Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Kuda Liar
Kuda cokelat itu bangkit dengan kedua kaki depan terangkat.
Jeritanku tertahan di tenggorokan. Tubuhku terlempar ke belakang, lalu ke depan ketika kukunya kembali menghantam tanah. Pelatih berusaha menangkap tali kekang, tetapi kuda menyentakkan kepala dan menyeretnya dua langkah sebelum dia terpaksa melepaskan.
"Pegang surainya! Jangan tarik mendadak!" teriak seseorang.
Aku menunduk dan mencengkeram bagian depan pelana. Semua pelajaran yang baru kuingat menghilang di bawah suara ringkik dan hentakan. Kuda berputar, menabrak tiang pembatas, lalu menemukan celah pada gerbang jalur luar yang belum sempat ditutup.
Dia berlari.
Angin menghantam wajahku. Helm bergeser sedikit meski talinya masih menahan. Aku mencoba menjaga kaki di sanggurdi, tetapi kaki kanan terlepas. Setiap lompatan mengangkat tubuhku dari pelana dan menjatuhkannya kembali pada sumber rasa sakit yang membuat kuda semakin panik.
Pagar arena melintas seperti garis kabur. Seseorang membuka gerbang darurat di ujung jalur, mengarahkan kami menjauh dari area pengunjung. Aku mendengar pelatih berteriak agar semua orang mengosongkan lintasan dan tidak berdiri tepat di depan kuda.
Aku menarik napas pendek melalui hidung, berusaha mengingat instruksi pertama Pak Bara saat mengajariku silat: kepanikan menghabiskan tenaga lebih cepat daripada lawan. Ini bukan lawan yang bisa kutendang. Kuda itu juga ketakutan dan kesakitan. Aku harus bertahan tanpa menambah sakitnya.
Tanganku melonggarkan tarikan pada tali. Aku memeluk gerakan pelana dengan lutut sebisanya dan menjaga tubuh rendah. Satu cabang menyambar lengan jaket. Tiang belokan berikutnya mendekat terlalu cepat, lalu kuda membelok sendiri dan nyaris membuat bahuku menyentuh pagar.
"Sekar!"
Suara Om Bram datang dari belakang.
Aku tidak berani menoleh. Jalur di depan menyempit di antara pagar kayu dan semak. Jika melompat sekarang, aku bisa membentur tiang atau terseret oleh sanggurdi kiri.
"Lepaskan kaki kiri!" teriaknya. "Tetap rendah!"
Aku menarik kaki kiri keluar. Tubuhku menjadi lebih tidak stabil, tetapi setidaknya tidak lagi terkunci pada kuda.
Suara derap lain mendekat dari sisi kanan. Om Bram memacu kudanya sejajar, tidak langsung memotong jalur. Wajahnya pucat, tetapi gerakannya terkendali.
"Lihat saya," katanya.
"Aku nggak bisa!"
"Bisa. Tetap rendah. Jangan lompat."
Dia mendekat sedikit demi sedikit. Tangannya meraih ujung tali kekang yang terayun, gagal sekali, lalu mendapatkannya pada percobaan kedua. Tali itu menggesek telapak tangannya ketika kuda menarik keras.
Om Bram tidak mencoba menghentikan hewan itu secara mendadak. Dia menarik kepala kuda sedikit ke kiri, mengarahkannya ke bagian lapang agar membentuk lingkaran besar. Pelatih mengejar dari belakang sambil meneriakkan instruksi yang sama.
Kudanya sendiri mendengus keras akibat kecepatan dan kedekatan. Om Bram harus mengendalikan dua arah gerakan sekaligus, menjaga tunggangannya tidak menabrak sambil mempertahankan tali kudaku. Telapak tangannya tergelincir beberapa sentimeter. Darah langsung muncul, tetapi dia menggenggam lagi.
"Sedikit lagi," katanya. "Tetap bersama saya."
Aku tidak tahu apakah dia berbicara kepadaku atau kepada kuda. Aku hanya memusatkan pandangan pada bahunya, satu titik yang kukenal di tengah dunia yang bergetar.
Kecepatan kami mulai turun.
Lalu benda di bawah pelana kembali menekan. Kuda meringkik, menendang ke belakang, dan mengangkat tubuh depannya sekali lagi.
Aku terlepas.
Untuk satu detik, tidak ada tanah atau langit. Hanya tangan Om Bram yang meraih lenganku dan suara seseorang berteriak.
Aku jatuh ke sisi jalur, tetapi tidak langsung menghantam tanah. Om Bram sudah turun dengan cara tergesa dari kudanya dan menahan sebagian berat tubuhku. Bahunya membentur pagar rendah. Kami terguling satu kali di atas rumput basah.
Kuda cokelat masih bergerak liar di depan. Om Bram memutar tubuh, menutupiku dengan punggung dan satu lengan. Kaki depan kuda turun terlalu dekat. Ujung kukunya menggores lengan atas Om Bram sebelum pelatih berhasil menarik hewan itu menjauh ke lingkaran terbuka.
"Om!"
"Jangan bergerak dulu."
Tangannya menahan bahuku, bukan menekan, hanya memastikan aku tetap di tempat. Wajahnya berada beberapa sentimeter dari wajahku. Ada rumput di rambutnya dan napasnya terputus-putus.
"Kepalamu terbentur?"
"Nggak tahu."
"Leher sakit? Punggung?"
Aku mencoba merasakan tubuh sendiri. Tangan gemetar, lutut perih, dan pinggul nyeri akibat benturan. Namun aku bisa menggerakkan jari kaki serta tangan.
"Aku bisa gerak."
"Jangan berdiri sampai petugas medis datang."
Beberapa pekerja berlari membawa kotak pertolongan pertama dan papan penyangga. Om Bram meminta mereka menghubungi klinik terdekat serta dokter hewan. Dia tidak mengizinkan siapa pun melepas helmku sebelum petugas terlatih memeriksa leher.
Aku baru menyadari darah di lengan bajunya.
"Om terluka."
"Goresan."
"Tangan Om juga."
Telapak tangannya memiliki garis merah dalam akibat tali kekang. Dia tetap memegang tanganku seolah rasa sakit itu tidak ada.
"Lihat saya," katanya lagi. "Sebutkan namamu."
"Sekar Ayu Pramesti."
"Kita di mana?"
"Arena berkuda di Bogor."
"Hari apa?"
"Sabtu." Aku menelan ludah. "Kencan kita buruk sekali."
Om Bram mengembuskan napas yang hampir menjadi tawa, hampir juga menjadi tangis. "Kamu masih bisa mengeluh. Bagus."
Petugas medis memeriksa pupil, leher, dan tulang belakangku. Setelah memastikan tidak ada tanda cedera berat, mereka membantu melepaskan helm dan memindahkanku ke tandu duduk. Aku menolak ambulans sebelum pemeriksaan selesai, tetapi akhirnya setuju dibawa ke klinik untuk memastikan tidak ada gegar otak atau retak tulang.
Mereka membersihkan lecet di lutut dan memasang penyangga lunak sementara pada pinggul sebelum rontgen. Aku diminta tidak makan atau minum banyak sampai dokter memastikan tidak ada tindakan lanjutan yang dibutuhkan. Semua penjelasan diberikan langsung kepadaku, sementara Om Bram hanya menjawab ketika petugas bertanya siapa kontak keluarga yang akan mendampingi.
"Saya ikut ke klinik," katanya.
"Lengan Om harus dirawat juga."
"Di tempat yang sama."
Ketika mencoba berdiri dengan bantuan, kakiku kehilangan tenaga. Om Bram langsung menangkapku.
"Aku takut," bisikku.
Baru setelah mengucapkannya, seluruh tubuhku mulai bergetar hebat. Gambaran jalur yang berlari di bawah kaki, pagar yang mendekat, dan kuku kuda turun di atas kami datang sekaligus.
Om Bram memelukku di bawah selimut darurat yang diberikan petugas.
"Sudah," katanya dekat rambutku. "Kamu aman. Saya di sini."
Aku mencengkeram bagian depan bajunya. Pelukan itu tidak menghentikan gemetar, tetapi memberiku sesuatu yang tetap ketika seluruh dunia terasa bergerak.
POV Bram
Sekar hidup dan sadar.
Aku mengulang fakta itu sambil menahan tubuhnya. Jika tadi terlambat setengah detik, jika kakinya masih tersangkut, jika kuku kuda turun sedikit lebih dekat, semua kemungkinan lain terlalu mengerikan untuk diselesaikan dalam pikiran.
Seorang pekerja mendekat dan mengatakan kuda sudah berhasil ditenangkan. Dokter hewan sedang memeriksanya di area terbuka. Aku menyerahkan Sekar kepada petugas medis setelah memastikan Deni yang baru kuhubungi sedang menuju klinik.
"Saya mau lihat pelananya," kataku.
Manajer arena mengangguk cepat. "Kami sudah mengamankan semua perlengkapan, Pak."
"Tidak ada yang menyentuh tanpa dokumentasi. Rekam posisi awal, panggil polisi, dan simpan daftar semua orang yang menangani kuda sejak pagi."
"Polisi, Pak? Mungkin kudanya hanya kaget."
"Kuda tenang berubah saat berat penunggang menekan pelana. Itu bukan suara biasa."
Kami berjalan ke tempat pelana diletakkan di atas terpal bersih. Seorang pekerja memotret setiap sisi dengan ponsel kantor. Dokter hewan menunjukkan luka kecil di bawah area pelana, cukup untuk menjelaskan rasa sakit tajam yang memicu kepanikan.
Dokter hewan lebih dulu mencatat kondisi kuda, mengambil foto luka dengan skala pengukur, dan memberikan obat penenang ringan serta perawatan luka. Aku meminta manajer memastikan hewan itu tidak dipakai kembali sampai dokter menyatakan pulih. Biaya perawatannya menjadi tanggung jawab arena sementara penyelidikan berjalan.
Rekaman kamera dari lorong kandang mulai disalin ke dua media penyimpanan. Satu tetap di arena, satu akan diserahkan kepada polisi dengan berita acara. Daftar petugas, waktu pemeriksaan, dan nomor pelana dicatat agar benda bukti tidak berpindah tanpa jejak.
Aku memakai sarung tangan sekali pakai sebelum menyentuh apa pun.
Lapisan luar terlihat normal. Ketika bantalan dibuka perlahan, sebuah benda logam muncul dari jahitan yang dilonggarkan. Ujungnya memiliki kait kecil dan noda darah segar dari kulit kuda.
Manajer arena memucat.
"Ini bukan bagian perlengkapan kami."
"Masukkan ke kantong bukti setelah polisi melihat posisi aslinya. Jangan dibersihkan."
Aku teringat petugas yang berdiri dekat Sekar sebelum dia naik.
"Siapa yang memeriksa pelana terakhir?"
"Pelatih dan... Sarno."
Aku melihat ke sekeliling.
Sarno berdiri jauh di dekat pintu kandang. Ketika mata kami bertemu, dia mundur satu langkah. Tangannya bergerak ke saku, lalu berhenti seolah baru sadar gerakan itu bisa terlihat.
Seorang pekerja memanggil namanya. Sarno berbalik seolah hendak masuk kandang, tetapi manajer meminta dia menunggu di area kantor. Dia menyangkal melakukan apa pun sebelum satu pertanyaan pun diajukan.
"Saya cuma pasang sabuk, Pak. Pelatih juga sudah cek. Saya nggak tahu benda itu."
"Sampaikan penjelasanmu kepada polisi," kataku. "Jangan hapus pesan, mematikan ponsel, atau meninggalkan tempat."
Aku tidak menyentuhnya. Kecurigaan bukan izin untuk menghukum seseorang di lokasi, tetapi gerakannya cukup untuk memastikan penyelidikan tidak boleh berhenti sebagai kecelakaan biasa.
"Jangan biarkan dia meninggalkan lokasi," kataku kepada manajer. "Tidak ada yang menyentuhnya. Hubungi polisi dan amankan rekaman kamera."
Lengan kiriku mulai berdenyut. Darah merembes melalui kain yang robek, tetapi rasa itu tidak sebanding dengan ketakutan yang masih memenuhi dada.
Aku menunduk pada benda logam di dalam lapisan pelana, lalu kembali mengangkat mata ke arah Sarno.