Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Peluru yang Salah Sasaran
Suara letupan senapan jarak jauh bergemuruh, membelah keheningan Tebing Batu Hitam. Peluru timah berkecepatan tinggi meluncur menembus pusaran angin laut, mengarah tepat ke dada Adrian.
"Awas!" jerit Aria.
Dalam pecahan detik yang amat krusial, Aria melempar tubuhnya ke depan. Rasa takut dan kepasrahan melingkupi jiwanya saat ia memosisikan dirinya persis di garis lintasan peluru, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai hidup.
JLEB!
Dampak hantaman peluru berkaliber tinggi itu menghantam dada bagian kiri Aria dengan kekuatan yang dahsyat. Suara robokan kain gaun dan desakan udara yang keluar dari paru-parunya terdengar begitu nyata. Tubuh halus Aria terdorong ke belakang, melayang sejenak di udara sebelum akhirnya roboh menghantam tanah tebing yang dingin.
Darah merah pekat langsung menyembur, membasahi gaun panjangnya dan merembes cepat menutupi tanah batu di sekelilingnya.
"ARIAAA!"
Jeritan histeris dari dua tenggorokan bergema secara bersamaan, memecah langit mendung di atas tebing.
Adrian dan Dante seketika menjatuhkan senjata api di tangan mereka tanpa memedulikan pertikaian lagi. Kedua penguasa itu melompat berlutut di atas tanah, meraih tubuh Aria yang terkulai tak berdaya.
"Aria! Buka matamu! Jangan tutup matamu, Aria!" raung Adrian dengan suara pecah oleh histeria dan keputusasaan yang teramat sangat. Tangannya yang gemetar berusaha menekan luka tembak di dada Aria yang terus mengucurkan darah segar.
Dante memangku kepala Aria di atas pangkuannya, merengkuh tubuh wanita itu ke dalam dekapannya dengan erat. Sepasang mata abu-abu sang Raja Mafia yang biasanya sedingin es kini membelalak horor, dipenuhi air mata yang menetes deras melewati rahangnya.
"Tidak... tidak... tidak!" desis Dante, suaranya bergetar hebat oleh rasa panik yang tak pernah dirasakannya sepanjang hidupnya. "Tetaplah bernapas, istriku! Jangan berani-berani meninggalkanku, Aria!"
Aria membuka matanya yang meredup secara perlahan. Pandangannya samar dan kabur, menatap dua wajah pria yang kini bersimbah air mata dan darah di atasnya. Rasa sakit membakar yang luar biasa menjalar dari dadanya, namun di saat yang sama, kedamaian aneh menyelimuti benaknya saat melihat tidak ada lagi senapan yang saling menunjuk di antara mereka.
"J-jangan... saling... membunuh lagi..." bisik Aria sangat lirih, napasnya patah-patah dan darah hangat mengalir keluar dari sudut bibirnya.
Jemari halus Aria yang dingin terangkat dengan sisa tenaganya yang terakhir, menyentuh pipi Adrian yang gemetar, lalu bergeser menyusuri rahang Dante.
"Hentikan... perang ini..." lanjut Aria berbisik pasrah, sebelum akhirnya jemarinya terkulai lemas dan kelopak matanya terpejam rapat.
"ARIA!"
Dada Aria berhenti naik-turun secara teratur. Detak jantungnya meredup tajam.
Di balik semak-semak hutan, penembak jitu pengkhianat yang hendak melepaskan tembakan kedua seketika dilumpuhkan secara brutal oleh anak buah Black Viper dan pengawal Mahardika Group yang bergerak cepat tanpa perintah.
"Marco! Siapkan helikopter darurat sekarang juga!" raung Dante dengan mata merah membara, mengangkat tubuh Aria yang terkulai dalam gendongannya.
"Rian! Hubungi tim dokter bedah terbaik di rumah sakit utama! Kosongkan seluruh jalur evakuasi!" teriak Adrian dengan suara parau, berdiri sempoyongan di samping Dante.
Tidak ada lagi tatapan benci. Tidak ada lagi senjata yang terangkat. Di atas tanah tebing yang ternoda darah Aria, dua musuh bebuyutan itu kini berlari berdampingan, menyatukan sisa hidup dan kekuasaan mereka demi membawa tubuh wanita yang mereka cintai menuju rumah sakit dalam pacuan waktu melawan kematian.