Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 — AYAH YANG MENGHINDAR
Deru mesin mobil city car milik Aurel membelah jalanan Kota Arunika yang masih dibasahi sisa hujan semalam. Tangan Aurel mencengkeram lingkar kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam kepalanya, badai amarah, kekecewaan, dan rasa penasaran berputar-putar tanpa henti.
Hanya butuh waktu setengah jam bagi Aurel untuk menempuh perjalanan dari kompleks pesantren menuju kantor pusat PT Nathan Karya—gedung berlantai lima berdesain modern yang menjulang di kawasan bisnis utama kota.
Aurel melangkah melewati pintu kaca otomatis lobi kantor tanpa memedulikan sapaan hormat dari para staf security atau resepsionis yang kaget melihat putri pemilik perusahaan itu datang dengan raut wajah memerah penuh amarah.
Ia langsung menuju lift eksekutif, menaiki lantai teratas, dan mendorong pintu kayu mahoni ruang kerja ayahnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Brak!
Hamdan Nathan yang sedang duduk menatap dokumen di balik meja kaca mahoninya tersentak kaget. Pria paruh baya berjas abu-abu gelap itu mendongak, matanya membelalak melihat Aurel berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan mata yang berkaca-kaca.
"Aurel?" Hamdan meletakkan penanya, dahinya berkerut cemas. "Ada apa ini? Kenapa kamu datang berantakan begini tanpa ngabarin Sekretaris Ayah?"
Aurel tidak menjawab pertanyaan itu. Ia melangkah lebar-lebar menuju meja kerja ayahnya, melempar tas bahunya ke atas kursi tamu, lalu menumpukan kedua tangannya di tepi meja jati tersebut.
Aurel menatap lurus ke dalam mata ayahnya dengan pandangan menuntut yang teramat tajam.
"Ayah kenal keluarga Rasyid sebelum aku nikah?" tembak Aurel langsung tanpa basa-basi.
Ruangan berpendingin udara yang luas itu seketika dibalut keheningan yang mencekik.
Gerakan tangan Hamdan yang hendak meraih gelas air minum mendadak membeku di udara. Raut tegas yang biasanya mendominasi wajah pengusaha sukses itu luntur dalam hitungan detik—berubah menjadi bayangan rasa kaget dan bersalah yang amat dalam.
Hamdan menundukkan pandangannya pelan, menghela napas panjang yang sarat akan beban berat.
Ia diam.
Namun keheningan itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan jawaban yang dicari Aurel.
Aurel tertawa tipis—sebuah tawa kering penuh kekecewaan yang menyayat hati. "Kenapa Ayah diam? Ayah biasanya paling pinter nyusun kata-kata buat pamer atau merintah aku. Kenapa sekarang malah kaku kayak batu?"
Hamdan meremas jemari tangannya di atas meja, lalu perlahan mendongak menatap putri tunggalnya.
"Karena ini bukan sesuatu yang mudah diceritakan, Aurel..." bisik Hamdan. Suaranya terdengar jauh lebih tua dan lelah daripada biasanya.
"Kalau begitu ceritakan sekarang!" sergah Aurel, suaranya naik satu oktav menembus keheningan ruangan. "Aku bukan anak kecil umur sembilan tahun yang bisa Ayah bodohi! Aku nemuin surat Ibu dari dua belas tahun lalu di rumah lama, Yah! Surat yang ditulis Ibu buat Kiai Abdul!"
Hamdan tersentak pelan. Matanya membelalak lebar mendengar kata surat Ibu. Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya pada kursi eksekutifnya, memejamkan mata rapat-rapat seraya memegang pelipisnya.
"Kamu... sudah membaca surat itu?" tanya Hamdan pelan.
"Udah!" jawab Aurel dengan air mata yang mulai menetas melintasi pipinya. "Ibu bilang keluarga Faruqi nyelametin keluarga kita dari musibah besar. Ibu bilang aku diserahkan buat disatukan sama Rasyid sejak aku masih kecil! Ayah sebenarnya nyembunyiin apa dari aku?!"
Hamdan menghembuskan napas berat. Pria itu berdiri dari kursinya, berjalan menuju jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan sudut kota dari ketinggian.
"Ayah dan Kiai Abdul sudah saling mengenal selama puluhan tahun, Aurel," tutur Hamdan seraya menatap luar jendela. Suaranya terdengar datar, berusaha mengendalikan emosi di dadanya. "Dulu... sewaktu Ayah baru merintis perusahaan ini, Kiai Abdul dan keluarga pesantren adalah pihak yang banyak membantu Ayah secara finansial dan relasi. Kami pernah menjalankan beberapa usaha bersama."
Aurel mengepalkan tangannya di samping paha. "Cuma itu? Cuma gara-gara usaha bersama sampai-sampai Ayah menyerahkan masa depan dan pernikahan anak Ayah sendiri?!"
Hamdan memutar tubuhnya kembali, menatap Aurel dengan raut wajah keras yang dipaksakan. "Tidak semua hal harus kamu ketahui sekarang, Aurel! Ada hal-hal rumit di masa lalu yang cukup jadi urusan Ayah dan almarhumah Ibumu!"
"Lucu," bisik Aurel. Bibirnya mengukir senyum pahit yang dipenuhi rasa sakit batin yang mendalam. "Lucu banget. Semua orang bilang begitu ke aku. Rasyid bilang begitu, Ayah bilang begitu, bahkan Nadia juga bilang begitu. Kalian semua ngerasa punya hak buat ngatur hidupku tanpa perlu nganggep aku punya otak dan perasaan."
Hamdan melangkah mendekat. "Aurel, Ayah melakukan ini demi kebaikanmu—"
"Jangan bawa-bawa kata kebaikan!" potong Aurel tajam, menyapu air mata di pipinya dengan kasar. "Ayah dari dulu selalu bilang kalau perjodohan ini buat 'menjinakkan' aku, buat bikin aku jadi cewek bener. Padahal kenyataannya... Ayah cuma lagi ngelunasin janji hutang masa lalu Ayah sendiri!"
Hamdan terpaku di tempatnya. Kalimat itu menghantam dadanya seperti pukulan keras.
Aurel menyambar tas bahunya dari atas kursi. Ia menatap ayahnya sekali lagi dengan pandangan penuh rasa asing yang teramat tebal.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurel merasa bahwa bukan hanya pernikahannya yang dipaksakan.
Melainkan seluruh jalan hidupnya... seluruh pilihan yang selama ini ia kira miliknya sendiri... ternyata hanyalah sebuah skenario yang telah ditulis oleh orang-orang di sekitarnya bertahun-tahun sebelum ia sanggup memahami dunia.
"Terima kasih ya, Yah," bisik Aurel serak sebelum membalikkan badan. "Makasih udah bikin aku ngerasa kayak barang piutang yang dipindah tanganin."
Aurel melangkah keluar dari ruang kerja itu dan membanting pintunya keras-keras, meninggalkan Hamdan Nathan yang berdiri sendirian di tengah ruangan megah yang mendadak terasa begitu hampa dan dingin.