NovelToon NovelToon
Abi Baik, Abi Gak Jahat

Abi Baik, Abi Gak Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: Eritasyofia

Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Rahasia Terurai

Hari berganti, Minggu berlalu, hubungan Winta dan Rangga, aman aman saja,

Begitu juga hubungan Rangga dan Viona tapi hari itu Winta terlupa membawa masuk, sehingga Dinda yang agak kepo tentang mamanya membaca chat Winta dan Rangga tapi untungnya chat yang berbahaya sudah di hapus Winta.

Ketika Winta terbangun pagi itu dia kaget tidak ada handphone nya di atas kasur, dia baru teringat saat dia mengambil minum handphone nya tertinggal dimeja makan.

Sabtu pagi itu Winda kena tatar di kamarnya oleh Dinda

Pagi yang seharusnya tenang di hari Sabtu itu berubah menjadi begitu dingin di dalam kamar Winta. Dinda berdiri di dekat jendela dengan menyilangkan tangan di dada, sementara ponsel milik Winta tergeletak di atas meja kecil.

​Winta memegang dada, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang saat menyadari putrinya telah memegang ponsel tersebut.

​"Dinda... ponsel Mama kenapa bisa di kamu?" tanya Winta ragu, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.

​Dinda berbalik pelan. Matanya menatap sang mama tanpa ledakan amarah, melainkan dengan pandangan penuh kekecewaan yang sangat dalam. Tatapan itu terasa jauh lebih tajam daripada bentakan.

​"Mama cari ini?"

Dinda menunjuk ponsel dengan dagunya.

"Dinda tadi cuma mau lihat jam, Ma. Tapi ada notifikasi masuk. Dan Dinda terlanjur baca."

Dinda berbohong.

​Winta menelan ludah yang terasa kesat.

"Dinda, itu... ."

​"Dinda tahu, Ma. Chat yang 'parah' pasti udah Mama hapus,"

pukas Dinda halus namun amat menohok.

Suaranya hampir berbisik, tetapi sanggup meruntuhkan pertahanan Winta.

"Tapi cara Mama mengetik pesan untuk pria itu... panggilan 'Abi' dan 'Umi' itu... apa pantas diucapkan oleh seorang wanita yang punya anak sebesar Dinda, mama sudah punya cucu lagi dan usia mama sudah tidak muda lagi, ma."

​Winta terpaku. Kata-kata putrinya menghantam dada persis di bagian terlemahnya.

"Dinda, kamu nggak mengerti posisi Mama."

​"Iya, Dinda memang belum paham rasanya jadi janda , Ma,"

potong Dinda cepat, masih dengan nada santun yang menusuk.

"Tapi Dinda paham mana batasan kehormatan seorang ibu. Mama selalu ngajarin Dinda tentang harga diri, tentang bagaimana wanita harus menjaga dirinya. Tapi pagi ini, Dinda merasa seperti dibohongi sepanjang hidup Dinda."

​"Dinda, tolong... jangan bicara seperti itu sama Mama,"

suara Winta bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.

​"Terus Dinda harus bicara seperti apa, Ma?"

Dinda melangkah mendekat, menatap lurus ke mata ibunya.

"Harus pakai bahasa kasar? Dinda nggak dibesarkan untuk jadi anak kurang ajar. Tapi Dinda juga nggak dibesarkan untuk memaklumi ibunya bermain api di belakang keluarga orang lain."

​Dinda menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di suaranya sendiri.

​"Pak Rangga itu punya istri, kan, Ma? Apa Mama nggak pernah mikir, gimana perasaan istrinya kalau tahu? Atau Mama nggak pernah mikir, gimana hancurnya perasaan Dinda kalau sampai orang lain tahu siapa ibunya Dinda yang sebenarnya?"

​Winta terduduk lemah di tepi ranjang. Air matanya akhirnya menetes. Rasa bersalah yang sempat tertutup oleh gairah dan rindu terlarang kini pecah seketika, menghancurkan hatinya sendiri.

​"Mama cuma kesepian, Dinda..."

bisik Winta lirih, hampir tak terdengar.

​Dinda menatap ibunya dengan tatapan sendu. Ia tidak mendekat untuk memeluk, melainkan mundur satu langkah.

​"Kesepian bukan alasan untuk merendahkan harga diri sendiri, Ma. Dinda ada di sini, tapi Mama pilih mencari kehangatan di tempat yang salah,"

ujar Dinda pelan namun dingin.

​Dinda mengambil ponsel ibunya, meletakkannya perlahan di atas kasur tepat di samping Winta, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum membuka gagang pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

​"Tolong selesaikan, Ma. Sebelum rasa hormat Dinda ke Mama benar-benar habis tak tersisa, Dinda gak mau nanti kalau tiba tiba istri pak Rangga mencari Dinda di kantor, atau mencari mama ke rumah, mau dibuang kemana muka ini ma."

​Pintu kamar tertutup pelan, meninggalkan Winta yang terisak sendirian dalam penyesalan yang membakar dada.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!