NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI AURORA: JERAT GAIRAH LIAR SANG TIRAN KAELEN AZRAEL

TRANSMIGRASI AURORA: JERAT GAIRAH LIAR SANG TIRAN KAELEN AZRAEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: namice

Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.

​Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!

​Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.​

Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
​Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANGKAR EMAS DAN AMARAH SANG TIRAN

​Pagi hari menyingsing dengan seberkas cahaya matahari yang menerobos celah gorden mewah kamar tidur rahasia di balik ruang kerja Kaelen Azrael.

​Saat kesadarannya perlahan kembali, hal pertama yang dirasakan oleh Valkyrae adalah tubuhnya yang terasa remuk redam. Setiap jengkal ototnya kaku, dan rasa perih yang samar di punggungnya berpadu dengan rasa pegal yang luar biasa di bagian pinggang serta pahanya. Sisa-sisa efek zat penawar otot militer yang disuntikkan Kaelen semalam masih menyisakan rasa lemas yang membuat Rae sulit menggerakkan jemari tangannya.

​"Ugh..." Rae mengerang lirih. Suaranya terdengar sangat serak dan tipis, habis karena maraton sepuluh ronde gila semalam.

​Begitu dia mencoba menggeser tubuhnya, Rae langsung menyadari bahwa dia dikunci sepenuhnya. Sebuah lengan kekar yang dipenuhi otot keras melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuh polos Rae tanpa jarak ke dalam dekapan hangat dada bidang seseorang.

​Rae menoleh dengan kaku dan mendapati wajah tampan bak dewa milik Kaelen Azrael berada tepat beberapa sentimeter di depan wajahnya. Pria itu masih memejamkan mata, namun pelukannya di tubuh Rae sama sekali tidak melonggar—seolah-olah pria itu sedang mendekap harta karun paling berharga yang tak boleh lepas sedetik pun.

​Memori tentang maraton gila semalam langsung berputar di otak Rae. Dari sofa, meja kaca, dinding, hingga berakhir di ranjang ini.

​Bajingan gila! Rae mengumpat habis-habisan dalam hati, wajah cantiknya memerah antara perpaduan rasa malu dan amarah yang mendidih. Rencanaku berantakan total! Di drama tidak pernah diceritakan kalau tiran impoten ini bisa berubah jadi monster kelaparan seperti ini begitu melihatku!

​Namun, di tengah kekesalannya, Rae mengingat ucapan Kaelen di akhir ronde kesepuluh semalam. Pria itu bilang dia mengizinkan Rae keluar dari mansion dan beraktivitas seperti biasa di luar sana.

​Cih, dia pikir dia bisa menjinakkan aku dengan tubuhnya? batin Rae miring. Izin keluar itu adalah kesalahan terbesarmu, Kaelen. Begitu aku melangkah keluar dari mansion ini, aku akan menemui Cyra, mengamankan seluruh aset perusahaan rahasiaku, dan menghilang dari radarmu sebersih mungkin! Jiwa hacker-ku tidak akan bisa kau lacak!

​Rae mencoba melepaskan tangan Kaelen dari pinggangnya dengan sangat hati-hati. Namun, baru saja Rae menggeser jemari pria itu, cengkeraman Kaelen justru mendadak mengencang dengan kasar, menariknya kembali hingga punggung Rae menempel rapat pada dada telanjang Kaelen.

​"Mau kabur ke mana, Istriku?"

​Suara berat, rendah, dan serak khas orang baru bangun tidur itu berbisik tepat di daun telinga Rae, mengirimkan sensasi merinding yang pekat. Mata merah Kaelen terbuka perlahan, memancarkan kilat posesif ekstrem yang langsung mengunci pergerakan Rae.

​Rae menggertakkan giginya, mematikan rasa takutnya demi harga diri bar-barnya. "Lepaskan aku, Kaelen! Kau sudah mendapatkan tubuhku semalaman, sekarang singkirkan tanganmu!" gertak Rae dengan suara serak.

​Bukannya marah karena dibentak, sudut bibir Kaelen justru terangkat membentuk senyuman miring yang tiran. Tangan kanannya naik, jemari panjangnya yang kasar mengelus rahang murni Rae dengan sentuhan yang posesif.

​"Menolakku setelah apa yang kita lakukan semalaman, hm?" Kaelen mendekatkan wajahnya, menghirup aroma leher Rae yang kini dipenuhi tanda merah buatannya. "Kau yang membangkitkan singa yang tidur di dalam diriku, Aletheia. Semalam aku bilang kau boleh beraktivitas di luar, tapi bukan berarti kau bisa pergi dari pelukanku di pagi hari."

​"Kita menikah hanya karena formalitas! Kau mencintai adik angkatmu, dan aku tidak menginginkan hartamu sepeser pun! Kenapa kau tidak lepaskan saja aku?!" teriak Rae frustrasi.

​Mendengar kata lepaskan, tatapan mata Kaelen langsung berubah sedingin es. Pikirannya, gairahnya, dan seluruh sel tubuhnya yang semalam terpuaskan sekarang menolak keras kata perpisahan.

​"Sudah kukatakan semalam, tidak ada kata cerai di dalam kamus hidupku," desis Kaelen dingin, aura tirannya kembali menguar hebat. "Kau boleh beraktivitas di luar, tapi setiap langkahmu akan berada di bawah pengawasan ratusan pasukanku. Jika kau berani melarikan diri dari radarku... aku bersumpah kau tidak akan pernah bisa turun dari ranjang ini lagi seumur hidupmu."

​Kaelen bangkit dari ranjang, menampilkan tubuh atletisnya yang sempurna dengan tato gelap dunia bawah yang menghiasi kulitnya. Namun, saat Kaelen hendak melangkah, matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di punggung mulus Rae yang terekspos karena selimutnya melorot.

​Langkah Kaelen terhenti total. Mata merahnya mendadak menyipit tajam, berkilat dengan aura membunuh yang luar biasa pekat hingga membuat suhu ruangan terasa turun drastis ke titik beku.

​Di punggung putih porselen milik Rae yang semalam dia klaim habis-habisan, berjejer garis-garis merah kecokelatan yang mulai mengering. Itu adalah bekas luka cambuk yang sangat jelas—terlihat kontras dengan tanda merah keintiman yang dibuat Kaelen.

​Kaelen kembali mendekati ranjang dengan gerakan secepat predator, mencengkeram bahu Rae dan membalikkan tubuh wanita itu dengan paksa untuk memperjelas pandangannya.

​"Siapa yang melakukan ini?!" suara Kaelen berubah menjadi sangat rendah, bergetar oleh amarah yang siap meledak menghancurkan dunia. Sebagai pria posesif ekstrem, dia menganggap tubuh Rae adalah hak milik mutlaknya. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang boleh menyentuh, melukai, atau mencatatkan luka pada miliknya!

​Rae meringis pelan karena bahunya dicengkeram, tapi dia mendengus sinis, menatap mata merah maut itu dengan berani. "Kenapa? Bukankah kau juga berniat mencambuk ku di sel bawah tanah suatu hari nanti jika jalang kecilmu itu terluka, Tuan Azrael?" cibir Rae, menyindir plot asli drama.

​Kaelen tidak memedulikan sindiran aneh Rae. Dia langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh Rae kembali, lalu berbalik mengambil jubah mandinya dengan gerakan kilat. Aura di sekelilingnya saat ini sudah berubah menjadi badai pembantaian yang mengerikan.

​"Tetap di tempat tidur. Jangan berani-berani menginjakkan kakimu di lantai sebelum aku kembali," perintah Kaelen mutlak dengan nada baritonnya yang tidak bisa dibantah, sebelum melangkah keluar kamar dengan langkah lebar.

​Di luar kamar tidur rahasia, dua orang tangan kanan Kaelen yang merupakan pengawal elit dunia bawah langsung berlutut di lantai dengan tubuh gemetar ketakutan melihat kemarahan sang tiran yang meledak di pagi hari.

​"Cari tahu siapa yang berani menyentuh atau melukai Aletheia selama enam bulan aku pergi," perintah Kaelen, suaranya sedingin es dari kutub utara namun sarat akan titah kematian. "Jika itu perbuatan keluarga Elixir... bawa kepala mereka ke hadapanku sebelum matahari terbenam!"

​"Baik, Tuan Besar!" Kedua pengawal itu langsung pergi secepat kilat untuk melaksanakan perintah maut tersebut.

​Kaelen mengepalkan jabat tangannya hingga terdengar bunyi kertakan tulang yang mengerikan di lorong sunyi itu. Dia tidak peduli perubahan apa yang terjadi pada istrinya hingga menjadi begitu berani, bar-bar, dan sangat cantik bagai dewi. Yang dia tahu pasti, Aletheia telah menyembuhkan cacat tubuhnya, dan siapa pun yang berani merusak mainan berharga miliknya, harus membayar dengan nyawa mereka!

1
Nur Janah
suka ceritanya.....👍👍Rea tangguh n bar bar,,
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku dan suka 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
namice
🤣🤣🤣🤣 terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
Sulati Cus
sekalinya hidup🤔
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
hukuman ranjang yg extrem🤣
namice: 🤣🤣🤣... terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
astaga kebayang nggak sih 10ronde🤔 pertama melakukan alamat ...
namice: 🤣🤣🤣 terimakasih banyak ya kak baca novel ku 🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
lanjut langsung tak favorit
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku, aku sudah update satu bab lagi kak... 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!