Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Bunga Persik ke-Tujuh Belas
Tujuh tahun mengalir layaknya pasir di dalam jam kaca. Bagi dunia fana, tujuh tahun bisa mengubah seorang pemuda menjadi jenderal perang, atau menghancurkan sebuah kerajaan kecil. Namun bagi mereka yang melangkah di jalan bayangan, tujuh tahun adalah waktu yang cukup untuk membangun sebuah fondasi kekaisaran bawah tanah.
Di dasar Jurang Kematian Utara, kabut Qi Spiritual yang dulu liar kini mengalir tenang dan teratur. Reruntuhan kuil perunggu raksasa itu telah berubah menjadi markas megah yang bernapas dalam diam. Formasi Pengumpul Qi Tingkat Surga yang dibangun oleh Lin Chen tujuh tahun lalu berdenyut pelan, mengubah tempat yang dulunya penuh monster menjadi surga kultivasi rahasia di tengah dunia fana.
Di dalam Aula Utama, empat sosok remaja yang kini telah tumbuh dewasa duduk mengelilingi meja batu giok.
Mo Yuan, yang kini berusia dua puluh tahun, bertelanjang dada dan memamerkan otot-otot yang dipenuhi bekas luka. Pedang besar bersandar di bahunya. Di sebelahnya, Shen Lu yang berusia delapan belas tahun memegang secangkir teh, matanya masih setajam pedang pusaka meski wajahnya terlihat mengantuk. Di seberang mereka, Xie Yan yang berusia sembilan belas tahun mengipasi dirinya dengan kipas bulu bangau putih, sementara Zi Lanying, yang kini menjelma menjadi gadis sembilan belas tahun yang sangat cantik dan mematikan, sedang sibuk mencatat laporan dengan wajah ditekuk.
"Tujuh tahun..." Xie Yan memecah keheningan, matanya menatap kabut spiritual di atap kuil. "Siapa sangka, empat anak jalanan yang memperebutkan roti basi kini telah mencapai Tahap Kondensasi Qi Tingkat Tiga."
"Tingkat Empat untukku, dasar cendekiawan malas," ralat Zi Lanying tanpa mengangkat wajahnya dari perkamen. "Paviliun Mawar-ku bekerja dua kali lipat lebih keras daripada Paviliun Strategi-mu."
"Hanya beda setengah langkah, Lanying," kekeh Xie Yan. Ia lalu menatap Mo Yuan dan Shen Lu. "Kalian berdua juga sudah menyentuh batas Tingkat Empat. Kakak Pertama pasti akan bangga saat melihat kemajuan kita."
Mendengar sebutan 'Kakak Pertama', keempat penguasa dunia bawah itu serentak terdiam. Mata mereka memancarkan rasa hormat yang fanatik.
"Tiga hari lagi adalah hari ulang tahun Kakak Pertama yang ketujuh belas," suara Mo Yuan berubah menjadi berat dan penuh takzim. "Seluruh dunia bawah sudah kita amankan. Apakah Hadiah dari Aliansi Bayangan Langit sudah siap, Xie Yan?"
Xie Yan tersenyum licik, menutup kipasnya dengan bunyi 'klik' yang tajam. "Tentu saja. Sebuah buku besar berisi daftar nama seluruh bangsawan korup dan mata-mata dari kekaisaran tetangga yang bersembunyi di Kerajaan Chen, beserta bukti penggelapan mereka. Kakak Pertama hanya perlu memberikan satu anggukan, dan dalam semalam, Paviliun Pembunuh akan mencabut nyawa mereka semua tanpa sisa."
Shen Lu menguap pelan, meletakkan cangkir tehnya. "Kado yang sangat berdarah untuk seorang pangeran yang sedang merayakan ulang tahun. Kakak Pertama di istana sana pasti sedang sibuk diukur untuk baju sutra barunya oleh Permaisuri."
"Bicara soal istana," Zi Lanying mengerutkan kening, meletakkan kuasnya. "Jaringan intelijenku menangkap banyak bisik-bisik tidak menyenangkan dari para tamu kerajaan tetangga yang sedang menuju Ibukota."
Sementara Aliansi Bayangan Langit berbisik di Utara, roda-roda kereta kuda mewah sedang membelah jalan raya menuju Ibukota Kerajaan Chen.
Di dalam salah satu kereta berlapis emas dengan panji beruang salju, duduklah utusan dari Kadipaten Salju. seorang bangsawan angkuh berjanggut tebal, sedang menyesap anggur merah bersama putrinya, Putri Liu Ying yang berusia enam belas tahun.
"Ayah, mengapa Kerajaan Chen membuat perayaan sebesar ini hanya untuk Pangeran Ketiga mereka?" keluh Putri Liu Ying, memutar-mutar gelas anggurnya dengan bosan. "Kudengar sejak kecil, Pangeran Ketiga Lin Chen nyaris tidak pernah keluar dari istana. Dia bahkan tidak pernah ikut perburuan musim gugur, tidak pernah masuk akademi militer seperti Pangeran Pertama Lin Feng. Untuk apa kita repot-repot datang membawa hadiah?"
Sang Duke tertawa parau, menepuk lututnya. "Itulah politik, Ying'er. Raja Chen terlalu menyayangi anak bungsunya itu. Namun, tahukah kau gosip apa yang beredar di antara para bangsawan tinggi kekaisaran?"
Mata Putri Liu Ying langsung berbinar penuh rasa ingin tahu. "Gosip apa, Ayah?"
"Lin Chen bukanlah darah daging Raja Chen," Duke berbisik dengan nada mengejek. "Dikatakan bahwa Permaisuri Lin Yue menemukannya di tengah hutan perburuan tujuh belas tahun lalu. Anak pungut! Dan bukan hanya itu..."
Sang Duke mencondongkan tubuhnya ke depan. "Alasan dia tidak pernah ditampilkan ke publik... adalah karena anak itu buruk rupa. Kau tahu, cacat bawaan. Dikatakan wajahnya memiliki luka bakar aneh seperti tanda lahir kutukan, dan fisiknya terlalu lemah untuk memegang pedang kayu sekalipun. Raja Chen hanya berusaha menutupi aib dengan merayakannya secara berlebihan tahun ini agar tidak dicurigai kerajaan lain!"
"Astaga!" Putri Liu Ying menutup mulutnya dengan saputangan sutra, meski matanya memancarkan kepuasan yang sinis. "Benarkah?! Pangeran cacat yang pungut dari hutan? Ckckck, kasihan sekali Permaisuri Lin Yue yang cantik harus berpura-pura menyayanginya."
"Karena itulah, kita datang hanya untuk pamer wajah," sang Duke menyeringai. "Saat perjamuan nanti, kita akan melihat seberapa 'hebat' pangeran cacat yang disembunyikan Kerajaan Chen selama tujuh belas tahun ini."
Jauh dari gosip jahat yang beredar di jalan raya, suasana di dalam Istana Kerajaan Chen murni dipenuhi kehangatan yang meletup-letup.
Di Aula Bunga Persik, kekacauan indah sedang terjadi. Puluhan pelayan berlarian membawa pita sutra merah, lampion emas, dan keranjang-keranjang berisi bunga persik segar. Di tengah-tengah kekacauan itu, Permaisuri Lin Yue, yang kini terlihat jauh lebih matang namun tetap secantik bidadari, berdiri dengan tangan bertolak pinggang.
"Bukan di situ! Lampion emasnya harus digantung sejajar dengan pilar utama! Dan karpetnya, ganti dengan beludru merah yang didatangkan dari Selatan!" perintah Lin Yue tegas, matanya mengawasi setiap sudut aula dengan ketelitian.
"Ibu, jika Ibu menyuruh mereka mengganti karpet lagi, para pelayan ini bisa pingsan karena kelelahan," suara tawa merdu terdengar dari arah pintu.
Putri Lin Xue, yang kini berusia dewasa dan telah menjadi primadona tak tertandingi di seluruh Kerajaan Chen, masuk membawa nampan berisi teh herbal. Ia menggelengkan kepalanya melihat ibunya yang seolah memiliki energi tak terbatas jika menyangkut adik bungsunya.
Di belakang Lin Xue, Pangeran Pertama Lin Feng bertubuh kekar, berjanggut tipis, dan menjabat sebagai Jenderal Tertinggi Kerajaan masuk sambil memanggul dua guci besar berisi anggur langka dengan mudahnya.
"Biarkan saja, Xue'er. Tujuh belas tahun adalah kedewasaan bagi seorang pria," tawa Lin Feng, meletakkan guci itu di sudut ruangan. "Ayahanda bahkan mengosongkan seluruh kas sampingan istana hanya untuk membeli kembang api dari Kekaisaran Yan."
"Itu karena adik kalian pantas mendapatkannya!" omel Lin Yue, meski senyumnya merekah. Ia berbalik, dan wajah garangnya seketika meleleh menjadi kelembutan yang luar biasa saat melihat sosok yang baru saja melangkah masuk ke dalam aula.
Berdiri di ambang pintu, adalah seorang pemuda.
Tinggi badannya kini telah melampaui Lin Yue. Tubuhnya tegap sempurna, proporsional namun tidak terlalu berotot layaknya Lin Feng, melainkan memancarkan ketangkasan seekor macan kumbang. Rambut hitam pekatnya diikat separuh, membingkai wajah yang ketampanannya tidak bisa digambarkan oleh kata-kata fana. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan sepasang mata keemasannya memancarkan kedalaman samudra. Tanda api di keningnya telah memudar seutuhnya, tersembunyi di balik kulit putihnya.
Bahkan jubah sutra biru sederhana yang ia kenakan tidak mampu menyembunyikan karisma penguasa abadi yang melekat pada tulangnya.
Lin Chen melangkah masuk. Begitu ia berada di dekat ibunya, karisma kuat itu seketika sirna, digantikan oleh senyum anak laki-laki yang sangat tulus.
Pemuda yang telah mencapai ranah Foundation Establishment Puncak dan mampu meratakan sebuah kota dengan satu lambaian tangannya itu, perlahan membungkuk. Ia menyandarkan dagunya ke bahu Lin Yue, melingkarkan lengannya dari belakang untuk memeluk ibunya dengan sangat manja.
"Ibu... pestanya tidak perlu seheboh ini," bisik Lin Chen, nada suaranya sedikit merajuk layaknya anak remaja biasa. "Chen'er hanya ingin makan kue teratai buatan Kak Xue dan berlatih pedang dengan Kak Feng. Terlalu banyak orang asing yang datang nanti, sangat merepotkan."
Lin Yue tertawa pelan, membalas pelukan putranya dengan mengusap punggung tangan Lin Chen. "Tidak bisa, Sayang. Kau sudah bersembunyi di dalam perpustakaan dan paviliun terlalu lama. Seluruh dunia harus melihat betapa tampan dan hebatnya putra kesayangan Ibu ini. Siapa tahu, ada putri dari kerajaan tetangga yang membuat matamu melirik, hm?"
Mendengar godaan ibunya, Lin Feng tertawa terbahak-bahak, sementara Lin Xue tersenyum menggoda.
"Tidak mau," gumam Lin Chen, mengeratkan pelukannya pada sang ibu dan memejamkan mata keemasannya, menyerap kehangatan yang selalu menenangkan badai di dalam jiwanya. "Chen'er mau bersama Ibu dan Kakak-kakak saja."
Di masa lalunya, ia tidak pernah tahu rasanya disayang. Ia memanjat surga hanya dengan berbekal darah dan kebencian. Namun di dunia fana ini, pelukan ini adalah harta karun yang lebih berharga dari seluruh Roh Dunia di Alam Abadi.
Namun, kedamaian keluarga yang hangat itu terganggu oleh suara langkah tergesa-gesa.
Seorang kepala pengawal istana masuk dengan wajah sedikit tegang. Ia berlutut di depan Lin Feng. "Lapor, Jenderal Agung! Rombongan pertama tamu kerajaan telah tiba lebih awal di gerbang timur. Delegasi dari Kadipaten Salju."
"Oh? Mereka tiba tiga hari lebih awal?" Lin Feng mengerutkan kening.
"Benar, Jenderal. Namun..." pengawal itu menelan ludah, terlihat ragu-ragu. "T-Tuan Duke memaksa untuk mengirimkan 'hadiah pembuka' langsung ke Aula Bunga Persik. Mereka membawa sebuah... topeng kayu ukiran iblis bermata satu. Mereka mengatakan, topeng itu akan sangat cocok dipakai oleh Pangeran Ketiga untuk menutupi wajahnya selama perayaan agar para tamu... tidak terkejut."
Keheningan yang luar biasa membekukan seketika turun ke dalam aula.
Senyum di wajah Lin Xue menghilang. Mata Lin Feng menyipit tajam, urat-urat di lehernya menonjol karena amarah yang meledak. Bahkan Lin Yue melepaskan pelukan putranya, wajahnya yang lembut berubah menjadi sedingin es.
Menghina fisik seorang pangeran di rumahnya sendiri adalah sebuah pernyataan perang tak tertulis.
Sementara seluruh keluarganya terbakar amarah demi melindunginya, Lin Chen masih berdiri di tempatnya. Pemuda itu perlahan mengangkat wajahnya. Mata keemasannya tidak lagi memancarkan kemanjaan, melainkan sebuah percikan kecil dari Niat Membunuh yang sudah tertidur selama tujuh tahun.
Ujung bibir Lin Chen melengkung, membentuk sebuah seringai tipis yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣