NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Nominal dua juta rupiah terus berdengung di kepala ku. Aku menatap Bu Sumi yang masih terduduk lemas di sudut ruangan. Tubuh tua itu gemetar, dan rasa bersalah terpancar jelas dari wajahnya. Aku berlutut di hadapannya, lalu menggenggam tangannya di sana.

"Sudahlah, Bu. Jangan menangis lagi," bisik ku mencoba menenangkan hatinya.

Bu Sumi mendongak, air matanya menetes membasahi pipinya yang keriput. "Bagaimana Ibu tidak menangis, Nak? Dua juta itu uang yang sangat besar. Kamu tak kan mampu mengumpulnya dalam tiga hari. Ini semua salah Ibu..."

"Jangan bicara begitu, Bu. Ibu sudah menyelamatkan aku. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti Ibu lagi. Aku janji... " lirihku.

"Arini...dengarkan Ibu! Mereka itu kejam, Nak. Ibu takut jika kita tidak bisa melunasinya dalam tiga hari, maka kamu yang akan jadi korbannya," jelasnya dengan raut yang cemas.

Aku tersenyum tipis, mencoba menguatkan diri agar Bu Sumi percaya bahwa aku bisa menghadapinya. "Ibu tak perlu khawatir. Besok pagi-pagi, aku akan mencari kerja."

Bu Sumi memegang kedua pundak ku, menatapnya dengan pandangan memohon. "Jangan, Nak. Di luar sana terlalu berbahaya untuk wanita sepertimu. Ibu sengaja melarangmu ikut memulung karena Ibu tahu di jalanan itu banyak orang jahat. Apalagi kalau anak buah Carlos atau Jon melihatmu lagi..."

"Aku bisa menjaga diri, Bu. Percayalah padaku."

Keesokan paginya, sebelum matahari sepenuhnya terbit, aku sudah bersiap. Aku memakai baju yang Bu Sumi pinjam dari tetangga. Ku pandangi diri ini yang telah memutuskan untuk melepas hijab agar Dikta tidak bisa mengenaliku. Sebenarnya berat, tapi aku tak punya pilihan. Cairan yang mulai ingin keluar, dengan cepat aku tepiskan. Aku sadari, ini adalah keputusan yang salah. Bu Sumi memandangi sambil tersenyum. "Kamu yakin, Nak?"

Aku mengangguk cepat, tersenyum seolah akan baik-baik saja.

"Aku berangkat sekarang," pamit ku sambil mencium punggung tangan Bu Sumi di ambang pintu.

"Hati-hati, Nak. Kalau belum dapat kerjaan, pulang saja ya? Kita cari jalan lain bersama-sama," pesan Bu Sumi dengan mata yang berkaca-kaca.

"Iya, Bu. Doakan aku," jawab ku sebelum berbalik dan melangkah menyusuri jalanan kampung yang becek.

Aku berjalan membelah kota yang mulai ramai oleh aktivitas manusia. Tujuan pertamanya adalah deretan ruko dan warung makan di sepanjang jalan.

"Permisi, Pak," sapa ku dengan sopan kepada seorang pria paruh baya di balik etalase kaca. "Apakah di sini sedang membutuhkan tenaga tambahan? Cuci piring, memotong sayur, atau bersih-bersih, saya bersedia melakukan apa saja."

Pria itu menghentikan kegiatannya sejenak. Ia menatap ku dari atas ke bawah, menilai penampilannya yang kusam dan pakaiannya yang kedodoran. "Tidak ada, Neng. Kami sudah punya cukup karyawan di dapur. Lagipula, kami cari yang punya pengalaman kerja di restoran."

"Saya bisa belajar dengan cepat, Pak. Tolong beri saya kesempatan hari ini saja," rayuku.

Pria itu mengibas-ngibaskan tangannya dengan wajah gusar. "Dibilang tidak ada, ya tidak ada. Sana, jangan menghalangi jalan pelanggan!"

Aku menghela napas berat. "Baik, Pak. Terima kasih."

Cukup lama aku berkeliling. Namun, hanya penolakan dari mereka yang ku terima. Sampai akhirnya aku merasa lelah, aku duduk menyandar di sebuah ruko kosong. "Jika aku tidak mendapatkan pekerjaan? Nasib Bu Sumi dan aku habislah," gumamku mengusap keringat dengan punggung tangan.

Seorang wanita dengan gaya modern menatapku dari celah jendela mobilnya. Ia keluar dari sana, lalu menghampiri ku yang terlihat kelelahan. "Aku melihat sepertinya kau bukan orang sini," tebaknya tersenyum kecil.

"Kok Nyonya tahu?" tanyaku lalu membenarkan posisi. Barangkali wanita di depan ini bisa memberiku pekerjaan.

"Wanita seperti kau itu, sudah tak asing bagiku. Apa kau sedang mencari pekerjaan?" Ia memandangi ku dari atas hingga ke bawah.

Tanpa ragu, aku mengangguk cepat. "Iya Nyonya, benar. Apa Nyonya bisa membantu saya?"

"Tentu. Kau bertemu dengan orang yang tepat. Kebetulan aku sedang mencari pelayan. Jika kau mau, kau boleh ikut aku sekarang!" perintahnya sambil melirik mobilnya yang kebetulan tak jauh dari sana.

"Tentu Nyonya, aku mau." Aku mengikuti langkahnya dari belakang.

Begitu pintu mobil tertutup rapat, aroma parfum mewah langsung menyengat di hidungku. Aku duduk dengan kaku, meremas ujung baju kedodoranku yang becek di bagian bawahnya.

"Siapa namamu, Manis?" tanya wanita itu sambil melirikku dari kaca spion tengah. Tangannya yang dihiasi kuteks merah menyala tampak lincah memutar kemudi.

"Nama saya Clara, Nyonya," jawabku pelan. Aku terpaksa mengganti identitas demi menghindari orang-orang di masa lalu ku.

"Jangan panggil Nyonya, panggil saja Mami Sisca," sahutnya dengan ramah. "Asalmu dari mana? Sepertinya kau bukan orang kota."

"Saya dari kampung sebelah, Mami. Saya sedang butuh uang dua juta dalam tiga hari. Pekerjaan apapun saya jalani, yang penting itu halal."

Sisca terkekeh pelan. "Halal atau tidak itu tergantung bagaimana kau memandangnya, Clara. Tapi tenang saja, bersamaku uang dua juta itu perkara kecil. Asalkan kau patuh pada perintah ku. Sebelum itu, kita sanggah ke sesuatu tempat dulu, ya."

Mobil berhenti di depan sebuah gedung dengan papan nama bertuliskan salon kecantikan mewah. Jantungku mulai berdegup kencang saat Sisca menarik tanganku masuk ke dalam.

"Ubah dia. Potong rambutnya dengan gaya paling modis, beri riasan terbaik, dan buat kulit kusamnya ini bersinar," perintah Sisca kepada dua orang pegawai salon.

"Tunggu, Mami!" aku menahan lengan Sisca dengan panik. "Kenapa saya harus ke salon? Saya kan hanya ingin bekerja sebagai pelayan. Kenapa harus didandani seperti ini?"

Sisca menepuk pundakku, matanya menatapku dari atas ke bawah. "Clara, penampilanmu sekarang ini seperti gembel. Mana ada orang yang mau menerimamu bekerja dengan wajah sekusam ini? Ikuti saja kata-kataku jika kau ingin uang itu cepat cair."

Aku terdiam. Berat rasanya saat melihat untaian rambutku mulai jatuh ke lantai satu per satu setelah beberapa jam lalu aku memutuskan untuk melepas hijab. Di depan cermin besar, aku melihat diriku sendiri. Ada luka yang tak berdarah di hati ini. Wajahku dipoles riasan tebal, bibirku merah merona, dan rambutku ditata serapi mungkin.

"Ganti bajumu dengan ini," titah Sisca singkat.

Aku menatap kaos ketat dengan celana jeans itu. "Mami... apa aku tidak boleh memakai rok panjang saja? Celana ini terlalu ketat. Saya tidak terbiasa memakai pakaian seperti ini."

Sisca memutar bola matanya, tampak mulai tidak sabar. "Sudah, jangan banyak tanya! Pakai saja!"

Dengan air mata yang ku tahan, aku memakai pakaian pilihannya. Saat keluar dari ruang ganti, Sisca tersenyum puas. Namun, seluruh tubuhku justru terasa dingin. Rasa cemas dan curiga yang sejak tadi ku pendam kini meledak di dalam dada. Ingatan kelam masa laluku kembali berputar, memori mengerikan tentang tempat-tempat penuh asap rokok dan pria-pria hidung belang.

Saat kami kembali ke dalam mobil, aku tidak bisa lagi menahan diri. Aku harus meminta kejelasan.

"Mami, tolong jujur pada saya," kataku dengan suara yang bergetar hebat. "Mami mau membawa saya ke mana? Baju ini, riasan ini... Mami tidak berniat menjual saya ke tempat haram, kan? Tolong Mami, saya tidak mau menjadi wanita malam!"

Sisca menghentikan mobilnya secara mendadak di pinggir jalan. Ia menoleh ke arahku, menatapku tajam sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Jangan bodoh, Clara. Memangnya wajahku ini tampak seperti seorang muncikari?" ketus Sisca.

"Lalu kenapa saya didandani seperti ini?" desakku, air mataku akhirnya luruh.

"Dengarkan aku baik-baik," Sisca memegang kedua pergelangan tanganku yang gemetar. "Kau memang akan bekerja sebagai pelayan, tapi bukan di rumah, melainkan di bar milikku. Tugasmu murni hanya menjadi pelayan bar, tukang pengantar minuman ke meja pelanggan. Tidak lebih! Kau tidak perlu menjual dirimu. Pakaian dan riasan ini hanya standar agar pelanggan di sana nyaman melihatmu. Paham?"

Mendengar kata 'bar' dan 'pengantar minuman', jantungku berdegup kencang. Tempat itu sangat dekat dengan dunia kelam yang paling ku hindari. Namun, jaminan Sisca bahwa aku tidak perlu menjual diri, memberi sedikit ketenangan di hati ini. Wajah Bu Sumi yang menangis kembali terbayang. Memaksaku untuk kuat menjalani ini.

"Hanya mengantar minuman? Tidak ada yang lain, Mami?" tanyaku memastikan sekali lagi dengan tatapan memohon.

"Iya, Clara. Jika ada pelanggan yang kurang ajar, anak buahku akan mengurusnya. Sekarang pilihannya di tanganmu. Mau ikut aku dan mendapatkan dua juta dalam tiga hari, atau turun dari mobil ini sekarang dan membiarkan keluargamu dalam bahaya?" tanya Sisca memberi pilihan.

Aku mengepalkan tangan di atas pangkuan. Rasa takut bersarang di kepala, namun rasa bersalah pada Bu Sumi jauh lebih besar. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk pelan. "Baik, Mami. Saya ikut."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!