Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran Sosok Pocong Merah
"HMMMMRRHHH...."
Sosok merah menyala dengan wajah hitam legam, berdiri tidak jauh dari Bejo yang duduk. Orang yang pertama melihat sudah pingsan di tengah jalan bersama dua temannya, kini Bejo berusaha tetap tenang.
"HMMMMRRHHH...."
"Hahem.. hahem.. aja lu. Kenapa lu muncul?,"
Walaupun Bejo merasakan takut dia tetap berusaha tenang.
"Aku tau kamu sosok yang tadi, apa tujuanmu menampakkan diri seperti itu!!,"
Teman-teman Bejo yang berada di dalam rumah, terdiam melihat keberanian Bejo. Mereka semua tak menyangka Bejo tetap tenang kondisi nyata di depan matanya.
Sosok pocong merah, kini semakin memperjelas kehadirannya. Dengan wajah di perlihatkan, penuh akan dendam dan kebencian nyata. Bejo melirik sesekali, perasaan takutnya perlahan datang dengan penampakan pocong merah yang semakin jelas.
"Aku tidak tau apa maksudmu sebenarnya, tapi jangan melakukan hal seperti kepada kampungku ini. Jika urusan duniawi belum selesai datanglah kekeluargamu sendiri, jangan menampakkan diri dengan wujud serammu."
Suara berat menahan rasa takut, Bejo berhenti sejenak. Ia merasakan bau busuk yang hampir sama dengan makam sebelumnya, tidak hanya itu saja. Aroma anyir darah menyengat terasa isi perut ingin keluar semua dari dalam.
"HMMMMRRHHH......"
KLAP!..
Geraman terlahir bersamaan hilangnya sosok pocong merah, menyisakan desiran angin dengan kabut tipis mengepul. Aroma busuk dan anyir darah masih menyengat dalam hidung, Bejo berdoa sejenak untuk sosok pocong sebelumnya.
"Mas?," panggil Intan.
"Iya."
"Kenapa mas gak takut?,"
"Sebenarnya aku takut tapi aku juga penasaran karena sosok pocong tadi sudah memanggilku berkali-kali," jawab Bejo.
Teman-teman Bejo yang mendengarkan itu saling pandang kebingungan, mereka yang tidak begitu jelas melihatnya di buat penasaran walaupun takut.
Dinda dan Intan di ikuti yang lainnya kembali duduk di teras rumah Bejo, lalu mereka berdoa bersama sebelum melanjutkan acara.
"Gila.. lu Jo, berani juga sama begituan!!," seru Jarot.
"Bukannya itu tadi yang mengejarmu?," balas bertanya Bejo.
"Lah iya, baru sadar aku Jo. Memang itu tadi yang mengejarku dan Dirga," jawab Jarot.
"Sebenarnya apa yang diinginkan sosok itu Jo?," tanya Mbak Mala.
"Aku tidak tau mbak. Aku tanyain cuman hmm.. doang tadi," jawab Bejo.
"Kalian lihat sepenuhnya apa samar-samar?," tanya Bejo.
"Aku jelas banget Jo, tapi tipis sekali."
Semua teman-teman Bejo berngantian menjawabnya, cukup aneh bagi Bejo yang ternyata Dika melihat sosok itu hampir sama sepertinya. Apa ada hubungan dengan Dika!! Kebingungan nyata membuat Bejo terdiam sejenak.
Rasa laparnya menghilang dengan banyak pertanyaan dalam benaknya, mereka tetap melanjutkan namun Bejo teringat seseorang yang tadi pingsan di jalan.
"Astaga.. bantuin mereka yang tadi pingsan," seru Bejo, seketika berdiri ketika mengingat itu.
Bejo memukul kentongan, memanggil banyak warga setelah kejadian. Semua orang merasa heran dan bingung, ada yang percaya ada yang tidak percaya sama sekali tapi semua bukti sudah ada di depan mereka.
Suasana semakin gaduh dengan gempar sosok pocong merah yang mulai di bicarakan.
"Mas.. aku takut kalau mau pulang," ucap Intan.
"Kalau kamu takut, besok aja pulangnya," balas Bejo.
"Terus dua temanku gimana? Mereka sudah di cari orang tuanya,"
"Ya kamu bilang aja tinggal di rumah karena pulang kemaleman,"
"Devina, Rani kalian gak papakan tidur disini?"
"Hmm.. gak papa kok, asal ada kamu sudah di izinin sama ayah bunda,"
"Iya tuh, kamu tenang aja."
Intan menghela napasnya, lalu ia duduk lebih tenang kembali. Sedangkan Bejo pergi bersama Dinda untuk melapor ke RT karena ada teman-teman mereka yang hendak menginap, untungnya di izinkan karena mereka juga melihat sosok pocong jadi takut ketika hendak pulang.
Jarot, Dirga, Salsa, Clara, Dinda, Intan, Devina dan Rani kini masuk kedalam rumah Bejo. Dinda sebenarnya mau pulang tapi tidak jadi, dia ingin ikut menemani teman-temannya di rumah Bejo.
Jarot, Dirga dan Bejo tidur di ruang tengah, sedangkan para gadis tidur di bagi dua di kamar milik Bejo. Intan, Devina dan Rani tidur di kamar depan milik Bejo, sedangkan Dinda dan dua temannya di kamar belakang.
Sebenarnya ada lagi kamar satu tapi penuh dengan pakaian yang belum di lipat oleh Bejo.
Bejo tindak bisa tidur, ia terbayang-bayang sosok pocong merah. Ketik matanya terpejam selalu ada sosok itu, membuat Bejo kini duduk bermain ponselnya. Sedangkan teman-temannya sudah terlelap dalam tidurnya.
"Mas?,"
"Jo?,"
Dengan kompak Intan dan Dinda keluar bersamaan, lalu memanggil Bejo.
"Kompak bener kalian berdua," ucap Bejo.
Intan dan Dinda tertawa kecil lalu duduk menghampirinya.
"Anterin pipis Jo, takut aku mau kebelakang,"
"Aku juga Jo, takut kalau sendirian,"
"Kan kalian sudah berdua, kenapa aku juga yang harus nemenin?,"
"TAKUT.."
Dengan kompak mereka berkata, membuat Bejo terdiam penuh keterkejutan.
"Iya sudah ayok. Kalian masuk berdua langsung aja kalau takut, aku tunggu di depan kamar mandi," ucap Bejo.
"Nah gitu dong."
Bejo berjalan terlebih dahulu, dia menyalakan lampu belakang. Di ikuti Dinda dan Intan di belakangnya, lalu mereka masuk kedalam kamar. Bejo menyalakan rokoknya, dia berjalan ke pintu belakang yang ternyata belum di tutup.
Setelah selesai menutup Bejo, berjalan ke rak besar miliknya.
"Mau ngapain Mas?," tanya Intan.
"Laper lagi aku," jawab Bejo.
"Mau di masakin apa gimana?,"
"Makan ayam bakar sisa tadi aja,"
"Intan?,"
"Hmmm.."
"Bikin teh hangat yuk, dingin bener disini," ajak Dinda.
"Boleh. Mas jangan kedepan dulu ya, temenin kita,"
"Iya. Bikin aja, aku mau makan ayam bakar disini kok,"
Intan dan Dinda masak air, lalu mereka duduk menunggu air siap. Bejo makan dengan lahap, namun Bejo merasakan ada yang memperhatikan mereka. Tangan kiri Bejo mengambil satu genggam garam lalu melemparkan acak, setelah itu ia melanjutkan makan.
"Sepertinya aku harus cari bambu buat pagar baru di belakang, terus kasi lampu biar terang" dalam hati Bejo.
Setelah makan, 'Bejo kedepan dengan Intan dan Dinda, lalu mereka duduk bersama.
"Sudah jam dua, kenapa mas belum tidur?," tanya Intan.
"Gak bisa tidur aku,"
"Mau aku temenin?,"
"Ehh intan jangan ngaco kamu, belum apa-apa main temenin aja," ucap Dinda.
"Hhehe.. bercanda kok. Dah aku mau lanjut tidur lagi."
Intan kembali masuk kedalam kamar, di ikuti Dinda yang jug masuk kedalam kamar. Bejo tetap tidak bisa tidur, hingga dia terlelap tanpa rasa kantuknya.
Sekeliling rumah Bejo seperti ada sesuatu yang mengancamnya, tidak tau apa tapi terasa penekan itu nyata. Namun ancaman itu seperti ada yang menahannya, entah apa yang sebenarnya terjadi.
Seperti ada pertempuran hebat membuat udara dingin semakin hangat. Bejo sudah terlelap dalam tidurnya, yang tadinya kesulitan untuk tidur kini ia sudah terlelap.
💢. Info Saja.
Jangan lupa follow tik tok saya. D.P. Auzora. Karena disana akan ada pemberitahuan soal kelanjutan setiap novel saya. Terima Kasih. 🙏😊.
💢.