"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pagi itu, suasana di meja makan apartemen 2507 terasa lebih canggung dari biasanya.
Dua hari telah berlalu sejak insiden penyergapan oleh anak-anak OSIS, namun bagi Almeera, memori saat dirinya bersandar di dada Akram masih berputar dengan sangat jernih di kepalanya seperti video beresolusi 4K. Setiap kali ia melihat wajah cowok itu, perutnya terasa seperti diaduk-aduk oleh mixer.
Almeera mengunyah roti panggangnya dengan tatapan fokus ke arah kulkas, menolak menoleh ke kanan di mana Akram sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca sesuatu di tablet.
"Roti lo bisa bolong kalau lo pelototin terus kayak gitu," tegur Akram tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
Almeera tersedak pelan, buru-buru meminum air putihnya. "S-siapa yang melototin roti?! Gue lagi baca... kandungan gizi di botol saus!" dalihnya ngawur, padahal botol saus itu jaraknya setengah meter dari pandangannya.
Akram mematikan layar tabletnya. Ia menopang dagu dengan satu tangan, memiringkan kepalanya menatap Almeera dengan senyum miring yang selalu berhasil membuat cewek itu kesal sekaligus salah tingkah.
"Masih kepikiran soal pelukan hari Sabtu kemarin, ya?" goda Akram to the point, suaranya merendah dan penuh nada ejekan. "Udah gue tebak. Pesona gue emang bahaya buat cewek yang gampang baper kayak lo."
Wajah Almeera langsung memerah sempurna. Egonya kembali mengambil alih kemudi. Ia membanting sisa roti panggangnya ke piring.
"Baper?! Dih! Udah gue bilang gue oleng gara-gara kurang gula!" semprot Almeera sengit, mendelik tajam. "Lagian, dipeluk sama lo itu rasanya kayak dipeluk sama tiang listrik. Kaku, dingin, nggak ada enak-enaknya!"
"Masa?" Akram mengangkat sebelah alisnya. "Kalau nggak enak, kenapa telinga lo merah banget sekarang? Dan kenapa dari kemarin lo selalu buang muka tiap kali mata kita ketemu? Lo takut jatuh cinta beneran sama gue, kan?"
"SINTING!" Almeera menyambar tas ranselnya dari kursi. Ia berdiri dengan napas memburu, merutuki detak jantungnya yang berkhianat. "Mending gue jatuh cinta sama tukang cilok depan sekolah daripada sama cowok manipulatif tukang atur kayak lo! Gue berangkat duluan! Jangan ngikutin gue!"
Almeera melangkah menghentak keluar dari apartemen, membanting pintu dengan cukup keras hingga suaranya menggema di lorong.
Di ruang makan, Akram hanya tertawa pelan. Tawanya terdengar renyah di ruangan yang kembali sepi itu. Ia mengambil sisa roti panggang Almeera yang ditinggalkan di piring, lalu memakannya dengan santai.
"Gengsinya setinggi langit," gumam Akram geli. Namun senyum di bibirnya perlahan memudar. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela apartemen. Jika ia jujur pada dirinya sendiri, Akram tahu bahwa jantungnya juga berdetak tak karuan saat Almeera berada di pelukannya tempo hari.
Batas antara benci dan peduli itu kini semakin buram, dan Akram, yang selalu punya kendali atas segala hal, mulai merasa kehilangan arah.
Pukul 14.30 WIB, Ruang Ekskul Band.
"Gila, sumpah, gue nggak nyangka Pak Kepsek bakal ngabulin request kita buat manggil dia!" Nino melompat-lompat kecil di tengah ruang band sambil memeluk stand mic-nya.
Darren yang sedang menyetem gitar hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya, sementara Baim sibuk merapikan kabel amplifier.
"Emangnya siapa sih yang mau dateng? Artis ibukota?" tanya Almeera yang baru saja masuk ke ruangan, melempar tasnya ke sudut sofa. Mood-nya sudah kembali membaik setelah berhasil menghindari Akram seharian penuh di sekolah.
"Lebih dari artis ibukota, Al!" Nino menatap Almeera dengan mata berbinar. "Lo ingat kan alumni angkatan empat tahun lalu yang sekarang jadi gitaris sekaligus vokalis band indie The Ravens? Yang band-nya sering main di festival-festival musik gede itu lho!"
Mata Almeera membelalak. "Maksud lo... Kak Reyhan?!"
"Bingo!" Nino memetik jari. "Kepsek minta Kak Reyhan jadi mentor khusus buat semua band yang bakal tampil di pensi lusa. Dan hari ini dia bakal mantau latihan kita langsung!"
Jantung Almeera berdegup kencang karena excited. Reyhan Dirgantara adalah legenda di SMA Bina Bangsa. Cerdas, musisi berbakat, punya aura bad boy yang keren tapi ramah, dan yang paling penting... cowok itu adalah representasi dari cowok idaman Almeera sejak SMP.
Seseorang yang bebas, berjiwa seni, dan tidak kaku. Seratus delapan puluh derajat berbeda dari spesies Ketua OSIS bernama Akram Pradana.
"Halo, Guys."
Sebuah suara bariton yang berat dan renyah menghentikan percakapan mereka. Semua kepala menoleh ke arah pintu.
Di ambang pintu, berdirilah seorang cowok jangkung mengenakan kaos hitam polos, dibalut jaket denim belel, dan celana jins robek di bagian lutut. Rambutnya sedikit gondrong, dibiarkan berantakan dengan gaya messy look yang maskulin. Sebuah kalung rantai perak menggantung di lehernya, dan ada tato kecil berbentuk siluet gitar di pergelangan tangannya.
"Kak Reyhan!" Nino dan Baim langsung berhambur maju, melakukan toss ala anak band yang heboh.
Reyhan tertawa santai, menepuk bahu mereka berdua, lalu bersalaman dengan Darren. Matanya kemudian menyapu ruangan, dan langsung terkunci pada sosok cewek yang sedang berdiri di dekat set drum.
Senyum Reyhan mengembang. Ia melangkah melewati Nino, berjalan mendekati Almeera.
"Lo pasti Almeera, kan?" sapa Reyhan dengan suara yang luar biasa ramah, matanya menatap langsung ke mata Almeera tanpa berkedip. "Gue sering denger nama lo dari guru-guru. Katanya drummer cewek Bina Bangsa sekarang mainnya lebih sangar dari cowok."
Almeera, yang biasanya galak dan ceplas-ceplos, mendadak kicep. Wajahnya merona samar. Berdiri sedekat ini dengan idolanya ternyata sukses membuat perutnya dipenuhi kupu-kupu—kupu-kupu yang terasa berbeda dari saat ia berdebat dengan Akram.
"E-eh, iya Kak. Biasa aja kok, guru-guru aja yang lebay," jawab Almeera salah tingkah, refleks menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
"Nggak usah merendah. Gue udah lihat beberapa video cover lo di YouTube. Skill double pedal lo gila sih buat anak SMA," puji Reyhan tulus. Ia bersandar santai di badan snare drum Almeera. "Ayo, coba mainin satu lagu buat gue. Gue pengen lihat live-nya."
Sore itu, latihan berjalan dengan energi yang luar biasa. Kehadiran Reyhan membuat anak-anak NOISE bersemangat, terutama Almeera yang mengerahkan seluruh skill terbaiknya untuk membuat sang idola terkesan.
Reyhan tidak hanya menonton. Beberapa kali cowok itu mendekati set drum, berdiri tepat di belakang Almeera untuk membenarkan postur tangan gadis itu.
"Tangan kiri lo agak kaku pas fill-in ke tom-tom," bisik Reyhan, mencondongkan tubuhnya dari belakang Almeera. Tangannya yang besar dan hangat menangkup punggung tangan Almeera, memandu gerakan stik drum itu. "Bawa santai aja, Al. Biarin groove-nya ngalir dari bahu, bukan cuma dari pergelangan tangan."
Napas Reyhan menyapu tengkuk Almeera, membuat gadis itu menahan napas karena gugup. "O-oke, Kak. Kayak gini?"
"Nah, perfect," puji Reyhan dengan senyum menawan.
Namun, tawa dan suasana hangat di ruang band itu tidak berlangsung lama.
Tanpa ada yang menyadari, pintu ruang ekskul band yang sedari tadi terbuka setengah, kini didorong lebar-lebar.
Akram berdiri di ambang pintu bersama Bastian dan Heera. Niat awalnya adalah melakukan inspeksi rutin ruangan untuk laporan kebersihan jelang pensi. Namun, langkah sang Ketua OSIS seketika terhenti saat matanya menangkap pemandangan di sudut ruangan.
Mata hitam legam Akram memicing tajam. Rahangnya mengeras hingga urat di lehernya menonjol.
Di sana, ia melihat Almeera sedang tertawa lepas—tawa lepas yang sangat jarang cewek itu tunjukkan kepadanya. Dan yang membuat darah Akram mendidih hingga ke titik didih tertinggi adalah sosok cowok berjaket denim yang sedang mencondongkan tubuhnya ke arah Almeera, tangan cowok itu memegang tangan Almeera di atas stik drum.
"Kram? Kenapa brenti?" Bastian yang berjalan di belakangnya menabrak punggung Akram.
Udara di sekitar Akram mendadak berubah menjadi sedingin es. Tanpa memedulikan pertanyaan Bastian, Akram melangkah masuk ke dalam ruang band dengan aura mengintimidasi yang membuat Nino yang sedang bernyanyi langsung menghentikan suaranya.
Langkah pantofel Akram berketuk nyaring, membelah ruangan. Ia berjalan lurus ke arah set drum.
Almeera menoleh. Tawanya lenyap seketika melihat wajah Akram yang segelap awan badai.
"Latihan band, atau sesi skinship?" Suara Akram tidak berteriak, namun nadanya sedingin baja yang baru dicelup es, menusuk langsung ke gendang telinga semua orang di sana.
Reyhan menegakkan tubuhnya, melepaskan tangan Almeera. Ia menoleh menatap Akram dari atas ke bawah, lalu tersenyum santai.
"Wah, Ketua OSIS kita lagi patroli nih," sapa Reyhan tanpa rasa takut sedikit pun. Ia memasukkan sebelah tangannya ke saku jins. "Gue Reyhan, mentor band—"
"Gue nggak nanya nama lo," potong Akram cepat dan tajam, matanya menatap lurus ke mata Reyhan. "Dan setahu gue, tugas mentor itu ngasih arahan, bukan megang-megang murid perempuan sembarangan."
Heera dan Bastian di ambang pintu saling berpandangan dengan kaget. Akram biasanya selalu bersikap profesional dan sopan kepada tamu atau alumni. Mengapa sekarang ia bersikap sangat konfrontatif?
Almeera yang melihat situasi mulai memanas, buru-buru berdiri. Ia merasa malu sekaligus kesal dengan sikap Akram yang menurutnya terlalu arogan.
"Akram, apaan sih lo?!" tegur Almeera marah. "Kak Reyhan lagi ngajarin gue teknik pukulan yang bener! Pikiran lo aja yang kotor!"
Akram menoleh menatap Almeera. Matanya berkilat marah dan kecewa. Cewek ini membelanya? Cewek ini membela cowok lain di depan matanya?!
"Gue ngingetin aturan sekolah, Almeera. Jangan sampai ruang ekskul ini gue kunci permanen karena dianggap melanggar norma kedisiplinan," desis Akram dengan suara rendah yang mengancam.
Reyhan justru tertawa pelan, seolah tidak terpengaruh oleh gertakan sang Ketua OSIS. Cowok itu melangkah maju, menipiskan jarak antara dirinya dan Akram.
"Lo terlalu kaku buat anak umur tujuh belas tahun, Bro," kata Reyhan santai, menepuk bahu Akram. Akram langsung menepis tangan itu dengan kasar. "Santai aja. Kita cuma main musik. Jangan bawa-bawa aturan birokrasi ke dalam studio seni."
Reyhan mengalihkan pandangannya dari Akram, menatap Almeera dengan senyum manisnya yang kembali merekah.
"Al, kayaknya suasana di sini lagi kurang enak buat bahas aransemen," kata Reyhan dengan santai, sama sekali mengabaikan eksistensi Akram yang sedang menahan amarah di sebelahnya. "Gimana kalau nanti malam kita lanjut bahas materinya di luar? Ada kafe live music yang asyik di Kemang. Gue traktir."
Dunia seakan berhenti berputar.
Almeera membelalakkan matanya, kaget dengan ajakan tiba-tiba itu. Di belakang sana, anak-anak NOISE dan Sophia (yang baru masuk) menahan napas melihat keberanian Reyhan mengajak primadona band mereka di depan Ketua OSIS.
Namun, sebelum Almeera sempat merangkai kata untuk menjawab...
BRAK!
Akram menendang pelan stand cymbal di dekatnya hingga menimbulkan suara berisik.
Cowok itu menarik Almeera ke belakang tubuhnya dengan satu sentakan kuat yang posesif, menyembunyikan cewek itu dari pandangan Reyhan. Mata Akram kini berubah menjadi gelap dan berbahaya, menatap Reyhan layaknya pemangsa yang wilayahnya baru saja diinjak.
"Dia nggak bisa," jawab Akram mutlak, suaranya menggelegar di ruang band yang senyap.
Reyhan menaikkan sebelah alisnya. "Oh ya? Kenapa? Setahu gue, Ketua OSIS nggak punya wewenang ngatur jadwal pribadi siswanya di luar jam sekolah."
Akram memiringkan kepalanya, seringai dingin muncul di bibirnya. Tanpa melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Almeera, Akram menjatuhkan bom yang tidak pernah disangka oleh siapa pun di ruangan itu.
"Karena mulai hari ini, Almeera Azzahra dilarang keluar malam..." Akram menggantung kalimatnya, menatap lurus ke arah Reyhan, "...sama siapa pun cowoknya, tanpa seizin gue."