"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 8 permintaan terakhir kakakmu.
Brak!
Suara telapak tangan yang menghantam meja kayu terdengar memecah keheningan ruang kerja.
Kaia yang duduk di seberangnya sontak tersentak.
Bahunya bergetar kecil.Jemarinya refleks meremas ujung piyama yang sejak tadi ia genggam.
"Apa kamu bilang?" Suara Fadlan terdengar rendah.
Namun justru jauh lebih mengerikan dari pada bentakan.Pria itu perlahan berdiri dari kursinya. Tatapannya menusuk lurus ke arah putri bungsunya.
"Kamu mau membatalkan pernikahanmu dengan Elio?"
Ruang kerja malam itu terasa sesak. Jarum jam di dinding berdetak pelan, tetapi bagi Kaia suara itu terdengar begitu keras, seolah menghitung sisa keberaniannya.
Ia menundukkan kepala lebih dalam. "Tapi... kami tidak saling mencintai, Pa." Suaranya lirih. Hampir tenggelam. "Kak Elio tunangan almarhum Kak Kia...."
Fadlan berjalan memutari meja. Setiap langkahnya membuat jantung Kaia semakin berdegup.
Pria itu berhenti tepat di depan putrinya. "Kamu terlalu banyak alasan." Tatapannya menyipit. "Atau..." Ia mencondongkan tubuh. "... jangan-jangan kamu masih berhubungan dengan laki-laki itu?"
Deg.
Tubuh Kaia menegang. Matanya membulat. Bagaimana ayahnya bisa tahu tentang Sean?
Meski terpisah ribuan kilometer, hubungan mereka memang belum benar-benar berakhir.
Sean yang kini melanjutkan pendidikan S2 di Inggris masih sesekali menghubunginya.
Mereka saling mencintai, dan bagi Kaia, perbedaan negara maupun keyakinan bukan alasan untuk saling melepaskan.
"Eng... enggak, Pa."Jawabnya cepat.
Fadlan langsung menangkap kepanikan itu. "Bohong." Suara itu kini meninggi. "Kamu bohong sama Papa!"
Kaia memejamkan mata sesaat. Sejak kecil ia memang tidak pandai berbohong. Setiap kali gugup, wajahnya selalu mengatakan semuanya lebih dulu.
"Papa sudah bilang putuskan dia."
"Iya, Papa...." Jawaban itu terdengar nyaris seperti bisikan.
Lalu, dengan sisa keberanian yang masih ia punya, Kaia kembali membuka suara. "Kalau begitu... Setelah menikah izinkan Kaia tetap berangkat kuliah ke Melbourne. Karena itu impian Kaia sejak lama. Aku janji akan..."
"Cukup!"
Brak!
Kali ini kepalan tangan Fadlan menghantam meja jauh lebih keras. "Kamu akan menikah dengan Elio. Tidak ada lagi Melbourne. Tidak ada lagi Sean. Tidak ada lagi alasan."
Kaia menunduk semakin dalam. Air matanya mulai memenuhi pelupuk. "Tapi Pa...."
"Jangan membantah!"Bentakan itu membuat tubuh Kaia refleks mengecil. "Dulu ibumu meninggal karena melahir kanmu."
Kalimat itu datang seperti pisau yang sudah terlalu sering mengiris luka yang sama. Selalu kalimat itu.
Kaia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar isaknya tidak keluar. Ia bahkan sudah tidak ingat berapa kali ayahnya menyalahkan kelahirannya. Seolah dirinya memang tidak pantas ada di dunia.
Fadlan mengembuskan napas panjang. Nada suaranya kini lebih rendah, tetapi justru semakin menekan. "Dan sekarang Kiara juga pergi. Pengorbanannya tidak boleh sia-sia. Itu permintaan terakhir kakakmu. Pernikahan ini harus tetap berjalan. Kamu mengerti?"
Kaia tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Karena sejak kecil, setiap kali ia mencoba melawan... ia selalu kalah.
"Tidur." Suara Fadlan kembali dingin. "Besok pagi kita bertemu keluarga Meganthara."
Kaia berdiri perlahan. Kakinya terasa begitu berat. Begitu pintu ruang kerja tertutup di belakangnya, seluruh kekuatan yang sejak tadi ia tahan runtuh seketika.
Air mata yang sedari tadi ia paksa bertahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah. Ia menutup mulutnya sendiri agar isaknya tidak terdengar sampai ke dalam ruang kerja.
Malam itu... Kaia kembali merasa menjadi gadis kecil yang selalu disalahkan atas sesuatu yang bahkan tidak pernah ia pilih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di kediaman keluarga Meganthara, suasana makan malam berakhir jauh lebih sunyi daripada biasanya.
Tak ada percakapan ringan.Hanya denting sendok yang sesekali beradu dengan piring, lalu kembali tenggelam dalam keheningan.
Kini mereka bertiga duduk di ruang tengah. Elio bersandar di sofa dengan kedua siku bertumpu di atas lutut.
Jemarinya saling bertaut erat hingga buku-buku jarinya memutih.Pandangannya kosong menatap lantai marmer. Di hadapannya, Yama dan Maika memperhatikan putra mereka dengan wajah penuh keprihatinan.
"Mom..." Suara Elio memecah keheningan. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mendongak. "Aku nggak bisa kalau harus menikah sama Kaia." Rahangnya mengeras. "Dia adik Kiara."
Maika perlahan meletakkan cangkir tehnya di atas meja.Tatapannya melembut. "El... Mama tahu kamu kehilangan.Mama juga kehilangan Kiara."
Suara wanita paruh baya itu mulai bergetar. "Sejak pertama kali dia datang ke rumah ini, Mama sudah menganggapnya seperti anak sendiri."
Sesaat, ruang itu kembali hening. Nama Kiara saja sudah cukup membuat dada mereka kembali sesak.
"Tapi kamu juga dengar sendiri..." Maika menatap putranya dalam. "Itu permintaan terakhir Kiara."
Elio menggeleng pelan"Tapi aku nggak mencintai Kaia."
Nada suaranya terdengar lebih berat dari pada sebelumnya.
"Yang aku cintai Kiara. Selama ini aku membangun semua rencana hidupku bersama Kiara.Rumah. Pernikahan. Anak.
Semuanya sama Kiara."
Lelaki itu menundukkan kepala. "Bagaimana mungkin sekarang aku harus menikahi adiknya?"
Yama akhirnya angkat bicara. Suara pria itu tetap tenang, tetapi penuh ketegasan. "Elio." Putranya menoleh perlahan. "Tidak semua pernikahan dimulai karena cinta. Ada yang dimulai karena tanggung jawab. Lalu cinta belajar tumbuh setelahnya."
Elio tersenyum hambar."Kalau cinta itu nggak pernah datang bagaimana, Dad?"
Pertanyaan itu membuat Yama terdiam beberapa detik. Maika menggenggam tangan putranya. "Kamu lupa... Kiara sendiri yang memohon agar kamu menikahi Kaia. Bukan kami yang meminta. Justru perempuan yang paling kamu cintai yang mempercayakan adiknya kepadamu."
Elio memejamkan mata. Bayangan Kiara di ruang ICU kembali muncul. Wajah pucat itu. Tangannya yang dingin. Dan suara lirih yang hampir hilang.
"Menikahlah... dengan Kaia..."
Dadanya kembali terasa sesak. "Baru seminggu, Mom..." Suaranya nyaris menjadi bisikan. "Tanah makam Kiara bahkan masih basah. Aku bahkan belum sempat menerima kenyataan kalau dia benar-benar pergi. Bagaimana mungkin sekarang aku diminta menikah lagi?"
Tak ada yang mampu menjawab. Kesedihan memang tidak memiliki waktu yang pasti untuk sembuh.
Maika hanya mengusap punggung tangan putranya pelan. "Pelan-pelan saja, El. Tapi jangan lupakan pesan terakhir Kiara."
Elio kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tangannya merogoh saku celana, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam.
Kotak cincin pernikahan.Perlahan ia membukanya.Sepasang cincin itu masih tersimpan rapi.
Belum sempat dipakai menuju hari pernikahan yang tinggal menghitung minggu. Tatapannya kosong menatap cincin itu. Hingga satu pertanyaan terus berputar di dalam kepalanya.
Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu, Kiara... sampai kamu ingin aku menikahi adikmu sendiri?
...****************...
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*