"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Aliansi
Pak Anthony keluar dari RSUD Harapan Bangsa dua hari kemudian.
Ia tidak keluar seperti pasien kaya yang ingin pamer kekuasaan. Tidak ada karpet, tidak ada rombongan besar, tidak ada kamera. Hanya kursi roda, dua pengawal pribadi, satu mobil hitam, dan Rangga yang berdiri di sisi pintu dengan berkas kontrol lanjutan di tangan.
"Pak Anthony, luka operasi belum memberi izin untuk rapat panjang," kata Rangga.
Pak Anthony tersenyum tipis.
"Dokter, kalau saya menunggu badan saya pulih sempurna, orang yang mau memakan saya sudah sempat membersihkan meja."
Pak Bambang yang berdiri di samping Rangga mendengus.
"Orang kaya kalau keras kepala bahasanya selalu terdengar mahal."
"Keras kepala murah juga berbahaya, Dokter."
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, suasana di antara mereka agak ringan.
Tetapi hanya sesaat.
Di halaman rumah sakit, Pak Hendra sudah menunggu. Wajah direktur itu tidak kalah lelah dari para dokter jaga. Serangan obat di ruang operasi membuat seluruh rumah sakit berubah. Akses diperketat. Vendor diperiksa. Setiap pintu kritis seperti punya mata baru.
Pak Anthony menoleh padanya.
"Pak Direktur, rumah sakit Anda menyelamatkan nyawa saya dua kali. Saya tidak akan lupa."
Pak Hendra menjawab formal, "Yang menyelamatkan Bapak adalah tim medis. Rumah sakit hanya menjalankan kewajiban."
"Justru karena Anda menyebutnya kewajiban, saya makin ingin membayar utang."
Rangga tahu kalimat itu bukan soal uang pribadi.
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di rumah Pak Anthony.
Rumah itu luas, tetapi tidak ramai. Setelah pengkhianatan Pak Robert, banyak staf lama dipindahkan, akses keamanan diganti, dan setiap tamu masuk lewat pemeriksaan dua lapis. Di ruang tengah, meja panjang telah disiapkan. Di atasnya ada map hukum, tablet, rancangan perjanjian distribusi, dan daftar jaringan apotek serta rumah sakit yang selama ini berada di bawah kendali PT Tirta Medika Jaya.
Kevin datang dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan campuran gugup dan bersemangat.
Ia menarik Rangga ke samping dan berbisik, "Gue biasanya negosiasi bahan baku dan izin produksi. Ini langsung jaringan nasional. Jantung gue kayak mau ikut operasi."
"Kalau pingsan, cari dokter sendiri."
"Bro, lu dokternya."
"Hari ini gue pihak yang harus tanda tangan."
Kevin menatapnya.
Lalu keduanya tertawa pendek.
Tawa itu berhenti ketika Pak Anthony masuk.
Ia berjalan perlahan dengan tongkat ringan dan didampingi seorang pengawal. Meski dokter melarangnya berdiri terlalu lama, pria itu memilih kursi kepala meja. Ia menurunkan tubuh dengan sikap orang yang sedang mengambil kembali kendali atas hidupnya.
"Kita mulai," katanya.
Tim hukum membuka dokumen.
Dokumen itu mewajibkan PT Tirta Medika Jaya menyediakan jaringan distribusi nasional bagi Trombosin Plus dan Serum RegenoStem dengan prioritas rumah sakit publik serta pasien kritis. Kendali harga tetap berada pada perusahaan Rangga dan Kevin, sedangkan seluruh data distribusi dibuka kepada audit independen untuk mencegah markup, paket paksa, dan penahanan stok.
Pak Anthony membaca poin itu cukup lama.
"Ini syarat Anda?" tanyanya kepada Rangga.
"Iya."
"Biasanya pemilik formula meminta royalti lebih tinggi."
"Saya meminta obatnya sampai ke pasien yang membutuhkan."
Kevin menambahkan, lebih tajam, "Dan kami tidak mau perusahaan kami berubah jadi versi lain dari orang-orang yang tadi mencoba membunuh Bapak."
Ruangan itu hening.
Seorang pengacara Pak Anthony mengangkat wajah, seolah kalimat Kevin terlalu berani.
Namun Pak Anthony justru tertawa pelan.
"Bagus. Saya lebih suka mitra yang berani bicara sebelum kontrak ditandatangani daripada yang manis lalu menusuk setelah diberi jabatan."
Nama Pak Robert tidak disebut.
Tetapi semua orang mendengarnya.
Pak Hendra, yang sejak tadi membaca daftar jaringan distribusi, akhirnya berkata, "Kalau obat ini masuk nasional lewat jalur yang bersih, banyak pasien akan tertolong. Tapi kalian juga akan memancing serangan lebih besar."
"Serangan sudah datang," kata Rangga. "Bedanya, sekarang kami punya tembok."
Pak Anthony mengetuk map dengan ujung jarinya.
"Bukan hanya tembok, Dokter Rangga. Kita buat jalan."
Ia menatap tim hukumnya.
"Masukkan klausul perlindungan RSUD Harapan Bangsa. Semua kerja sama pelatihan, donasi alat, dan suplai obat untuk kasus emergensi harus memiliki prioritas legal. Jangan beri celah bagi orang luar menuduh rumah sakit ini menerima keuntungan ilegal."
Pak Hendra menahan napas.
Ia tahu kalimat itu artinya perlindungan.
Perlindungan hukum.
Perlindungan bisnis.
Dan yang paling penting, perlindungan politik.
Kevin mengambil pena lebih dulu.
Tangannya sempat berhenti di atas kertas.
Ia memandang Rangga.
"Dulu kita mulai dari satu ruangan kecil, satu formula, satu mesin pendingin bekas."
Rangga mengingat malam-malam panjang itu. Bau reagen. Pendingin berdengung. Kevin tidur di kursi plastik dengan jaket menutup wajah. Semua terasa baru kemarin.
Sekarang di depan mereka ada jaringan nasional.
"Tanda tangan," kata Rangga. "Pasien tidak menunggu nostalgia."
Kevin menyeringai.
"Ini kenapa gue suka sekaligus kesal sama lu."
Pena bergerak di atas kertas.
Kevin menandatangani kontrak pertama, disusul perwakilan PT Tirta Medika Jaya. Pak Anthony membubuhkan tanda tangan terakhir pada dokumen perlindungan suplai rumah sakit publik.
Saat pena terakhir terangkat, Rangga mendengar suara yang sudah beberapa hari diam.
【Misi khusus selesai.】
【Pasien Anthony Halim: trauma multipel, kanker lambung, dan krisis obat intraoperatif telah melewati fase kritis.】
【Tingkat penyelesaian komprehensif: 88%.】
【Hadiah tunai sebesar Rp 3.000.000.000 telah ditransfer ke rekening pribadi Anda melalui Yayasan Dana Abadi Cakrawala.】
Ponsel Rangga bergetar beberapa detik kemudian.
Notifikasi masuk.
Saldo rekeningnya bertambah seperti angka yang dulu hanya mungkin ia lihat di berita bisnis.
Rp 3.000.000.000.
Ia menatap layar itu sebentar, lalu menguncinya.
Pak Bambang, yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya, berbisik, "Kalau ekspresimu begitu terus, orang tidak akan percaya kamu baru dapat uang besar."
"Saya sedang menghitung cicilan pajak di kepala."
"Bohong. Kamu sedang mikir apakah bisa tetap makan nasi warung setelah punya miliaran."
Rangga akhirnya tertawa kecil.
Di sisi lain ruangan, tim hukum Pak Anthony membuka map lain.
"Untuk perkara Robert Tanuwijaya," kata salah satu pengacara, "laporan pidana sudah siap diajukan dengan dasar percobaan pembunuhan, manipulasi obat, dan penyalahgunaan akses perusahaan. Pembekuan kewenangan internal sudah aktif."
Pak Anthony mengangguk.
"Jangan hanya kejar dia sebagai keponakan saya. Kejar dia sebagai orang yang mencoba membunuh pasien."
Kata pasien membuat Rangga memandangnya.
Pak Anthony tidak lagi menempatkan dirinya sebagai pemilik perusahaan yang dikhianati.
Ia menempatkan dirinya sebagai korban di meja operasi.
Itu jauh lebih kuat.
Malam itu, setelah semua dokumen selesai, Rangga berdiri di sebuah unit apartemen baru di Kota Cakrawala.
Belum ada banyak barang. Hanya sofa sederhana, meja kecil, beberapa kotak pindahan, dan kontrak pembelian yang baru ia tandatangani sore tadi. Sebagian hadiah dari sistem berubah menjadi tempat tinggal yang bukan lagi kamar kos sempit dengan dinding tipis dan kipas yang berisik.
Dari jendela tinggi, Kota Cakrawala terlihat seperti lautan lampu.
Rangga ingat kamar kosnya.
Rp 800.000 per bulan.
Kasur tipis.
Lemari yang pintunya miring.
Malam ketika ia menghitung sisa uang sambil bertanya apakah bulan depan masih bisa makan cukup.
Kini saldo rekeningnya, setelah hadiah masuk dan uang muka apartemen keluar, masih berada di angka yang dulu terasa tidak manusiawi baginya.
Tetapi ia tidak tersenyum lama.
Ponselnya menyala.
Pesan dari Pak Hendra muncul di layar.
`Dokter Rangga, pemberitahuan audit mendadak dari dinas provinsi baru masuk. Besok pagi mereka datang.`
Pesan kedua menyusul.
`Pak Santoso bergerak.`
Rangga menatap lampu kota di balik kaca.
Di bawah sana, jalan-jalan tampak tenang.
Tetapi perang baru saja masuk lewat pintu administrasi.