NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Drama Sugar Baby

Badai kesalahpahaman yang sempat menimpa hubungan Marko dan Luna akhirnya mereda total. Pagi itu, lorong lantai lima Janitra Group kembali terasa bernyawa. Luna, Rania, dan Kenan telah memasuki minggu terakhir masa magang mereka sebelum nantinya berfokus penuh menyelesaikan urusan skripsi di kampus.

Bagi Marko, kembali melihat presensi kekasih kecilnya berkeliaran di lingkungan kantor menjadi penyegar dahaga tersendiri. Setiap jam makan siang tiba, selalu ada alasan formal yang dibuat sang CEO untuk memanggil Luna ke ruang kerjanya.

"Ini dokumen laporan mingguan divisi pemasaran harus ada yang merevisi," ujar Marko dingin di depan staf lain, namun matanya mengedip tipis ke arah Luna.

"Baik, Pak CEO. Saya yang akan antar ke ruangan Bapak," jawab Luna menahan senyum.

Begitu pintu ruang kerja eksekutif itu terkunci rapat dari dalam, formalitas seketika melayang terbang. Tanpa membuang waktu, Luna menjadi pihak yang selalu lebih dulu menjinjitkan kaki, melingkarkan lengan halus di leher Marko, lalu mendaratkan ciuman mesra di bibir pria matang itu.

Pagut cinta yang bermula manis itu kerap kali berubah menjadi ciuman penuh hasrat yang membakar. Marko merengkuh pinggang Luna erat, membalas lumatan itu dengan kelaparan yang ditahannya. Namun, seberapa pun panas gairah yang berhembus di antara mereka, Marko selalu tahu kapan harus menarik rem darurat.

"Cukup ya, Sayang..." bisik Marko penuh napas terengah, mengusap lembut pipi Luna seraya menjauhkan bibirnya pelan. "Saya gak mau kebablasan sebelum resmi menikahi kamu."

Luna menyunggingkan senyum jahil, mengelus rahang kokoh Marko. "Padahal aku gak keberatan lho, Om..."

"Aluna..." tegur Marko dengan suara berat menahan gemas, membuat Luna tertawa renyah menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya kelak.

---

Siang harinya, Ardi Raharja berkunjung ke Janitra Group untuk mematangkan proyek kerja sama konsorsium mereka. Di dalam ruang kerja Marko, kedua sahabat lama itu berbincang hangat ditemani dua cangkir kopi hitam.

Ardi menyesap kopinya, lalu tersenyum lega. "Jujur ya, Ko... gue seneng banget ngeliat Luna belakangan ini. Anak itu udah kembali ceria kayak biasanya. Kemarin-kemarin kan sempat murung dan ngurung diri tuh."

Marko yang sedang menyesap minumannya hampir tersedak pelan. Ia menetralkan raut wajahnya secepat mungkin. "Oh ya? Baguslah kalau begitu, Di."

Ardi menyandarkan punggung, memicingkan mata penuh rasa curiga yang menggelitik. "Tapi gue curiga deh, Ko. Kayaknya anak gadis gue itu diam-diam udah punya pacar. Tiap main HP senyam-senyum sendiri, tapi kalau ditanya selalu ngeles. Dia belum mau cerita ke gue sama Sinta."

Jantung Marko seketika berdegup kencang. Rasa gelisah merayapi tengkuknya. Bagaimana reaksi Ardi jika tahu pria yang dibicarakan anaknya adalah orang yang sedang duduk di hadapannya saat ini?

"Mungkin... dia cuma lagi nunggu waktu yang pas buat cerita, Di," alibi Marko pelan, berusaha mengendalikan ketegangannya.

---

Sebelum kembali ke kantornya sendiri, Ardi menyempatkan diri melangkah ke area parkir VIP untuk menemui Luna yang kebetulan sedang berada di sana usai mengantar berkas ke mobil divisi.

"Papa!" panggil Luna gembira begitu melihat sosok ayahnya.

Ardi terkekeh, merangkul pundak putri semata mayangnya itu. "Udah mau jam pulang ya, Lun?"

"Iya dong! Eh, Pa..." Luna memasang raut wajah mengiba yang sangat menggemaskan, mengadahkan telapak tangannya. "Bagi uang jajan dong! Dompet Luna menipis nih buat beli boba sama Rania nanti."

Ardi tertawa lepas menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu ini ya, udah magang masih aja malak Papa!" Kendati begitu, Ardi tetap merogoh dompetnya, menyerahkan beberapa lembar uang merah ke tangan Luna.

Dengan penuh kasih sayang seorang ayah, Ardi membelai lembut rambut panjang Luna, lalu mendaratkan kecupan hangat di kening putrinya sebelum berpamitan masuk ke dalam mobil.

Namun, tanpa mereka sadari, dari balik kaca jendela lantai dua gedung kantor, seorang karyawan wanita sibuk mengambil foto momen keakraban tersebut menggunakan kamera ponselnya.

---

Dalam hitungan jam, grup obrolan internal non-resmi Janitra Group mendadak gempar! Foto Ardi Raharja yang merangkul, mencium kening, dan memberikan beberapa lembar uang tunai kepada Luna menyebar luas bagai api menyambar jerami kering.

"Gila! Anak magang divisi Analisis ternyata simpanan pengusaha kaya! Tadi liat sendiri di parkiran, mesra banget sampai dicipok keningnya terus dikasih uang!"

"Pantesan gaya hidupnya hedon, ternyata sugar baby om-om berduit!"

Di dalam ruangannya, Yoga bergegas masuk dengan raut wajah panik seraya menyodorkan ponselnya ke hadapan Marko.

"Ko! Parah, Ko! Anak-anak kantor lagi heboh banget ngegosipin Aluna!" seru Yoga.

Marko membaca pesan grup internal tersebut dengan raut wajah yang seketika berubah gelap gulita. Pembuluh darah di pelipisnya menegang keras. "Siapa yang berani-beraninya bikin fitnah murahan seperti ini?!"

"Tenang dulu, Ko," potong Yoga menahan bahu sahabatnya. "Gue baru aja dari bawah. Dan anehnya... si Aluna malah santai banget. Dia gak panik sama sekali."

Marko mengernyit bingung. "Maksud lu santai gimana?"

"Dia malah ketawa-ketawa pas baca grup itu bareng Rania sama Kenan," jelas Yoga heran.

Mendengar hal itu, helaan napas lega keluar dari mulut Marko. Ketegangannya sedikit mencair, merasa kagum sekaligus heran dengan mental kekasih kecilnya yang amat unik.

---

Di kubikel divisi pemasaran, suasana terasa sangat dingin dan menusuk. Beberapa karyawan wanita melintas di depan meja Luna seraya berbisik-bisik kencang dengan tatapan jijik yang sengaja diperlihatkan.

"Duh, zaman sekarang ya... mending kerja keras daripada nyari uang instan jadi peliharaan om-om," sindir salah satu staf wanita dengan nada sinis.

Bukannya sakit hati atau menangis, Luna justru menghentikan ketikannya. Gadis itu menyandarkan punggung, menatap staf wanita itu dengan senyum manis yang teramat luwes dan provokatif.

"Wah, iri ya, Mbak? Makanya, kalau mau dapet om-om kaya yang royal dan bonafit kayak gitu, mukanya dirawat dong, jangan cuma bisa nyinyir!" sahut Luna santai tanpa beban sedikit pun.

Staf wanita itu seketika melotot, mukanya memerah padam menahan malu lalu bergegas pergi.

Rania dan Kenan yang duduk di sebelah Luna hanya bisa mengelus dada dan membelalak heran melihat kelakuan sahabat mereka.

"Lu gila ya, Lun?!" bisik Kenan gemas. "Kenapa gak lu bongkar aja sih kalau itu Papa lu sendiri?! Biar mampus tuh mulut-mulut julid!"

"Iya, Lun! Lu malah makin ngelayanin sindiran mereka, nanti nama baik lu beneran hancur di kantor ini!" tambah Rania cemas.

Luna tertawa pelan, mengibaskan tangannya dengan gaya acuh tak acuh. "Aduh, kalian santai aja kenapa sih? Jarang-jarang lho aku dikira sugar baby-nya Papa sendiri! Lucu banget tau gak? Aku mau main-main dulu ah sama mereka sampai puas!"

Kenan dan Rania hanya bisa saling pandang, menggelembungkan napas pasrah menghadapi tingkat keusilan sahabat mereka yang berada di luar nalar.

---

Sore harinya, saat jam pulang kantor tiba, suasana di lobi utama Janitra Group tampak sangat ramai. Puluhan karyawan berkumpul untuk pulang, termasuk Luna, Rania, dan Kenan yang sedang berjalan menuju pintu keluar.

Tiba-tiba, dari arah pintu kaca utama, langkah kaki tegap membelah kerumunan.

Marko melangkah masuk dengan setelan jas hitamnya yang sangat gagah dan dingin. Di belakangnya, Yoga menyusul dengan raut wajah serius. Seluruh karyawan seketika membungkuk memberi hormat pada sang CEO.

Namun, bukannya berjalan lurus menuju mobil dinasnya, Marko mendadak menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah lobi utama. Matanya terkunci lurus pada sosok Luna.

Suasana lobi yang tadinya bising seketika berubah menjadi hening mencekik. Semua pasang mata menatap heran ke arah sang CEO.

Marko melangkah mendekati Luna yang berdiri terpaku di antara Rania dan Kenan.

Dengan suara berat, dalam, dan menggelegar yang sanggup terdengar ke seluruh sudut lobi utama, Marko bersuara:

"Aluna... ikut saya sekarang. Ada hal sangat penting mengenai peraturan perusahaan yang harus saya selesaikan hari ini juga."

Lobi kantor seketika gempar! Bisik-bisik kaget meledak di mana-mana. Apa yang sebenarnya akan dilakukan Marko di depan ratusan karyawannya, dan bagaimana nasib rahasia besar mereka setelah tindakan nekat sang CEO ini?

1
sundusiyah86
minta kompensasi thor 1bln aja wkwkkw biar langsung nikah..tambah bab thor
papoy: tahan yaa kak hehe..
total 1 replies
sundusiyah86
ko jadi gini siih thor... kenapa papa n mmh nya Aluna ngak setuju aja siih .. iiihh pengen cepet" romantis ..
sundusiyah86
lanjut thor nambah bab
sundusiyah86
lanjut thor tinggal romantis ny aja 🤭
papoy: terimakasih kaka, di spill dikit tinggal satu ujian lagi dpt restu apa ngga dari ayah nya luna 🤭
total 1 replies
Adiba Adisa
visual om marko, ganteng banget 😍
Adiba Adisa
om marko tipe om om greenflag yaa 😍
Emily
Marko jgn mengingkari perasaan mu
Emily
, wkwkwk Marco mau menjerit gak mungkin bisa jatoh harga dirimu
Emily
gimana Skrang perasaanmu marko
papoy: marko menyesal dengan apa yg udh dia lakukan hehe..
total 1 replies
Emily
bang Marko datang lun😁
Emily
hampir saja wkwkwk
Emily
lha ngomong OPO Kowe Marco😁
Adiba Adisa
marko galau berat
Adiba Adisa
pak Ardi, gak ngeh marko lagi ngode tuh
Adiba Adisa
blak blakan banget ngomong nya pak 🤣
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
papoy
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!