" Tolong keluarkan saya darisini...!! Saya mau keluar... Tolong bukain pintunya....!! " Triakan
keras Heru salah seorang eks pekerja pabrik garmen yang berlokasi di sentra industri terkemuka tak satupun ada yang merespon.
Entah tujuannya apa ia berkunjung ke area gudang yang sudah lama tutup akibat krisis yang berkepanjangan. Gudang kimia yang dulunya merupakan salah satu pabrik textile
terbesar yang pernah menyerap tenaga kerja
mencapai ribuan orang itu, kini tinggal nama saja karena sudah di alihfungsikan menjadi gudang penyimpanan zat kimia kain, sangat berbahaya bagi manusia . Gudang itu sendiri dulunya merupakan pabrik Garment terbesar yang pernah ada di negeri ini. Dan sekarang keberadaan gudang itu sendiri terbengkalai, tidak terawat sebagai mana mestinya. Kotor dan berdebu serta sebagian beberapa mesin operatornya banyak yang berkarat. Namun dibalik itu pun gudang kimia yang letaknya tak jauh dari deretan pabrik pabrik lainnya banyak menyimpan misteri kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martin deBs Komarudin1670, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jumadi muncul mengancam
Namun ketika Fahri baru melangkah beberapa meter saja di seputar ruangan gudang kimia tiba tiba pria yang suka ngeyel itu langsung sontak terkejut melihat banyaknya serpihan tulang belulang berserakan, secepatnya Fahri menghampiri Supri, yang sedang dalam menormalisasi pernapasannya yang sempat kritis, karena tidak adanya sirkulasi udara yang masuk ke dalam gudang.
" Bang, disana banyak tulang orang......!! " Seru Fahri mengagetkan Supri yang sedang sibuk mengatur nafasnya setelah tadi sempat terkuras. Tanpa lama berpikir, Supri langsung
menuju ke tempat temuan rekannya itu. Dan begitu Supri melihat, ia langsung sohk, lemas seperti tak percaya apa yang dilihatnya.
" Astaghfirullah.....!! Kok bisa begini.... Siapa
orang yang telah tega melakukan sekeji ini.... "
Kata Supri dengan nada kesal.. Kemudian Fahri
kembali menemukan jasad Vira dan Wisnu diantara deretan drum drum kimia itu.
" Bang, ! Coba lihat.... Ada mayat Wisnu dan Vira
juga disini.....! " Supri langsung mendekat ke arah sumber yang ditemukan.
" Astaga.....! Innalillahi wainnailaihi rojiun.... "
Ucap Supri dengan nada sedih dan sungguh di luar perkiraannya kalo nasib Wisnu harus mati secara tragis seperti itu.
" Pantas aja bang..... Sudah beberapa hari Vira
Wisnu gak ada kabar..... Ternyata mereka
mati didalam gudang..... " Kata Fahri yang turut sedih pula setelah melihat kedua rekan dekatnya itu yang sudah mulai membusuk , namun anehnya tidak tercium bau busuk yang menyengat karena tertutup dengan aroma tajam zat kimia yang juga berbahaya itu jika terlalu lama berada di ruangan tersebut.
" Ini seperti udah di rencanakan.... Gue yakin
ada orang yang sengaja di tugaskan untuk
pembunuhan terstruktur ini, ri..... " Kata Supri menduga duga dihadapan Fahri yang terlihat nampak menyesal.
" Apakah nasib kita akan sama seperti mereka,
bang.....?? " Tanya Fahri dengan perasaan was was dan cemas. Supri tenang saja menghadapi kecemasan Fahri temennya. Supri menyadari bahwa dirinya gak mungkin bisa keluar dari gudang yang sepertinya sudah di rangkai buat aksi pembunuhan secara sistematis. Yang gak mungkin bisa diketahui siapa dia pelakunya.
Kalau saja setiap kasus pembunuhan sudah sampai melibatkan petugas keamanan , rasanya sangat sulit bisa terungkap. Buktinya sudah sekian banyak korban yang tewas di dalam gudang , tapi tak satupun yang bisa terbongkar.. Justru informasinya para korban yang hilang karena laporan dari para temannya yang beberapa hari gsk terlihat , ,sehingga dari situlah mereka mulai merasa kehilangan lalu mencoba menelusuri jejaknya. Namun pada akhirnya mereka sendiri yang justru menjadi korban berikutnya, seperti hal nya Wisnu dan Vira itu. Kemudian yang berukuran mungkin
menyusul Supri, Fahri.
" Kemungkinan begitu.... Kita akan menjadi
korban yang berikutnya.... " Kata Supri yang membuat Fahri terkejut sambil membelalakan matanya gak terima apa yang diucapkan Supri yang dianggapnya ngawur.
" Tidak, bang....! Saya gak mau mati....!!! Saya
masih mau hidup.....! " Ucap Fahri dengan nada ketakutan yang tinggi, sangat panik juga mencemaskan dirinya yang mungkin akan menyusul mendapatkan mimpi buruk seperti Wisnu dan Vira.
" Ya semua orang juga mau hidup.... Siapa yang
bilang mau msti..... Tapi melihat keadaan kita
seperti ini..... Mana ada orang ysng tau... Apa
datang membantu..... Kamu lihat kan disini....
Sudah berapa banyak yang mati.... Mungkin
sebelum Heru, masih ada mayat mayat temen
kita lagi yang mati sia sia disini.... " Kata Supri
yang nampak pesimis dengan realita keadaan yang ada. Artinya gudang ini terlalu kuat dan sangat sulit untuk bisa keluar dari gudang yang pernah menampung hampir ribuan pekerja pabrik garmen itu. Dulu juga untuk bisa keluar dari pintu cuma ada satu pintu saja, yakni pintu gerbang utama. Ruangan lain didalam gudang bekas pabrik itu tak ada pintu keluarnya. Cuma ada lubang angin saja, kecil kecil dan itu tidak cukup tanpa bantuan deretan kipas kipas angin didinding ditambah lubang angin di atas langit langit pabrik dan itu harus pula menggunakan blower besar. Kini semua fasilitas kenyamanan itu sudah dimatikan. Layaknya barang yang sudah rusak saja masih menggantung di dinding yang tidak terpakai.
" Masih ada cara, bang.... Ya itu yang saya
bilang tadi..... Kita harus bakar gudang ini,
pasti akan menimbulkan perhatian orang
banyak, bang.... " Cetus Fahri masih ngotot dengan rencana gilanya itu. Tidak lama Fahri bicara begitu tiba-tiba muncul sosok pria laki-laki berbadan tegap dari kejauhan mereka berdua memandang lengkap dengan seragam security yang dimiliki. Fahri tidak berkedip sedikit pun melihat siapa gerangan yang muncul sambil melangkah perlahan namun pasti. Kian lama pemandangannya semakin jelas, terus mendekati Supri dan Fahri yang terlihat sangat serius menatapinya, namun wajah Fahri dan Supri perlahan menjadi aneh ketika tatapannya matanya semakin melebar secara drastis dan berubah menjadi seperti tidak yakin kalo yang dilihatnya ternyata Jumadi, petugas keamanan pabrik yang dulu pernah bermasalah dengan pribadinya. Pun juga Supri sedikit melotot untuk bisa menangkap lebih dekat lagi.
Dan begitu sangat jelas yang dilihatnya siapa,
Supri dan Fahri langsung kaget. Ternyata Jumadi, orang yang waktu itu selalu dikucilkan dan dijauhkan bahkan membuat kesepakatan jahat antara komandan security para sebagian buruh dan pengurusnya untuk mengeluarkan Jumadi dari tugasnya sebagai security dengan alasan yang tidak konstitusional atau dinilai sangati absurd , laporan yang sengaja dibuat dan mengada ada.
" Jumadi.....?? " Ucap Fahri dengan perasaan yang malu malu karena pernah zolim terhadap
security yang berusaha ingin berbuat baik.
Namun perasaan itu telah hilang karena ulah sikap para sebagian buruh pabrik itu.
" Ternyata kamu bisa ada disini.... Berarti kamu
yang sudah menghabisi semua rekan rekan
kami disini....! ? " Supri yang menegur Jumadi
dengan nada sinis, Rasa bencinya terhadap pria yang dulunya berpenyakit itu belum sirna juga. Jumadi tenang saja mendengar ucapan Supri, baginya perkataan itu tak berpengaruh lagi dalam kehidupan pribadinya, toh sebentar lagi juga Supri dan Fahri akan segera menemui ajalnya sebagai balasan rasa sakit hatinya yang lama a pendam.
" Silahkan kalian berdua mau ngomong apa aja
dan buat saya gak ada masalah.....Karena usai
kalian bicara, sebentar lagi akan mendapat
imbalan kematian..... Sebab nyawa kalian
berdua tergantung pada kekuatan nafas yang
kalian miliki.....! " Bicaranya tenang namun nadanya terdengar sinis. Jantung Supri dan Fahri berdetak hebat setelah mendengar ancaman Jumadi yang tidak main main. Supri mulai ketar ketir dan ketakutan dan perlahan menurunkan tensi bicaranya .
" Apa maksud kamu sebenarnya....? Sehingga
sengaja mengurung kami berdua disini.... " Mendengar ucapan Supri itu Jumadi malah tertawa ringan.
" He he he he .... Saya gak menyuruh kalian
masuk.... Tapi kamu berdua yang memaksa
masuk ke dalam gudang ini..... Dan itu artinya
kalian akan menyusul nasib mereka yang
sudah lebih dulu mati menghirup zat beracun
yang ada didalam drum itu.... " Kata Jumadi seraya mengancam secara dengan ucapan yang sangat tenang namun menyakitkan.