.
"Kamu kenapa?"
"Aku... aku ingin ke kamar mandi."
"Di sana." Tunjuk Zain
Tiyas pun berdiri dengan hati-hati.
"Em... mungkin ada pramugari yang bisa mengantarku."
Zain baru sadar kalau istrinya bukan hanya bingung tapi takut. Akhirnya Zain menggandeng pergelangan tangan Tiyas dan mengantarnya sampai ke depan pintu toilet. Sampai di dalam toilet pun Tiyas masih bingung untuk mengoperasikan closet. Namun akhirnya dia bisa.
Zain menunggunya sekitar lima menit.
"Maaf tuan, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang pramugari.
"Eh tidak. Saya hanya sedang menunggu istri saya yang ada di dalam."
"Oh, baik kalau begitu. Saya permisi."
"Iya, Terima kasih."
"Sama-sama."
Tiyas akhirnya keluar dari toilet. Ia terkejut saat melihat Zain masih menunggunya.
"Sudah?"
"Iya sudah. "
"Masih takut?"
"Eh tidak, saya bisa sendiri."
"Silahkan jalan duluan."
Tiyas jalan mendahului Zain. Zain sengaja jalan di belakangnya untuk memastikan keadaan.
"Kalian dari mana?" Tanya ummi.
"Dari toilet, mi."
"Oh... "
Mereka duduk kembali.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di Bandara Juanda. Mereka sengaja tidak mengabari orang rumah karena ingin memberi kejutan. Mereka pulang menggunakan go car.
Sekitar jam 10 malam, mereka baru sampai di rumah. Satpam membuka gerbang saat tahu majikannya yang datang.
"Tumben tuan dan nyonya naik go car ya. Kenapa kok nggak minta jemput sopir?" gumam satpam.
Tiyas masih melihat ke sekelilingnya. Rumah yang begitu besar dengan halaman yang sangat luas dan taman yang indah. Ia sering melihatnya di TV atau di internet.
"MasyaAllah ini serius rumah mereka? Membayangkannya saja aku tidak pernah." Batinnya.
Tiyas tersentak saat ummi memanggilnya.
"Nak, ayo turun. Kita sudah sampai."
"Ah iya, ummi."
Setelah menurunkan barang-barangnya, abi membayar go car. Ummi pun membuka pintu rumah.
Saat masik ke dalam rumah, Tiyas dapat melihat furniture dengan nuansa putih bersih dipadu dengan ornamen warna gold. Lampu kristal yang menjuntai dari lantai atas terlihat memukau. Intinya Tiyas merasa tidak masuk akal baginya bisa menjadi menantu di dalam rumah itu.
"Mungkin aku hanya akan menjadi babu di rumah ini."
Rumah tersebut nampak sepi karena penghuninya sudah masuk kamar dan mungkin sudah tidur.
"Bang, ajak istrimu ke kamar. Dia pasti lelah dan mengantuk." Ujar ummi.
"Tiyas, ayo ikut aku."
Ummi dan abi saling berpandangan saat mendengar Zain masih memanggil nama terhadap istrinya.
Dengan langkah ragu Tiyas mengikuti suaminya naik ke lantai atas. Dan mereka berhenti di sebuah pintu.
"Ini kamarku.... em maksudku sekarang akan menjadi kamar kita."
Zain membuka pintu kamarnya.
"Silahkan masuk. "
Tiyas masuk dengan langkah pelan. Kamar Zain cukup besar. Bahkan mungkin sebanding dengan rumah Tiyas di kampung. Tiyas sangat menyesal kemarin sudah membiarkan Zain tidur di ruang tamu yang mungkin sangat tidak layak bagi Zain. Tapi Zain tidak protes.
"Di balik pintu itu ada beberapa lemari. Kamu bisa menaruh barangmu di sana. Besok kita rapikan, sekarang kamu bisa istirahat."
"Ada yang tidak boleh aku lakukan di dalam kamar ini?"
"Tidak ada. Kamu bebas, asal tidak mengotori kamar ini."
"Hem. "
Tiyas membawa tasnya je ruang walk in closed.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
maju Zain pantang mundur.. hehehehe