NovelToon NovelToon
Lamaran Yang Bukan Untukku

Lamaran Yang Bukan Untukku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Konglomerat berpura-pura miskin / Balas Dendam
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefin Eka Ramana Putri

Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Jejak yang Tersisa

Hari-hari berikutnya berjalan bagai berjalan di atas pecahan kaca yang tajam — setiap langkah terasa menyakitkan, menyisakan perih yang tak terlihat namun terasa di setiap sudut hati, namun tak ada satu pun dari mereka yang berani berhenti atau berbalik arah. Yb berangkat pagi-pagi sekali, bahkan sebelum sinar matahari pertama menyentuh ufuk timur, wajahnya semakin tampak lelah dan pucat, namun di balik kelelahan itu, matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Tinggal satu langkah lagi, satu tanda tangan terakhir yang sah, dan urusan panjang ini akan selesai sepenuhnya. Setiap kali ia pulang saat langit sudah berwarna gelap pekat, ia menyapa dengan senyum yang dipaksakan, berusaha tampil tenang seakan tak ada sesuatu yang berubah, namun keheningan yang menyambutnya di dalam rumah itu terasa semakin berat, menekan dada siapa pun yang berada di dalamnya.

Karen tidak lagi banyak bertanya seperti hari-hari sebelumnya. Ia tidak lagi menatap langsung, tidak lagi meminta penjelasan berulang-ulang. Namun justru keheningan barunya inilah yang membuat suasana semakin mencekam. Ia mengamati — diam-diam, dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, dari balik halaman buku yang matanya tak benar-benar membaca, dari balik jendela yang memandang ke arah gerbang setiap kali suara kendaraan terdengar. Ia mencatat setiap hal kecil yang sebelumnya tak pernah ia perhatikan: bagaimana Yb menatap Cynthia saat mengira tak ada mata yang melihat, bagaimana mereka saling bertukar pandang sejenak sebelum berpisah, bagaimana Cynthia selalu tahu kapan Yb akan pulang, seakan ada pesan yang sampai lebih dulu sebelum pria itu sendiri tiba di depan pintu.

Suatu sore, saat Yb sedang beristirahat di kamar mandi sejenak setelah sampai di rumah, ponselnya tertinggal di atas meja ruang tengah. Layarnya menyala pelan, bergetar halus — sebuah pesan masuk. Karen melirik ke arah benda itu, bukan bermaksud mengintip, namun nama yang tertera di layar membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak. Bukan nama rekan kerja, bukan nama kerabat jauh, bukan nama siapa pun yang wajar. Itu nama Cynthia. Tangan Karen gemetar hebat. Ia tahu ia seharusnya tidak melakukannya, ia tahu itu bukan haknya, namun rasa takut yang bercampur curiga mendorongnya mendekat. Ponsel itu terkunci, namun sekilas ia sempat membaca sebagian isi pesan yang terlihat di layar: "Hati-hati, tanda tangan terakhir akan segera..." — kalimat itu terpotong di sana, tak bisa dibaca lebih lanjut.

Napas Karen tercekat di tenggorokannya. Tanda tangan terakhir? Apa yang sedang ditandatangani? Mengapa Cynthia yang mengingatkannya? Dan mengapa semua ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi, seakan sesuatu yang keliru dan tak boleh diketahui? Ia meletakkan ponsel itu kembali secepat mungkin, seakan benda itu terbakar panas, lalu duduk kembali di kursinya dengan tangan yang masih gemetar, dadanya sesak oleh ribuan pertanyaan yang tak kunjung terjawab.

Malam itu, saat mereka bertiga duduk di ruang tengah dalam keheningan yang panjang, Karen akhirnya menatap Cynthia tajam, tak lagi menyembunyikan kegelisahannya.

"Cynthia..." suaranya terdengar pelan namun tegas, memecah kesunyian yang terasa mencekam. "Kau mengirim pesan ke Yb tadi sore, bukan? Saat ponselnya tertinggal di sini."

Cynthia terkejut sejenak, namun segera menguasai dirinya, menarik napas panjang agar suaranya tetap tenang. "Ya. Hanya mengingatkan soal jadwal pertemuan kerja yang akan datang. Tidak lebih dari itu."

Karen tidak melepaskan pandangannya, matanya menyelidik setiap perubahan ekspresi wajah kakaknya. "Jadwal kerja? Padahal pesannya menyebutkan soal tanda tangan. Tanda tangan apa itu? Apakah berkaitan dengan urusan rumah yang sedang diurus Yb?"

Cynthia terdiam sejenak, menyusun kata-kata dengan sangat hati-hati agar tidak membocorkan kebenaran sebelum waktunya. "Ada banyak hal yang memerlukan tanda tangan, Karen. Bukan hanya soal rumah. Jangan berprasangka buruk sebelum mengetahui kenyataannya secara utuh."

"Jangan menyuruhku tidak berprasangka!" Karen berdiri perlahan, napasnya memburu, perutnya yang membesar terasa semakin berat saat ia berdiri tegak. "Kalian menyembunyikan sesuatu dariku! Kalian berdua berbicara diam-diam, pergi diam-diam, mengirim pesan diam-diam! Rumah ini yang kupikirkan sebagai tempat keluargaku sendiri kini terasa asing bagiku! Seakan akulah orang asing yang hanya numpang tinggal di sini!"

"Kau salah paham," jawab Cynthia lembut, ikut berdiri agar sejajar dengan adiknya. "Tidak ada yang menyembunyikan apa-apa darimu dengan niat buruk. Percayalah, semua ini akan segera jelas saat waktunya tiba."

"Segera jelas?" Karen tertawa pahit, air mata mulai menggenang di matanya, menahan agar tak jatuh. "Sudah berapa lama kata 'segera' itu kukatakan pada diriku sendiri? Sudah berapa lama aku menunggu kepastian yang tak kunjung datang? Katakan padaku sekarang juga — apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sedang kalian ambil dariku di belakang punggungku?"

Yb yang sejak tadi hanya diam akhirnya angkat bicara, suaranya tenang namun tegang, berusaha menenangkan istrinya. "Karen, tenanglah. Tidak ada yang mengambil apa pun darimu. Semua ini hanya urusan berkas yang harus diluruskan agar tidak ada masalah di kemudian hari. Itu saja."

"Itu saja?" Karen menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca, tak percaya. "Mengapa terasa begitu berat untuk diucapkan jika memang itu saja? Mengapa Cynthia yang selalu tahu lebih dulu? Mengapa aku dibiarkan dalam ketidaktahuan seolah aku bukan siapa-siapa di sini?"

Suasana hening seketika. Tak ada yang berani menjawab, tak ada yang sanggup mengucapkan kebenaran yang akan mengubah segalanya sebelum waktunya. Karen menatap mereka berdua bergantian, lalu perlahan mengangguk pelan, seakan menerima sesuatu yang menyakitkan di dalam hatinya.

"Baiklah... Aku tidak akan memaksakan kalian bicara sekarang," ucapnya pelan, suaranya bergetar menahan tangis. "Tapi ingat satu hal. Aku mungkin belum tahu segalanya saat ini, tapi aku akan mengetahuinya. Dan saat hari itu tiba, aku tidak akan diam saja."

Dengan itu, ia berbalik perlahan menuju kamar, meninggalkan Yb dan Cynthia yang saling bertukar pandang — tatapan yang penuh kekhawatiran, namun juga penuh tekad. Urusan ini belum sepenuhnya selesai, tinggal satu langkah lagi. Namun setiap hari yang berlalu membuat mereka semakin sadar satu hal: saat kebenaran akhirnya terungkap, tak ada satu pun dari mereka yang akan tetap sama seperti semula.

Beberapa hari kemudian, Yb pulang dengan wajah yang pucat namun terlihat lega, seakan beban berat yang dipikulnya selama berbulan-bulan perlahan terangkat dari pundaknya. Ia mencari kesempatan berbicara dengan Cynthia saat Karen sedang beristirahat di kamarnya.

"Selesai," bisiknya pelan, suaranya bergetar menahan emosi. "Sertifikat sudah sah kembali atas namamu. Semua urusan administrasi telah beres sepenuhnya."

Cynthia mengangguk perlahan, matanya berkaca-kaca — bukan karena gembira semata, melainkan karena beban yang selama ini dipikulnya kini berakhir, digantikan oleh kenyataan bahwa langkah selanjutnya adalah yang paling berat dari semuanya. "Terima kasih, Sayangku." Ia menatap pria itu lekat-lekat. "Tapi Karen semakin curiga. Ia tidak akan diam begitu saja."

"Aku tahu," jawab Yb pelan, menundukkan pandangannya. "Aku akan mencari cara untuk menjelaskan semuanya kepadanya. Dengan cara yang paling baik dan paling tenang."

Namun di kamar yang lain, Karen terjaga. Ia tidak mendengar kata-kata itu secara utuh, namun nada suara mereka terdengar cukup jelas — nada kelegaan, nada rahasia, nada sesuatu yang besar telah terjadi. Sesuatu yang mengubah segalanya. Ia menarik napas panjang, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dadanya. Ia belum tahu persis apa yang telah diambil darinya, namun ia merasakannya — kepemilikan atas rumah ini, atas kepercayaannya, mungkin juga atas hatinya sendiri, sedang perlahan berpindah ke tangan orang lain. Dan ia tidak akan membiarkannya terjadi tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

1
Aldebaran Putra Alfahri
Wow Bab 25 bikin hatiku terasa berat! Betapa ironisnya Cynthia harus tinggal di rumah yang dulunya miliknya bersama YB. Aku ingin tahu bagaimana kisahnya akan berlanjut! Semangat terus membuat bab‑bab selanjutnya! 🥰
Tea Wald
Author, Bab 24 ini sungguh menyakitkan! Senyum manis Karen di depan orang lain ternyata tidak tulus sama sekali. Aku kasihan melihat Cynthia yang harus bekerja keras setiap pagi namun diperlakukan buruk saat hanya berdua. Aku penasaran kapan kepalsuan Karen akan terbongkar, semangat terus menulis ya! 💖
Tea Wald
Author, cerita ini sangat menarik! Alurnya penuh rahasia masa lalu yang membuat penasaran, setiap bab selalu ada kejutan baru. Saya suka bagaimana karakter Cynthia berusaha mencari jati dirinya dengan penuh keberanian. Semangat terus melanjutkan ceritanya ya! Sangat direkomendasikan untuk dibaca!💖
Devi Permata Sari
Author, Bab 23 ini bikin hatiku campur aduk! Semua orang bersukacita mendengar kabar kehamilan Karen, padahal di balik itu ada rencana besar yang tersembunyi. Aku semakin penasaran bagaimana Cynthia akan membongkar semua kepalsuan itu, semangat terus menulis ya! 💖
Rio
Perubahan sikap Cynthia di Bab 22 sangat menarik! Setelah bertahun‑tahun bersabar, sekarang ia mulai memiliki keteguhan hati yang baru. Aku tidak sabar melihat bagaimana ia akan menghadapi rahasia‑rahasia tersembunyi selanjutnya, tetap semangat, Author! 😊
Ridho Yanuar
Author, Bab 21 ini suasananya benar‑benar tegang! Kemarahan Karen dan ibu kandungnya membuatku khawatir apa yang akan terjadi pada Cynthia. Aku penasaran bagaimana Cynthia akan menghadapi tuduhan‑tuduhan itu nanti, semangat terus menulis ya! 💖
Rio
Author, Bab 20 ini sungguh menghangatkan hati! Momen hangat antara Cynthia dan Aloy membuatku ikut tersenyum, tapi aku juga penasaran cobaan apa yang akan datang selanjutnya. Aku tidak sabar melihat kelanjutan ceritanya, semangat terus menulis ya! 💖
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih banyak ya Rio atas komentar hangatnya! Aku senang kamu suka momen Cynthia dan Aloy di Bab 20. Benar sekali, masih ada cobaan‑cobaan menarik yang menanti mereka. Aku akan terus semangat menulis kelanjutan ceritanya, jangan lupa terus ikuti ya! 💖
total 1 replies
Ridho Yanuar
Author, dua bab ini benar‑benar menyentuh hati! Di Bab 18 aku ikut merasa sedih saat Cynthia keluar dari rumah keluarga Hutapea, tapi kata‑kata wanita tua itu memberi harapan. Lalu di Bab 19, beban rahasia yang semakin berat membuatku khawatir akan Cynthia. Aku penasaran cobaan berat apa yang akan datang selanjutnya! Semangat terus menulis ya, aku akan ikuti cerita ini sampai tamat! 💖
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih banyak Ridho atas komentar yang menyentuh hati! Aku juga ikut merasakan kesedihan Cynthia saat harus keluar dari rumah keluarga Hutapea di Bab 18. Kata‑kata wanita tua itu memang menjadi harapan kecil baginya. Terus ikuti ceritanya ya, masih banyak rahasia yang akan terungkap! 💖
total 1 replies
Ruchika Putri Onsu
Menarik sekali bab 18 ini! Cynthia tidak menyerah meskipun diusir dari rumah Hutapea. Aku penasaran bukti apa yang akan ia temukan selanjutnya. Semangat terus membuat bab‑bab baru ya! 🥰
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar, Ruchika! Bagus sekali kamu melihat semangat Cynthia yang tidak menyerah. Bukti‑bukti yang akan ia temukan nanti penuh kejutan lho. Tetap saksikan kelanjutan ceritanya ya! 😊
total 1 replies
ArsyilaQi
bantu support karya ya kak....
semangat 💪💪
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih sudah mendukung karya ini! Dukunganmu jadi penyemangatku untuk menulis bab‑bab selanjutnya. Jangan lupa terus ikuti ceritanya ya! 😊
total 1 replies
Moreno Fathur rochman
Author, bab 17 ini membuat hatiku terasa sesak! Berani‑beraninya Cynthia datang ke rumah keluarga Hutapea untuk menyampaikan kebenaran, tapi malah dicemooh dan dimaki. Aku semakin penasaran apakah bukti kalung itu nanti akan bisa membongkar semua rahasia. Semangat terus menulis ya, aku akan tetap mengikuti ceritanya! 💖
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih banyak atas dukungan dan komentar yang menyentuh ini! Saya senang kamu bisa merasakan betapa sesaknya hati Cynthia saat itu. Benar sekali, masih banyak rahasia yang harus dibongkar dari keluarga Hutapea. Jangan lewatkan kelanjutan ceritanya ya! Terima kasih sudah setia mengikuti! 💖
total 1 replies
Dita Anggraini
Wah tulisanmu sangat bagus di bab 16! Ucapan wanita tua itu terasa begitu mendalam, rahasia di balik kalung berlian membuat hatiku penasaran. Ada banyak hal tersembunyi dari masa lalu Cynthia. Teruslah buat bab‑bab seru ya, Author! 😊
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih banyak atas apresiasinya untuk Bab 16! Saya senang sekali rahasia kalung berlian berhasil membuatmu penasaran. Masih banyak rahasia masa lalu Cynthia yang akan terungkap perlahan‑lahan. Tunggu bab‑bab seru selanjutnya ya! 💖
total 1 replies
Satria Aldizar Reyndra Anggaru
Wah bab 15 benar‑benar bikin hatiku teriris melihat Cynthia yang menangis begitu! Rasanya ada rahasia besar yang belum terungkap dari keluarga Hutapea. Aku sangat penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagus sekali penulisanmu, Author! Semoga cerita ini terus berjalan dengan seru!
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih banyak atas komentar dan dukungannya! Saya senang sekali kamu bisa merasakan kesedihan Cynthia di Bab 15. Benar sekali, masih ada rahasia besar keluarga Hutapea yang belum terungkap. Tunggu kelanjutan ceritanya ya, akan ada banyak kejutan! Terima kasih sudah mengikuti cerita ini! 🥰
total 1 replies
Rokhsi Yanto
bagus ceritanya author. q syukak. q mau ngikutin smpe slesai ya author. tapi request q 1 yaitu setelah cerita ini tamat tolong bikinkan cerita horor percintaan dong author ya..di tunggu gebrakan nya🥰🥰
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih banyak atas dukungan dan bintang 5‑nya ya! Saya sangat senang kamu mau mengikuti cerita ini sampai selesai. Permintaan cerita horor percintaan sudah saya catat ya, semoga nanti bisa saya wujudkan setelah cerita ini tamat. Terus ikuti kelanjutan ceritanya ya, terima kasih! 🥰
total 1 replies
Dokkan Battle
YB? REZA ARAP?
Sefin Eka Ramana Putri: yabss..betul kak.😊
total 1 replies
Kartini Pertiwi
Kak, Bab 14 bikin hatiku ikut berdebar! 🥺 Momen Cynthia berdiri di depan gerbang rumah Keluarga Hutapea terasa begitu tegang. Aku penasaran siapa pemilik kalung sebenarnya dan apa yang akan terjadi setelah ini! Semangat terus menulisnya, Kak!
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih banyak atas dukungan dan komentarnya ya! Saya senang suasana tegang di Bab 14 bisa membuat hatimu ikut berdebar. Misteri pemilik kalung masih akan terungkap perlahan‑lahan. Jangan lewatkan kelanjutan ceritanya ya! Terima kasih sudah setia mengikuti! 💖
total 1 replies
Dewi Fortuna
Kak, Bab 13 benar‑benar membuat hatiku bergetar! 🥺 Betapa terkejutnya Cynthia mengetahui bahwa ia putri kandung Keluarga Hutapea. Namun rasa bahagianya bercampur ketakutan. Aku sangat penasaran bagaimana pertemuannya dengan orang tua kandungnya nanti! Semangat terus menulisnya, Kak!
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih banyak atas komentar dan dukungannya ya! Saya senang kamu bisa merasakan perasaan campur aduk Cynthia saat mengetahui asal‑usulnya. Pertemuan dengan orang tua kandungnya akan membawa banyak kejutan nanti. Tunggu kelanjutan ceritanya ya! 💖
total 1 replies
Rio
Kak, Bab 12 bikin hatiku berdebar‑debar! 🥺 Momen Cynthia menyerahkan buku harian dan foto bayi ke Aloy terasa begitu menyentuh. Semoga mereka segera menemukan jawaban tentang asal‑usul Cynthia! Semangat terus menulisnya, Kak!
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih banyak sudah membaca dan memberi komentar di Bab 12, Rio! 🥰 Sangat senang kamu merasakan ketegangan dan harapan di momen itu. Akan ada petunjuk‑petunjuk baru selanjutnya, jangan lupa ikuti terus ceritanya ya! 💛
total 1 replies
yanti
bagus, q syukak dengan cerita nya. terima kasih author udah bikin cerita nya hidup kayak seolah olah q masuk ke dunia mereka. keren👍🥰😍
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih sudah suka ceritanya, Yanti! 🥳 Bahagia sekali mendengar ceritaku terasa hidup bagimu. Aku akan terus semangat berkarya, tunggu petualangan tokoh‑tokoh kita selanjutnya! 👍
total 1 replies
Ruchika Putri Onsu
Luar biasa sekali Bab 11! 🥰 Momen ketika Cynthia menyerahkan buku harian dan foto bayi kepada Aloy adalah langkah besar. Sekarang Aloy sudah tahu rahasia bahwa Cynthia diambil dari Rumah Sakit Pertamina. Apa yang akan mereka lakukan selanjutnya? Jangan lewatkan kelanjutan ceritanya! Semangat terus author! 💖✨
Sefin Eka Ramana Putri: Terima kasih banyak atas komentar bagusnya, Ruchika! 🥰 Benar sekali, momen itu menjadi langkah penting bagi Aloy. Tunggu kelanjutan rahasia‑rahasia berikutnya ya! Jangan lupa terus ikuti ceritanya sampai selesai ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!