Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Cahaya matahari pagi memantul dari permukaan kaca gedung-gedung pencakar langit Jakarta, menyapu embun yang tersisa di balik jendela penthouse.
Menghabiskan malam di apartemen mewah itu rupanya menjadi keputusan sepihak yang di ambil Arka. Pemuda itu sama sekali tidak berniat kembali ke mansion utama keluarga Adiwangsa yang terasa seperti peti mati berlapis emas.
Baginya, tinggal bersama Alea satu penthouse—dengan pemandangan Alea yang mondar-mandir mengomel karena kebingungan menyalakan kompor induksi jauh lebih terasa seperti rumah daripada tempat mana pun di dunia ini.
Deru mesin motor sport Arka kembali membelah gerbang SMA Harapan Warga pagi itu. Pemandangan Tuan Muda Adiwangsa membonceng gadis bar-bar miskin kini mulai menjadi tontonan rutin yang membuat para siswa berbisik-bisik, meski tak ada satu pun yang berani berkomentar terang-terangan.
Alea melepas helmnya, merapikan rambutnya dengan santai, lalu berjalan bersisian dengan Arka menyusuri koridor.
"Bos, karena sekarang kita tinggal serumah... eh, maksud gue se-apartemen," ralat Alea cepat, menyadari makna kalimatnya yang bisa disalahartikan, "biaya transportasi gue otomatis nol rupiah. Sebagai bentuk terima kasih, jatah cuci piring sama buang sampah apartemen bulan ini biar gue yang tanggung."
"Fokus aja pada tugas utama lo, Alea," balas Arka datar, meski langkah kakinya sengaja diperlambat agar sejajar dengan gadis itu.
"Tapi jangan sentuh mesin cuci cerdas di sudut ruangan. Takutnya lo dengan nggak sengaja malah mencet tombol self-destruct."
"Sembarangan! Gue kemaren udah nonton tutorial-nya di YouTube, ya!" sungut Alea tak terima.
Begitu mereka melangkah masuk dan duduk di bangku barisan paling belakang kelas XII-IPS 2, Alea langsung sibuk mengeluarkan buku catatan Bahasa Inggris, bersiap menghadapi jam pelajaran pertama.
Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama bagi Arka. Di dalam saku celananya, ponsel hitam dengan enkripsi tingkat militer miliknya bergetar dua kali. Pola getaran khusus yang menandakan Kode Merah dari jaringan intelijen bayangannya.
Arka menarik ponsel itu di bawah kolong meja, wajahnya tetap datar tak terbaca. Di layar, sebuah pesan rahasia terpampang jelas dari Ketua Intelijennya:
'Laporan Khusus, Tuan Muda. Tuan Besar baru saja meresmikan kesepakatan tertutup dengan keluarga konglomerat Suryanegara pagi ini. Beliau menggunakan aset Adiwangsa Corporation untuk memuluskan perjodohan Anda dengan putri tunggal mereka, Clarissa Suryanegara. Rumor ini akan disebarkan ke media elit dan jejaring sekolah hari ini juga.'
Mata Arka menajam, segelap palung laut terdalam.Taktik ayahnya benar-benar rendahan dan mudah ditebak. Karena tidak bisa menggunakan kekerasan fisik, Hartawan mencoba menggunakan tembok kasta sosial untuk menghancurkan harga diri Alea dan memaksanya pergi dari sisinya.
Clarissa Suryanegara? Gadis manja yang dulu selalu mencari perhatiannya di Pelita Bangsa itu kini dijadikan pion oleh Hartawan.
Belum sempat Arka mematikan layar, notifikasi lain masuk. Bukan dari jaringan rahasia, melainkan dari pesan pribadi ayahnya.
Papa:
Arka, akhir pekan ini pulanglah ke mansion utama. Kau harus hadir di jamuan makan malam keluarga di Restoran L'Orangerie, pukul tujuh malam. Papa sudah mengatur pertemuan resmi dengan keluarga Suryanegara untuk membahas masa depanmu bersama Clarissa.
Jangan mencoba kabur. Hadirlah dan bersikaplah layaknya pewaris Adiwangsa. Atau Papa akan memastikan gadis miskin yang kau sembunyikan itu tahu betul bagaimana rasanya hancur berkeping-keping oleh kenyataan.
Hawa di sekitar meja paling belakang itu mendadak anjlok drastis. Udara seolah membeku. Jari-jari Arka mencengkeram ponsel begitu kuat hingga buku jarinya memutih, nyaris meremukkan benda kokoh itu.
Iblis di dalam dirinya mengaum meminta darah. Ayahnya baru saja berani menyentuh zona nyamannya. Hartawan mengancam satu-satunya hal di dunia ini yang membuat Arka merasa hidup kembali setelah belasan tahun hidup dalam kekosongan tanpa arah setelah di tinggal sang ibu, satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya tanpa syarat.
Di sebelahnya, Alea yang sedang asyik menstabilo buku catatannya dengan warna kuning, mendadak menghentikan gerakannya. Ia menoleh, merasakan aura gelap pekat dari tubuh pemuda di sampingnya.
"Bos?" panggil Alea hati-hati, memiringkan kepalanya menatap wajah Arka yang mengeras.
"Muka lo napa ditekuk gitu, jir? Nyeremin banget, sumpah. Kuota internet paket unlimited lo mendadak habis? Atau saham perusahaan bokap lo lagi anjlok gara-gara skandal?"
Suara cempreng namun familiar itu seketika menarik Arka kembali dari jurang pembantaian di kepalanya.
Arka menoleh menatap Alea. Mata bulat gadis itu memancarkan rasa ingin tahu yang polos, sama sekali tidak menyadari badai konspirasi kasta atas yang sedang bergerak untuk menghancurkan hidupnya.
Arka perlahan menarik napas panjang, meredam seluruh insting membunuhnya ke dasar jiwanya. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dengan tenang, lalu menumpukan sebelah lengannya ke atas meja, menatap Alea lekat-lekat.
Seringai tipis dan sangat mematikan perlahan terukir di sudut bibir Arka. Hartawan ingin bermain catur dengannya? Maka Arka akan membalikkan seluruh papannya.
"Alea," panggil Arka dengan suara baritonnya yang dalam dan tenang.
"Apaan?" jawab Alea waspada karena kalau Arka memanggilnya selembut ini, pasti ada sesuatu yang tidak biasa.
"Lo punya gaun untuk acara makan malam formal?" tanyanya tiba-tiba.
Alea mengerutkan kening, menatap Arka seolah pemuda itu baru saja menanyakan rumus fisika kuantum padanya.
"Gaun? Punya sih, bekas acara perpisahan SMP gue dulu. Warnanya pink neon, ada payetnya dikit, tapi ritsleting belakangnya udah macet jadi harus dipenitiin. Kenapa emang? Lo mau ngajak gue jaga stand katering hajatan?"
Arka menutup matanya sesaat, mati-matian menahan tawa membayangkan Alea datang ke jamuan makan malam konglomerat dengan gaun berpeniti.
"Buang gaun itu," titahnya saat membuka mata, sorot matanya kini berkilat penuh rencana.
"Sore nanti, sepulang sekolah, kita berbelanja. Gue ingin mengajak lo ke sebuah acara makan malam akhir pekan ini."
Mata Alea menyipit curiga. Instingnya berbunyi nyaring.
"Makan malam? Dalam rangka apa nih? Kalau cuma makan gratis sih gue gak bakal nolak, tapi kalau ternyata lo jadiin gue tameng buat ngusir sang mantan, atau gue disuruh pura-pura jadi pacar lo depan keluarga besar... itu ada rate card khusus! Paket 'Pacar Pura-pura' harganya beda sama paket 'Manajer Pribadi'!"
Arka mencondongkan tubuhnya lebih dekat, aroma mint dan bahaya menguar menyelimuti Alea.
"Kirimkan daftar harga itu pada gue nanti siang," bisik Arka pelan, matanya berkilat penuh kemenangan.
"Karena akhir pekan ini, gue akan nyewa jasa lo buat hancurin sebuah pesta."
Bersambung...