Gemerlap pulau dewata ternyata menyimpan sisi kelam yang jarang tersorot di balik kemeriahan panggung pop culture dan berbagai event kreatif. Komunitas hobi yang tampak penuh warna ini sering kali diwarnai oleh berbagai kekacauan mendadak, mulai dari drama penyelenggara acara yang bermasalah, oknum penguntit yang meresahkan, hingga gesekan pelik antar-kelompok.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, sekelompok orang biasa yang tidak memiliki pengaruh besar harus menjalani hari-hari penuh tantangan. Mereka bukan siapa-siapa di mata publik, melainkan sekadar individu yang berusaha menikmati hobi di tengah himpitan masalah pribadi masing-masing yang silih berganti.
Setiap babak kehidupan mereka berjalan tanpa terikat pada satu tempat atau konflik tunggal, membawa mereka menghadapi berbagai kekacauan on the spot yang tak terduga. Perjalanan ini dipenuhi oleh campuran aksi, drama emosional, dan komedi segar yang menguji cara mereka bertahan di kerasnya dunia komunitas kreatif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INDKaeda00, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
After day
"Disclaimer: Seluruh karakter, organisasi, dan peristiwa dalam cerita ini adalah fiktif. Jika ada kemiripan dengan situasi nyata, kisah asmara, atau kasus di dunia cosplay, itu adalah unsur ketidaksengajaan."
Beberapa hari kemudian, suasana di tempat kursus bahasa Jepang terasa cukup tenang. Otsuki duduk bersandar dengan malas di bangkunya, jemarinya bergerak lincah menggulir linimasa media sosial di ponselnya. Di tengah kegiatannya, layar ponselnya menampilkan beberapa unggahan akun komunitas yang sedang ramai memperbincangkan drama dan oknum fotografer nakal yang berulah di event cosplay beberapa hari lalu. Ia mendengus pelan, memilih mengabaikan keributan dunia maya tersebut.
Tidak lama kemudian, lonceng tanda jam pelajaran dimulai berbunyi. Pengajar memasuki ruangan, diikuti oleh seorang siswi baru yang melangkah ragu di belakangnya.
Otsuki mengangkat pandangannya dari ponsel untuk melihat siapa peserta didik baru yang bergabung di kelas tersebut. Begitu melihat sosok wanita yang berjalan masuk dengan mengenakan pakaian formal berupa kemeja putih dan celana hitam panjang, mata Otsuki langsung menyipit tipis. Ia mengenali wajah itu dengan sangat baik—wanita yang baru saja mendaftar dan berdiri di depan kelas tersebut adalah orang yang beberapa waktu lalu sempat ia bantu dari gangguan fotografer mesum di area event.
Menyadari siapa murid baru yang berdiri di depan kelas, Otsuki hanya menaikkan sebelah alisnya sesaat. Tidak ada ekspresi terkejut yang berlebihan di wajahnya; ia sekadar mengangguk kecil, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke lembaran buku Minna no Nihongo di atas meja, memilih untuk fokus mempelajari materi bab selanjutnya yang akan dibahas hari ini.
Di depan kelas, sang pengajar memberikan isyarat kepada siswi baru tersebut untuk memperkenalkan diri kepada rekan-rekan sekelasnya.
"Silakan perkenalkan diri kamu dulu kepada teman-teman di sini," ujar pengajar ramah sambil tersenyum.
Dewi—yang tampak sedikit gugup karena menjadi pusat perhatian—menarik napas pelan, lalu merapikan ujung kemeja putihnya sebelum mulai berbicara dengan suara yang terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan.
"Halo semuanya... Perkenalkan, nama saya Dewi. Saya baru mulai mendaftar dan bergabung di kelas kursus bahasa Jepang ini hari ini. Mohon bimbingannya dari teman-teman sekalian ya," ucap Dewi sopan sambil membungkuk sedikit.
Mendengar suara perkenalan itu, sudut bibir Otsuki yang tadinya datar perlahan tertarik membentuk senyuman tipis. Ia merasa kebetulan ini cukup menggelitik, namun ia tidak berniat membuat suasana menjadi canggung. Setelah beberapa detik menyimak perkenalan tersebut, Otsuki kembali menunduk, memusatkan seluruh perhatiannya pada buku pelajaran bahasa Jepang di hadapannya, mengabaikan sejenak hiruk-pikuk dunia luar.
Beberapa jam kemudian, saat bel istirahat berbunyi dan suasana kelas mulai berangsur santai, Dewi yang duduk di bangku agak jauh dari meja Otsuki tampak ragu-ragu sejenak sebelum memutuskan untuk memberanikan diri melangkah mendekat.
Ia berdiri di sebelah meja Otsuki, lalu tersenyum canggung sembari melambaikan tangan pelan. "Um... Halo, Kak..." sapanya ragu-ragu.
Otsuki, yang sejak tadi sibuk menatap layar ponselnya, langsung menghentikan kegiatannya. Ia menaruh benda pipih itu di atas meja, lalu mendongak menatap Dewi dengan ramah seraya tersenyum tipis. "Halo, Dewi. Ada yang bisa dibantu? Atau ada materi pelajaran yang tadi kelewatan?"
Dewi menggeleng pelan, lalu menarik kursi kosong di dekat sana untuk duduk sebentar. "Bukan soal pelajaran kok, Kak. Aku cuma... mau mastiin sesuatu. Waktu itu kan kita sempat ketemu di event cosplay, dan Kakak yang sudah bantu aku dari fotografer aneh itu... benar kan?" tanyanya memastikan sambil menatap Otsuki lekat-lekat.
Otsuki mengangguk pelan mengiyakan, senyumnya tetap terukir tenang di wajahnya. "Ah, iya benar. Aku Otsuki. Ingatanmu cukup tajam juga ternyata."
Mendengar konfirmasi itu, ekspresi wajah Dewi langsung berubah menjadi jauh lebih lega dan hangat. "Syukurlah... Waktu itu aku bener-bener panik dan belum sempat ngobrol banyak buat bilang terima kasih dengan benar karena Kakak keburu pergi. Jadi, sekali lagi... makasih banyak ya, Kak Otsuki!" ucap Dewi tulus sambil tersenyum lebar.