Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AROMA PARFUM
"Kamu beneran di luar, Aris?"
Suara bisikan Sora terputus-putus oleh hembusan napasnya yang tidak beraturan. Jemarinya yang gemetar memegang erat ponsel di dekat telinga, sementara punggungnya bersandar pasrah pada pintu kayu kamar mandi yang terkunci.
Di luar kamar mandi, suara dengkuran Rian terdengar berat dan teratur. Suaminya telah terlelap sepenuhnya dalam pengaruh alkohol, meninggalkan luka dan rasa terhina yang menganga lebar di dada Sora.
"Aku nggak pernah bohong sama kamu, Sora. Buka pintunya sekarang."
Suara bariton Aris di ujung telepon terdengar begitu tenang, mantap, dan sarat akan kehangatan yang protektif. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam nada bicaranya, seolah ia memang sudah memperkirakan bahwa malam ini Sora akan memanggilnya.
Sora mematikan sambungan telepon. Ia mematikan kran air shower, mengusap sisa air mata di pipinya, lalu merapikan gaun tidur sutranya. Dengan langkah sepelan kucing, ia keluar dari kamar mandi, melintasi Rian yang tergeletak pasrah di atas ranjang king size, lalu melangkah keluar dari kamar utama.
Koridor rumah megah itu gelap dan sepi. Suara gemuruh petir dan dentuman hujan deras yang membentur kaca jendela luar mengiringi setiap langkah kaki Sora yang tak beralas.
Ia berjalan menuju lorong samping rumah yang terhubung langsung ke area taman dalam dan pintu belakang. Setiap kali kilatan petir menyambar, bayangan tubuhnya terpantul panjang di atas lantai marmer yang dingin.
Dengan tangan gemetar, Sora memutar kunci pintu samping. Pintu kayu jati itu terbuka sedikit, memperlihatkan sosok pria yang berdiri tegap di bawah naungan atap teras samping yang terlindung dari guyuran hujan.
Aris berdiri di sana. Ia mengenakan jaket kulit hitam dengan kemeja yang sedikit terbuka di bagian kerah. Wajahnya yang tegas tampak basah oleh percikan air hujan, dan matanya memancarkan rasa khawatir yang amat sangat saat menatap wajah Sora yang pucat.
"Sora..." bisik Aris pelan.
Sora tidak sanggup menahan emosinya lagi. Pertahanan dirinya runtuh sepenuhnya. Tanpa memikirkan risiko atau rasa bersalah, Sora melangkah keluar dari ambang pintu dan membiarkan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Aris.
Aris merengkuh tubuh Sora dengan seketika. Lengan kokohnya melingkar erat di pinggang dan punggung Sora, menarik wanita itu rapat-rapat ke dalam dadanya yang hangat dan tegap. Aroma parfum kayu cendana bercampur aroma segar air hujan dari tubuh Aris langsung memenuhi seluruh indra penciuman Sora.
"Aku takut, Aris... Rian... Rian kasar banget malam ini..." cicit Sora dengan tangisan yang pecah di dada Aris.
Mendengar kata-kata itu, rahang Aris mengeras seketika. Matanya memancarkan amarah yang sangat pekat, namun usapan tangannya di punggung dan rambut halus Sora justru semakin lembut dan berhati-hati.
"Dia nyakitin kamu?" tanya Aris dengan suara rendah yang tertahan. Tangannya merengkuh pipi Sora, mendongakkan wajah cantik wanita itu agar matanya bisa menatap langsung ke dalam manik mata Sora yang basah.
"Dia mabuk... dia cuma mau melampiaskan nafsu," bisik Sora lirih, matanya terpejam merasakan usapan ibu jari Aris yang menghapus air matanya dengan begitu halus.
"Pria bajingan," umpat Aris pelan.
Aris tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia membawa Sora masuk sedikit ke balik pilar teras yang terlindung dari pandangan luar. Dalam kegelapan malam yang terselubung deru hujan deras, Aris menarik Sora lebih dekat hingga tubuh mereka tak berjarak.
Bibir Aris menempel lembut di kening Sora, menyalurkan rasa hangat dan perlindungan yang sangat tulus. Ciuman itu perlahan turun ke kelopak mata Sora yang basah, lalu berpindah menyusuri pipinya, hingga berhenti tepat di atas bibir Sora yang gemetar karena dingin dan ketakutan.
Sora melenguh pelan. Sentuhan bibir Aris malam ini terasa jauh lebih dalam dan membakar dibanding tadi siang. Ada rasa haus yang menuntut, namun juga rasa memiliki yang begitu protektif.
Aris memiringkan kepalanya, menyesap bibir manis Sora dengan kecupan yang lembut namun semakin intens. Lengan Aris meremas pelan pinggang Sora, membawa tubuh wanita itu makin menempel pada dada tegapnya. Sora yang merindukan kehangatan dan rasa diinginkan merangkulkan kedua tangannya di leher tegap Aris, membalas kecupan terlarang itu dengan kepasrahan penuh.
Di bawah naungan hujan deras malam itu, batas-batas moral yang selama ini dipengang teguh oleh Sora meluas dan melarut. Sentuhan tangan Aris yang hangat merayap lembut dari pinggang naik menyusuri punggung halus Sora di balik kain sutra gaun tidurnya, memberikan sensasi kehangatan yang memabukkan dan menghapus setiap jejak kekasaran Rian dari pikirannya.
Aris melepaskan tautan bibir mereka perlahan, memberikan jeda bagi Sora untuk menghirup udara. Napas mereka saling beradu cepat dalam jarak beberapa sentimeter.
Aris menatap bibir Sora yang agak memerah dan basah, lalu mengusap sudut bibir wanita itu dengan ibu jarinya yang hangat.
"Ikut aku pergi malam ini, Sora," ajak Aris dengan nada memohon yang sangat dalam. "Jangan tinggal di rumah ini lagi bersama pria yang nggak tahu cara menghargaimu."
Sora menatap mata cokelat gelap Aris. Ada godaan yang sangat besar untuk mengangguk dan lari bersama pria yang ada di hadapannya ini. Namun sisa akal sehat di kepalanya menahannya.
"Aku nggak bisa, Aris... Barang-barangku, posisiku... Kalau aku pergi malam ini tanpa persiapan, Rian bakal curiga dan makin marah," jawab Sora ragu.
Aris menghela napas panjang. Ia tahu Sora benar, namun ia tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya terus menderita di bawah atap yang sama dengan Rian.
"Kalau begitu, janji sama aku... kalau dia menyakitimumu lagi, kamu harus hubungi aku. Kapan pun," tegas Aris sambil mengecup punggung tangan Sora dengan lembut.
Sora mengangguk pelan. "Aku janji."
Aris merengkuh tubuh Sora sekali lagi dalam pelukan hangat sebelum akhirnya perlahan melepaskannya. Dengan berat hati, Sora melangkah mundur ke dalam rumah dan menutup pintu samping secara perlahan, mengunci gerendelnya dari dalam.
Sora bersandar pada pintu kayu yang dingin. Dadanya bergemuruh hebat, namun rasa takut dan hampa yang tadi mencekiknya kini telah digantikan oleh getaran kehangatan asing yang ditinggalkan Aris.
Ia melangkah kembali menyusuri koridor gelap menuju kamar tidur utama.
Saat Sora mendorong pintu kamar mandi untuk mencuci mukanya, langkah kakinya mendadak terhenti seketika. Tubuhnya membeku bagai patung.
Rian yang tadinya terlelap pulas akibat alkohol, kini sudah berdiri di depan meja rias. Pria itu menyandarkan badannya pada meja, memegang secangkir air dingin, dan menatap lurus ke arah Sora dengan mata sayu namun penuh dengan kecurigaan yang tajam.
Lampu kamar kini menyala terang.
"Dari mana kamu jam satu malam begini, Ra?" tanya Rian dengan suara serak dan dingin.
Sora menelan saliva yang terasa sangat pahit. Jantungnya berdetak begitu kencang sampai-sampai ia takut suaminya bisa mendengarnya dari jarak sejauh ini.
"Aku... aku cuma ke dapur. Ambil air minum," jawab Sora berusaha menenangkan nada suaranya serapi mungkin.
Rian melangkah pelan mendekati Sora. Setiap tumpuan langkah suaminya membuat saraf di tubuh Sora tegang luar biasa. Rian berhenti tepat di depan Sora, mendongakkan kepalanya sedikit, lalu mengendus udara di sekitar leher dan baju tidur Sora.
Raut wajah Rian mendadak berubah keras. Mata sayunya melotot tajam saat menyadari aroma yang menempel kuat di tubuh istrinya.
"Aroma parfum ini... ini bukan bau parfum rumah tangga kita, Ra."
Sora menahan napasnya, matanya membelalak ketakutan saat Rian mencengkeram kedua bahunya dengan sangat kuat.
"Kenapa tubuhmu baunya mirip banget sama parfum yang dipakai Aris tadi siang?"