Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ujian berikutnya
Pagi-pagi sekali, saat fajar bahkan belum sepenuhnya menyingsing di ufuk timur, Bayu sudah terbangun. Sebagai pelayan pribadi yang baru, dia tahu betul tanggung jawabnya. Setelah membersihkan diri di kamarnya, dia langsung menuju dapur bersih yang terletak di lantai bawah. Berbekal ilmu dasar kuliner yang sempat dia serap selama menjadi helper koki, Bayu mulai meracik bahan makanan yang tersedia di kulkas besar milik Mita.
Suara dentingan wajan dan pisau dapur beradu ritmis di tengah kesunyian rumah megah itu. Tak butuh waktu lama, aroma harum masakan yang menggugah selera perlahan menguar, menembus celah pintu dan tercium sampai ke dalam kamar Mita di lantai dua.
Aroma masakan yang lezat itu rupanya berhasil mengusik tidur nyenyak sang pemilik rumah. Mita pun terbangun dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Mengikuti indra penciumannya yang tergelitik rasa lapar, dia mulai berjalan menuruni anak tangga mewah menuju ke arah dapur.
Di sana, dia melihat ada beberapa piring makanan hangat yang mengepulkan uap tipis sudah tersaji dengan rapi di atas meja makan berbahan kayu jati yang panjang. Bayu sedang menata gelas jus buah saat mendengar langkah kaki mendekat.
Namun... ada satu hal yang seketika membuat mata Bayu melebar sempurna dan tak lagi mengantuk.Hal yang mengejutkan itu adalah penampilan bosnya pagi ini. Mita berjalan dengan langkah gontai khas orang yang baru bangun tidur. Dia hanya memakai pakaian yang serupa saat mandi tadi malam setelan pakaian dalam minim yang melekat ketat dan hanya dibungkus dengan selembar kain kimono sutra tipis yang sengaja dibiarkan terbuka tanpa diikat sama sekali di bagian pinggangnya. Kulit mulusnya yang putih bersih terekspos begitu saja di bawah terangnya lampu dapur.
Aroma masakan yang lezat itu rupanya berhasil mengusik tidur nyenyak sang pemilik rumah. Mita pun terbangun dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Mengikuti indra penciumannya yang tergelitik rasa lapar, dia mulai berjalan menuruni anak tangga mewah menuju ke arah dapur.
Di sana, dia melihat ada beberapa piring makanan hangat yang mengepulkan uap tipis sudah tersaji dengan rapi di atas meja makan berbahan kayu jati yang panjang. Bayu sedang menata gelas jus buah saat mendengar langkah kaki mendekat.
Namun... ada satu hal yang seketika membuat mata Bayu melebar sempurna dan tak lagi mengantuk.
Hal yang mengejutkan itu adalah penampilan bosnya pagi ini. Mita berjalan dengan langkah gontai khas orang yang baru bangun tidur. Dia hanya memakai pakaian yang serupa saat mandi tadi malam setelan pakaian dalam minim yang melekat ketat dan hanya dibungkus dengan selembar kain kimono sutra tipis yang sengaja dibiarkan terbuka tanpa diikat sama sekali di bagian pinggangnya.
Kulit mulusnya yang putih bersih terekspos begitu saja di bawah terangnya lampu dapur.
Tanpa merasa risih atau canggung dengan penampilannya yang sangat berani, Mita dengan santai langsung duduk di salah satu kursi makan. Matanya berbinar melihat masakan yang sudah tersaji di depan matanya. Tanpa menunggu lama, Mita langsung menyendok makanan tersebut dan mulai makan dengan lahap, menikmati kelezatan sarapan buatan pelayan pribadinya.
Namun... di sisi lain meja, Bayu seolah membeku di tempatnya berdiri. Dia hanya menatap bosnya itu tanpa berkedip sedikit pun. Pemandangan pagi hari ini benar-benar menjadi ujian iman tingkat tinggi yang jauh lebih berat daripada kejadian di dalam kamar mandi tadi malam. Jakunnya kembali bergerak naik turun menahan napas.
Mita yang sadar sejak tadi sedang diperhatikan secara intens, sama sekali tidak memedulikan hal itu. Dia terus mengunyah makanannya dengan santai seolah berpakaian seperti itu di depan pelayan pria adalah hal yang biasa baginya. Setelah menelan suapan terakhirnya pagi ini, dia meletakkan sendok, lalu mendongak menatap lurus ke arah mata kaku Bayu.
"Sudah puas lihatnya?" tanya Mita dengan nada datar namun menyiratkan senyuman menggoda di sudut bibirnya.
"Eh... eh... anu... anu, Bos..." Bayu langsung gelagapan. Dia segera membuang pandangannya ke arah rak piring, wajahnya memerah karena tertangkap basah melamun memandangi lekuk tubuh atasanya.
Mita tertawa kecil melihat reaksi salah tingkah yang selalu berhasil dia pancing dari pria bertubuh kekar itu. Dia meneguk segelas air putih yang sudah disiapkan Bayu hingga kandas.
"Habis ini beresin meja makannya ya, Bay," perintah Mita seraya berdiri dari kursinya, merapikan sedikit kimononya yang longgar tanpa berniat mengikatnya. "Hari ini aku juga enggak masuk kantor. Aku mau santai saja di rumah," lanjut Mita sebelum melangkah pergi meninggalkan dapur dengan gaya anggunnya.
Bayu mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat begitu sosok Mita menghilang di balik lorong rumah. Dia mengusap wajahnya yang terasa hangat. Menjadi pelayan pribadi dengan gaji sepuluh juta sebulan ternyata menuntut ketahanan mental yang luar biasa. Sembari mulai membereskan piring-piring kotor di atas meja, Bayu tersenyum getir. Libur kantor bagi Mita berarti seharian penuh pria itu harus berada di bawah satu atap yang sama dengan sang bos yang suka menguji batasan normalnya sebagai seorang lelaki.