Dua Orang yang tidak mempercayai cinta, dipertemuan dalam sebuah pernikahan yang dilakukan hanya untuk pencitraan semata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad yang bulat
"Seperti yang kalian dengar, aku akan segera menunjuk salah satu dari kalian untuk menjadi tangan kananku sekaligus pengganti ku saat aku pensiun nanti. Aku sudah terlalu tua untuk mengurus DC Group jadi sudah saatnya aku harus mempersiapkan salah satu dari kalian untuk menjadi pimpinan DC Group."
"Apa ayah akan mengadakan kompetisi untuk kami bertiga?" tanya Ben begitu penasaran
"Tentu saja tidak, selama ini aku sudah mengamati kalian jadi aku tak perlu lagi mengetes skill manajemen kalian. Aku sudah menentukan seseorang yang akan menjadi penerus ku, namun aku tidak akan egois karena bukan hanya aku yang akan memilih kalian namun semua direksi dan pemegang saham. Jadi tugasku hanyalah mengajukan calon kepada mereka dan keputusan selanjutnya ada ditangan dewan direksi dan pemegang saham," terang Dario
"Lalu siapa yang ayah pilih??" tanya Raffa melirik kearah Dhiv
"Karena Ben akan mewarisi perusahaan istrinya maka aku menetapkan Dhiv untuk menjadi tangan kananku, aku yakin dengan kemampuan bisnisnya dia akan bisa mengembangkan DC Group,"
Semua tercengang ucapan Dario.
Jadi itukah alasannya kenapa Dhiv buru-buru menikah,
Saat semua orang ternganga mendengar ucapan Dario, Raffa justru memberikan tepuk tangan meriah dan tersenyum pada ayahnya itu.
"Apa aku tidak salah dengar sayang!" seru Shelomita
"Sebaiknya kita bicara di ruang kerjaku saja," Dario segera mengajak Shelomita meninggalkan ruang makan
"Sorpresa, jadi ini alasannya kau akan menikahi gadis itu Dhiv?" tanya Raffa menatap Dhiv
"Jangan berburuk sangka, tentu saja aku menikahi Lala bukan karena ingin menjadi CEO DC Group, tapi karena aku sangat mencintainya," jawab Dhiv menggenggam erat jemari Lala
"Baiklah, kita lihat saja sebesar apa cinta Dhiv untuk Lala, apa lebih besar dari cintanya terhadap Clarissa atau lebih sedikit," goda Raffa pemuda itu kemudian meninggalkan meja makan dengan membawa sebuah apel ditangannya.
*Ruang Kerja Dario
Shelomita terlihat begitu emosional di rungan itu. Wanita itu mengeluarkan semua unek-uneknya kepada suaminya yang sudah mengabaikan putra semata wayang mereka.
"Apa kau begitu mencintai wanita itu hingga rela memberikan semuanya untuk putranya. Apa kami benar-benar tak berarti bagimu hingga kau tidak pernah memikirkan masa depan Ben!" tutur Shelomita dengan nada tinggi
"Sudahlah Mitha, kau tahu betapa aku memikirkan masa depan putra kita hingga berusaha mencarikannya jodoh terbaik yang dapat menyokong bisnisnya,"
"Menyokong bisnis Ben atau memajukan bisnismu, aku tahu kau sengaja menjadikan dia umpan untuk memperbesar bisnismu dengan menikahkan dia dengan putri konglomerat meskipun kau tahu wanita itu sekarat. Bukannya mencarikan dia jodoh terbaik untuknya kau malah menghancurkan masa depannya dengan menikahi wanita sakit-sakitan," imbuh Shelomita
"Lalu apa yang kau mau sekarang?" tanya Dario
"Aku mau kau memberikan posisi CEO kepada Ben, bukankah sudah jelas selama ini dia yang selalu membantumu mengurus Kantor pusat, jadi sudah sewajarnya dia yang akan menjadi pengganti mu,"
"Jangan gegabah, meskipun aku sudah mengajukan Dhiv sebagai pengganti ku, tetap saja para direksi dan pemegang saham yang berhak memutuskan siapa pengganti ku, jadi jangan khawatir, jika Ben memang kompeten pasti para direksi akan memilihnya," sahut Dario mencoba menenangkan wanita itu
Seorang wanita buru-buru bergegas pergi saat melihat Shelomita hendak keluar dari ruang kerja Dario.
*Buuggghhh!!
"Awww!!"
Lala segera meminta maaf kepada wanita yang ditabraknya.
"Maaf aku tak sengaja," ucap Lala
"Tidak papa, aku baik-baik saja," jawab wanita
"Tunggu!" seru Lala mencoba menghentikan wanita itu saat hendak meninggalkannya
Ratih segera menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Lala.
"Kau berdarah, hidungmu berdarah!" ucap Lala menghampiri wanita itu
Ratih segera mengambil sapu tangannya dan membersihkan darah di hidungnya.
"Tidak apa, aku memang sering mengalami mimisan, kau tidak perlu merasa bersalah," ucap Ratih mencoba menenangkan Lala yang begitu khawatir terhadapnya
Ia kemudian berlalu pergi meninggalkan Lala.
Melihat Shelomita keluar dari ruang kerja ayahnya membuat Raffa segera masuk ke ruangan itu.
Dario tersenyum sinis menyambut kedatangan putra sulungnya itu.
"Apa kau juga keberatan dengan keputusan ku?" telisik Dario
"Tentu saja ayah. Meskipun aku sudah memutuskan untuk tidak terlibat dalam urusan bisnis ayah, namun kali ini aku tidak setuju dengan keputusan mu. Sebagai seorang Casanova ayah harusnya tahu bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik, meskipun Shelomita bukan wanita yang kau cintai tapi setidaknya dialah istri sah mu, kalian berdua sudah melalui banyak hal untuk mendapatkan semua ini. Setidaknya dialah yang selalu ada disisimu saat kau susah dan senang, jadi jangan melupakan jasa-jasanya. Walaupun aku aku juga tidak begitu menyukainya, tapi tetap saja aku lebih setuju jika kau mengajukan Ben sebagai calon penggantimu, toh jika memang dia tidak kompeten para direksi tidak akan memilihnya juga kan, jadi tidak ada salahnya menyenangkan hati istrimu," terang Raffa
"Lalu kenapa bukan kau saja yang menggantikan posisi ku, sebagai putra sulung ku sudah seharusnya kau menjadi penerus ku dan membimbing adik-adik mu," sahut Dario
"Seperti pesan almarhum ibuku, aku harus bisa menempatkan diriku dalam keluarga ini, aku sudah memiliki bisnis sendiri yang lebih keren jadi untuk apa meributkan harta yang bukan milikku. Jangan mengkhawatirkan aku apalagi merasa bersalah pada ibuku,"
"Kalau begitu kau juga tidak perlu mencemaskan aku, jangan ikut campur dengan urusan ku dan uruslah dirimu sendiri," tandas Dario
Raffa hanya menghela nafas mendengar ucapan sang ayah. Lelaki itu tahu benar jika ayahnya adalah seorang yang tidak mudah menerima pendapat orang lain apalagi dari dirinya.
Menyadari akan terjadi sesuatu yang bisa menghancurkan keluarganya jika Dario tetap melanjutkan rencananya, membuat Raffa harus berbuat sesuatu.
Gagal meluluhkan hati ayahnya membuat Raffa kemudian mengajak Dhiv untuk berbicara. Ia tahu hanya Dhiv yang bisa diajak berbicara.
Malam itu Raffa sengaja mengundang Dhiv ke Cafenya yang berada di daerah Kemang Jakarta Selatan.
Dhiv datang sendirian memenuhi undangan Raffa. Ia begitu terkejut saat melihat Clarissa ada di cafe itu bersama kakaknya Raffa.
"Kenapa kau terlihat canggung Dhiv, apa kau masih menyukainya?" tanya Raffa sengaja mencium Clarissa di depannya
"Bagaimana aku masih menyukainya jika aku sudah mendapatkan yang lebih baik darinya." sahut Dhiv kemudian segera duduk
"Apa kabar Dhiv?" sapa Clarissa
"Seperti yang kau lihat I'm good,"
"Aku dengar kau akan menikah, apa itu benar??" tanya Clarissa lagi
"Tentu saja,"
"Apa kau benar-benar mencintai gadis itu??" tanya Clarissa
"Maaf aku datang kemari hanya untuk membicarakan masalah bisnis, jika memang tidak ada yang mau dibicarakan lebih baik aku pamit pulang,"
Raffa langsung menahan Dhiv saat pemuda itu hendak beranjak dari duduknya.
"Kau masih saja belum berubah Dhiv. Aku tahu ayah sudah keterlaluan padamu, tapi bukan begini caramu membalasnya. Jika kau membutuhkan uang untuk pengobatan Ibumu maka aku bisa membantumu,"
"Tidak perlu kak, aku masih bisa menghandle semuanya," jawab Dhiv
"Sebaiknya kau segera mengakhiri permainan ini, karena berbahaya jika diteruskan,"
"Apa peduli mu, sebaiknya kau urus saja hidupmu dan jangan ikut campur urusan ku," jawab Dhiv kemudian beranjak dari duduknya
"Aku melakukan semua ini karena aku peduli padamu Dhiv, aku tidak mau keluarga kita terpecah belah karena masalah ini,"
"Sejak kapan kau peduli dengan keluarga kita, jangan sok peduli jika tujuanmu hanya untuk meruntuhkan semangat ku," jawab Dhiv kemudian meninggalkan Raffael
Aku akan melakukan apapun untuk menggagalkan rencana mu Dhiv, bahkan aku akan merebut calon istrimu bila perlu.
ada