NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKSI MEJA BACCARAT

"Sialan!" bentak Leo menggebrak meja berlapis beludru hijau itu dengan tangan kirinya.

Suara tamparan kulit ke atas kayu terdengar cukup nyaring untuk membuat beberapa kepala di area VIP lantai mezzanine menoleh ke arahnya. Leo meringis pelan, bukan karena marah, tapi karena getaran dari gebrakan itu menjalar langsung ke bahu kanannya yang masih terluka. Ia cepat-cepat menyembunyikan rasa sakitnya di balik topeng arogansi Rafael Rossi.

Di depannya, seorang *dealer* muda berseragam rapi menelan ludah dengan gugup. Keringat dingin mulai sebesar biji jagung sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya.

"Maafkan saya, Tuan Rossi. Kartu *Banker* menang dengan angka delapan," ucap *dealer* itu dengan suara bergetar, tangannya yang memakai sarung tangan putih perlahan menarik tumpukan cip ungu milik Leo ke tengah meja.

"Kau pikir aku buta? Aku tahu angka delapan!" potong Leo dengan nada tinggi, sengaja membiarkan suaranya bergema. "Yang aku pertanyakan adalah bagaimana bisa *Banker* menang enam kali berturut-turut sejak aku duduk di sini?! Kalian pakai dek kartu yang sudah ditandai, kan?!"

Dua orang pemain lain di meja itu—seorang wanita tua dengan perhiasan mencolok dan seorang pengusaha asal Asia—langsung saling pandang dan diam-diam menarik kursi mereka sedikit menjauh. Tidak ada yang mau berurusan dengan pria kaya yang sedang mabuk kekalahan.

"Tahan mereka, Leo. Aku masih butuh sekitar dua menit," bisik suara Elena dari dalam earpiece yang tersembunyi di telinga kiri Leo. Suara gadis itu diiringi ketukan *keyboard* yang sangat cepat. "Sistem *firewall* sekunder mereka ternyata baru di-*update* minggu lalu. Beri aku waktu."

Leo mendecak kesal, memutar bola mata abu-abunya ke arah *dealer*. Ia merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan setumpuk uang tunai seratus dolar yang masih dibendel.

"Tukar ini semua," perintah Leo melempar uang itu ke tengah meja. "Dan ganti dek kartunya. Aku mau dek yang masih disegel."

Seorang pria botak berkumis tipis yang sejak tadi mengawasi dari jauh akhirnya melangkah maju. Ia adalah manajer lantai VIP. Di belakangnya, dua orang penjaga bertubuh besar berbaju hitam mengekor dengan wajah tegang, siap menerkam kalau disuruh.

"Ada masalah yang bisa saya bantu, Tuan Rossi?" sapa manajer itu dengan senyum palsu yang terlalu lebar. Tangannya dilipat sopan di depan perut. "Saya manajer lantai malam ini. Nama saya Julian."

"Oh, jadi kau yang mengurus sirkus ini?" ejek Leo menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gaya santai namun merendahkan. Ia menunjuk wajah Julian. "Katakan pada anak buahmu ini untuk belajar mengocok kartu dengan benar. Aku sudah kehilangan dua ratus ribu dolar dalam waktu kurang dari setengah jam. Kalau ini cara kalian memperlakukan tamu VIP, aku jamin ayahku tidak akan pernah sudi menyuntikkan dana ke proyek properti bos kalian."

Julian menjaga senyumnya tetap menempel di wajah, meski rahangnya terlihat mengeras. Ia tahu betul siapa Rafael Rossi—atau setidaknya, siapa sosok yang dikiranya sedang duduk di depannya itu. Sindikat Marco memang sedang mencari investor untuk mencuci uang mereka lewat proyek *real estate* di pesisir selatan, dan keluarga Rossi adalah target utama mereka.

"Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan Anda, Tuan Rossi. Namun saya pastikan permainan di Golden Palace seratus persen adil," jawab Julian mengangguk pelan. Ia memberi isyarat tangan kepada sang *dealer*. "Buka dek baru untuk Tuan Rossi. Dan tolong bawakan sampanye terbaik kita, *on the house*."

"Aku tidak butuh minuman gratisanmu, Julian," potong Leo cepat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Julian dengan sorot mata menantang. "Aku butuh kredit tambahan. Lima ratus ribu dolar."

Keheningan mendadak menyelimuti area meja itu. Wanita tua di sebelah Leo bahkan sampai berhenti bernapas sejenak. Lima ratus ribu dolar bukanlah jumlah yang kecil, bahkan untuk ukuran meja VIP di kasino sebesar ini.

"Sembilan puluh detik lagi, Leo," suara Elena kembali terdengar. "Terus buat mereka sibuk."

"Lima ratus ribu dolar?" ulang Julian, senyum palsunya mulai luntur. "Tuan Rossi, batas penarikan kredit harian Anda tanpa persetujuan pihak bank sudah habis. Kami harus menelepon-"

"Tolong jangan bercanda denganku," potong Leo tertawa meremehkan. Ia berdiri dari kursinya, membuat dua penjaga di belakang Julian refleks melangkah maju dan meletakkan tangan di pinggang mereka.

Melihat gerakan para penjaga itu, Leo malah tersenyum sinis. Ia berjalan memutari meja dan mendekati Julian hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Leo bisa mencium bau pomade murahan dari rambut manajer itu.

"Kau mau membiarkan anjing-anjingmu ini menggigitku, Julian?" tantang Leo berbisik pelan, tapi cukup keras untuk didengar oleh para penjaga. "Coba saja. Sentuh satu helai jas ini, dan besok pagi kasino ini akan dipenuhi oleh pengacara ayahku. Kami akan menutup tempat ini, dan bos kalian, si Marco sialan itu, akan tahu bahwa manajer lantainya yang botak ini baru saja mengacaukan kesepakatan bisnis bernilai puluhan juta dolar."

Wajah Julian seketika pucat pasi mendengar nama Marco disebut. Hanya orang dalam dan petinggi yang tahu bahwa Marco kini adalah penguasa sebenarnya di balik Golden Palace.

"Tidak, tidak ada yang akan menyentuh Anda, Tuan," ucap Julian buru-buru mengangkat kedua tangannya, lalu menoleh ke arah para penjaga dengan panik. "Mundur kalian! Cepat mundur!"

Kedua algojo itu ragu-ragu sejenak, namun akhirnya mundur dua langkah dengan enggan.

"Bagus," Leo tersenyum puas, kembali ke karakternya yang menyebalkan. Ia merapikan kerah jas Julian dengan tepukan kasar yang sengaja dibuat-buat. "Sekarang, urus kreditku. Bawa uangnya ke meja ini sekarang juga, atau aku akan pergi ke brankas kalian dan mengambilnya sendiri."

"Tuan, proses persetujuan kredit sebesar itu butuh waktu dan tanda tangan-" Julian mencoba beralasan, keringat mulai membasahi kerah kemejanya.

"Aku tidak peduli!" bentak Leo tiba-tiba.

Ia meraih gelas kristal berisi air es dari atas meja dan membantingnya ke lantai karpet. *Prang!* Pecahan kacanya memercik ke mana-mana, membuat beberapa tamu wanita di meja sebelah menjerit kaget.

Keributan itu sukses besar. Seluruh penjaga di lantai mezzanine kini bergerak mendekati meja Baccarat Leo. Bahkan beberapa penjaga dari lantai bawah mulai berlari naik melalui tangga utama. Leo bisa melihat dari sudut matanya bahwa fokus seluruh sistem keamanan kasino kini hanya tertuju padanya. Area lantai dasar, lorong staf, dan pintu belakang sama sekali tidak terawasi oleh manusia.

"Leo, sistem alarm dan kamera di lorong ruang hitung sudah mati," bisik Elena tepat saat lampu gantung kristal raksasa di atas meja Baccarat itu berkedip dua kali secara cepat. Kedipannya sangat singkat, nyaris seperti gangguan listrik biasa, tapi bagi Leo itu adalah lampu hijau. "Kau punya waktu tiga menit sebelum sistem *reboot* otomatis. Masuk ke sana sekarang!"

Leo membuang napas panjang. Aksi bodohnya sudah selesai. Sekarang saatnya bagian yang serius.

"Tuan Rossi, Anda sudah kelewatan," ucap Julian dengan suara yang kini mulai bergetar karena marah. Ia memberi isyarat agar empat penjaga sekaligus mengepung Leo. "Saya rasa Anda butuh udara segar. Kami akan mengantar Anda keluar."

"Tidak perlu repot-repot," jawab Leo merapikan jasnya dengan santai, sama sekali tidak terintimidasi oleh empat pria berotot di sekelilingnya. "Aku memang sudah muak dengan tempat sampah ini."

Leo berbalik, tidak menuju tangga utama, melainkan berjalan cepat ke arah lorong samping lantai mezzanine yang bertuliskan 'Toilet VIP'. Dua orang penjaga mencoba mengikutinya, tapi Leo langsung berbalik dan menunjuk mereka tepat di depan hidung.

"Kalau kalian berani mengikutiku ke urinoir untuk melihatku kencing, aku akan mencungkil mata kalian dengan garpu," ancam Leo dengan suara rendah yang begitu dingin dan mematikan, sama sekali berbeda dengan nada anak manja sebelumnya. Insting mafia aslinya bocor keluar selama satu detik, dan itu cukup untuk membuat kedua penjaga tersebut membeku di tempat.

Memanfaatkan keraguan mereka, Leo bergegas masuk ke dalam lorong toilet. Begitu ia khuang dari pandangan para penjaga, ia berlari kecil menuju ujung lorong. Ia tahu betul denah tempat ini. Di samping pintu toilet pria, terdapat sebuah pintu darurat kecil yang mengarah langsung ke tangga servis khusus karyawan.

Leo mendorong pintu darurat itu dan menuruni tangga beton dengan cepat. Napasnya mulai memburu. Sepatu pantofel kulitnya tidak mengeluarkan suara berkat teknik melangkah senyap yang diajarkan ayahnya dulu.

"Aku sudah di tangga servis," bisik Leo menyentuh earpiece-nya.

"Terus turun ke lantai dasar. Pintu di ujung tangga itu sudah kubuka kuncinya. Di baliknya adalah lorong utama menuju ruang hitung," pandu Elena dengan nada serius. "Tidak ada kamera, tidak ada alarm. Tapi hati-hati, penjaga ruang hitung biasanya dua orang dan mereka berada di dalam ruangan. Kunci mekanisnya ada di bagian luar."

Leo tiba di dasar tangga. Di depannya berdiri pintu baja abu-abu. Ia memutar kenopnya, dan benar saja, pintu itu terbuka tanpa perlawanan.

Ia melangkah masuk ke dalam lorong panjang yang sepi. Udara di sini jauh lebih dingin. Tiga buah kamera CCTV di langit-langit terlihat menunduk pasif, lampu merah di ujungnya mati total.

Di ujung lorong, terdapat pintu brankas baja raksasa yang tertanam di dinding. Ini adalah brankas utama kasino, tempat di mana uang tunai harian Marco ditimbun sebelum dipindahkan. Di tengah pintu itu terdapat sebuah roda putar mekanis ganda yang terbuat dari kuningan. Kunci peninggalan ayahnya.

Leo berjalan mendekati brankas itu. Ia merogoh punggungnya, menarik keluar pistol polimer kaliber .22 tersebut dan mengokangnya perlahan tanpa suara.

"Waktumu sisa dua menit, Pangeran," peringat Elena dari seberang sana. "Buka pintunya, bersihkan tempat itu, dan mari kita buat Marco menangis besok pagi."

"Tunggu saja," gumam Leo menatap roda kuningan di depannya. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Ia meletakkan pistolnya di lantai, lalu menempelkan telinganya ke pintu baja yang dingin itu, dan mulai memutar tuas kombinasinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!