Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serigala Berbulu Domba di Aula Perjamuan
Aula utama Gedung Merdeka dipenuhi gemerlap lampu kristal yang memantulkan kemewahan luar biasa. Denting gelas anggur berkali-kali terdengar di antara percakapan berbisik para pengusaha papan atas, pejabat komite, dan tokoh elit ibu kota.
Saat pintu jati raksasa aula terbuka, Arka membimbing Maya melangkah masuk menyusuri lantai marmer mengkilap.
Kehadiran mereka seketika menyedot perhatian ratusan pasang mata di dalam ruangan. Maya berjalan dengan keanggunan seorang ratu bisnis yang amat memikat. Di sisinya, Arka berdiri tegak dengan postur tubuh yang kokoh, memancarkan aura wibawa yang membuat beberapa pengusaha senior secara refleks menepi memberi jalan.
"Lihat itu... wanita itu Maya Wibowo dari daerah," bisik seorang wanita bergaun mewah di barisan tamu VIP. "Tapi siapa pria di sampingnya? Wajahnya sangat asing, tapi cara berdirinya sangat menekan."
Maya memegang lengan Arka sedikit lebih erat. "Arka, semua mata tertuju pada kita."
"Biarkan saja, Maya," sahut Arka tenang tanpa getaran di suaranya. "Di hadapan mereka, kamu tidak perlu menundukkan kepala satu milimeter pun."
Dari arah panggung utama aula, seorang wanita paruh baya bergaun merah hati bertabur berlian melangkah mendekat seraya mengulas senyum ramah yang sangat buatan.
Melati Wijaya.
Di belakang Melati, Darma Nusantara berjalan mengekor dengan pandangan mata yang menyipit dingin penuh dendam tajam pada Arka.
"Selamat datang di ibu kota, Nona Maya Wibowo," sapa Melati dengan suara yang sengaja dikeras-sarkan agar terdengar oleh para wartawan di sekitar mereka. "Suatu kehormatan besar bagi kami melihat pimpinan muda berbakat seperti Anda bersedia memenuhi undangan perjamuan ini."
Maya menghentikan langkahnya tepat di hadapan Melati, menatap wanita berkuasa itu dengan pandangan profesional yang mantap.
"Terima kasih atas undangannya, Ibu Melati," balas Maya tegas. "Saya hadir di sini sesuai janji Anda untuk menuntaskan masalah pengalihan sisa aset Megah Pratama Group serta meluruskan kesalahpahaman yang ada."
Melati terkekeh pelan, melirik Arka dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan cemoohan yang terselubung rapi di balik senyumannya.
"Tentu saja, Nona Maya," ujar Melati manis. "Tapi sebelum kita membahas triliunan aset bisnis di panggung utama, izinkan saya bertanya... apakah pria di samping Anda ini adalah suami Anda yang pemberani itu?"
Arka menatap lurus mata Melati. Iris matanya yang begitu dingin tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun atas tatapan provokatif tersebut.
"Saya Arka, suami Maya," kata Arka pendek dan lugas.
Darma Nusantara melangkah maju ke samping Melati, menyunggingkan senyum sengit.
"Rupanya kamu pria bernama Arka yang membuat anakku Dion dipanggil pulang oleh dewan pembina," tegur Darma dengan nada menekan yang pekat. "Kamu merasa sangat hebat hanya karena memiliki sedikit koneksi lama di Nusantara Group?"
"Saya hanya menegakkan aturan," jawab Arka datar. "Siapa pun yang bertindak tidak sopan dan merusak integritas, tentu harus menerima konsekuensinya."
Wajah Darma memerah menahan amarah, namun Melati mengangkat tangannya pelan, menghentikan ucapan Darma sebelum situasi memanas di depan kamera media.
"Sudahlah, Darma," potong Melati seraya menyunggingkan senyum misterius yang amat licik. "Tamu kita baru saja tiba. Biarkan mereka menikmati hidangan perjamuan sebelum acara puncak dimulai."
Melati menatap Maya dengan pandangan mata yang sarat akan intrik kejam. "Nona Maya, sepuluh menit lagi saya akan memanggil Anda ke panggung utama untuk menandatangani dokumen pengalihan aset secara resmi di depan seluruh media."
"Saya siap, Ibu Melati," jawab Maya tanpa ragu.
Melati dan Darma berbalik pergi menuju barisan tamu VIP lainnya, meninggalkan Maya dan Arka di area tengah aula.
Maya menghela napas panjang, menatap Arka dengan dahi berkerut pelan. "Arka, tatapan wanita itu... penuh dengan kepalsuan. Aku yakin ada hal buruk yang dipersiapkannya di atas panggung nanti."
Arka merespons dengan mengusap lembut punggung tangan Maya, menyalurkan kehangatan yang seketika menenangkan detak jantung istrinya.
"Panggung yang dia siapkan untuk menghancurkanmu," bisik Arka dengan nada suara sangat dingin yang memanjakan keyakinan mutlak, "akan menjadi panggung tempat dia menyaksikan kehancuran seluruh imperiumnya sendiri."
Tepat saat itu, lampu utama aula mendadak meredup, sementara lampu sorot panggung mengarah tepat ke podium utama tempat Melati Wijaya kini berdiri memegang mikrofon emas.
Acara puncak yang dipenuhi racun pengkhianatan resmi dimulai.
itu.