Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALANAN BERLIKU YANG MENAWAN
Sekitar dua jam kemudian, suara operator kapal terdengar melalui pengeras suara, mengumumkan bahwa kapal sebentar lagi tiba di Pelabuhan Bakauheni. Para penumpang mulai bersiap turun.
Jessica menghampiri Bandung yang masih duduk menatap laut lepas.
“Duda Kolot, ayo lihat pemandangan sebentar sebelum turun!”
Bandung menoleh sekilas, lalu bangkit mengikuti Jessica ke geladak. Dari kejauhan, mereka melihat bangunan menyerupai mahkota berwarna kuning keemasan.
“Wah, itu bagus banget!” seru Jessica sambil memotretnya. Setelah mencari informasi melalui internet, dia mengetahui bahwa bangunan tersebut adalah Menara Siger, ikon Provinsi Lampung.
Jessica segera mengunggah fotonya ke media sosial. Namun, ketika melihat Bandung masih tampak gelisah, dia menggandeng tangan pria itu menuju dek kendaraan.
“Udah, ayo turun. Jangan bengong terus!”
Suasana di dek kendaraan masih berdesakan. Sambil menunggu giliran, Jessica sempat melakukan siaran langsung di media sosialnya. Setelah petugas menginstruksikan para penumpang untuk kembali ke kendaraan masing-masing, mereka pun bersiap melanjutkan perjalanan.
Melihat Bandung belum juga bisa mengusir kegelisahannya, Jessica mengambil keputusan.
“Biar gue aja yang nyetir, ya. Muka lu dari tadi kayak orang mau menghadiri pemakaman sendiri.”
Bandung meliriknya.
“Emangnya muka gue kenapa?”
“Kurang fokus. Gue nggak mau Ferrari kita masuk sawah gara-gara pikiran lu melayang ke Luna.”
Bandung menghela napas, lalu menyerahkan kunci mobil kepadanya.
“Ya udah. Tapi hati-hati.”
Jessica tersenyum puas. “Siap, Bos!”
Hampir setengah jam kemudian, mereka berhasil turun dari kapal. Udara sejuk Lampung menyambut mereka, disertai pemandangan perbukitan hijau yang membentang di kejauhan.
Jessica menyalakan aplikasi penunjuk arah. Suara navigasi mulai memandu perjalanan mereka melewati jalanan yang berkelok-kelok di antara perbukitan.
Awalnya, Bandung menikmati pemandangan itu. Namun, setelah memperhatikan jalur yang mereka lalui, dia mulai mengernyit.
“Jess, kenapa lu nggak masuk jalan tol aja tadi?”
Jessica meliriknya. “Emangnya kenapa?”
“Lihat jalannya. Banyak bagian bergelombang dan berkelok. Di kiri ada jurang, di kanan bukit, kadang sebaliknya. Jangan ngebut, apalagi kalau ada gundukan mendadak. Mobil kita ceper.”
Jessica mengangguk dan mengurangi kecepatan. Kekhawatiran Bandung memang beralasan. Di beberapa titik, permukaan jalan tampak tidak rata, dengan turunan dan gundukan yang mengharuskan mereka melaju lebih hati-hati.
Sekitar satu jam kemudian, mereka memasuki kawasan permukiman yang masih jarang penduduknya. Aplikasi navigasi meminta mereka meninggalkan jalan utama.
Namun, begitu memasuki jalur tersebut, Jessica langsung menginjak rem cukup keras. Bandung hampir terbentur dasbor.
“Woi, Jessica, Duda Kolot ini belum mau mati! Berhenti nggak harus kayak ngerem pesawat, kali!”
Jessica menunjuk ke arah jalan di depan mereka.
“Bandung, kayaknya jalanan di sini nggak seindah ekspektasi gue.”
Bandung memandang jalur sempit yang dipenuhi gundukan.
“Waduh, banyak banget polisi tidur di sini!”
“Udah, jangan sembarangan ngomong. Kita bukan lagi di Jakarta.”
Bandung langsung menutup mulut dengan buku-buku jarinya, lalu turun dari mobil untuk bertanya kepada beberapa petani yang sedang berkumpul di tepi jalan.
Dari percakapan mereka, Bandung sempat mendengar bisikan salah seorang warga.
“Wah, kayaknya pejabat, nih. Mobilnya bagus banget. Pelat B lagi, berarti dari Jakarta!”
Melihat Bandung mengenakan jas, celana bahan, dan sepatu mengilap, beberapa petani segera menghampirinya.
“Selamat siang, Pak. Lagi ada kunjungan ke sini?”
Bandung tersenyum ramah.
“Selamat siang juga, Bapak-Bapak. Saya mau ke alamat ini. Kira-kira jalan yang saya lewati sudah benar belum, ya?”
Dia menunjukkan alamat di layar ponselnya. Beberapa warga bergantian melihatnya.
“Benar, Pak. Memang lewat sini,” jawab salah seorang.
Namun, seorang pria berambut putih dengan janggut lebat menggeleng pelan.
“Cuma, kalau pakai mobil Bapak ini, kayaknya susah lewat sini. Banyak tanggul yang dibuat warga supaya kendaraan mengurangi kecepatan. Mobilnya bisa nyangkut.”
Bandung menatap bagian bawah Ferrari-nya, lalu kembali memandang jalan.
“Kalau begitu, harus lewat mana, Pak?”
“Bapak putar lewat jalan utama. Nanti ada gapura besar berbentuk bambu berwarna kuning. Setelah itu, jalannya nggak terlalu jauh. Bapak bakal melewati sawah yang luas dan bangunan-bangunan tinggi tempat burung walet bersarang. Sampai perempatan besar, ambil kiri.”
“Masih jauh, ya, Pak?”
“Kalau pakai mobil biasa, mungkin sekitar tiga puluh menit. Tapi kalau mobil Bapak ini, ya… saya kurang tahu, Pak. Takutnya malah nggak bisa lewat.”
Bandung mengangguk sambil tersenyum kecut.
Seorang warga lain kemudian bertanya, “Bapak dari Jakarta, ya?”
“Iya, Pak.”
“Mau ke Pringsewu?”
“Betul sekali, Pak. Ke Bambu Seribu!”
Para petani itu tertawa kecil.
“Namanya Pringsewu, Pak. Memang artinya bambu seribu, tapi kalau Bapak menyebutnya Bambu Seribu, belum tentu orang sini langsung paham.”
“Oh, begitu, ya, Pak? Wah, saya baru tahu.”
Setelah mendapat petunjuk yang diperlukan, Bandung berpamitan dan kembali ke mobil. Dia meminta Jessica membuka laci dasbor, lalu mengambil beberapa lembar uang merah.
Bandung menghampiri para petani dan menyerahkan uang itu kepada salah seorang dari mereka.
“Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak. Ini ada sedikit rezeki. Silakan dibagi-bagi.”
Para petani tersenyum senang. Beberapa menyalami Bandung sambil mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih, Pak! Hati-hati di jalan!”
Bandung membalas salam mereka, kemudian kembali masuk ke mobil.
Jessica melambaikan tangan sebelum kembali menginjak pedal gas. Ferrari merah itu melaju meninggalkan kerumunan warga.
“Bandung, kita nyasar nggak, sih? Kok jalannya sepi banget?” tanyanya sambil melirik aplikasi navigasi.
“Nggak, lah. Dari tadi kita juga belum ketemu perempatan lagi. Petanya masih menunjukkan jalur yang sama.”
Jessica mengangguk dan kembali berkonsentrasi menyetir.
Tak lama kemudian, mereka memasuki kawasan pertanian yang membentang luas. Matahari mulai condong ke barat, menyinari hamparan sawah di kanan dan kiri jalan.
Bandung tiba-tiba memberi isyarat agar Jessica memperlambat kendaraan.
Di depan mereka berdiri sebuah gapura besar berbentuk lengkungan menyerupai bambu raksasa, berwarna kuning dengan garis hijau.
beberapa petani nampak masih sibuk di tengah sawah.
“Pelan-pelan, Jess. Kayaknya kita udah dekat.”
Jessica mengurangi kecepatan. Sesuai petunjuk para petani tadi, mereka melewati sawah-sawah luas. Di tengah hamparan hijau itu berdiri sejumlah bangunan persegi yang menjulang tinggi, dengan lubang-lubang kecil di bagian atasnya. Burung-burung berterbangan keluar-masuk melalui celah bangunan yang ternyata merupakan tempat penangkaran burung walet.
Bandung memandang pemandangan itu sambil menarik napas panjang.
“Semoga aja kali ini jalannya benar,” gumamnya.
Jessica melirik Bandung, lalu tersenyum tipis.
“Tenang, Duda Kolot. Sebentar lagi kita ketemu Luna.”
Mendengar nama itu, Bandung kembali terdiam. Tangannya mengepal pelan di atas paha.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi sesampainya di sana. Namun, satu hal sudah pasti: kali inI, dia tidak ingin pulang sebelum mengungkapkan perasaannya.