NovelToon NovelToon
Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: fianaqila

Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20 Permainan yang Mulai Berbahaya

Suara pria itu terdengar dingin.

“Cari Alkina sebelum Wiratmaja menemukannya.”

“Maksud Papa apa?”

“Selama Alkina hilang, Ranti masih punya harapan, kita harus hancurkan harapan itu.”

Sisil mulai merasa takut mendengar nada bicara ayahnya sendiri namun kalimat berikutnya membuat darahnya membeku.

“Tapi kalau Alkina benar-benar tidak bisa kembali…”

Tubuh Sisil langsung gemetar.

“Papa, apa…”

“Maka semua akan tetap menjadi milik kamu.”

Telepon mendadak terasa sangat dingin di tangan Sisil mulai sadar bahwa rencana orang tuanya jauh lebih gelap dari pada yang ia bayangkan.

******

Malam itu ruang kerja keluarga Wiratmaja dipenuhi suasana tegang.

Ranti duduk diam sambil menatap layar laptop yang berisi laporan keuangan perusahaan dan perpindahan aset beberapa minggu terakhir.

Di sampingnya, Setiawan membaca dokumen hasil penyelidikan terbaru tentang Hendro dan Livia orang tua kandung Sisil.

Semakin mereka mencari tahu semakin mengerikan kenyataan yang ditemukan.

“Ternyata mereka punya banyak hutang,” ucap Setiawan pelan.

Ranti menoleh.

“Berapa banyak hutang nya?” tanya Ranti.

“Puluhan miliar.” Jawab Setiawan.

Ranti langsung mengernyit dan semuanya mulai masuk akal kenapa mereka menitipkan Sisil dulu. Kenapa mereka sengaja mendekati keluarga Wiratmaja. Kenapa mereka membiarkan anak kandung mereka hidup nyaman di rumah orang lain.

Karena sejak awal Sisil adalah jalan menuju kekayaan keluarga Wiratmaja.

Sisil di titipkan ke mereka saat umur Sisil sepuluh tahun.

“Mereka tidak akan berhenti,” bisik Ranti lirih.

Setiawan mengangguk pelan.

“Dan sekarang mereka mulai panik karena semua aset sudah kembali ke nama Alkina...”

"Aku yakin mereka pasti menyusun rencana untuk merebut harta kita untuk hidup enak dan untuk bayar hutang mereka." ucap Ranti.

"Aku semakin takut Alkina disakiti oleh mereka, aku sangat yakin pa, mereka pasti mengincar Alkina."

Suasana menjadi hening. Nama putri kandung mereka selalu membawa rasa sesak sekarang.

Karena setiap kali mendengarnya yang muncul hanyalah penyesalan.

“Aku takut mereka menemukan Alkina lebih dulu,” suara Ranti mulai bergetar dan kali ini ketakutannya terasa nyata karena sekarang bukan hanya soal rasa bersalah melainkan ancaman sungguhan.

“Aku mau semua pencarian dilakukan diam-diam mulai sekarang... Aku ngak mau mereka merasa was-was dan membuat mereka... ” Ranti menatap kepala keamanan keluarganya dengan serius.

"Kalian pasti paham maksud saya."

"Saya paham bos."

“Ingat jangan gunakan jalur terbuka lagi.” Ucap Ranti.

“Baik, Bu saya pastikan semua bejalan sesuai dengan keinginan ibu bos.” Jawab kepala keamanan.

“Dan jangan sampai Sisil tahu perkembangan apa pun.” peringat Ranti.

"Siap buk." Pria itu mengangguk.

“Kita juga tingkatkan pengamanan perusahaan dan juga rumah.” ucap Setiawan.

“Siap, Pak.” Setelah pria itu keluar, Ranti memijat pelipisnya lelah.

“Aku tidak pernah membayangkan hidup kita akan jadi seperti ini…” ucap Ranti yang semakin khawatir dan takut.

Setiawan menatap istrinya lama.

“Ini akibat kita terlalu buta, terlalu lengah.”

Ranti menunduk dalam ia tidak bisa membantah karena semua memang dimulai dari dirinya.

Sementara itu di rumah kecil Mira, suasana jauh lebih hangat. Rian tertawa keras saat Alkina kalah bermain ular tangga.

“Yey aku menang, kak Alkina kalah lagi!”

Alkina tertawa kecil.

“Iya iya, Rian memang jago, Rian hebat.”

Mira memperhatikan dari dapur sambil tersenyum tipis, sedikit demi sedikit Alkina mulai bisa tertawa tanpa terlihat dipaksa. Meski kadang gadis itu masih sering melamun saat malam tiba.

1
Adinda
kenapa gk lapor polisi
Adinda
balikkin aja anak angkat kamu udah sifatnya kurang ajar sok berkuasa juga
Ds Phone
kau yang tak nak jumpa dia pergi lah
Ds Phone
yang keras hati tu kenapa
Ds Phone
dia tahu itu anak nya
Ds Phone
meraka dah siap sedia
Ds Phone
kau sebok nak hancur kan orang siapa suruh
Ds Phone
abang nya pantau dia
Ds Phone
itu nenek nya juga patut lah begitu sayang
Ds Phone
mintak mintak dia aman
Ds Phone
ya kak kamu tengah beruasa
Ds Phone
semua orang lindung dia
Ds Phone
dia dah mula tenang sikat
Ds Phone
nak bunuh anak orang kah tu
Ds Phone
nak hidup senang aja tahu dia
Ds Phone
tak sedar diri nak harta orang tapi bunuh anak orang
Ds Phone
dia nak balas cara perlahan lahan
Ds Phone
baru kau tahu langit tinggi rendah nya
Ds Phone
mesti budak tak guna tu punya kerja
Ds Phone
kenapa di tutup mesti budak tak guna tu sorok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!