NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan main di bawah satu atap

Aku terduduk di tepi kasur yang empuk selama hampir tiga puluh menit. Suasana di dalam kamar tamu ini begitu sunyi, hanya ada suara dengung halus dari mesin pendingin ruangan yang terpasang di sudut langit-langit. Setelah berhasil menata baju-baju kerjaku yang tidak seberapa ke dalam lemari kayu dua pintu, aku memutuskan untuk keluar kamar. Perutku mulai mengirimkan sinyal protes karena belum diisi lagi sejak acara akad nikah yang menegangkan tadi pagi.

Saat aku membuka pintu kayu putih kamarku, aroma wangi tumisan bawang putih dan margarin langsung menusuk indra penciumanku. Aku mengerjapkan mata heran. Langkah kakiku menuntun pertualanganku menuju area dapur bersih yang menyatu dengan ruang tengah.

Di sana, di balik meja konter marmer hitam yang mewah, berdiri seorang pria jangkung yang masih mengenakan kemeja putih polos tanpa dasi dengan lengan yang digulung rapi hingga siku. Mas Arkan sedang sibuk membalik sepotong daging ayam di atas wajan antilengket dengan gerakan yang sangat lihai.

Aku terpaku di tempatku berdiri, menatap punggung tegapnya yang bergerak teratur seiring dengan aktivitas memasaknya. Gila, dosen killer yang kalau di kampus cuma tahu cara megang pulpen merah dan proyektor, ternyata bisa masak seserius ini? batinku takjub.

"Kalau cuma mau berdiri di sana sambil melamun, makanan ini tidak akan selesai matang dengan sendirinya, Karin," suara berat Mas Arkan memecah lamunanku tanpa ia perlu berbalik menatapku.

"E-eh!" Aku tersentak, merasa tertangkap basah karena memperhatikannya terlalu lama. Aku buru-buru berjalan mendekat ke arah meja makan tinggi di dekat dapur. "Mas Arkan... bisa masak?"

Mas Arkan mematikan kompor gas portabelnya dengan satu putaran cepat, lalu memindahkan potongan ayam panggang madu yang harumnya luar biasa itu ke atas piring keramik putih. "Saya tinggal sendiri sejak kuliah S2 di luar negeri. Kalau tidak bisa masak, saya sudah mati kelaparan atau bangkrut karena keseringan jajan di luar."

Ia meletakkan piring ayam itu di tengah meja makan, lalu menatapku dengan satu alis yang terangkat naik. "Bantu saya ambil piring dan sendok di lemari gantung sebelah kanan kamu."

"Oh, iya Mas! Siap!" jawabku dengan nada patuh, persis seperti saat disuruh mengumpulkan tugas kuliah.

Aku segera membuka lemari gantung yang ditunjuknya, mengambil sepasang piring keramik dan sendok garpu, lalu menatanya dengan rapi di atas meja makan. Kami berdua kemudian duduk berhadapan. Suasana canggung kembali menyelimuti ruangan, namun tertutupi oleh aroma makanan hangat yang sangat menggoda selera.

"Makan yang banyak. Kamu kelihatan lebih kurus dari pertama kali saya lihat di kelas semester lalu," ujar Mas Arkan santai sembari mulai menyendokkan nasi ke piringnya sendiri.

Aku mengerucutkan bibirku sedikit, merasa tersindir. "Saya kurus juga karena stres mikirin revisi dari Mas Arkan tahu..." gumamku sangat pelan, hampir berupa bisikan lirih ke arah piring nasiku.

"Saya dengar, Karin," sahut Mas Arkan cepat tanpa mengalihkan pandangannya dari potongan ayam di piringnya.

Aku langsung tersenyum canggung, berpura-pura sangat sibuk mengunyah sepotong daging ayam yang baru saja kusuapkan ke dalam mulut. Namun, begitu bumbu ayam panggang itu menyentuh lidahku, mataku langsung membelalak lebar. "Wah! Ini enak banget, Mas! Beneran deh, bumbunya pas banget meresap sampai ke dalam!"

Mendengar pujian tulusku yang sangat heboh, gerakan makan Mas Arkan sempat terhenti sejenak. Ia menatapku lurus-lurus, memperhatikan ekspresi wajahku yang tampak sangat puas menikmati masakannya. Sudut bibirnya yang dingin perlahan tertarik membentuk senyuman tipis yang sangat hangat—senyuman yang membuat dadaku mendadak terasa sedikit aneh.

"Terima kasih. Habiskan saja semuanya kalau kamu suka," ujarnya pelan, lalu kembali melanjutkan makannya dengan tenang.

Setelah makan malam selesai dan semua peralatan makan sudah kubersihkan dengan bersih—sebagai bentuk kontribusi karena aku tidak ikut memasak—Mas Arkan mengajakku untuk duduk bersama di sofa ruang tengah. Di atas meja kaca kecil, ia meletakkan selembar kertas putih polos berukuran A4 dan sebuah pulpen hitam.

"Sebelum kita mulai menjalani kehidupan sehari-hari di apartemen ini, ada beberapa aturan dasar yang harus kita sepakati bersama," ujar Mas Arkan dengan nada suara yang kembali terdengar sangat profesional, persis seperti saat ia memberikan silabus perkuliahan di awal semester.

Aku membenarkan posisi dudukku di atas sofa abu-abu, menatap kertas kosong itu dengan rasa ingin tahu. "Aturan apa aja, Mas?"

Mas Arkan mengetukkan ujung pulpennya pada permukaan meja kaca beberapa kali sebelum mulai menuliskan poin pertama.

"Pertama, masalah privasi kamar. Kamar saya dan kamar kamu adalah area pribadi masing-masing. Tidak ada satu pun dari kita yang boleh masuk ke kamar orang lain tanpa izin tertulis atau persetujuan verbal sebelumnya. Paham?"

"Paham, Mas. Itu mah wajib banget," sahutku cepat sambil mengangguk setuju.

"Kedua, pembagian tugas rumah tangga," lanjut Mas Arkan sembari menuliskan poin berikutnya dengan tulisan tangannya yang sangat rapi dan lurus. "Saya yang akan mengurus masalah memasak dan belanja bahan makanan mingguan. Tugas kamu adalah menjaga kebersihan area bersama seperti ruang tengah, dapur setelah digunakan, dan menyiram tanaman hias di balkon luar. Ada keberatan?"

"Nggak ada, Mas. Adil kok," jawabku mantap. Bagiku, tugas membersihkan rumah jauh lebih mudah daripada harus disuruh memasak masakan serumit buatannya tadi.

"Ketiga, masalah jam malam dan tamu," Mas Arkan menatapku dengan tatapan yang sangat serius. "Selama kita di apartemen ini, tidak boleh ada teman kampus kamu yang diizinkan bertamu ke sini. Ini demi menjaga kerahasiaan pernikahan kontrak kita. Dan untuk jam malam, jika kamu harus keluar untuk urusan mendesak, kamu harus sudah berada di dalam apartemen sebelum jam sembilan malam. Jika terpaksa terlambat, kamu wajib memberi tahu saya lewat pesan singkat."

"Iya, Mas. Karin paham," ujarku patuh. Aturan jam malam ini sebenarnya tidak terlalu masalah untukku, karena aku sendiri bukanlah tipe mahasiswi yang suka keluyuran malam hari di luar kosan.

"Dan yang terakhir..." Mas Arkan menghentikan gerak jari-jemarinya yang sedang memegang pulpen. Ia menatapku lurus-lurus, seolah sedang menimbang-nimbang apakah kalimat berikutnya pantas untuk diucapkan atau tidak.

"Terakhir apa, Mas?" tanyaku penasaran karena melihatnya mendadak ragu-ragu.

"Masalah interaksi kita di rumah," ujar Mas Arkan dengan suara yang sedikit merendah. "Meskipun kita menikah kontrak, saya tidak mau ada suasana tegang atau canggung yang tidak perlu di antara kita saat berada di luar kamar. Di rumah ini, anggap saja saya sebagai teman satu kontrakan kamu yang paling dekat. Kamu bebas berbicara santai, bercanda, atau meminta bantuan apa pun dari saya tanpa perlu merasa takut seperti saat di kampus. Mengerti?"

Aku tertegun sejenak mendengar penjelasannya yang terakhir. Mataku menatap lekat-lekat ke arah sepasang mata cokelat gelap milik Mas Arkan yang kini sedang menanti jawabanku dengan sabar. Ada ketulusan yang sangat dalam yang terpancar dari sorot matanya, membuat pertahananku yang tadinya kaku perlahan-lahan runtuh sepenuhnya.

Ternyata, dosen killer yang paling ditakuti satu fakultas ini tidak sekejam yang dituduhkan banyak orang. Dia hanya pria dewasa yang sangat disiplin, namun memiliki hati yang sangat bertanggung jawab dan perhatian dengan caranya sendiri yang unik.

"Mengerti, Mas," jawabku dengan senyum manis yang mengembang di kedua sudut bibirku. "Karin janji gak akan sungkan lagi mulai sekarang."

"Bagus kalau begitu," Mas Arkan meletakkan pulpennya di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya pada sofa dengan santai. "Tuliskan nama kamu di bagian bawah kertas ini sebagai tanda kesepakatan kita."

Aku meraih pulpen tersebut dan menuliskan tanda tanganku dengan cepat di bawah tulisan aturan main yang dibuat Mas Arkan.

Malam itu, setelah lembaran aturan itu resmi ditempel menggunakan magnet kecil di pintu kulkas dapur, aku melangkah kembali masuk ke dalam kamarku dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari sebelumnya.

Aku melompat pelan ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhku sambil menatap langit-langit kamar dengan senyum yang terus mengembang. Ternyata, memulai kehidupan baru bersama "suami kontrak" yang juga merupakan dosen pembimbingku sendiri tidak seburuk dan semenakutkan yang kubayangkan di awal perjalanan tadi siang.

Namun, di tengah rasa lega yang mulai menyelimuti dadaku, aku mendadak teringat satu hal yang sangat krusial: Hari Senin besok, aku harus ikut Mas Arkan ke kampus pusatnya di Jakarta untuk bimbingan skripsi lagi.

"Mampus! Berarti besok lusa, mode Dosen Killer Pak Arkan akan kembali aktif sepenuhnya!"

Aku langsung menarik bantal untuk menutupi wajahku yang mendadak kembali terasa pusing memikirkan nasib draf revisiku yang belum tersentuh sama sekali sejak kemarin malam.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!