Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Di dalam ruang perawatan intensif yang tenang, kelopak mata Sari bergerak perlahan.
Bunyi ritmis dari alat pemantau detak jantung menjadi suara pertama yang menyambut kesadarannya.
Rasa pening yang teramat sangat langsung mendera kepalanya, namun ingatan tentang benturan keras, aspal yang panas, dan tubuh tegap yang terkapar bersimbah darah seketika melesat masuk ke otaknya seperti sengatan listrik.
Sari langsung menegakkan tubuhnya dengan paksa, mengabaikan rasa sakit yang menusuk di dahinya yang diperban.
"Mas... Mas Arka!" seru Sari, suaranya parau dan bergetar hebat. Matanya bergerak liar memutari ruangan, mencari sosok pria penjual kue yang seharusnya hari ini mendampinginya ke KUA.
"Di mana Mas Arka? Nenek! Nanda! Di mana Mas Arka?!"
Nenek Maheswara dan Nanda yang sejak tadi berjaga di sisi ranjang langsung bergerak sigap.
Nanda menahan kedua bahu Sari dengan lembut agar wanita itu tidak nekat turun dari brankar, sementara Nenek menggenggam jemari tangan Sari yang terasa sedingin es.
"Tenang, Sari... Tenang dulu, Sayang. Kamu baru saja sadar," ucap Nenek dengan suara yang diusahakan selembut mungkin, meski matanya sendiri masih menyiratkan duka yang mendalam.
"Sari tidak bisa tenang, Nek! Mas Arka di mana?!" air mata Sari luruh seketika, membasahi pipinya yang pucat.
Nanda menghela napas berat, menatap Sari dengan pandangan prihatin.
"Pak Arka, saat ini masih berada di dalam ruang operasi, Ibu. Dokter sedang berjuang melakukan tindakan darurat untuknya."
Mendengar kata 'ruang operasi', pertahanan Sari runtuh sepenuhnya.
Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nenek, menangis sesenggukan hingga bahunya naik turun terguncang hebat.
Rasa bersalah yang teramat besar kini menggunung di dalam hatinya.
"Ini semua salahku, Nek... Ini salahku," ratap Sari di sela tangisnya yang memilukan.
"Kalau saja tadi aku tidak egois meminta naik motor butut itu... kalau saja kita naik mobil, Mas Arka tidak akan seperti ini. Ini semua karena aku, Nek..."
"Ssshhh... Cukup, Sari. Bukan kamu yang salah, Sayang," bisik Nenek, mendekap erat tubuh cucunya dan mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.
Sorot mata Nenek mendadak berkilat tajam dan dingin.
"Nenek berjanji kepadamu, Nenek akan mengerahkan seluruh jaringan Maheswara untuk mencari siapa bajingan yang menjadi pelaku tabrak lari ini. Mereka harus membayar mahal untuk setiap tetes darah yang keluar dari tubuh Arka."
Nanda yang berdiri di sisi lain ranjang ikut mengusap lengan Sari, mencoba menyalurkan kekuatan.
"Benar, Ibu Sari. Ibu harus tenang dan fokus pada pemulihan Ibu sendiri. Jika Mas Arka sadar nanti, dia pasti sedih melihat Ibu menangis seperti ini."
Nanda kemudian menoleh ke arah Nenek Maheswara, menyadari bahwa wanita sepuh itu juga sudah sangat kelelahan setelah ketegangan yang bertubi-tubi sejak pagi tadi.
"Nenek, sebaiknya Nenek tetap di sini saja menemani Ibu Sari," ucap Nanda dengan nada sopan namun tegas.
"Biar saya yang keluar dan menunggu di depan ruang operasi untuk memantau kondisi Pak Arka. Begitu dokter keluar membawa kabar, saya akan langsung mengabari Nenek dan Ibu."
Nenek Maheswara mengangguk lemah, menghargai inisiatif asisten setianya itu.
"Terima kasih, Nanda. Tolong jaga menantuku di sana."
Dengan langkah cepat, Nanda keluar dari ruang rawat Sari, berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke depan pintu besar bertuliskan 'Kamar Operasi'.
Di sana, di bawah pendar lampu merah yang menandakan tindakan bedah masih berlangsung, Nanda duduk di kursi tunggu, menyatukan kedua tangannya untuk merajut doa terbaik bagi keselamatan Arka, sang duda penjual kue yang kini menjadi jangkar hidup bagi majikannya.
Dua jam berlalu bagai keabadian bagi Nanda yang duduk terpaku di koridor depan kamar bedah.
Ketukan jarum jam dinding rumah sakit terasa berdentang langsung di dadanya, mengiringi setiap bait doa yang tak putus ia rapalkan.
Keheningan koridor itu akhirnya pecah saat lampu merah di atas pintu besar bertuliskan 'Kamar Operasi' mendadak padam.
Klek.
Pintu terbuka, dan dokter spesialis bedah trauma keluar dengan peluh yang masih membasahi keningnya.
Wajahnya tampak lelah, namun gurat ketegangan yang tadi menyelimutinya kini telah mengendur.
Nanda langsung melonjak berdiri dan menghampiri sang dokter dengan tatapan penuh harap.
"Dokter, bagaimana kondisi Pak Arka?" tanya Nanda dengan suara tertahan.
Dokter itu mengulas senyum tipis, lalu mengangguk.
"Alhamdulillah, operasi daruratnya berjalan dengan berhasil. Kami sudah berhasil menghentikan perdarahan internal di kepalanya dan menjahit robekan pembuluh darah dengan baik. Untuk patah tulangnya, sementara ini lengan kiri dan kaki kanan Saudara Arka sudah kami pasang gips khusus untuk mengunci posisinya agar struktur tulangnya bisa menyambung kembali."
Nanda mengembuskan napas lega yang teramat panjang, menghapus sisa air mata di pipinya.
"Terima kasih banyak, Dokter. Terima kasih."
"Sama-sama. Saat ini dia akan dipindahkan ke ruang pemulihan terlebih dahulu sebelum dibawa ke ruang rawat inap," tambah Dokter.
Mengingat instruksi Nenek Maheswara dan kondisi Sari yang juga sedang dirawat, Nanda segera berkoordinasi dengan pihak administrasi dan perawat.
Atas permintaan khusus keluarga pemilik Maheswara Group, pihak rumah sakit akhirnya memindahkan Arka ke ruang perawatan VIP yang sama dengan tempat Sari berbaring, agar keduanya bisa saling menjaga.
Ceklek...
Suara pintu ruang rawat inap terbuka perlahan. Sari, yang sejak tadi duduk gelisah di atas ranjangnya dengan dahi terperban, langsung menoleh cepat ke arah pintu.
Dua orang perawat perlahan mendorong brankar masuk, memindahkan tubuh seorang pria ke ranjang kosong tepat di sebelah ranjang Sari.
Begitu brankar bergeser, pertahanan hati Sari runtuh seketika. Pandangannya langsung terkunci pada sosok tegap yang kini terbaring kaku tak berdaya.
Wajah Arka tampak sangat pucat, dengan sebagian kepalanya dibalut perban putih yang tebal.
Lengan kirinya digantung dengan penyangga kain karena terbungkus gips putih keras, begitu pula dengan kaki kanannya yang lurus kaku diselimuti gips hingga ke batas paha.
Pria yang beberapa jam lalu masih tersenyum manis dan menggoda dirinya dengan sebutan "Tuan Putri" kini tampak begitu rapuh, dikelilingi oleh bunyi bip konstan dari mesin monitor jantung dan selang infus yang menancap di punggung tangannya yang bebas.
"M-Mas Arka..." bisik Sari lirih.
Air matanya luruh kembali tanpa bisa dibendung. Sari memaksakan tubuhnya yang masih lemas untuk bergeser ke tepi ranjang.
Dengan perlahan, ia menurunkan kakinya ke lantai dan melangkah mendekati sisi tempat tidur Arka.
Langkahnya bergetar, namun tatapannya tak sedetik pun lepas dari wajah kuyu sang calon suami.
Sari mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh jemari tangan kanan Arka yang terasa dingin.
Ia menggenggamnya erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kehangatan dan kehidupan yang ia miliki ke dalam tubuh pria itu.
"Mas, ini aku, Mas. Bangun, Mas..." isak Sari, menempelkan punggung tangan Arka ke pipinya yang basah.
Nanda dan Nenek Maheswara yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa terdiam membisu, menatap pemandangan memilukan itu dengan hati yang teriris.
Namun, Arka belum memberikan respons sedikit pun. Kelopak matanya masih terpejam rapat, dan napasnya berembus teratur di balik masker oksigen.
Tubuh tegap penjual kue itu masih terpengaruh sepenuhnya oleh obat bius dosis tinggi pasca-operasi besar yang baru saja dilaluinya.
Di dalam ruangan yang hanya dipenuhi bunyi mesin medis itu, Sari terus menggenggam erat tangan Arka, bersumpah di dalam hati tidak akan pernah melepaskan pria ini lagi, apa pun badai yang akan menghadang mereka di depan nanti.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎