NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Atas Materai

Dia melangkah maju tanpa ragu, lalu duduk di kursi kulit kosong yang berada tepat di hadapan Adiwangsa Hadiningrat. Dia sengaja bersikap santai, menyandarkan punggungnya untuk menunjukkan bahwa dia tidak merasa terancam sedikit pun.

"Tentu saja, Tuan Hadiningrat," ujar Aris dengan nada suara yang melunak, sengaja dibuat terdengar seperti seorang polisi yang pragmatis.

"Sebagai detektif, tugas utama saya hanyalah memastikan keselamatan Nirmala. Masalah berkas tua itu... saya hanya mengamankannya agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah."

Adiwangsa mengamati Aris dengan tatapan menyelidik. Di sudut ruangan, Ajun Komisaris Hendra tampak sedikit menggeser posisinya, wajah gelisahnya perlahan berganti menjadi seringai lega.

"Oh? Jadi kau mengamankannya untukku?" tanya Adiwangsa, nada suaranya masih menyimpan kecurigaan yang kental.

"Mari kita bicara jujur, Tuan," Aris memajukan tubuhnya, menumpukan kedua sikut di atas meja marmer di antara mereka.

"Tahun 1989 ini adalah era di mana uang bisa mengubah jalannya sejarah. Saya tahu betul siapa yang memegang kendali di Kota Marunda. Menghancurkan keluarga Anda dengan berkas kusam dari tahun 1959 tidak akan menghasilkan apa-apa bagi karier saya.

Tapi, jika saya mengembalikannya langsung kepada Anda, saya rasa kita bisa saling menguntungkan.

"Adiwangsa terkekeh, suara tawanya terdengar puas. Dia bersandar pada kursi goyangnya, melirik Hendra sekilas seolah ingin memamerkan bahwa setiap orang kota pada akhirnya memiliki harga.

"Kau sangat realistis untuk ukuran seorang detektif, Aris. Lalu, di mana berkas itu sekarang?"

"Ada di tempat yang aman. Saya akan menyerahkannya secara utuh, termasuk semua catatan otopsi lama yang tersisa," jawab Aris,

matanya melirik tajam ke arah Hendra.

"Namun, saya tidak ingin ada perantara. Beberapa orang di sekeliling Anda... seperti komandan saya ini, tampaknya terlalu ceroboh sampai membiarkan saya masuk ke ruang arsip bawah tanah begitu saja.

Saya hanya ingin berurusan langsung dengan Anda, tanpa potongan komisi untuk orang lain."

Mendengar ucapan Aris, wajah Hendra seketika memerah menahan amarah.

"Aris! Jaga bicaramu!" bentak Hendra, selangkah maju dengan tangan yang siap mencabut tongkat komandonya.

Adiwangsa mengangkat satu tangannya, seketika membungkam Hendra di tempat. Penguasa tua itu kini menatap Aris dengan ketertarikan penuh, mengira sandiwara kooperatif sang detektif adalah sebuah kebenaran.

"Tenang, Hendra. Detektif Aris hanya sedang berbisnis. Jadi, Aris... apa yang kau inginkan sebagai imbalan dari dokumen masa lalu keluargaku?"

Aris menahan gejolak di dadanya. Umpannya telah dimakan, dan sekarang saatnya mengarahkan Adiwangsa menuju jebakan berikutnya.

Aris mengeluarkan selembar dokumen baru dari balik saku bagian dalam jaket kulitnya. Dokumen itu bersih, diketik rapi dengan mesin tik manual, sangat kontras dengan berkas kusam tahun 1959 yang disembunyikannya.

Dia menggeser kertas tersebut ke atas meja marmer, tepat di hadapan Adiwangsa.

"Saya tidak butuh uang tunai, Tuan Hadiningrat," kata Aris.

"Yang saya inginkan adalah Anda menandatangani surat penyerahan kembali tanah adat Desa Talas ini secara legal. Sah di mata hukum Republik Indonesia, lengkap dengan pelepasan hak guna usaha perkebunan teh milik keluarga Anda atas area kaki Gunung Kelam."

Adiwangsa menunduk, membaca baris demi baris dokumen tersebut. Matanya menyipit. "Tanah adat? Untuk apa seorang detektif kota peduli dengan tanah gersang di kaki gunung yang bahkan tidak ada di peta?"

"Ini investasi masa depan saya," jawab Aris, berbohong dengan wajah datar yang meyakinkan.

"Begitu dinasti Anda melepas tanah itu, pihak ketiga yang bekerja sama dengan saya akan membelinya untuk proyek kayu log. Nilainya jauh lebih besar daripada sekadar uang suap yang biasa Anda berikan kepada Hendra."

Hendra yang berdiri di belakang langsung mengepalkan tinju, wajahnya kian memerah karena terhina, namun dia tidak berani memotong pembicaraan di depan Adiwangsa.

Adiwangsa diam sejenak, mengetukkan jari-jarinya yang mengenakan cincin batu akik mahal ke atas meja. Baginya, melepas sebagian lahan di kaki Gunung Kelam yang sudah lama tidak produktif adalah harga yang sangat murah untuk memusnahkan bukti pembakaran lahan tahun 1959 yang bisa menghancurkan reputasi bisnisnya di tingkat nasional.

"Kau sangat licik, Aris. Aku suka caramu berpikir," Adiwangsa meraih sebuah pulpen emas dari saku jasnya. Dia membubuhkan tanda tangan tebal di atas meterai yang tertempel pada dokumen tersebut, lalu mengecapnya dengan stempel resmi keluarga Hadiningrat.

Sret. Sret. Adiwangsa menggeser kembali dokumen yang telah ditandatangani itu kepada Aris.

"Surat ini sudah sah. Sekarang, bawa dokumen 1959 itu ke sini malam ini juga. Jika kau ingkar janji, seragam polisimu tidak akan bisa menyelamatkan nyawamu."

Aris mengambil surat penyerahan tanah tersebut, meskipun di dalam hatinya dia merasakan kelegaan luar biasa. Tahap pertama rencananya berhasil. Dia kini memegang bukti legalitas yang diinginkan oleh warga Desa Talas untuk membebaskan Januar.

Namun, saat Aris berdiri dan bersiap untuk melangkah keluar dari ruangan, pintu ganda ruang kerja Adiwangsa mendadak terbuka. Seorang penjaga rumah berlari masuk dengan napas terengah-engah.

"Tuan Besar! Maaf mengganggu," ucap penjaga itu terbata-bata. "Gadis kecil... Non Nirmala... dia hilang lagi dari rumah aman kepolisian! Dan ada pesan aneh tertinggal di sana!"

Aris seketika tertegun. Firasat buruk langsung menghantam kepalanya.

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!