NovelToon NovelToon
Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Dikiranya Numpang Hidup, Padahal Aku Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:82.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."


Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.

Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.

Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Ketegasan Seorang Komisaris Utama

Keheningan kembali menguasai ruang kerja berlantai lima puluh itu. Aroma terapi lavender yang menenangkan di sudut ruangan tak lagi sanggup mengusir bekas-bekas emosi yang ditinggalkan oleh Rissa. Pintu kayu jati berukir telah tertutup rapat, mengisolasi Annisa Septiani dalam kesendirian yang menyesakkan.

Annisa masih terduduk di atas lantai marmer di balik meja kerjanya. Napasnya memburu, dadanya kempas-kempis mencoba menetralkan sisa-sisa mual dan rasa perih di ulu hatinya. Jemari tangannya yang pucat meremas pinggiran karpet sutra, mencari pijakan untuk menegakkan tubuhnya kembali.

"Aku tidak boleh terlihat lemah...," batin Annisa meringis. "Aku adalah Komisaris Utama Vantara Land. Aku putri tunggal Yusuf Al Ghazali."

Dengan sisa-sisa tenaga yang terkumpul, Annisa menarik dirinya naik. Ia memegang pinggiran meja mahoninya erat-erat, perlahan berdiri hingga mampu mendudukkan dirinya kembali di atas kursi kulit kebesarannya. Ia menyandarkan punggungnya, memejamkan mata rapat-rapat sambil membiarkan hawa dingin ruangan mengusir bulir-bulir keringat di dahi dan lehernya.

Tuduhan keji yang dilemparkan Rissa tadi masih berdengung nyaring di telinganya: 'Kamu pikir saya gak tahu?! Fandi berubah total sejak menyuntikkan dana ke perusahaan ini!'

Kata-kata itu bagaikan jelatang yang membakar rasa hormat dan harga diri Annisa. Bagi wanita yang baru saja terluka parah akibat pengkhianatan rumah tangga seperti dirinya, dituduh sebagai sosok ketiga yang merusak pernikahan orang lain adalah sebuah hinaan paling menjijikkan.

Meskipun Annisa telah menampar Rissa dengan fakta-fakta dingin tentang investasi dua ratus miliar dan menegaskan bahwa hubungannya dengan Fandi murni seratus persen profesionalism bisnis, Annisa sadar betul satu hal: persepsi publik dan perselisihan internal rumah tangga orang lain tidak bisa ia kendalikan jika Fandi terus ada di sekitarnya.

Annisa membuka matanya perlahan. Binar matanya yang semula redup oleh rasa sakit fisik kini memancarkan kembali ketegasan dan kepemimpinan yang dingin mutlak.

Niat Annisa sudah bulat. Ia harus membuat benteng dan batas yang tak tertembus.

Annisa menekan tombol interkom di atas mejanya dengan jemari yang mantap. "Mbak Emi, masuk ke ruangan saya sekarang."

Tak sampai setengah menit, pintu ruangan terbuka. Sang sekretaris melangkah masuk dengan raut wajah sangat cemas dan serba salah usai menyaksikan Rissa keluar sambil menangis tadi.

"Mbak Annisa," cicit Emi itu pelan. "Maafkan saya soal tadi, Mbak. Saya tidak sempat menahan Ibu Rissa—"

"Tidak apa-apa, itu bukan salahmu," potong Annisa halus namun bernada dingin tak terbantahkan. "Duduklah. Ada beberapa instruksi penting yang harus kamu catat mulai hari ini."

Sekretaris itu buru-buru menyiapkan komputer tabletnya.

Annisa memiringkan duduknya, menatap lurus ke arah jendela raksasa yang menampilkan pemandangan kota Jakarta. Suaranya terdengar sangat tenang, teratur, dan penuh kendali.

"Mulai hari ini, ubah seluruh prosedur operasional komunikasi antara kantor Komisaris Utama Vantara Land dengan pihak Prasetyo Group," instruksi Annisa tegas.

Sekretarisnya mendongak, menunjukkan raut terkejut. "Maksud Mbak Annisa ... seluruh komunikasi investasi?"

"Benar," jawab Annisa tanpa ragu. "Seluruh jadwal rapat mingguan, penandatanganan berkas alokasi proyek kawasan terpadu, hingga laporan audit berkala dengan Pak Fandi Prasetyo ... alihkan sepenuhnya melalui Wakil Komisaris Utama atau Direktur Operasional."

Annisa memutar kursinya kembali menghadap sekretarisnya. Sepasang mata indahnya menatap tajam.

"Saya tidak akan lagi menerima pertemuan tatap muka secara langsung atau rapat empat mata dengan Pak Fandi Prasetyo di ruang kerja ini. Jika ada berkas yang membutuhkan persetujuan saya secara pribadi, sampaikan melalui kamu atau kuasa hukum kita, Pak Danu."

Sekretarisnya menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu betul betapa krusialnya peran Fandi Prasetyo sebagai investor utama dua ratus miliar di perusahaan ini. "Tapi Mbak ... bagaimana kalau Pak Fandi menanyakan alasan perubahan alur komunikasi ini? Beliau kan investor utama yang rutin memantau langsung."

Annisa menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman penuh keangkuhan berkelas dari seorang wanita yang memegang kendali penuh atas harga dirinya.

"Sampaikan saja bahwa ini adalah kebijakan efisiensi waktu dari posisi saya sebagai Komisaris Utama," sahut Annisa dingin. "Pak Fandi adalah pria yang sangat berpendidikan dan profesional. Beliau pasti paham arti dari pembagian tugas manajemen."

"Baik, Mbak Annisa. Instruksi akan segera saya jalankan dan koordinasikan dengan tim sekretariat Prasetyo Group," janji sekretaris itu seraya mencatat setiap baris perintah.

"Satu hal lagi," tambah Annisa sebelum sekretarisnya berdiri. "Pastikan kejadian kedatangan Bu Rissa hari ini tidak bocor ke media atau staf bawah. Siapa pun yang membocorkannya akan langsung saya berhentikan secara tidak hormat."

"Siap, Mbak Annisa. Saya jamin kerahasiannya." Sekretaris itu membungkuk sopan lalu melangkah keluar ruangan dengan langkah cepat.

Pintu kembali tertutup.

Annisa menghembuskan napas panjang. Keputusan yang baru saja diucapkannya terasa bagaikan menarik garis tegas di atas pasir. Ia menyukai cara kerja Fandi yang cerdas, ia mengagumi wawasan dan ketenangan pria itu sebagai seorang mentor bisnis, namun Annisa tidak akan pernah membiarkan kekaguman profesional itu menjadi celah fitnah atau menyeret namanya ke dalam lumpur keretakan rumah tangga orang lain.

Ia sudah bebas dari Rian Hidayat. Ia telah memenangkan pertarungan hukumnya. Kini, fokus hidup Annisa murni untuk membuktikan keberhasilannya kepada sang ayah, dan membawa Vantara Land menuju puncak kejayaan.

Namun, saat Annisa hendak meraih cangkir teh krisannya, perutnya kembali melilit hebat.

Ugh!

Rasa mual yang amat tajam kembali naik menyerang dadanya. Annisa memegangi perut bagian bawahnya yang terasa aneh—ada rasa seperti ditarik pelan yang disertai pusing luar biasa di kepalanya.

Wajah Annisa kembali pucat pasi. Ia menyandarkan dadanya ke tepi meja mahoni, mencoba menahan gejolak di tubuhnya dengan napas terengah-engah.

"Kenapa ... kenapa rasanya makin sakit?" gumam Annisa parau seorang diri.

Kelelahan akibat rentetan sidang perceraian memang telah usai, namun sinyal-sinyal asing yang dikirimkan oleh tubuhnya justru kian hari kian tak masuk akal. Tanpa Annisa sadari, di dalam tubuhnya yang kian merosot itu, sebuah takdir baru sedang tumbuh secara diam-diam—sebuah kenyataan yang sebentar lagi akan mengubah seluruh arah jalan hidup sang Komisaris Utama.

Bersambung...

1
Arieee
bagus👍👍👍👍🙏👍👍👍
Kar Genjreng
kenapa di bunuh mommy anak Anissa,,, kasian kan ga punya salah dan dosa harusnya hidup justru penghianat yang tidak mau move ON lah yang mati terkapar
vania larasati
lanjut
Esther
tegang bacanya
semoga kandunganmu baik2 saja Anisa
Nar Sih
semoga anisa selamat dgn calon bayi nya ,dan sgra tertangkap pelaku nya
Nisa Via
skakmat 😂😂😂
Nisa Via
weeeehhh dah miskin duit miskin kesadaran diri pulak tuh laki"🙃🙃
Kar Genjreng
harusnya si waspada ya kalau sudah perasaan nya enak terus terang sama si pengawal ke naapa harus sungkan ya namanya juga mau celaka kan ga ada permisi,,
Halimah
Anisa ini pdhl udah punya feeling ga enak...Harusnya ditunda dl
vania larasati
lanjut
Mutaharotin Rotin
aduuuh Anisa sembrono 🫣🫣
Mutaharotin Rotin
kok cuma 1 bab Mak ghin 🥰🙏
Nar Sih
cerita mommy slalu bagus👍🥰
Nar Sih
semoga fandi bisa sgra menyelamat ksn mu anisa
Oma Gavin
feeling mu sudah bener kenapa tetap nekat jalan tanpa prasangka buruk
iqha_24
deg2an, mommy lanjuut
I Pehh
lanjut mom, sllu d tunggu upnya💪
Halimah
Udah ga waras nih Rissa
Cicih Sophiana
Rissa dari pada uangdi buang sia sia kan lebih baik untuk bersenang senang... misal nya belanja, ke salon atau jalan jalan ke luar negri kan asik... ini kok malah di buang sia sia ngasih makan orang jahat...
Teh Euis Tea
si rissa bodoh bgt punya uang bukannya hidup tenang pergi jauh dan memperbaiki diri ini malah di pake buat bayar orang untuk nyelakain anissa, mudah2an anissa dan calon bayinya selamat ya dan si rissa membusuk di penjara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!