Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bidadari
Bel istirahat berbunyi nyaring, memicu sorak lega dari seisi kelas yang sejak tadi menahan kantuk. Di barisan tengah, Albiru segera bangkit bersama Gerry dan beberapa temannya, menenteng bola basket menuju lapangan luar dengan gaya santai yang selalu mengundang perhatian siswi-siswi di koridor.
Sementara itu, di sudut belakang kelas, Dania menoleh ragu ke arah Ellea. Ia meremas jemarinya pelan sebelum akhirnya memberanikan diri mengajak teman barunya tersebut.
"El, kita ke kantin, yuk? Di sana banyak makanan enak, lho," ajak Dania, seulas senyum tipis terbit di bibirnya.
Akhirnya, setelah hampir tiga tahun berjalan sendirian di sekolah ini, Dania merasa memiliki teman yang tulus. Sebagai siswi yang kerap dicap 'cupu' karena berkacamata tebal dan pendiam, tak jarang Dania menjadi sasaran empuk perundungan dari murid-murid dominan seperti Sandra.
"Oh, ya?" ujar Ellea lembut. "Boleh, yuk. Aku juga mau beli minum."
Sambil berjalan menyusuri koridor yang mulai ramai, Dania mencuri pandang pada pakaian longgar dan cadar hitam yang dikenakan Ellea. Rasa penasaran yang sejak tadi dipendamnya kini tak lagi bisa dibendung.
"Ngomong-ngomong, El ... kamu udah punya pacar belum? Terus ... maaf banget nih kalau kelancangan, kamu nggak merasa panas ya memakai pakaian tertutup seperti itu di sekolah?" tanya Dania hati-hati.
Ellea menoleh, matanya melengkung jenaka di balik cadar. "Tidak kok. Lagipula, hawa panas di dunia ini belum seberapa kalau dibandingkan dengan panasnya api neraka."
Jleb!
Ucapan santai namun menohok itu seketika membuat Dania terdiam di tempat. Langkah kakinya bahkan sempat tertahan sejenak, mencerna untaian kalimat yang baru saja didengarnya.
Menyadari perubahan ekspresi teman barunya yang mendadak kaku, Ellea buru-buru menyentuh lengan Dania dengan perasaan tidak enak. "Eh, maaf ya, Dania. Ucapan aku tadi menyinggung perasaan kamu, ya? Maaf banget, anggap saja aku tidak pernah bicara seperti itu."
Dania mengerjapkan mata, lalu terkekeh canggung untuk mencairkan suasana. "Eh, enggak apa-apa kok, El! Santai aja. Aku cuma agak kaget, tapi dipikir-pikir ada benernya juga sih."
Setibanya di kantin, atensi sebagian besar siswa yang sedang mengantre makanan langsung tersedot pada sosok Ellea. Pakaian syar'i dan cadar hitamnya terlihat sangat kontras di tengah kerumunan seragam putih abu-abu yang ketat. Bisik-bisik miring mulai terdengar dari beberapa sudut meja, namun Ellea tetap melangkah dengan tenang seolah sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan asing tersebut.
"Kak El!!"
Sebuah teriakan melengking memecah keriuhan kantin. Ellea mengernyitkan mata, mengenali suara cempreng yang sangat familier di telinganya. Dari meja sudut di bawah pohon rindang, Alisa, adik iparnya yang masih duduk di kelas sepuluh tengah melambaikan tangan dengan heboh.
Ellea dan Dania pun menghampiri meja tersebut. Begitu mereka duduk, Alisa langsung menyenggol lengan Ellea dengan jahil. "Cie, udah dapet teman baru! Kak Dania, titip kakak ipar aku ya?"
Dania yang baru saja meneguk air mineral langsung tersedak. "Apa? Kakak ... ipar?"
Alisa langsung membekap mulutnya sendiri dengan mata membelalak panik. "Ups! Maksud Alisa ... Kakak sepupu! Iya, maksudnya kakak sepupu Alisa, Kak Dania!"
Mata Ellea melotot tajam dari balik cadarnya, mengirimkan sinyal peringatan keras. Adik iparnya yang satu ini benar-benar tipe orang yang sangat susah untuk menjaga rahasia besar.
Namun, kecurigaan Dania sudah telanjur terusik. "Jadi, Ellea ini kakak sepupu kamu, Al? Berarti kalian tinggal bareng? Apa? Kamu juga jadi satu rumah dong sama Albiru?"
Alisa, yang pada dasarnya gemar menggoda dan usil, malah mencondongkan tubuhnya ke depan dengan senyum penuh misteri. "Bukan cuma satu rumah, Kak Dania. Tapi satu kamar!"
"Apa?!" Dania memekik terkejut, hampir melompat dari kursi kantin hingga memancing perhatian beberapa orang di dekat mereka.
"Alisa!!" tegur Ellea dengan suara tertahan namun penuh penekanan. Jantungnya serasa mau copot mendengar kepolosan atau lebih tepatnya kekonyolan adik suaminya itu.
Melihat wajah Ellea yang tampak sangat tegang, Alisa akhirnya tidak bisa menahan tawa gelinya. "Bercanda, Kak Dania! Maksudnya, satu kamarnya sama aku di rumah. Iya 'kan, Kak El?"
Ellea mengembuskan napas kasar, mengusap dadanya pelan untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Hampir saja rahasia pernikahan mudanya dengan sang pangeran sekolah terbongkar di hari pertama ia menginjakkan kaki di sini.
Alisa menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Ellea, lalu berbisik pelan. "Kak, tadi di kelas gimana? Udah ketemu sama makhluk Tuhan paling aneh itu?"
Ellea mengangguk pelan tanpa suara.
"Gimana? Ganteng, kan, Kak Albiru?" goda Alisa lagi dengan kedipan mata yang usil.
Seketika, semburat merah merona menghiasi pipi Ellea. Beruntung, selembar kain hitam itu menyembunyikan rona malunya dengan sangat sempurna dari pandangan Alisa dan Dania.
Alisa tertawa puas melihat respons malu-malu kakak iparnya tersebut. "Tenang aja, Kak El. Kalau Kak Al nakal atau macam-macam di kelas, jewer aja kupingnya sampai merah!”
Di sudut lain kantin, rombongan siswa yang baru saja selesai bermain basket dari lapangan luar mulai berhamburan masuk dengan peluh yang membasahi dahi. Di antara mereka, ada Andra, cowok jangkung berwajah tegas dengan rambut sedikit berantakan yang dikenal sebagai cowok tertampan kedua di sekolah ini setelah Albiru. Berbeda dengan Albiru yang dingin dan arogan, Andra memiliki aura yang lebih hangat namun sangat disegani sebagai salah satu pilar tim basket sekolah.
"Ndra, lihat deh. Itu cewek baru yang tadi gue omongin di kelas sebelah. Aneh banget, kan?" kata Bayu setengah berbisik sambil mengarahkan dagunya ke meja tempat Ellea, Dania, dan Alisa sedang berkumpul.
Andra menghentikan langkahnya, menatap lurus ke arah Ellea yang tengah duduk anggun. Pakaian putih longgar dan cadar gadis itu bergerak lembut ditiup angin kantin, menciptakan kesan misterius namun teduh.
"Katanya dia anak lulusan pesantren, Ndra. Gue penasaran banget sama wajah di balik kain itu. Kita godain yuk? Siapa tahu aslinya cakep banget," ajak Bayu memprovokasi, bersiap melangkah mendekat bersama dua teman lainnya.
Namun, sebelum langkah kaki Bayu sempat menjauh, Andra langsung membentangkan lengan kekarnya, menghadang dada Bayu dengan tatapan dingin yang jarang ia tunjukkan pada teman-temannya.
"Jangan ganggu dia!" tegas Andra.
Bayu tertegun, menatap Andra dengan kening berkerut heran. "Lho, kenapa, Ndra? Biasanya juga lo santai aja kalau kita bercanda sama anak baru."
"Dia beda," jawab Andra singkat, matanya masih enggan lepas dari sosok Ellea.
Ada sesuatu dari cara duduk dan tatapan mata abu-abu gadis itu, apalagi saat berhadapan dengan Sandra di kelas tadi yang ceritanya sudah menyebar cepat lewat gosip mulut ke mulut yang membuat Andra menaruh rasa hormat yang besar.
"Dia bukan bahan bercandaan kalian. Tarik ucapan lo tentang kata 'aneh' tadi, Bay. Dia gadis yang berbeda," tambah Andra dengan nada berwibawa yang membuat teman-temannya terdiam tak berkutik.
Tidak jauh dari posisi Andra berdiri, Albiru berjalan masuk ke kantin sambil menyampirkan handuk kecil di lehernya. Langkahnya mendadak melambat saat menangkap basah arah pandangan Andra yang tertuju lurus pada meja istrinya.
Sebuah letupan emosi yang asing, sesuatu yang menyerupai rasa tidak suka dan ego yang terusik seketika bergejolak di dalam dada Albiru. Mengapa Andra harus menatap Ellea seintens itu?
Albiru melangkah menghampiri Andra, memecah keheningan di antara tim basket tersebut. "Ada apa, Ndra? Tumben lo betah berdiri di tengah jalan?”
Andra menoleh, mendapati Albiru yang menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Andra tersenyum tipis, tidak gentar sama sekali.
"Nggak ada apa-apa, Al. Cuma lagi kagum aja, ternyata hari ini sekolah kita kedatangan seorang bidadari, dia tipe cewek gue selama ini,” ungkap Andra.
Albiru mendengus sinis, melirik sekilas ke arah Ellea yang masih asyik mengobrol dengan Alisa.
"Ambil aja kalau mau!" ucap Albiru dengan kesal.